Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.
Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode — 34.
Keheningan menyelimuti seluruh ballroom, ratusan pasang mata kini bergantian memandang Revan dan Almira.
Almira berusaha mempertahankan ketenangannya, meski jemarinya mulai gemetar. "Tuan Revan, kalau Anda ingin menuduh seseorang... saya harap Anda memiliki bukti yang benar-benar kuat."
Nada bicaranya tetap tenang, tetapi semua orang bisa merasakan kegugupan yang mulai terselip di baliknya.
"Tentu." Revan menatap wanita itu tanpa mengubah ekspresi, Ia memberi isyarat kepada salah seorang anggota tim keamanan.
Pria itu segera menyerahkan sebuah tablet. Revan mengambilnya, lalu menyerahkannya kepada ketua panitia. "Silakan diputar."
Ketua panitia mengangguk, video berikutnya muncul di layar. Kali ini bukan rekaman CCTV hotel. Melainkan rekaman dari kamera kecil yang dipasang tim keamanan Wiranata Corp di restoran tempat Almira dan Kayla bertemu beberapa minggu sebelumnya.
Wajah Kayla langsung kehilangan darah.
"Itu..."
Suara percakapan mulai terdengar memenuhi ballroom.
"Aku ingin membuat seluruh dunia bisnis meragukan integritasnya."
Suara Almira terdengar sangat jelas.
"Kalau seorang General Manager dituduh membocorkan data perusahaan atau melakukan pelanggaran etika dalam forum internasional, menurutmu apa yang akan terjadi?"
Beberapa peserta saling berpandangan, lalu suara Kayla menyusul.
"Para dewan di Wiranata Corp pasti akan memecatnya!"
Video terus berlanjut.
"Bukan cuma itu, Revan juga akan kehilangan kepercayaan kepada Zahira."
Ruangan sontak dipenuhi gumaman.
"Itu suara mereka."
"Jadi ini memang sudah direncanakan."
"Astaga..."
Kayla langsung berdiri. "Itu... itu hasil rekayasa!"
Namun sebelum ada yang menanggapi, Revan kembali berbicara. "Kalau menurut Anda rekaman itu hasil rekayasa, saya masih memiliki bukti lain."
Anggota keamanan kembali menyerahkan sebuah map.
"Kepolisian Singapura telah memeriksa ponsel pelaku yang menyamar sebagai staf hotel."
Ketua panitia membuka lembar demi lembar dokumen, di dalamnya terdapat salinan percakapan pesan. Nama kontaknya memang disamarkan, namun isi pesannya sangat jelas.
>Target keluar kamar, segera masuk.
>Flashdisk ada di tas biru, jangan sampai gagal.
>Pembayaran dikirim setelah pekerjaan selesai.
Di halaman berikutnya terdapat bukti transfer, lalu foto pelaku saat menerima uang tunai. Dan terakhir, sebuah foto dari kamera ATM. Wajah orang yang menyerahkan amplop kepada pelaku terlihat jelas—Kayla.
"Mustahil..." bisik Kayla dengan wajah sepucat kertas, Ia mundur beberapa langkah. "Tidak... ini tidak mungkin...."
Semua mata kini beralih kepadanya, seorang CEO asal Jepang menggeleng pelan. "I can't believe this..."
Sementara itu, Ketua Panitia menatap Almira dengan wajah dingin.
"Nona Almira."
"Ini fitnah!" potong Almira cepat. "Saya dijebak!"
"Kalau begitu..." Revan akhirnya melangkah satu langkah ke depan, tatapannya tajam menembus mata Almira. "Tolong jelaskan."
Pria itu berhenti sejenak. "Kenapa pelaku memiliki rekaman percakapan telepon dengan Anda lima belas menit sebelum memasuki kamar Zahira?"
Revan menganggukkan kepala, audio terakhir diputar.
"Begitu target keluar kamar, masuklah. Masukkan benda itu ke dalam tasnya.“
Suara Almira terdengar sangat jelas.
