PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
BAB 30 — SERANGAN TENGAH MALAM
Brak!
Suara gerbang besi rumah persembunyian bergema di tengah hujan yang semakin deras.
Puluhan pria berpakaian hitam berdiri rapi di belakang wanita tua berambut putih. Tak satu pun dari mereka mengangkat senjata. Mereka hanya berdiri dengan tatapan tajam mengarah ke rumah.
Di dalam rumah, suasana berubah tegang.
Ergan menutup tirai jendela.
"Semua posisi!"
Belasan anggota keamanan segera bergerak. Sebagian mengambil posisi di lantai dua, sementara yang lain berjaga di setiap pintu dan jendela.
Mahendra memasukkan magasin ke dalam pistolnya.
Klik.
Ia menoleh kepada Eiri.
"Apa pun yang terjadi, jangan keluar dari ruangan ini."
Eiri menggeleng.
"Aku tidak mau bersembunyi lagi."
Mahendra menatapnya beberapa detik.
"Lalu tetap berada di belakangku."
Eiri mengangguk pelan.
Di luar rumah...
Wanita tua itu melangkah mendekati pagar.
Usianya mungkin sudah lebih dari enam puluh tahun, tetapi langkahnya tetap tegap.
Ia mengetukkan tongkat kayunya ke tanah sebanyak tiga kali.
Tok... Tok... Tok...
Anehnya...
Seluruh orang berpakaian hitam di belakangnya serentak berlutut.
Ergan mengernyit.
"Mereka sedang apa?"
Tak lama kemudian, wanita tua itu berbicara dengan suara lantang.
"Aku datang bukan untuk berperang."
"Aku ingin bertemu dengan Eiri."
Mahendra membuka sedikit jendela lantai dua.
"Siapa kau?"
Wanita tua itu mengangkat kepala.
"Aku adalah Alena."
"Ketua Penjaga Pulau Arkan."
Mahendra tidak menunjukkan perubahan ekspresi.
"Apa tujuanmu?"
"Aku ingin membawa Eiri pulang."
Kalimat itu membuat Eiri membeku.
"Pulang...?"
Wanita tua itu mengangguk.
"Pulang ke tempat kelahiranmu."
Mahendra segera menjawab.
"Eiri tidak akan pergi bersama orang yang bahkan belum kami kenal."
Alena menghela napas pelan.
"Aku sudah menduga kau akan berkata begitu."
Ia mengangkat tangan kanannya.
Seorang pria di belakangnya segera maju membawa sebuah kotak kayu kecil.
Kotak itu diletakkan di depan gerbang.
"Lihatlah isinya."
Mahendra memberi isyarat kepada Ergan.
"Dua orang ikut denganku."
"Yang lain tetap berjaga."
Ergan mengangguk.
Mereka keluar dengan penuh kewaspadaan.
Mahendra membuka kotak kayu itu perlahan.
Di dalamnya terdapat...
Sepasang sepatu bayi berwarna putih.
Sebuah gelang kecil dari perak.
Dan selembar foto yang mulai pudar.
Mahendra mengambil foto itu.
Matanya langsung membelalak.
Foto tersebut memperlihatkan seorang bayi yang sedang digendong oleh ayah Eiri.
Di sampingnya berdiri seorang wanita muda yang tersenyum hangat.
Sementara di belakang mereka...
Berdiri wanita tua yang kini ada di hadapannya.
"Itu..."
Mahendra menatap Alena.
"Kau mengenal ayah Eiri."
"Bukan hanya mengenalnya."
Alena menjawab tenang.
"Aku yang membantu kelahiran Eiri."
Tubuh Eiri langsung gemetar.
Tanpa sadar ia melangkah keluar rumah.
"Jangan!"
Mahendra mencoba menghentikannya.
Namun Eiri tetap berjalan.
Ia berhenti beberapa meter di depan Alena.
"Kalau itu benar..."
"Kenapa aku tidak mengingatmu?"
Tatapan Alena berubah sendu.
"Karena..."
"Seseorang telah mencuri masa kecilmu."
Air mata mulai menggenang di mata Eiri.
"Apakah..."
"Ibu dan Ayah benar-benar berasal dari Pulau Arkan?"
Alena mengangguk.
"Mereka bukan penduduk asli."
"Tetapi mereka datang untuk melindungimu."
"Melindungiku dari siapa?"
Belum sempat Alena menjawab...
Dor!
Suara tembakan memecah keheningan malam.
Peluru menghantam tanah tepat di depan kaki Eiri.
Mahendra langsung menarik Eiri ke belakang tubuhnya.
"Masuk ke dalam!"
Ergan mengangkat pistol.
"Penembak di arah bukit!"
Semua anggota keamanan segera mencari perlindungan.
Alena menoleh ke arah bukit dengan wajah yang berubah serius.
"Bukan kami..."
"Mereka sudah menemukan kalian."
Mahendra mengikuti arah pandang Alena.
Di puncak bukit yang gelap...
Puluhan titik cahaya merah mulai bermunculan.
Laser-laser senapan mengarah tepat ke rumah persembunyian.
Beberapa detik kemudian...
Belasan mobil hitam melaju turun dari bukit dengan kecepatan tinggi.
Di bagian depan mobil pertama berkibar lambang gerhana matahari.
Mahendra mengepalkan tangannya.
"The Eclipse..."
Alena menggeleng pelan.
"Tidak..."
"Itu bukan pasukan Victor."
"Lihat lambangnya."
Mahendra memperhatikan lebih saksama.
Di tengah simbol gerhana itu terdapat seekor ular berwarna emas.
Wajah Alena mendadak pucat.
"Itu mustahil..."
Mahendra menoleh.
"Siapa mereka?"
Alena menarik napas panjang.
"Mereka adalah Pasukan Bayangan."
"Kelompok elit yang sudah menghilang selama lima belas tahun."
"Kalau mereka muncul..."
"Berarti seseorang yang selama ini bersembunyi..."
"...akhirnya keluar dari persembunyiannya."
Konvoi mobil hitam berhenti tepat di depan rumah.
Pintu mobil paling depan terbuka perlahan.
Sesosok pria tinggi turun dengan jas hitam panjang.
Wajahnya masih tertutup bayangan.
Namun ketika ia mengangkat kepalanya...
Eiri membeku.
"Ti... tidak mungkin..."
Wajah pria itu...
Sangat mirip dengan ayahnya.
Bersambung ke