NovelToon NovelToon
Berpijak Di Antara Batu Karang

Berpijak Di Antara Batu Karang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:250
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gugatan Hati Dan Target Baru

Hujan di luar kaca mobil taksi online itu seolah menjadi soundtrack yang pas untuk kehancuran Meylani. Ia menatap jalanan Semarang yang basah dan licin, lampu-lampu kendaraan lain memantul buram di aspal. Di pangkuannya, tas kerja berisi laptop dan tumpukan proposal marketing terasa berat, bukan karena isinya, tapi karena simbolisme yang dibawanya: kehidupan yang harus terus berjalan, terlepas dari betapa hancurnya hati pemiliknya.

Ponselnya bergetar di dalam tas. Meylani tidak perlu melihat layarnya untuk tahu siapa pengirimnya. Hanya ada satu orang yang akan menghubungi dia pada jam segini, setelah "sidang" perceraian emosional mereka usai. Namun, ia memilih untuk membiarkannya. Ia belum siap membaca kata-kata dingin Andrian, atau mungkin sekadar konfirmasi logistik yang menyakitkan.

Sesampainya di rumahnya di daerah Banyumanik, Meylani langsung masuk ke kamarnya tanpa menyapa siapa pun. Ia mengunci pintu, menjatuhkan tas kerjanya di lantai, dan ambruk ke kasur. Air mata yang tadi ia tahan di Joglo Langit akhirnya meledak. Ia menangis tanpa suara, bahunya berguncang hebat, membasahi sprei motif bunga-bunga kecil yang sudah akrab sejak masa remajanya.

Di sini, di kamar ini, ia bukan Meylani sang Marketing Executive yang tangguh. Ia bukan juga mantan kekasih seorang Jaksa yang berwibawa. Ia hanyalah seorang wanita muda yang patah hati, merasa gagal, dan bertanya-tanya apa salahnya hingga cinta tiga tahun berakhir seperti dokumen yang dibuang ke tempat sampah.

Setengah jam kemudian, tangisnya mereda menjadi isakan pelan. Meylani duduk, mengusap wajahnya yang bengkak. Matanya jatuh pada laptop yang tergeletak di lantai. Layarnya masih menyala redup, menampilkan slide presentasi strategi pemasaran untuk klien properti baru yang harus ia ajukan besok pagi.

"Tekanan dari hubungan kita... kadang terasa seperti beban tambahan."

Kalimat Andrian itu kembali terngiang. Meylani menggigit bibirnya. Selama ini, ia memang sering membagi fokus. Malam-malamnya sering habis untuk mendengarkan keluh kesah Andrian tentang rumitnya pasal-pasal hukum atau tekanan atasan di Kejaksaan Negeri. Pagi-paginya sering kali ia bangun dengan pikiran lelah, membawa sisa emosi negatif dari pertengkaran kecil mereka ke kantor.

"Mungkin dia benar," bisik Meylani pada dirinya sendiri, suaranya serak. "Aku memang tidak memberinya ketenangan. Dan dia... dia tidak memberiku kepastian."

Tapi apakah itu alasan untuk membuang semuanya begitu saja? Tanpa diskusi? Tanpa usaha perbaikan? Meylani menggelengkan kepala. Tidak. Masalahnya bukan pada siapa yang lebih sibuk atau siapa yang lebih lelah. Masalahnya adalah Andrian sudah tidak mau berjuang. Dan Meylani, dengan segala harga dirinya, tidak akan pernah memohon cinta kepada seseorang yang sudah menyerah.

Ia bangkit, berjalan ke meja rias. Wajahnya di cermin terlihat kacau. Mata bengkak, kulit kusam. Ini bukan wajah seorang profesional yang siap memimpin presentasi besok. Ini wajah korban. Dan Meylani benci menjadi korban.

Ia mengambil air dingin, membasuh wajahnya berulang kali hingga rasa panas di kulitnya reda. Ia mengambil es batu, menempelkannya pada mata yang bengkak. Perlahan, ia mulai merapikan diri. Bukan untuk Andrian. Tapi untuk dirinya sendiri. Untuk kliennya. Untuk kariernya.

Meylani membuka laptopnya. Ia menutup file presentasi klien properti itu sejenak, lalu membuka folder pribadi berjudul "Personal Goals". Di dalamnya, ada daftar hal-hal yang ingin ia capai tahun ini, yang selama ini tertunda karena prioritasnya selalu disesuaikan dengan jadwal Andrian.

Mengikuti sertifikasi Digital Marketing Advanced.

Menyelesaikan novel pendek yang sudah mangkrak setahun.

Traveling solo ke Bali.

Meylani menatap poin pertama. Sertifikasi itu mahal dan menuntut waktu belajar di malam hari. Dulu, ia ragu mengambilnya karena Andrian sering mengajak makan malam atau menonton film di tengah minggu. Sekarang? Malam-malamnya kosong. Sunyi. Tapi sunyi itu bisa diisi dengan ilmu, bukan dengan kesedihan.

Dengan jari-jari yang masih sedikit gemetar, ia mendaftar kursus online tersebut. Pembayaran berhasil. Ia resmi terdaftar. Sebuah langkah kecil, tapi terasa seperti kemenangan besar atas keputusasaan.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Kali ini, Meylani mengambilnya. Ia harus menghadapi ini. Seperti seorang jaksa menghadapi bukti, ia harus menghadapi kenyataan.

