Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhasil
Suasana di luar tenda semakin tegang. Pangeran Tian berjalan mondar-mandir, tangannya terkepal di balik punggung. Keheningan di dalam tenda Natalia justru membuatnya gelisah.
“Wulan.” Pangeran Tian berhenti tepat di depan pelayan itu. “Sudah dua jam. Tidak ada suara tumbukan obat, tidak ada bau herba yang dibakar. Apa yang dilakukan nonamu di dalam?”
Wulan berdiri tegak, meski ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam. Ia hanya tahu nonanya selalu membawa keajaiban. “Nona sedang melakukan meditasi pengobatan tingkat tinggi, Yang Mulia. Ia membutuhkan konsentrasi penuh untuk menyatukan elemen penyembuh.”
Wu Reno mendengus tidak percaya. “Meditasi? Di tengah rakyat yang sekarat? Ini tidak masuk akal. Saya curiga dia melarikan diri atau—”
“Tutup mulutmu, Reno!” perintah Pangeran Tian tajam. Matanya menatap tirai tenda yang tak bergeming. “Dia adalah satu-satunya orang yang berani menyentuh pasien yang paling menjijikkan sekalipun tanpa rasa takut. Jika dia bilang dia sedang bekerja, maka dia sedang bekerja.”
“Tapi Pangeran, bagaimana jika dia hanya menggunakan kita untuk melindungi dirinya sendiri?” Wu Reno masih bersikeras. “Gaya pengobatannya aneh. Dia tidak menggunakan jarum akupunktur biasa, dan dia memiliki benda-benda logam aneh.”
Pangeran Tian terdiam. Ia teringat mata Natalia saat mereka pertama kali bertemu, mata yang penuh pengetahuan, mata yang seolah telah melihat masa depan. “Dunia ini luas, Reno. Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh logika istana kita. Jika dia gagal, akulah yang akan menghunuskan pedang padanya. Tapi selama dia masih berjuang, jangan ada yang berani melangkah satu inci pun ke dalam tendanya.”
Wulan menghela napas lega, namun matanya tetap waspada. Di dalam hatinya, ia berdoa, “Nona, kumohon cepatlah keluar. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa menahan mereka.”
Angin malam berhembus pelan, membawa suara batuk dan rintihan dari dalam tenda-tenda pengungsian. Beberapa prajurit tampak gelisah, saling bertukar pandang seolah menunggu keajaiban yang tak kunjung datang.
Wu Reno menyilangkan tangan di dada. “Jika dia gagal …” gumamnya pelan, namun cukup terdengar oleh Wulan.
Wulan menegakkan bahunya. “Nona tidak pernah gagal,” balasnya tegas dan penuh keyakinan.
Wu Reno menatapnya sekilas. “Keyakinan saja tidak cukup untuk menyelamatkan nyawa.”
Wulan tidak menjawab lagi. Ia hanya menggenggam erat ujung lengan bajunya, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Di sisi lain, Pangeran Tian kembali memandang tirai tenda. Tatapannya tajam, namun ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Sementara itu.
“Selesai!” Natalia mengangkat sebuah botol kecil berisi cairan biru bening yang berkilauan. Ia juga menyiapkan puluhan botol cairan infus yang telah ia modifikasi dengan nutrisi sintetis.
Ia melihat jam digital di dinding lab. Waktu di ruang dimensi berjalan lebih cepat daripada di luar, namun ia tetap harus bergegas. Ia mengambil tas medis kulitnya, memasukkan botol-botol itu ke dalamnya, lalu kembali mengenakan jubah kunonya.
Sebelum keluar, ia menatap foto ibunya yang terpajang di meja lab. “Ibu, aku akan membuktikan bahwa ilmu pengetahuanmu bisa menyelamatkan sejarah yang terlupakan ini.”
Natalia berdiri di tengah ruangan, memicu alat teleportasi dimensinya, dan dalam sekejap, ia kembali ke kesunyian tendanya di Desa Lino.
Ia segera merapikan diri, mematikan lampu senter kecil yang ia bawa, dan berjalan menuju pintu tenda. Ia menyibak tirai dengan gerakan anggun namun penuh wibawa.
Cahaya fajar mulai menyingsing di ufuk timur saat Natalia muncul. Pangeran Tian dan Wu Reno langsung menoleh. Wulan hampir jatuh terduduk karena lega.
“Nona!” seru Wulan.
Natalia tidak tersenyum. Wajahnya tampak lelah namun matanya bersinar penuh kemenangan. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kayu kotak yang sebenarnya berisi obat-obatan masa depan yang telah dikemas agar terlihat seperti ramuan kuno.
“Pangeran Kedua,” panggil Natalia dengan suara tenang namun tegas. “Kumpulkan sepuluh orang yang kondisinya paling parah di barak utama. Saya telah menemukan penawarnya. Dan Tuan Wu Reno ....”
Wu Reno menegang saat ditunjuk.
“Siapkan air bersih sebanyak mungkin. Kita akan membersihkan sumur desa dengan ‘garam pemurni’ yang saya bawa. Wabah ini akan berakhir hari ini.”
Pangeran Tian menatap Natalia dengan kekaguman yang tak tertutup lagi. “Apakah Anda yakin, Nona Natalia?”
Natalia melangkah maju, melewati mereka menuju barak pengungsian. “Sains—maksud saya, takdir—tidak pernah berbohong, Pangeran. Mari kita selamatkan rakyat Anda.”
Hampir saja Natalia kelepasan berbicara soal kata-kata yang tidak diketahui oleh zaman ini.
