Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Suasana di dalam mobil mewah itu mendadak menjadi medan magnet yang penuh tekanan.
Britania, rekan bisnis sekaligus sahabat Nial yang sejak tadi duduk di samping pria itu menatap pemandangan di depannya dengan alis terangkat tinggi—terkejut.
Nial Percy, pria yang biasanya memiliki kendali penuh atas setiap inci hidupnya, kini tampak mematung.
Kehangatan tubuh Queen yang mendadak berada di pangkuannya, aroma parfum wanita itu yang bercampur dengan keringat dingin, dan cengkeraman jemarinya pada jas mahalnya, menciptakan anomali yang belum pernah Nial alami sebelumnya.
"Kau mengenalnya?" tanya Britania, suaranya memecah keheningan yang menyesakkan itu.
Nial tersentak, seolah baru saja ditarik kembali dari pusaran ingatan tentang malam konyol mereka yang berakhir dengan dengkur halus.
Ia berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya yang runtuh dalam sekejap.
"Apa yang kau lakukan? Cepat turun," perintah Nial, suaranya rendah dan penuh penekanan.
Queen menggeleng cepat, napasnya yang memburu menyapu kulit leher Nial. "Aku akan turun, tapi tidak di sini. Tolong aku! Aku mohon. Mereka sedang mengejarku."
Nial terkekeh sinis, sebuah tawa hambar yang tidak mencapai matanya. "Apa lagi yang kau lakukan kali ini? Apa kau menipu pria lain dan dia tidak terima?"
"Nial, aku mohon..." Queen menatapnya lurus-lurus.
Di balik binar lampu kota yang menembus kaca mobil, Nial bisa melihat ketakutan murni di mata wanita itu—bukan lagi sekadar kenekatan yang ia lihat semalam.
"Cari dia sampai dapat! Periksa setiap sudut!"
Suara berat pengawal dari balik pintu mobil membuat Queen tersentak. Refleks, ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nial, menenggelamkan diri seolah pria itu adalah satu-satunya benteng yang tersisa di dunia.
Nial memejamkan mata sejenak, merasakan detak jantung Queen yang berpacu liar tepat di atas dadanya.
"Kubilang turun!" desak Nial lagi, meski tangannya tidak bergerak untuk mendorong wanita itu.
"Tolong aku, aku mohon. Aku akan melakukan apa saja ... apa saja, asalkan kau bersedia membawaku pergi dari sini," bisik Queen, suaranya parau karena putus asa.
Keheningan kembali merayap, hanya diiringi suara ketukan langkah sepatu bot dari luar mobil yang semakin mendekat.
Nial menatap puncak kepala Queen, lalu beralih ke arah Britania. Ada sebuah pertimbangan dingin yang melintas di matanya—logika melawan naluri yang tidak biasa.
Akhirnya, Nial membuang napas panjang. "Brit, pergilah. Aku akan menghubungimu nanti untuk detail proyek kita."
Britania, yang memahami ada sesuatu yang jauh lebih pribadi sedang terjadi, hanya tersenyum simpul dan mengangguk tenang. "Tentu. Sepertinya urusan 'pribadi' ini lebih mendesak. Sampai jumpa."
Begitu pintu mobil tertutup dan Britania melangkah pergi, Nial langsung menekan tombol pengunci otomatis. Ia melirik ke arah sopirnya melalui kaca spion tengah.
"Jalan. Sekarang," perintahnya dingin.
Mobil itu meluncur mulus, membelah jalanan Los Angeles yang sibuk, meninggalkan para pengawal keluarga Aressta yang masih kebingungan di trotoar.
Di dalam mobil, Queen masih belum berani bergerak. Ia tetap berada di pangkuan Nial, memeluk leher pria itu seolah nyawanya bergantung di sana.
Nial membiarkan satu tangannya secara tidak sadar melingkari pinggang Queen agar wanita itu tidak jatuh saat mobil berbelok.
"Kau berhutang penjelasan besar padaku," bisik Nial di dekat telinga wanita itu.
Queen perlahan mengangkat kepalanya, menatap wajah Nial dari jarak yang sangat dekat. Ketakutannya perlahan memudar, digantikan oleh kesadaran akan posisi mereka yang sangat intim.
"Terima kasih," bisiknya tulus.
"Simpan terima kasihmu," potong Nial, matanya berkilat tajam. "Tadi kau bilang 'apa saja', bukan?"
"A-aku ... maksudku..." Queen tergagap, jemarinya meremas jas Nial dengan tidak beraturan sambil berusaha menghindari tatapan pria itu yang terlalu mengintimidasi. "Aku akan melakukannya, tapi ... bisakah kita tidak membahasnya sambil aku duduk seperti ini di atasmu?"
