NovelToon NovelToon
Aku Yang Jatuh Cinta

Aku Yang Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:204
Nilai: 5
Nama Author: citaaaa

Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEMBILAN

Seperti pagi biasanya. Setiap rumah memiliki dapur yang terkepul asap, akibat kegiatan memasak untuk sarapan.

Nenek Salma memindahkan kacang panjang yang sudah dipotong-potong ke dalam wajan berukuran sedang tersebut. Sedangkan Arun masih sibuk dengan cucian piringnya.

Begitu Arun selesai membereskan piring-piringnya, tak lama masakan nenek Salma pun siap untuk dihidangkan.

"Run, sini makan dulu" ajak nenek Salma.

Arun berjalan sambil membetulkan cepolan rambutnya menghampiri sang nenek, "iya nek" balas Arun.

Mereka sarapan dengan tenang, hanya suara sendok dan piring yang saling bersahutan.

"Kuliah kamu teh, kapan selesainya?" tanya sang nenek saat mereka selesai sarapan.

"Bentar lagi kok nek" ucap Arun.

Salma bangun dari duduknya, tangannya mulai membawa piring kosong untuk ditumpuk tepat dihadapannya. Namun tiba-tiba sebuah tangan lebih dulu mengambilnya.

"Nenek duduk aja, biar Arun yang beresin" ujar Arun sambil membawa tumpukan piring tersebut.

"Nenek tunggu di depan ya Run?" ucap Salma.

"IYA NEK" balas Arun dari belakang sana, tempat mencuci piring.

Sederhana. Mungkin itu kata yang tepat untuk keadaan tadi, namun berbeda dengan suasana di rumah ini.

"Ilham jawab jujur pertanyaan papah!" ucap Broto setelah mereka selesai sarapan.

Ilham dibuat bingung saat mendengar perkataan papanya, "Soal apa ya pah?" ucap Ilham sambil membersihkan mulutnya dengan tisu.

"Bio"

"Heem, kenapa sama dia pah?" tanya Ilham.

"Harusnya papah yang tanya, kenapa dia itu? Cuma suruh bawa Arun kembali ke cafe aja gak bisa!" Ucap Broto kesal.

"Mas jangan marah-marah" nasehat sang istri, Nita.

"Kalo soal itu, Ilham juga gak tau pah. Bio bilang dia udah berusaha bujuk Arun tapi emang cewek itu aja yang keras kepala" jelas Ilham.

"Siapa Arun?" tanya Adit yang sedari tadi hanya diam.

"Karyawan di cafe" balas Ilham.

"Cucu nenek Salma, kamu taukan Adit?" Ujar Broto.

"Cewek?" ujar Adit.

"Iyalah bang! Lo ngeselin banget sih sekalinya ngomong" balas Ilham.

Adit memang terkenal dengan sikap nya yang dingin dan cuek pada sekitarnya.

Jika bukan masalah kantor Adit akan tetap santai tak ingin ikut campur ke dalamnya.

"Waktu Adit dulu ke Bandung, anak SMA itu?" tanya Adit.

Broto hanya menganggukan kepala, "Lo tau dia bang?" sambung Ilham.

"Dari dulu" balas Adit.

"Loh, kok bisss ..."

"Adit berangkat dulu mah, pah" pamit Adit sebelum Ilham menyelesaikan ucapannya.

Adit mencium tangan Broto dan mengecup kening Nita, sang mama.

"Hati-hati sayang" ucap Nita.

"Hehh sabdul, belum juga gue kelar ngomong!" protes Ilham.

"Kamu mau bolos kantor lagi, Ham?" tanya Broto dengan suara berat.

Ilham menepuk jidatnya pelan, "Ohh iya, mobil Ilham lagi di bengkel. Bang Adit tunggu! Gue nebeng!" teriak Ilham sambil berancang-ancang untuk berlari mengejar Adit.

"Ilham berangkat dulu mah, pah" pamitnya sambil mencium cepat tangan Broto dan Nita.

Broto menggelengkan kepalanya, "Kayak kebun binatang, berbagai jenis!" ucap Broto.

"MAS! Mereka anak kita ya bukan BINATANG!" ucap Nita kesal sambil meninggalkan meja makan.

"Mahh, siapa yang bilang anak kita Binatang? Aku cumaa .."

"CEPAT PERGI KE KANTOR SEBELUM IBU DARI BINATANG-BINATANG ITU KEHABISAN KESABARANNYA!!" teriak Nita dari balik pintu kamar.

"Hehh!" umpat Broto kemudian pergi meninggalkan meja makan.

Selalu diakhiri dengan keadaan yang membuat salah paham.

"Run?" panggil nenek Salma.

"Iya nek" balas Arun tanpa melihat ke arah sang nenek.

Arun memang sedang sibuk melipat dan merapihkan pakaiannya dan sang nenek.

Salma memegang tangan Arun, membuat Arun menghentikan kegiatannya.

"Nenek kenapa? Mau Arun ambilin sesuatu?" tanya Arun.

Salma menggelengkan kepalanya, "Kamu kapan nikah?" ucap Salma.

Ha?

