"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Gubrak!
Julian langsung menjatuhkan dirinya dan bersujud memeluk kaki Vito erat-erat.
"Kak Vito, demi kebaikan umat manusia dan keberlangsungan hidup kita, tolong jangan ambil kampak! Jangan diusir, kumohon!"
Vito melotot menatap Julian yang sudah berurai air mata buaya. "Julian! Kau mau bikin aku digantung, hah?! Udah cukup nampung kau yang buronan, sekarang kau malah bawa Putri Kerajaan?!"
Vito berjalan mondar-mandir, sembari menjambak rambutnya sendiri.
"Rumah ini sempit, makan pas-pasan, kau pikir aku pengelola hotel pelarian buronan?!"
"Cuma sebentar, Kak! Pas badai reda, kami pergi!" Julian memohon dengan wajah paling melas yang ia punya.
"Mau makan apa kita?!" Vito menunjuk dapur. "Daging buruan aja cuma cukup buat tiga orang! Kau mau aku kasih makan dia pakai apa? Emas?"
Jenny melangkah maju. Ia membungkuk anggun meski rambutnya masih berantakan.
"Tuan, saya mohon maaf. Saya tidak butuh makanan mewah. Saya akan beradaptasi dengan apa pun yang ada di sini, asalkan saya aman."
Vito berhenti mondar-mandir. Ia menatap Jenny cukup lama, beralih ke Yisla yang tampak masa bodoh, lalu ke Julian yang masih sujud. Vito menghela napas panjang, bahunya pun merosot.
"Ya sudah, diam di sini!" Vito menyentak, lalu berjalan ke arah meja makan dan menggeser mangkuk sup miliknya ke depan Jenny.
"Makan. Tapi ingat, kalau tentara datang ke rumah ini, kau yang pertama kali aku serahkan ke mereka!"
Julian bangkit dengan senyum lebar, sementara Jenny menatap mangkuk sup di depannya dengan tatapan haru. Vito hanya mendengus, lalu masuk ke kamarnya dan membanting pintu.
"Dia memang kasar, tapi hatinya selembut tahu sutra," bisik Julian, memecah ketegangan yang tersisa.
Jenny terkekeh pelan, lalu mulai menyendok supnya. "Dia pria yang baik, Julian. Kamu beruntung punya kakak seperti dia."
Julian syok. "Eh, Kak Vito itu Kakaknya Yisla bukan kakakku."
Jenny menghentikan sendoknya yang baru saja menyentuh bibirnya. Matanya melebar menatap Julian, lalu beralih menatap Yisla, dan kembali lagi ke Julian dengan ekspresi yang benar-benar tidak percaya.
"Tunggu... Jadi Tuan Julian bukan adiknya Tuan Vito?" tanya Jenny dengan suara yang sedikit tertahan. "Dan tadi Tuan Vito bilang... kau juga seorang buronan?"
Julian menyengir canggung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari menarik kursi untuk duduk di dekat Jenny. "Hehe, begitulah, Putri. Sebenarnya... aku ini buronan yang statusnya agak tragis. Aku ditangkap dan rencananya mau dijual oleh dua orang penjahat."
"Dijual?!" beo Jenny semakin syok.
"Iya. Tapi untungnya, dewi keberuntungan masih berpihak pada cowok tampan ini," ucap Julian narsis, ia mulai menceritakan kronologi pelariannya dengan menggebu-gebu.
"Waktu dua penjual itu lagi lengah karena sibuk memesan kamar penginapan di desa ini, aku langsung ambil langkah seribu. Aku kabur lontang-lantung di tengah badai salju, lari tanpa arah sampai napas rasanya mau habis."
Julian menghela napas, mengingat kembali momen menegangkan itu.
"Karena sudah tidak kuat lagi berjalan di tengah tumpukan salju, aku asal sembunyi saja di dekat tumpukan kayu bakar di samping rumah ini. Di sanalah Yisla menemukanku dan menyelamatkanku."
Mendengar cerita Julian, Jenny mendadak membeku. Otaknya langsung memutar memori beberapa waktu lalu sebelum ia melarikan diri dari istana Northern.
"Tunggu dulu..." bisik Jenny, menatap Julian dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan tidak percaya.
"Waktu itu... pihak istana memang menerima kabar dari negeri selatan. Katanya, ada seorang tawanan atau buronan aneh yang dikirim dari negeri selatan sebagai hadiah pribadi untukku dari pangeran negeri selatan... Tapi di tengah jalan, dilaporkan kalau hadiah itu kabur di sekitar wilayah perbatasan negeri utara."
Jenny menutup mulutnya dengan sebelah tangan, matanya melotot sempurna.
"Berarti... buronan yang kabur dan seharusnya menjadi hadiah untukku itu... adalah kau?!"
Julian langsung melongo. Jantungnya serasa copot mendengar fakta barusan.
Gila! Jadi aku ini hampir aja dijadiin budak hadiah buat si Putri manja ini?! batin Astra menjerit histeris.
"Demi apa?!" Julian menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk gemetar. "Jadi kalau waktu itu aku nggak kabur, sekarang aku sudah jadi pelayan pribadimu?!"
Jenny mendadak mendesah kecewa, menatap Julian dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Aduh, sayang sekali... Kenapa kau harus kabur, Tuan Julian? Padahal kalau kau tidak melarikan diri, kau pasti sudah hidup enak di istanaku sekarang. Menjadi pelayan pribadiku, berpakaian bagus, dan melayaniku setiap hari."
Julian langsung merinding, buru-buru menyilangkan tangan di depan dada.
"Enggak, makasih! Ogah jadi budak korporat versi istana!"
Yisla yang sedari tadi menyantap supnya dengan tenang, akhirnya meletakkan sendoknya. Ia menatap Jenny dan Julian bergantian dengan tatapan yang tidak suka.
"Sebenarnya, Kak Vito sudah berkali-kali ingin mengusir Julian sejak hari pertama dia berada di sini," potong Yisla dengan nada ketus yang menusuk.
"Tapi berkat aku yang menahannya, si bodoh ini masih bisa hidup menumpang dan bernapas gratis di gubuk ini sampai sekarang. Jadi, dia tidak butuh istanamu."