Seluruh ballroom seolah membeku, tak ada lagi yang bisa dibantah. Almira menatap layar dengan mata membelalak, Ia sama sekali tidak menyangka pelaku merekam percakapan itu. Atau mungkin, Ia memang tidak pernah sadar sejak awal bahwa setiap langkahnya telah diawasi.
Ketua panitia mengembuskan napas panjang. "Nona Almira, berdasarkan seluruh bukti yang kami lihat... panitia menyatakan Anda telah melakukan pelanggaran berat terhadap kode etik Business Leadership Summit."
Wajah Almira benar-benar pucat.
"Mulai malam ini, status kepesertaan Anda kami cabut. Dan kami... akan menyerahkan seluruh bukti kepada Kepolisian Singapura untuk proses hukum lebih lanjut."
Tubuh Almira limbung, dan Kayla sudah tidak mampu lagi berdiri tegak. Dua petugas kepolisian Singapura yang sejak tadi menunggu di luar ballroom akhirnya masuk ke dalam, salah seorang menunjukkan kartu identitasnya.
"Nona Almira, Nona Kayla. Kami meminta Anda berdua ikut bersama kami untuk memberikan keterangan."
Kayla langsung panik. "Tidak! Saya tidak melakukan apa-apa! Semua ini ide Almira!"
"Apa?" Ucapan itu membuat Almira menoleh tajam.
"Kamu yang menyuruhku!"
"Kamu juga ikut merencanakannya!"
"Kamu bilang semuanya aman!"
Keduanya saling menyalahkan di hadapan ratusan pengusaha internasional. Pemandangan itu membuat banyak peserta hanya bisa menggelengkan kepala.
Sementara Zahira berdiri diam, Ia memandang dua wanita yang begitu berusaha menghancurkan hidupnya. Namun anehnya, Ia tidak merasakan kepuasan. Yang ia rasakan hanyalah satu hal, kelegaan. Karena kebenaran datang lebih cepat, daripada fitnah.
Ballroom perlahan kembali tenang setelah Almira dan Kayla dibawa keluar oleh petugas kepolisian Singapura. Namun, percakapan para tamu masih dipenuhi rasa tidak percaya atas apa yang baru saja mereka saksikan.
Ketua panitia melangkah ke tengah ruangan, lalu mengambil mikrofon. "Hadirin sekalian, atas nama panitia Business Leadership Summit, kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Ms. Zahira Narapati dan Wiranata Corp."
Ia membungkukkan badan dengan hormat. "Kami menyesalkan insiden yang telah mencoreng kenyamanan acara ini."
Sontak tepuk tangan terdengar dari berbagai penjuru ruangan.
Zahira sedikit terkejut, Ia tidak menyangka panitia akan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Ketua panitia kembali melanjutkan. "Setelah melihat seluruh bukti, kami menyatakan bahwa Ms. Zahira Narapati adalah korban fitnah. Nama baik beliau dipulihkan sepenuhnya."
Tepuk tangan kembali bergemuruh, salah seorang CEO asal Jepang berdiri lebih dulu. "Kami juga ingin meminta maaf karena sempat meragukan integritas Anda."
CEO lain dari Singapura ikut menganggukkan kepala. "Kami berharap kejadian ini tidak mengurangi semangat Anda untuk bekerja sama dengan kami."
"Terima kasih, saya menghargai sikap profesional Anda semua." Zahira tersenyum sopan.
Jawaban wanita itu singkat, tetapi membuat banyak orang semakin menghormatinya. Di posisi seperti itu, ia tidak memanfaatkan keadaan untuk menyalahkan siapa pun.
Di sisi lain ruangan, Deris memandang Zahira tanpa berkedip. Dadanya dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan. Dulu... saat Zahira difitnah sebagai wanita mandul, ia justru memilih diam. Dan hari ini ketika Zahira kembali difitnah, ada seseorang yang berdiri membela mantan istrinya, melindungi Zahira tanpa keraguan sedikit pun.