"Hahahaha, nenek? Nenek kenapa sih?" ucap Arun sambil tertawa.

"Nenek cuman gak mau nanti teh gak bisa liat Arun pake kebaya yang cantik" ucap Salma.

Arun menatap lekat Salma sambil meraih kedua tangan neneknya itu.

"Nenek pasti liat Arun menikah, hamil terus punya anak kok nek. Dan Arun janji Arun gak akan pernah ninggalin nenek" ucap Arun dengan sungguh-sungguh.

Nenek Salma hanya tersenyum sambil mengusap tangan Arun yang berada di tangannya.

Meski Arun terlihat tersenyum, namun dalam lubuk hati Arun yang paling dalan banyak ketakutan yang Arun rasakan. Termasuk ditinggalkan oleh Salma.

"Kita gak tau loh Run, kapan kita akan bertemu dan berpisah dengan seseorang" ujar Salma.

"Nekk ..."

"Kalo nanti nenek gak bisa nemenin Arun sampe Arun punya anak, maafin nenek ya. Arun harus janji sama nenek kalo tanpa nenek pun, Arun akan selalu bahagia" ucap Salma dengan mata berkaca-kaca.

Arun mengangguk, rasanya air matanya akan segera turun.

"Arun berangkat kerumah Tia dulu ya nek" pamit Arun sambil mencium tangan Salma, setelah selesai membereskan baju tersebut.

Arun benci jika harus menunjukan sisi lemahnya pada sang nenek. Itu hanya akan menambah beban Salma saja.

Salma sedikit lega dengan apa yang dia katakan baru saja pada Arun. Walau tidak memberitahu yang sebenarnya.

Arun mematikan mesin motornya, lalu bergegas melepas helmnya.

"Tante Indah" panggil Arun pada seorang perempuan seumuran dengan mama Arun.

"Ehh, ada Arun" ucap Indah saat melihat ke arah belakangnya.

"Tante kok nyiram bunganya sendirian? Tia kemana? Masak?" tanya Arun sambil sesekali melihat ke arah dalam rumah.

"Tia kok masak Run, jelema sebul baee!" ucap Indah.

(Orang pemalas aja!)

Arun tersenyum mendengar umpatan untuk Tia tersebut, "Dia mah masih tidur, udah sana kamu masuk terus siram aja mukanya pake air" ujar Indah.

"SIAPP TANTE!, Arun masuk dulu ya tan" pamit Arun setelah mendapat anggukan dari Indah.

Arun melangkah memasuki kamar Tia, duduk bersila di atas kasur disamping Tia yang sedang tertidur pulas.

"Ckk, bangun Ti" ucap Arun.

Belum ada pergerakan dari wanita itu, masih setia memejamkan matanya dengan erat.

"Tiaa bangun sihh, ini udah siang tau!" ujar Arun dengan nada naik satu oktaf, sambil menggerakkan badan Tia.

"TIA SUMPAH YA! Lo kayak orang mati tau gak! Kalo sampe lo gak mau bangun sekarang juga, gue terpaksa pake cara tante Indah buat bangunin lo!" ujar Arun.

"Huammmm" Tia menguap sambil merentangkan kedua tangannya, sedangkan badannya masih setia pada kasur.

"Takut kan lo kalo sampe gue pake cara emak lo!" ledek Arun, sambil berusaha untuk menyandarkan punggungnya pada tepian ranjang.

"Run, lo pagi-pagi buta ngapain udah di rumah gue?" tanya Tia yang kembali memejamkan matanya.

"Pigi-pigi biti, Lo kali yang buta! Matahari udah melototin lo tuh dari tadi!" sahut Arun ngegas.

Hening.

"Gue pengen nikah aja deh!" ucap Arun sambil menutup wajahnya dengan bantal kecil milik Tia.

Tia membuka matanya lebar sambil melihat ke arah Arun, "Seorang Arun, udah mikir mau nikah? Kayaknya bentar lagi nih dunia" ujar Tia.

Arun akhirnya merebahkan tubuhnya di kasur tersebut, "Gue bangun lo tidur gini mah sama aja bohong!" ujar Tia sambil menggeplak tangan Arun.

"Gue nyari kerja dimana lagi ya, Ti?" ucap Arun dengan nada lesu.

Tia menurunkan garis wajahnya, paham dengan keadaan Arun saat ini.

"Di cafe udah gak bisa?" tanya Tia.

Arun menggelengkan kepalanya, "Bella udah kerja disana" jelas Arun.

"Oke lah, kalo gitu lo hari ini ikut gue" ujar Tia sambil turun dari kasurnya.

"Kemana?" tanya Arun.

"Nanti gue kasih tau, tapi gue mandi dulu" ucap Tia sambil berlari ke arah kamar mandi.

Arun terdiam. Entah apa yang akan dilakukan temannya itu.

"RUN ANDUK GUE!" teriak Tia dari dalam kamar mandi.

"Ishhh, kebiasaan banget lo, Tai!" umpat Arun.

"RUN!! PASTI LO NGATAIN GUE TAI KAN?!! YA KAN?!!" teriak Tia lagi.

Tbc.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!