Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.
Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode — 17.
Suasana ballroom semakin ramai. Para tamu mulai berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain, saling bertukar kartu nama sambil membahas peluang kerja sama. Denting gelas dan alunan musik orkestra berpadu menciptakan suasana yang hangat, tetapi di balik keramaian itu, sebuah rencana kotor sedang dijalankan.
Pria pembawa nampan terus melangkah mendekati Zahira. Di atas nampan itu terdapat beberapa gelas wine dan jus. Dari luar, tak ada yang tampak mencurigakan. Namun tatapan pria tersebut sama sekali tidak mengarah pada minuman yang dibawanya, ia justru terus memperhatikan langkah Zahira.
Revan mempercepat langkahnya, sorot matanya tak pernah lepas dari pria itu.
"Permisi."
Revan memotong pembicaraan dua investor yang sedang berbincang dengan Zahira, spontan mereka menoleh. Belum sempat siapa pun bertanya, pria pembawa minuman itu sengaja membenturkan bahunya ke salah seorang tamu hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Brak!
Nampan terlepas, beberapa gelas melayang ke udara. Cairan berwarna merah tua mengarah tepat ke tubuh Zahira, semuanya terjadi begitu cepat. Dengan sigap, Revan menarik pelan lengan Zahira hingga wanita itu berpindah satu langkah ke samping.
Byur!
Seluruh isi gelas tumpah ke lantai marmer, dan sebagian mengenai jas Revan.
Ballroom mendadak menjadi sunyi, semua kepala menoleh ke arah sumber keributan.
"Maaf... maaf, Pak!" Pria pembawa minuman langsung membungkuk berkali-kali sambil berpura-pura panik.
Namun sebelum pria itu sempat mengambil langkah mundur, Arga bersama dua petugas keamanan sudah berdiri di belakangnya.
"Tunggu sebentar!"
Pria itu membeku.
"Ada apa?" tanyanya dengan suara bergetar.
Arga tersenyum tipis. "Tidak usah terburu-buru pergi."
Wajah pria tersebut mulai pucat.
Di sisi lain ruangan, senyum Kayla perlahan menghilang. Ia tidak menyangka Zahira sama sekali tidak terkena tumpahan minuman. Lebih mengejutkan lagi, Revan justru berdiri di depan wanita itu, seolah sengaja melindunginya.
"Bagaimana bisa..." gumam Kayla pelan.
"Pak Revan!" Panitia acara segera menghampiri. "Apakah Bapak baik-baik saja?"
"Saya baik-baik saja." Revan menatap jasnya yang kini terkena noda merah. "Tidak ada masalah."
Zahira memandang jas pria itu dengan rasa bersalah. "Maaf, Pak. Gara-gara saya...."
"Kamu tidak perlu meminta maaf atas kesalahan orang lain." Revan menggeleng pelan.
Perkataan Revan disampaikan dengan nada tenang, tetapi langsung menarik perhatian beberapa tamu yang saling melirik.
Sementara Arga mulai memeriksa identitas pria pembawa minuman. "Anda bekerja untuk perusahaan katering?"
"I-iya."
"Sebutkan nama supervisor-mu."
Pria itu terdiam.
"Kamu tidak tahu?"
"Aku... baru bekerja...."
"Lucu." Arga mengeluarkan kartu identitas resmi seluruh kru katering. "Kami sudah menerima daftar seluruh petugas sejak sore, dan namamu tidak ada."
Wajah pria itu langsung kehilangan warna, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Kalau begitu, siapa yang menyuruhmu masuk ke acara ini?"
"A-aku...."
"Jawab! Aku tidak suka mengulang pertanyaan." Tatapan Arga semakin tajam.
Pria itu mulai gemetar, tatapannya tanpa sadar beralih ke arah Kayla. Hanya sepersekian detik, namun gerakan kecil itu berhasil ditangkap Revan.
Begitu pula oleh Deris, pria itu langsung mengikuti arah pandangan pembawa minuman tersebut. Matanya berhenti pada Kayla, jantungnya berdegup lebih cepat.
"Jangan-jangan...."
Kayla buru-buru menggeleng pelan kepada pria itu, tatapannya jelas memberi isyarat 'Jangan bicara dan jangan melihat ke arahku lagi'.
Namun semuanya sudah terlambat, Revan melangkah mendekati Arga.
"Hubungi pihak keamanan hotel."
"Siap, Pak."
"Lalu minta mereka membuka rekaman CCTV sejak satu jam sebelum acara dimulai."
Mendengar kalimat itu, wajah Kayla berubah semakin pucat. Ia tahu persis, jika CCTV diperiksa maka seluruh pergerakannya sebelum acara akan terlihat jelas.
Deris memperhatikan perubahan ekspresi Kayla, muncul rasa curiga yang begitu kuat. Ia mendekati kekasihnya. "Kayla..."
Wanita itu tersentak. "I-iya, Mas?"
"Kamu kenal pria itu?"
"Tidak." Jawabannya terlalu cepat.
Deris menyipitkan mata. "Yakin?"
"Tentu saja."
"Kenapa wajahmu pucat?"
"Aku hanya kaget."
Deris tidak langsung percaya. Selama beberapa bulan mengenal Kayla, baru kali ini ia melihat wanita itu benar-benar kehilangan ketenangan.
Tak lama kemudian, seorang petugas keamanan hotel datang tergesa-gesa.
"Pak Revan."
"Tolong amankan pria ini."
"Baik." Petugas segera menggiring pria tersebut, namun baru dua langkah berjalan pria itu mendadak berteriak.
"Jangan tangkap saya! Saya hanya disuruh!"
"Disuruh siapa?" tanya Arga tegas.