Nial tidak segera menjawab. Ia justru menyandarkan punggungnya ke jok kulit mobil yang empuk, namun tangannya yang melingkar di pinggang Queen sama sekali tidak mengendur. Ia membiarkan keheningan menyelimuti mereka selama beberapa detik, menikmati bagaimana napas Queen yang terengah menggelitik kulit lehernya.
"Kenapa? Bukankah posisi ini yang menyelamatkanmu dari para pengawal itu?"
Wajah Queen seketika meledak panas, warna merahnya bahkan menjalar hingga ke seluruh leher dan telinganya.
Melihat itu, Nial tersenyum samar. "Duduk diam, dan jadilah gadis penurut sampai kita tiba di tempatku."
•••
Mobil berhenti mulus di halaman mansion milik Nial.
Gerbang besi tinggi menutup perlahan di belakang mereka.
Sopir membukakan pintu.
Queen turun lebih dulu, langkahnya sedikit ragu saat kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin. Ia sempat mendongak, menatap bangunan besar di depannya.
Sangat megah.
Pintu di sisi lain terbuka. Nial keluar. Langkahnya tenang seperti biasa, seolah tidak ada hal aneh yang terjadi malam ini.
“Masuk.” Hanya satu kata. Tanpa melihat ke belakang.
Queen menelan ludah, lalu mengikuti.
Begitu pintu utama tertutup—
klik.
Suara itu terdengar lebih keras dari seharusnya.
Dan bersamaan dengan itu—Nial berhenti berjalan. Queen hampir saja menabraknya.
Ia belum sempat berkata apa-apa saat Nial berbalik. Tatapan mereka bertemu.
“Sekarang,” ucap Nial rendah, “jelaskan.”
Queen membeku sepersekian detik. “Jelaskan apa?” tanyanya, mencoba terdengar tenang.
Nial menyipitkan mata. “Jangan bermain denganku.”
Satu langkah maju. Queen refleks mundur.
“Para pengawal itu,” lanjut Nial, suaranya turun, lebih tajam. “Kenapa mereka mencarimu?”
Hening.
Queen menelan ludah, pikirannya berputar cepat. Ia tidak bisa jujur, tidak sekarang, tidak pada pria ini.
"Itu ... masalah pribadi,”
Nial mendengus pelan. “Semua orang punya masalah pribadi,” balasnya dingin. “Tapi tidak semua dikejar seperti buronan.”
Queen mengepalkan tangannya pelan. Ia butuh sesuatu. Alasan apa saja.
“Karena aku … merusak barang mahal.”
Nial terdiam. Satu alisnya terangkat tipis. “Lanjutkan.” Nada suaranya tidak berubah. Namun jelas—ia menunggu.
Queen menarik napas. Lalu—
“Aku bekerja paruh waktu di sebuah event eksklusif beberapa hari lalu,” katanya cepat, mulai merangkai ceritanya sendiri. “Salah satu tamu meninggalkan barang berharga. Aku berniat mengamankannya, tapi—” Ia berhenti sebentar. Seolah ragu. Padahal ia sedang memilih kata. “…aku malah menjatuhkannya dan pecah.”
Hening.
Tatapan Nial tidak lepas darinya. “Dan sekarang mereka mengejarmu karena itu?”
Queen mengangguk cepat. “Iya. Mereka ingin aku ganti rugi ... tapi uangku tidak cukup untuk itu.”
“Dan kau kabur?” Pertanyaan itu langsung.
Queen terdiam sepersekian detik—lalu menggeleng. “Aku hanya … ingin mereka memberiku tambahan waktu.”
Nial tidak langsung merespon. Ia hanya menatap Queen lama, seolah mencoba membongkar setiap lapisan kebohongan yang mungkin ada.
Queen menahan napas, namun ia tidak menghindar. Tidak menunduk. Ia tahu—jika ia terlihat ragu, semuanya selesai.
"Cerita yang menarik," desis Nial, langkahnya maju satu tindak. "Tapi kau lupa satu hal, Queen. Aku tidak membangun kekuasaanku dengan memercayai dongeng picisan. Barang apa yang begitu berharga sampai pengawal kelas kakap mengejarmu ke tengah jalanan Los Angeles? Dan sejak kapan ganti rugi barang pecah belah melibatkan pengepungan hotel?"
Queen mundur hingga punggungnya membentur pintu. Jantungnya berdentum liar, bukan hanya karena takut rahasianya terbongkar, tapi karena Nial terlalu cerdas untuk dikelabui dengan alasan sederhana.
