Quirinus pikir, setelah menikah bersama wanita yang dicintai dan mencintainya akan mendapatkan kehidupan bahagia, damai, dan tidak pernah menemui masalah apa pun. Tapi ternyata, ia keliru. Masalah memang tidak pernah muncul dari hubungannya dengan sang istri, namun justru masa lalu.
Saat usia pernikahan menginjak satu tahun dan Annora tengah mengandung anaknya, karirnya sebagai seorang model dan aktor melambung tinggi. Ketika ia mulai terkenal itulah titik di mana seorang wanita dari masa lalu Quirinus muncul dan mengaku bahwa memiliki anak bersamanya.
Ujian cinta Quirinus dan Annora begitu luar biasa. Sanggupkah mereka bertahan dalam ikatan pernikahan yang masih seumur jagung itu atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
“Sayang ... bisa tolong bantu aku?” Annora berteriak dari dalam walk in closet. Sejak izin untuk mandi, ia ditinggalkan oleh suami karena Quirinus katanya mau menyiapkan sarapan sebelum mereka keluar menjemput Austin.
Tiga kali Annora memanggil, tapi tak kunjung mendapatkan tanggapan. Akhirnya dia menahan bagian depan baju yang belum berhasil dikancing rapat supaya tidak mendadak lolos saat berjalan.
“Pantas saja tidak dengar, ternyata masak sambil mendengarkan youtube,” gumam Annora diiringi gelengan kepala saat melihat suami tengah berkutat di dapur beserta video tutorial memasak.
Annora akui kalau Quirinus itu pria yang selalu mengusahakan sesuatu untuknya walau tidak bisa. Contohnya sekarang. Padahal semalam hanya menyeletuk ingin lasagna buatan sang suami. Pagi harinya sudah berusaha untuk membuatkan.
Dari pada mengeluarkan suara berteriak dan menghabiskan tenaga, lebih baik Annora melangkah mendekat. Ada punggung polos tanpa balutan baju.
Saking lembut dan pelan saat melangkah, nyaris tak ada suara hentakan kaki yang didengar oleh Quirinus. Pria itu juga tidak berbalik sedikit pun. Supaya diketahui keberadaannya, Annora pun melingkarkan satu tangan ke perut berotot suami, sementara sebelah lagi untuk mengusap punggung.
Quirinus yang tengah fokus pada bahan-bahan masakan pun terhenyak. Untung saja dia selalu ingat kalau hanya tinggal berdua. Jadi, tidak menimbulkan reflek menghajar saat terkejut. Justru menunduk, melihat jemari lentik dengan kuku panjang tengah mengusap-usap perutnya.
“Kenapa? Rindu?” tanya Quirinus. Dia melanjutkan menyusun setiap layer lasagna supaya bisa dimasukkan ke dalam oven. “Tunggu sebentar, ya? Aku selesaikan ini.”
“Hm.” Annora hanya bergumam, tapi enggan memberikan jarak. Rasanya wangi suami saat memasak itu jauh lebih enak. Parfum bercampur aroma dapur, entah kenapa membuat hidungnya justru ingin menghidu aroma Quirinus terus.
Quirinus juga membiarkan istri terus menempelkan tangan di tubuhnya. Memasukkan lasagna ke dalam oven, lalu mencuci tangan setelah menyetel panas dan waktu. Barulah sekarang ia berbalik badan, alis pun langsung naik sebelah kala melihat sang istri sudah mengumbar dada di depan mata.
“Kau ingin menggodaku? Sekarang?” Tangan Quirinus seraya menjalar di kulit mulus Annora, dari leher hingga berhenti pada sebuah garis yang membelah di bagian dada. Begitu sensual gerakannya. “Masih ada waktu juga, sambil menunggu lasagna permintaanmu matang.” Kepalanya sudah semakin mendekat, siap membuat gerakan erotis lainnya.
Annora mendaratkan telapak ke jidat Quirinus, menahan wajah suami yang hendak menyosor terus. Sedikit mendorong supaya tidak membuatnya suka rela membuka kedua paha. “Ish ... semalam sudah sampai kelelahan, masih mau lagi saja.”
“Loh ... mau diulang terus sampai sehari sepuluh kali juga aku mau,” seloroh Quirinus. Dia berhasil mencuri satu kecupan singkat di bibir sang istri.
Annora mencubit kecil perut berotot yang terasa keras. “Sejak kau ambil cuti, kenapa pikiranmu jadi bercinta terus? Ini pasti efek karena sekarang menganggur.”
Ada kekehan meluncur dari bibir Quirinus. Dia acak-acak rambut Annora hingga berantakan. “Tidak salah dong kalau inginnya sama istri sendiri? Kecuali aku jajan di luar, baru kau mengomel.” Ada sebuah cubitan didaratkan pada bibir tipis memesona.
Annora mencebikkan bibir, ia berbalik badan. “Tolong, tarikkan ritsletingnya, tanganku kesulitan ke belakang.”
“Dapat apa?”
“Pamrih sekali.”
“Cium, ya?”
“Ck! Bukankah sudah sering.”
“Ciumnya sambil—”
“Aduh ... kebanyakan permintaan, tinggal tarik saja,” omel Annora yang mulai gemas karena digoda terus.
Suami absurd
Suami rupa madu mulut racun
Perjodohan Arini