Pria itu menelan ludah, matanya kembali mencari seseorang. Kali ini, tatapannya berhenti tepat ke arah Kayla yang berdiri membeku.
Semua orang spontan mengikuti arah pandangannya, puluhan pasang mata kini tertuju pada Kayla.
"Jangan... jangan lihat aku...." Wanita itu merasa napasnya tercekat, suaranya lirih.
Deris perlahan menoleh ke arahnya, tatapan pria itu berubah dingin. Dan sejak mereka bersama, Kayla melihat kemarahan yang benar-benar nyata di mata Deris.
Ballroom berubah semakin sunyi, tak ada lagi percakapan bisnis ataupun denting gelas. Seluruh perhatian tertuju pada pria yang diamankan petugas keamanan.
Napas pria itu memburu, tatapannya bergantian mengarah kepada Kayla dan para petugas yang mengepungnya.
"Siapa yang menyuruhmu?" ulang Arga dengan suara tegas.
Pria itu menggigit bibir bawahnya. "Saya... saya...."
"Jawab."
"Saya cuma disuruh membuat perempuan itu dipermalukan." Ia menunjuk ke arah Zahira. "Katanya, cukup buat gaunnya terkena wine, lalu sebarkan kabar kalau dia mabuk dan membuat keributan di acara. Setelah itu akan ada orang yang memotret dan menyebarkannya ke media."
Suasana seketika dipenuhi gumaman.
"Astaga...."
"Ini memang sudah direncanakan."
"Kejam sekali."
Wajah Zahira tetap tenang, tetapi sorot matanya sedikit berubah. Ia akhirnya memahami alasan mengapa Revan tiba-tiba menariknya beberapa detik sebelum kejadian. Bukan karena kebetulan, tapi pria itu sudah membaca sesuatu yang tidak ia sadari.
Deris mengepalkan kedua tangannya, tatapannya beralih kepada Kayla. "Kayla, apa maksud semua ini?"
Kayla buru-buru menggeleng. "Mas, jangan percaya! Aku tidak mengenal laki-laki itu!"
"Kalau begitu, kenapa dia terus melihat ke arahmu?"
"Itu... itu bukan urusanku!"
Kayla berusaha mempertahankan ketenangannya, tetapi suaranya mulai bergetar.
Arga mengeluarkan sebuah ponsel dari saku pria tersebut. "Pak Revan, di ponselnya ada percakapan."
"Periksa."
Arga membuka layar ponsel itu, beberapa pesan langsung terlihat. Nomor pengirim memang tidak menggunakan nama, tetapi isi pesannya cukup membuat siapa pun memahami maksudnya.
«Pastikan minumannya mengenai wanita itu.»
«Jangan gagal.»
«Setelah itu langsung pergi lewat pintu samping.»
«Uang sisanya ditransfer setelah pekerjaan selesai.»
Beberapa tamu saling berpandangan.
"Sudah jelas ini direncanakan."
"Ini bukan kecelakaan."
Kayla mulai kehilangan kendali. "Itu belum tentu dariku! Bisa saja orang lain memakai namaku!"
Revan melangkah mendekat dengan wajah tetap datar. "Benar."
Satu kata dari pria itu membuat Kayla sedikit lega, namun kalimat berikutnya langsung menghancurkan harapannya.
"Karena itu, kita tidak perlu berdebat." Revan mengalihkan pandangannya kepada manajer keamanan hotel. "Tolong tampilkan rekaman CCTV area ballroom, pintu masuk, dan koridor belakang satu jam terakhir."
"Baik, Pak."
Wajah Kayla langsung memucat, tangannya mengepal hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan sendiri.
Beberapa menit kemudian, layar LED besar yang semula digunakan untuk presentasi perusahaan berubah menampilkan rekaman kamera pengawas. Video pertama memperlihatkan Kayla memasuki ballroom, dan tak ada yang aneh.
Video kedua menampilkan koridor belakang. Di sanalah Kayla terlihat berhenti dan berbicara dengan pria pembawa nampan selama hampir satu menit. Meski tidak terdengar suara, gerakan tangan keduanya tampak jelas.
Pria itu bahkan menerima sebuah amplop kecil sebelum berjalan pergi.
Suasana ballroom kembali riuh.
"Itu dia orangnya!"
"Jelas sekali mereka saling mengenal."
"Masih mau mengelak?"
Mata Kayla membelalak. "Tidak! Itu bukan uang! Di dalam amplop itu hanya—"
Kalimatnya terhenti, ia sadar... semakin banyak berbicara justru semakin memperburuk keadaan.
Deris memandang layar itu tanpa berkedip, ada rasa amarah yang perlahan memenuhi dadanya. Yang mengguncangnya bukan kegagalan rencana Kayla, melainkan kenyataan bahwa perempuan yang selama ini ia banggakan sanggup melakukan cara serendah itu.
"Kayla." Suaranya terdengar berat. "Apa yang sebenarnya kamu lakukan?"
"Mas, aku melakukan ini demi kita."
"Demi kita?"
"Iya! Selama Zahira masih dihormati, semua orang selalu membandingkanku dengannya. Aku hanya ingin dia kehilangan nama baiknya supaya tidak ada lagi yang memujinya di depanmu."
PLAK!
Suara tamparan menggema di tengah ballroom, memecah keheningan dan membuat seluruh tamu menoleh.
Kayla memegangi pipinya yang memerah dengan mata membelalak, masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Sementara Deris, berdiri kaku di hadapan Kayla. Tangan yang baru saja menampar kekasihnya itu, masih mengepal di sisi tubuhnya. Rahangnya mengeras, dan dadanya naik turun menahan emosi. Tatapannya dingin, dipenuhi kekecewaan yang bercampur amarah.
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