NovelToon NovelToon
MATA TEMBUSH PANDANG

MATA TEMBUSH PANDANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dunia Masa Depan / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: JALAN JALAN

Kepingan Giok Kekaisaran di tangan Chen akhirnya berpindah kepemilikan setelah melewati negosiasi singkat yang dikawal oleh Liu. Berkat bobot dan kemurniannya yang langka, batu itu terjual dengan harga yang sangat tinggi—sebuah nominal fantastis yang belum pernah Chen lihat seumur hidupnya. Rekening banknya yang semula kosong melongpong, kini terisi penuh oleh angka-angka yang membuatnya sempat termangu di depan layar ATM.

Hal pertama yang ia lakukan begitu kembali ke area kos adalah menemui sang pemilik kos.

"Ibu, ini uang sewa kos saya yang menunggak dua bulan," ujar Chen sopan sambil menyerahkan seikat uang tunai. Tidak hanya melunasi utangnya, Chen juga menambahkan beberapa lembar uang ratusan yuan di atasnya. "Dan ini ada sedikit kelebihan untuk Ibu. Terima kasih banyak karena selama ini sudah baik dan memberikan saya banyak kelonggaran waktu."

Melihat tumpukan uang itu, wajah ketus sang ibu kos seketika meleleh menjadi senyuman lebar. Sikapnya langsung berubah drastis. "Aduh, Chen! Ibu memang tahu kamu itu anak yang rajin dan bertanggung jawab. Terima kasih banyak, ya! Kalau ada fasilitas kos yang kurang nyaman, bilang saja sama Ibu!"

Chen hanya tersenyum tipis, lalu berpamitan. Beban finansial yang menghimpit pundaknya selama berbulan-bulan kini lenyap tanpa bekas.

Sekarang, ada satu hal lagi yang ingin ia lakukan. Chen melangkah menuju kamar di sebelah kamarnya. Kamar Mei.

Sebenarnya, Chen sudah lama memendam perasaan pada gadis itu. Namun, statusnya yang hanya seorang kuli angkut miskin selalu menjadi tembok besar yang membuatnya minder dan malu untuk mengungkapkan isi hatinya. Kini, dengan secercah harapan baru dalam hidupnya, Chen memberanikan diri.

Tok! Tok! Tok!

"Mei, kamu ada di dalam?" panggil Chen, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya.

Tak berselang lama, pintu kayu kamar tersebut terbuka. Sosok Mei muncul dari balik pintu dengan senyum ramahnya yang khas. "Chen? Eh, ayo masuk, kita duduk di dalam."

"Ah, iya, terima kasih," jawab Chen agak canggung.

Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar kos Mei yang rapi dan harum. Setelah mempersilakan Chen duduk di satu-satunya kursi di sana, Mei menatapnya dengan penasaran.

Chen berdeham kecil untuk mengurangi rasa gugupnya. "Mei, sebenarnya aku mau mengajak kamu jalan-jalan. Kamu enggak sibuk, kan? Kebetulan hari ini aku ada rezeki lebih. Tapi... kalau kamu lagi sibuk, biar lain kali saja kita jalan-jalannya."

Mendengar ajakan yang tiba-tiba itu, mata Mei berkedip heran, lalu sebuah senyuman manis terukir di wajahnya.

"Enggak kok, Chen. Aku enggak sibuk hari ini. Kalau begitu, aku siap-siap dulu ya. Kamu tunggu di sini saja, aku enggak lama mandinya."

"Oh, iya, silakan. Aku tunggu di sini," kata Chen sambil mengangguk.

Mei kemudian berbalik dan berjalan menuju kamar mandi kecil di sudut kamarnya, membawa handuk dan pakaian ganti.

Begitu pintu kamar mandi tertutup, Chen mendadak tersentak. Ingatannya langsung melayang pada kejadian tadi pagi, di mana matanya tiba-tiba bisa melihat menembus dinding beton dan pintu kamar mandi saat Mei sedang mandi.

Chen menelan ludah. Rasa hangat yang familier itu perlahan mulai terasa lagi di belakang kepalanya, bersiap untuk mengaktifkan penglihatan tembus pandangnya secara otomatis karena fokusnya terpecah. Chen langsung memejamkan matanya rapat-rapat, mencengkeram pinggiran kursi, dan menarik napas dalam-dalam.

“Jangan… jangan melihat! Dia wanita yang aku sukai, aku harus menghormatinya!” bentak Chen dalam hati, mencoba sekuat tenaga menekan kekuatan matanya agar tidak lancang mengintip sang pujaan hati.

...KLIK TOMBOL LIKE DAN VOTE YA GAN 😎...

1
Agus Suciyadi
lumayan bagus sih thor...ceritanya nyambung terus, Mcnya bagus dlm sifat dan sikapnya tidak menye2 yg nafsuan. semangat thor lanjut terus/Good//Good//Good/
Markario Putra: Bantu share yah gan 👍
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!