Deris menoleh ke arah Revan, ia mengakui dalam hati bahwa pria itu jauh lebih pantas berada di sisi Zahira dibanding dirinya.
Namun Revan sama sekali tidak mencari pujian, Ia hanya berjalan menghampiri Zahira.
"Kamu baik-baik saja?"
Zahira mengangguk pelan. "Iya."
"Apa masih syok?"
"Sedikit."
"Maaf." Revan tersenyum tipis.
Zahira mengernyit. "Kenapa minta maaf?"
"Karena aku sengaja membiarkan mereka menjalankan rencananya."
Zahira terdiam.
"Aku sudah mengetahui rencana mereka sejak beberapa minggu lalu. Tapi kalau saat itu langsung ku gagalkan, mereka pasti akan menghilangkan semua jejak. Jadi... kali ini aku ingin mereka tidak punya kesempatan mengelak."
Zahira akhirnya memahami mengapa sejak awal Revan terlihat begitu tenang. Ketegangan sama sekali tidak terlihat di wajah pria itu, karena semuanya memang sudah berada dalam kendalinya.
"Berarti..." Tatapan Zahira bertemu dengan mata Revan. "...kamu sudah tahu aku akan diperiksa tadi?"
"Iya."
"Dan kamu tidak memberi tahu aku?"
"Kalau aku memberi tahu, ekspresimu akan berubah. Mereka bisa saja curiga dan membatalkan rencananya."
Zahira terdiam beberapa saat, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. "Kamu benar-benar berani mengambil risiko."
"Aku berani mengambil risiko, karena aku sudah memastikan... tidak akan membiarkan siapa pun benar-benar menyakitimu." Revan menatap Zahira dengan lembut.
Ucapan pria itu membuat jantung Zahira berdegup sedikit lebih cepat. Belum sempat ia menjawab, ketua panitia kembali menghampiri mereka.
"Mr. Revan."
"Ya."
"Atas nama panitia, kami ingin mengundang Ms. Zahira untuk menjadi salah satu pembicara tambahan pada sesi penutup lusa."
"Saya?" Zahira membelalakkan mata.
Ketua panitia tersenyum. "Keberanian dan ketenangan Anda malam ini menunjukkan kualitas seorang pemimpin. Kami yakin banyak peserta yang ingin mendengar pandangan Anda mengenai kepemimpinan di tengah krisis."
Beberapa CEO langsung mengangguk setuju.
"Itu ide yang bagus."
"Kami mendukung."
"Ms. Zahira layak mendapat kesempatan itu."
Zahira menoleh kepada Revan seolah meminta pendapat.
"Terima." Revan hanya menganggukkan kepala pelan.
"Kenapa?"
"Karena kamu memang pantas berada di atas panggung itu." Jawab Revan penuh keyakinan.
Zahira menarik napas panjang, ia menatap ketua panitia. "Dengan senang hati, Tuan. Terima kasih atas kepercayaannya."
"Terima kasih, Ms. Zahira."
Tepuk tangan kembali memenuhi ballroom. Malam itu, bukan hanya nama Zahira yang dipulihkan. Di hadapan para pemimpin perusahaan dari berbagai negara, ia justru memperoleh pengakuan yang tidak bisa dibeli dengan jabatan ataupun kekuasaan. Pengakuan atas integritas, ketenangan, dan kemampuannya sebagai seorang pemimpin.
Di luar ballroom, dua mobil kepolisian Singapura melaju meninggalkan hotel.
Di dalam salah satunya, Almira hanya bisa menatap keluar jendela dengan wajah pucat. Rencana yang ia susun selama berminggu-minggu, hancur hanya dalam hitungan menit. Dan yang lebih menyakitkan baginya bukanlah kegagalan itu. Melainkan kenyataan bahwa sejak awal, Revan telah beberapa langkah berada di depannya.
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