Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 14 Adegan Drama Picisan Yang Membuat Wakadanna Geram|
...|Legacy of Soryu|...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Satu menit sebelum kelas dimulai, Bara hampir mencapai garis finis revisinya—kini hanya tersisa satu paragraf kesimpulan dan dua koreksi kecil pada tabel proyeksi sebelum ia bisa menutup laptop dengan kemenangan.
"NANA! SINI! GUA SIAPIN KURSI!"
Suara melengking itu membelah ketenangan, memaksa beberapa mahasiswa untuk menoleh ke arah pintu.
"Maaf, maaf! Jalanan macet banget tadi—"
Bara mendongak. Di ambang pintu, Nabhila Adama berdiri dengan napas sedikit memburu. Rambut hitamnya dikepang dua—gaya klasik yang tampaknya menjadi identitas pribadinya daripada sekadar tren. Ia mengenakan kaus putih yang dimasukkan setengah ke dalam celana jeans biru, dengan salah satu tali sepatu kets yang tampak lebih longgar dari pasangannya.
Mata Nana bergerak cepat menyapu seisi ruangan, hingga akhirnya berhenti tepat pada baris keempat.
Nana membeku. Matanya membulat sempurna seolah melihat hantu di siang bolong.
"OM BA—!"
PLAK.
Nana menampar mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Suaranya terpotong menjadi gumaman teredam yang terdengar seperti "Mmmpph!". Namun, dua suku kata itu sudah terlanjur meluncur, cukup keras untuk menarik perhatian seluruh barisan depan.
"Om?" sahut seorang mahasiswi dengan nada penasaran. "Lo panggil dia 'Om', Na? Emang dia keliatan sudah berumur banget, ya?"
"Eh, iya sih, kelihatannya mature... banget," timpal yang lain.
"Heh, mature itu beda sama tua, Din! Itu namanya karisma!"
Nana tidak mendengar perdebatan itu. Dunianya menyempit, hanya menyisakan dirinya dan Bara yang kini menatapnya balik dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Kenapa Om Bara ada di sini?! Kenapa dia duduk di kelas Pemasaran Digital?! Teriak Nana dalam batinnya.
Bara mengangkat satu alisnya—sebuah gerakan minimalis yang bagi Nana terasa seperti sebuah peringatan. Nana segera mengangguk, nyaris tak terlihat, lalu berjalan menuju kursi di baris ketiga tepat di depan Bara.
Langkahnya limbung, jauh dari kata normal.
"Nana, lo kenapa?" bisik Risa, sahabatnya, sambil menarik lengan Nana begitu gadis itu duduk.
"Muka lo merah banget, kayak kepiting rebus yang baru diangkat dari panci."
"N-nggak apa-apa," jawab Nana parau.
"Lo kenal sama cowok di belakang itu?" selidik Risa, matanya melirik tajam ke arah Bara.
"Nggak kok!"
"Tapi tadi lo hampir teriak nama orang tahu..."
"Gua cuma... salah lihat," dusta Nana sambil tersenyum salting, mencoba menutupi kegugupannya dengan tawa kecil yang terdengar dipaksakan.
"Iya, salah lihat. Dunia ini emang sempit, tapi kayaknya nggak sesempit itu sampai lihat orang asing mirip sama kenalan gua."
Risa memicingkan mata, tidak percaya sedikit pun.
"Salah lihat gimana? Mata lo sampai mau copot gitu. Jujur deh, dia mantan lo atau... simpanan lo?"
"Risa! Ngaco banget!" desis Nana, segera membuka buku catatannya dengan gerakan yang terlalu bertenaga hingga kertasnya nyaris robek.
Di belakangnya, Bara sudah kembali menatap layar laptopnya. Namun, laporan keuangan itu kini hanya tampak seperti barisan semut hitam yang tidak berarti.
Benar-benar seperti drama China sampah yang ditonton Davian. Ini tidak logis. Dia hanya seorang gadis bodoh yang tersesat di mall dan kebetulan punya keluarga yang mencurigakan. Tidak ada alasan bagi sistem sarafku untuk bereaksi berlebihan.
Bara mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia merasa harga dirinya sebagai seorang pewaris Soryu sedang dipertaruhkan hanya karena kehadiran seorang gadis berkepang dua yang sedang pura-pura sibuk dengan buku catatannya.
"Sialan," gumam Bara sangat pelan. "Davian... kau benar-benar telah mengutukku dengan drama tontonan sialmu itu!"
...***...
Dosen masih belum menunjukkan batang hidungnya. Ruangan yang semula riuh perlahan bertransformasi menjadi panggung observasi massal. Para mahasiswa, yang secara alami selalu mencari hiburan di tengah kebosanan mereka, mulai melakukan aktivitas paling mudah yaitu mengamati dua subjek paling kontras di barisan ketiga dan keempat.
"Eh, Nana," suara dari baris depan memecah keheningan.
Nana menatap ke depan. Di sana ada Vina Hartanto, perempuan dengan potongan rambut sebahu dan senyum yang selalu terasa seperti sebuah penilaian.