Tatapan pria itu tajam, dingin, dan menuntut—seperti pemangsa yang tahu mangsanya sedang memutar otak.
"Aku sudah mengatakannya..." suara Queen melemah, jemarinya meremas pinggiran gaunnya yang sudah sedikit berantakan.
"Kau berbohong," potong Nial telak. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya hingga hembusan napasnya terasa hangat di kening Queen. "Ada sesuatu yang kau sembunyikan, dan aku tidak suka menyimpan rahasia di bawah atapku sendiri. Katakan yang sebenarnya, atau aku sendiri yang akan menyerahkanmu pada mereka."
Ketakutan Queen memuncak. Jika ia kembali ke ballroom itu, ia akan menjadi milik Tuan Armand. Ia tidak punya pilihan lain. Janji 'apa saja' yang ia ucapkan di mobil tadi berputar-putar di kepalanya.
Lakukan sesuatu, Queen. Hentikan dia.
Tanpa memberi Nial kesempatan untuk berbicara lebih jauh, Queen bergerak impulsif. Ia menjinjit, melingkarkan kedua lengannya di leher pria itu, lalu mengecup bibir Nial dengan gemetar.
Nial tersentak. Tatapannya membeku sesaat, jelas tidak menduga keberanian Queen. Namun Queen tidak mundur. Ia hanya ingin menghentikan rentetan pertanyaan itu. Apa pun caranya.
"Berhenti bertanya, Nial..." bisiknya lirih, napasnya masih bergetar. "Bukankah aku sudah bilang... aku akan melakukan apa saja?"
Tatapan Nial berubah semakin dalam. Ia memandang Queen beberapa saat, seolah berusaha membaca isi hati wanita itu.
"Kau sedang putus asa," gumamnya pelan.
Queen tidak menyangkal. Ia hanya menatap pria itu dengan mata yang dipenuhi ketakutan sekaligus tekad.
Nial mengembuskan napas panjang. Tangannya yang sejak tadi berada di pinggang Queen kini menarik wanita itu sedikit lebih dekat.
"Kau sadar dengan apa yang sedang kau lakukan?"
Queen mengangguk perlahan.
"Aku sadar."
Untuk beberapa detik, hanya keheningan yang mengisi ruangan.
Tatapan mereka saling bertaut, dipenuhi emosi yang sulit dijelaskan.
Akhirnya, Nial mengangkat Queen dalam satu gerakan ringan. Queen refleks melingkarkan lengannya di leher pria itu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Nial membawanya menuju kamar di lantai atas.
Pintu tertutup perlahan di belakang mereka.
Malam itu, segala dinding pertahanan yang selama ini mereka bangun perlahan runtuh.
Di balik keheningan kamar yang hanya diterangi cahaya lampu redup, dua hati yang sama-sama dipenuhi luka dan kebingungan akhirnya saling menemukan tempat untuk bersandar.
Queen sempat menegang ketika Nial menggenggam tangannya.
"Kalau kau ingin berhenti, katakan sekarang," ujar Nial pelan.
Queen menatapnya beberapa saat, lalu menggeleng.
"Aku tidak ingin lari lagi."
Nial mengusap lembut pipi Queen, seolah memberi kesempatan terakhir bagi wanita itu untuk mengubah pikirannya.
Ketika Queen kembali mendekat dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu, Nial akhirnya memeluknya erat.
Malam pun terus berjalan.
Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, hanya tersisa bisikan-bisikan pelan, kehangatan pelukan, serta dua jiwa yang tanpa sadar mulai menghapus jarak di antara mereka.
Beberapa saat kemudian...
Queen berbaring diam sambil mengatur napasnya.
Pipinya masih memerah, sementara helaian rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah.
Nial duduk di sisi ranjang, menatap wanita itu beberapa saat tanpa berkata apa-apa.
Suasana di antara mereka terasa berbeda.
Tak lagi hanya dipenuhi ketegangan, tetapi juga keheningan yang sulit dijelaskan.
Queen perlahan memalingkan wajahnya.
"Apa kau menyesal?" tanya Nial akhirnya.
Queen terdiam cukup lama sebelum menggeleng pelan. "Tidak..."
Jawaban itu membuat sorot mata Nial melembut untuk sesaat, meski hanya sesaat.
Di luar sana, malam Los Angeles masih berlangsung seperti biasa. Namun bagi mereka berdua, malam itu telah mengubah lebih banyak hal daripada yang mampu mereka bayangkan.
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