Langkah Natalia tegas, jubahnya berkibar pelan tertiup angin pagi. Para prajurit yang melihatnya langsung memberi jalan, seolah menyaksikan seorang penyelamat berjalan di tengah keputusasaan.
Wulan segera mengikuti dari belakang. “Nona, apa yang harus saya lakukan?” tanyanya cepat.
“Siapkan peralatan infus dan bantu pasien tetap sadar,” jawab Natalia tanpa menoleh. “Hari ini akan panjang.”
Wu Reno masih berdiri di tempatnya. Matanya menatap punggung Natalia dengan campuran curiga dan kagum.
“Jika ini berhasil .…” gumamnya pelan.
Pangeran Tian menyela, matanya tetap mengikuti langkah Natalia. “Bukan jika, Reno.”
Wu Reno menoleh. “Pangeran?“
Pangeran Tian menarik napas dalam. “Dia akan berhasil.”
Terlihat Natalia mulia membuka kotak kayu miliknya. Dari dalam, ia mengeluarkan botol kecil berisi cairan biru bening yang berkilauan yang dibuatnya tadi.
Beberapa tabib istana yang ikut rombongan memperhatikan dengan tatapan penuh curiga. Mereka saling berbisik, jelas tidak memahami apa yang dilakukan Natalia.
“Apa itu?” bisik salah satu tabib.
“Bukan ramuan yang pernah kulihat,” sahut yang lain.
Natalia tidak menggubris. Ia langsung berlutut di samping pasien pertama.
Dengan gerakan halus, ia memasukkan jarum suntik ke dalam pembuluh darah pasien. Cairan biru itu perlahan masuk ke tubuh yang hampir tak bernyawa.
Wu Reno yang berdiri di dekat pintu menyipitkan mata. “Metode aneh lagi,” gumamnya.
Pangeran Tian tetap diam. Tatapannya tak lepas dari setiap gerakan Natalia.
“Pasien berikutnya,” ujar Natalia tenang.
Ia bergerak cepat dari satu pasien ke pasien lain. Tangannya stabil, ekspresinya tak berubah.
Wulan mengikuti di belakang, mengganti alat dan membantu menjaga kondisi pasien. Keringat mulai membasahi pelipisnya.
Beberapa menit berlalu. Tidak ada perubahan.
Salah satu tabib mulai menggeleng pelan. “Tidak mungkin … penyakit separah ini—”
Namun ucapannya terhenti.
Salah satu pasien tiba-tiba batuk keras. Tubuhnya yang sebelumnya lemah kini sedikit bergetar.
Wulan terkejut. “Nona!”
Natalia langsung menoleh. “Perhatikan napasnya.”
Pasien itu terengah-engah. Namun untuk pertama kalinya, napasnya terdengar lebih kuat.
Perlahan, warna kehijauan di kulitnya mulai memudar. Meski belum sepenuhnya hilang, perubahan itu jelas terlihat.
“Ini .…” bisik salah satu prajurit. “Dia … membaik?”
Pasien lain mulai menunjukkan reaksi yang sama. Jari-jari mereka bergerak, kelopak mata bergetar.
Suasana di dalam barak berubah drastis. Harapan yang semula padam kini mulai menyala.
Tabib istana yang tadi meragukan melangkah maju dengan wajah tegang. “Bolehkah saya … memeriksa kondisinya?”
Natalia berdiri dan memberi jalan. “Silakan.”
Tabib itu segera berlutut di samping salah satu pasien. Tangannya gemetar saat memeriksa denyut nadi.
Beberapa detik berlalu.
Matanya membelalak. “Ini tidak mungkin.” Ia memeriksa ulang, kali ini lebih teliti. Keringat dingin mulai mengalir di dahinya.
“Nadinya stabil,” gumamnya. “Suhu tubuh mulai turun.”
Ia menoleh pada Natalia dengan ekspresi tak percaya. “Bagaimana Anda melakukannya Nona?”
Natalia tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap pasien-pasien itu dengan tenang.
“Yang penting mereka hidup,” katanya singkat.
Tabib itu berdiri perlahan. “Dalam waktu sesingkat ini … ini di luar nalar.”
Tabib lain ikut mendekat. Mereka bergantian memeriksa kondisi pasien.
Semua menunjukkan hasil yang sama.
“Ini keajaiban,” bisik salah satu dari mereka.
Wu Reno melangkah maju. Wajahnya yang biasanya dingin kini penuh keterkejutan.
“Ini benar-benar bekerja,” katanya pelan.
Pangeran Tian akhirnya menghembuskan napas panjang. Bahunya yang tegang perlahan mereda.
Matanya menatap Natalia dengan sorot yang berbeda. Bukan lagi sekadar penasaran, melainkan kekaguman yang tulus.
“Luar biasa,” ucapnya pelan.
Wulan hampir menangis. Ia menutup mulutnya, menahan haru yang meluap.
“Nona, Anda berhasil,” bisiknya.
Natalia menggeleng pelan. “Belum.”
Semua mata langsung tertuju padanya.
“Ini baru langkah awal,” lanjutnya. “Mereka masih harus dipantau. Dan sumber wabahnya harus dihentikan.”
Wu Reno mengangguk perlahan. “Sumur desa.”
Natalia menatapnya. “Ya. Jika airnya masih terkontaminasi, semua ini akan sia-sia.”
Pangeran Tian melangkah maju. “Aku akan memastikan itu dibersihkan sekarang juga.”
Natalia mengangguk. “Bagus.”