"Tadi kamu panggil apa? 'Om'? Emang kenal?" tanya Vina, suaranya sengaja dinaikkan agar terdengar sampai ke sudut ruangan.
Nana menghela napas, jemarinya meremas pulpen. "Salah lihat, Vin. Jangan mulai deh."
"Salah lihat? Kamu teriak sampai seisi gedung mungkin dengar," Vina berdiri, memutar badannya dan mendekati meja Nana.
"Atau mungkin kamu cuma mau cari perhatian? Ada mahasiswa baru yang spek CEO begini, langsung kamu klaim sebagai kenalan supaya kelihatan 'level atas' gitu?"
Tawa kecil meledak dari lingkaran kecil pendukung Vina. Nana menunduk, mencoba memfokuskan matanya pada buku catatan yang kini tampak buram.
"Aku nggak perlu klaim apa-apa, Vin," bisik Nana.
"Oh, bener? Kamu kan dari dulu emang pick me, Na. Sok rendah hati padahal aslinya cuma mau pamer nama bapakmu dan tas yang harganya lebih mahal dari UKT satu kelas ini," Vina tersenyum sinis, lalu tiba-tiba mendorong bahu Nana cukup keras hingga buku catatannya terjatuh ke lantai.
Belum sempat Nana bereaksi, Vina meraih kerah kemeja Nana, menariknya hingga gadis itu terpaksa mendongak. "Ingat, Na, tanpa nama bapakmu, kamu itu cuma sampah—"
"Lepaskan."
Satu kata itu memotong ucapan Vina. Bara beranjak dari kursinya. Ia melangkah maju dengan tenang, namun setiap hentakan sepatunya seolah menambah tekanan udara di ruangan itu.
Ia berhenti tepat di depan Vina. Tinggi badannya yang menjulang itu membuat Vina harus mendongak, dan seketika nyali mahasiswi itu menciut saat menatap sepasang mata tajam yang tidak memiliki celah untuk kompromi.
"Saya bilang lepaskan," ulang Bara.
"K-kamu siapa?! Baru masuk sudah sok jadi pahlawan!" seru Vina. Suaranya melengking, namun tangannya yang memegang kerah Nana mulai gemetar.
Bara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengangkat tangan kirinya dengan hanya menggunakan dua jari untuk menekan titik saraf di pergelangan tangan Vina yang sedang mencengkeram Nana.
Vina memekik kecil, cengkeramannya terlepas seketika. Namun, sebelum Vina bisa menjauh, Bara secara tidak sengaja menangkap pergelangan tangan gadis itu agar ia tidak jatuh terjelungkap karena kehilangan keseimbangan.
Pada detik itu, posisi mereka sekarang terkunci. Bara yang tinggi besar tampak seolah sedang memegangi lengan Vina supaya tidak jatuh. Bagi mata para mahasiswa yang haus akan drama, adegan intimidasi ini justru terlihat seperti potongan adegan drama China paling romantis tahun ini.
Keheningan yang mencekam pecah seketika oleh sorakan dari baris belakang.
"Wuuuu! Cieeee!"
"Gila! Baru hari pertama sudah ada adegan panas!"
"Ih, tatapannya dalem banget! Vina, lo nggak meleleh apa?!"
Pipi Vina yang tadinya pucat karena takut, seketika berubah merah padam karena malu. Ia menarik tangannya dengan sentakan keras, sementara Bara mematung. Matanya membulat sesaat, menyadari bahwa niatnya untuk memberikan "pelajaran" justru disalahartikan menjadi adegan picisan drama China.
Bara merasa harga dirinya hancur berkeping-keping. Sialan, maki Bara dalam hati. Ini adalah puncak penghinaan dalam hidupku.
"Keluar," desis Bara. "Sebelum saya melibatkan pihak kampus untuk tindakan perundunganmu."
Vina, yang sudah kehilangan muka total, menyambar tasnya dan berlari keluar ruangan tanpa menoleh lagi. Suara siulan mahasiswa masih menggema, membuat telinga Bara memanas.
Bara menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang sedang kacau. Ia menoleh ke arah Nana yang masih terpaku. Dengan gerakan yang kaku karena masih merasa malu, Bara merogoh saku dan memberikan sapu tangan kain berwarna hitam kepada Nana.
"Hapus air matamu. Kau terlihat berantakan," kata Bara datar.
Nana menerima kain itu dengan tangan gemetar. "Makasih, Om..." bisiknya lirih.
"Sama-sama."
Nana terdiam, setelah mengembalikan sapu tangan itu, ia pun duduk kembali di kursinya, sementara Bara kembali ke baris keempat, menutup laptopnya dengan suara yang cukup keras, dan berusaha mengabaikan tatapan semua orang yang masih berbisik-bisik tentang "kejadian romantis" barusan.
Di dalam kepalanya, Bara hanya memikirkan satu hal: Aku harus pulang dan memecat Davian secepat mungkin!
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