Pesan dari Andrian:

"Mey, maaf kalau tadi kata-kataku keras. Aku sedang under pressure banget sama kasus yang aku handle. Aku harap kamu mengerti. Barang-barang titipanmu di mobilku (buku-buku desain dan hoodie abu-abu) akan aku antar ke satpam komplekmu besok sore sekitar jam 5. Tolong dijemput ya, soalnya aku ada rapat koordinasi dengan Kejati."

Meylani membaca pesan itu dua kali. Tidak ada permintaan balikan. Tidak ada pertanyaan "apa kabar". Hanya penjelasan singkat tentang stres kerja alasan klasik yang sering digunakan Andrian akhir-akhir ini dan urusan pengembalian barang.

Dulu, Meylani akan membalas dengan panjang lebar, mencoba memahami, mencoba menawarkan dukungan. "Semangat ya, Sayang. Jangan lupa makan. Aku tunggu besok."

Kali ini, jari-jarinya mengetik dengan dingin dan efisien.

"Baik. Terima kasih infonya. Saya akan minta tolong satpam untuk menerima. Mohon doanya juga agar presentasi saya besok lancar."

Singkat. Padat. Sopan. Jarak.

Ia menekan kirim, lalu meletakkan ponselnya jauh-jauh di ujung meja. Ia tidak menunggu balasan. Ia tahu Andrian mungkin hanya akan membaca sekilas, lalu kembali ke berkas-berkas dakwaannya. Dan itu tidak masalah. Karena mulai detik ini, fokus Meylani bukan lagi pada bagaimana membuat Andrian bahagia, tapi bagaimana membuat Meylani bangga pada dirinya sendiri.

Meylani kembali ke laptopnya. Ia membuka presentasi klien properti. Ia mulai merevisi beberapa slide, menambahkan data analisis pasar yang lebih tajam, ide kampanye media sosial yang lebih kreatif. Pikirannya, yang tadi buntu oleh kesedihan, kini mulai bekerja dengan jernih. Ada energi baru yang muncul dari luka itu. Energi kemarahan yang diubah menjadi ambisi.

"Kamu menganggapku beban?" pikir Meylani sambil mengetik dengan cepat. "Akan kutunjukkan padamu bahwa aku adalah aset berharga. Bukan untukmu, tapi untuk diriku sendiri."

Jam menunjukkan pukul 11 malam. Hujan di luar telah reda, menyisakan gerimis halus. Meylani menyelesaikan revisi presentasinya. Ia merasa lelah, tapi lelah yang berbeda. Lelah yang produktif. Lelah yang membangun.

Ia berdiri, meregangkan tubuhnya yang kaku. Perutnya berbunyi. Ia keluar kamar, menuju dapur. Ibunya masih terjaga, sedang menyiapkan teh hangat di meja makan.

"Mey, belum tidur?" tanya ibunya lembut, matanya memperhatikan wajah putrinya yang masih sedikit merah.

Meylani tersenyum, senyuman yang kali ini lebih tenang. "Belum, Bu. Lagi selesai kerjaan. Boleh minta teh hangatnya?"

Ibunya mengangguk, menuangkan teh ke gelas. "Kamu kelihatan lebih tenang sekarang, Nak. Tadi siang Ibu lihat kamu pulang dengan wajah murung sekali."

Meylani menyesap teh hangatnya. Rasa pahit teh bercampur dengan manisnya gula, mirip dengan perasaannya saat ini. Pahit karena kehilangan, tapi ada manisnya harapan baru.

"Iya, Bu. Meylani cuma butuh waktu untuk berpikir. Sekarang Meylani sudah tahu apa yang harus dilakukan."

"Apa itu?"

"Fokus pada diri sendiri, Bu. Meylani punya target karier yang ingin dicapai. Dan Meylani tidak ingin melewatkannya lagi hanya karena menunggu orang lain."

Ibunya tersenyum, mengelus kepala Meylani. "Itu semangat anak Ibu. Kamu kuat, Lani. Lebih kuat dari yang kamu kira."

Meylani memeluk ibunya sebentar, merasakan kehangatan yang tulus, tanpa syarat, tanpa tuntutan. Berbeda dengan kehangatan Andrian yang belakangan ini terasa bersyarat dan penuh perhitungan.

Kembali ke kamar, Meylani melihat ponselnya sekali lagi. Tidak ada balasan dari Andrian. Tentu saja. Pria itu pasti sudah tertidur atau masih begadang membaca undang-undang.

Meylani tidak merasa kecewa. Ia justru merasa lega. Ia mematikan lampu kamar, berbaring di kasurnya, dan memejamkan mata. Besok adalah hari baru. Hari di mana ia akan mempresentasikan ide-idenya dengan percaya diri. Hari di mana ia akan menjemput barang-barang lamanya dari Andrian, bukan sebagai mantan kekasih yang sedih, tapi sebagai wanita mandiri yang menutup bab lama dengan kepala tegak.

Di luar, langit Semarang mulai cerah sedikit demi sedikit. Awan kelabu itu perlahan tersingkap, memberi ruang bagi bintang-bintang untuk kembali bersinar. Meylani pun tertidur, dengan mimpi-mimpi baru yang mulai tumbuh di antara reruntuhan hatinya.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!