Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Rencana jahat
"Untuk sekarang baru ada satu video. Aku harus mengumpulkan lebih banyak bukti lagi. Aku harus menggunakan waktu dua tahun ini sebaik mungkin," gumam Arga.
Arga duduk di depan laptopnya, memindahkan dan mengamankan file video rekaman ke folder rahasia. "Mungkin aku harus buat beberapa salinan cadangan juga agar lebih aman."
Setelah selesai menyimpan laptopnya, Arga merebahkan diri di kasur.
Pandangannya menatap langit-langit kamar saat ingatan tentang mendiang kakeknya kembali muncul.
Di masa lalu, ketika seluruh anggota keluarga Wijaya membenci dan mengucilkannya, hanya Kakek yang berdiri paling depan untuk membelanya mati-matian.
Sejak Arga kecil, kakeknya pulalah yang selalu ada memberikan kasih sayang, nasihat, dan kehangatan yang tidak pernah ia dapatkan dari orang tuanya.
"Warisan ya...?" Arga terkekeh pelan sebelum akhirnya memejamkan mata untuk tidur.
...****************...
Sementara itu, di sebuah sudut jalanan yang cukup sepi pada malam hari, Devan, Hendra, dan teman-teman satu gengnya sedang berkumpul.
Di dekat mereka, motor-motor sport mahal tampak terparkir rapi, siap untuk digunakan balap liar.
"Dia anak dari sekolah lain, kan?" tanya Devan sambil menunjuk seorang pemuda di ujung jalan.
"Iya, sombong banget tuh anak. Katanya dia menantang kita balapan. Harus kita kasih paham malam ini," sahut Hendra ketus.
Devan memperhatikan musuh mereka yang tampak bergaya tengil dan penuh percaya diri itu. "Taruhan berapa?"
"Seratus juta. Plus, yang kalah harus mengenalkan pacarnya dan kita boleh bebas ngapa-ngapain cewek itu, haha!" Hendra tertawa lepas, menunjukkan tabiatnya yang memang minim empati.
Devan hanya menghela napas panjang. "Kalau ingat soal taruhan, aku jadi kesal sendiri. Anak sialan itu benar-benar bikin malu! Kita juga harus kasih dia pelajaran. Makin hari makin ngelunjak kelakuannya."
"Si Arga?" tebak Hendra.
"Iya, siapa lagi kalau bukan anak haram ayahku itu!" jawab Devan dengan wajah suram.
Hendra menggeleng heran. "Memang brengsek tuh orang. Tapi kenapa orang tuamu terkesan diam saja dan gak langsung memberi dia pelajaran?"
"Bukan dibiarkan," jawab Devan kesal. "Tapi si Arga sekarang makin semena-mena menggunakan hak perjanjian warisan Kakek. Anak itu ternyata pintar memanfaatkan celah hukum. Makanya, anggap saja ini masalah kita. Gak usah libatkan orang tua."
"Pantas dia berani banget. Gimana kalau kita hajar saja? Kita keroyok ramai-ramai, tapi mainnya harus rapi. Gimana, Van?" usul Hendra.
Devan tampak berpikir sejenak. "Bukannya kemarin dia berhasil menghajar kalian? Kalau cuma main fisik, terlalu biasa. Kita harus menghancurkan mentalnya sekalian."
"Ngeri juga taktikmu, Van. Tapi ide bagus. Gimana kalau kita jebak dia seolah-olah sudah menghamili anak orang?" tanya Hendra dengan senyum licik.
Mata Devan melebar. "Wow... Gila juga kamu, Dra. Tapi itu ide yang sangat bagus. Cuma perempuannya siapa?"
"Bukannya kakakmu punya banyak cewek? Minta saja satu cewek sama dia buat dijadikan umpan jebakan, haha!" usul Hendra.
"Tapi kalau pakai wanita dewasa, kayaknya kurang menarik."
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat. "Akhirnya aku menemukanmu, Devan sayang. Aku cari-cari dari tadi loh."
Devan dan Hendra menoleh serentak. Mereka saling pandang, lalu sebuah senyuman penuh arti muncul di wajah masing-masing.
"Reina? Kamu gak takut dimarahi orang tuamu kelayapan malam-malam begini?" tanya Devan.
Reina tertawa kecil. "Biarin saja. Mereka terlalu protektif."
...****************...
Keesokan paginya, Arga terbangun dari tidurnya.
Dengan langkah lesu, ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai bersiap-siap mengenakan pakaian santai karena sedang diskors, ia membuka ponselnya.
Ada notifikasi tugas belajar di rumah dari sekolah. "Nanti-nanti sajalah kerjainnya," gumamnya acuh tak acuh.
Arga berjalan menuju ruang makan utama. Berbeda dari biasanya, kali ini ia langsung menarik kursi dan ikut duduk di meja makan bersama yang lain. "Pagi," sapanya santai.
Bramantyo, Ratih, Gavin, dan Nabila langsung menatapnya dengan pandangan tajam. Tampaknya mereka sudah terlalu lelah untuk berteriak marah-marah pagi ini.
Arga mengambil piring kosong lalu menyendok nasi dengan senyum lebar. "Nah, gini kan enak. Pada diam semua. Hari yang indah, bukan?"
"Indah apanya?! Gara-gara kamu, aku harus repot mengurus motor sport-ku yang ditahan di pos polisi!" seru Gavin dengan nada tinggi.
"Bagus dong, anggap saja buat menambah pengalamanmu berurusan sama polisi, Dek."
"Dek?! Jangan panggil aku kayak begitu, Arga brengsek!" teriak Gavin tidak terima.
Nabila menghela napas panjang lalu meletakkan sendoknya dengan kasar. Selera makannya hilang seketika. "Aku ke kamar dulu, mau siap-siap berangkat sekolah."
Ratih pun ikut berdiri dari kursinya. "Anak haram ini benar-benar membuat nafsu makanku hilang."
Setelah mereka pergi, Bramantyo menatap Arga dengan pandangan lesu. "Arga, jangan terus-menerus mencari masalah yang bisa mencoreng nama baik keluarga ini."
"Santai saja, Yah. Kan Ayah bisa mengurus semuanya, haha. Anak kesayangan Ayah yang lain jelas-jelas sering bikin masalah saja dibiarkan, kenapa cuma aku yang diperingatkan? Dibawa enjoy saja," sahut Arga santai sembari mengunyah makanannya.
Bramantyo menggelengkan kepala lelah. "Ayah sudah sering memperingatkan mereka, tapi mereka bebal. Jadi sekarang, kamu nurut saja!"
"Halah, nurut-nurut. Urus saja dulu anak-anak sah kesayangan Ayah itu," jawab Arga acuh tak acuh.
Gavin akhirnya pergi meninggalkan meja makan dengan menghentakkan kaki kesal, disusul oleh Bramantyo yang pergi tanpa pamit.
Kini tersisa Arga yang menikmati sarapannya sendirian di meja makan yang besar itu.
Arga tersenyum sinis menatap kursi-kursi kosong di sekelilingnya. 'Kalian tidak akan pernah bisa menghancurkan orang yang sudah pernah hancur total di kehidupan sebelumnya...' batinnya dalam hati.
Setelah selesai makan dan mencuci piringnya, Arga segera bersiap untuk pergi keluar rumah mencari kesibukan.
"Pergi ke bengkel Bang Jaya saja lah. Bingung juga mau ke mana hari ini."