Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.
Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.
Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.
Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?
Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?
yuk simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertemuan dua perempuan
Long weekend yang dipikiran Maara sebagai obat untuk merefresh otaknya berubah jadi liburan yang sangat menyakitkan.
Sejak kejadian dirumah keluarga Adiyasa, Maara tak lagi melihat Revan dimanapun termasuk dirumah pria ini.
Hanya ada Gian yang datang kerumah mengambil beberapa pakaian milik Revan lalu pergi tanpa menjelaskan apapun.
Sebenarnya Maara sudah tak menghiraukannya namun sebagai seorang istri walaupun tak dianggap, dirinya juga berhak tahu dimana suaminya berada.
Pagi senin aktivitas dimulai.
Gerimis disertai petir menjadi hal yang sedikit dramatis apalagi ini masih tergolong terjadi di senin pagi.
Maara mendes*h kasar sembari kepalanya menengadah keatas langit.
"Hujan..." gumamnya.
Ditangannya sudah ada sepasang mantel yang akan dia kenakan.
Bukan takut basah karena dia selalu menyiapkan pakaian serap tapi suasana jalanan yang pasti akan begitu macet serta pasti akan ada genangan air dimana-mana.
Dengan langkah berat, Maara mengeluarkan motor maticnya dan bergegas menuju sekolah tempat dirinya mengajar.
Mantel berwarna mocca telah lebih dulu dia kenakan.
Rintik hujan yang tadinya kecil dan lembut membasahi bumi kini berubah jadi pacuan air yang turun dari langit.
Maara tidak bisa menekan gas motornya karena jalanan cukup licin dan dipenuhi genangan air yang akan bercipratan kemana-mana jika dia melaju kencang.
Hampir 45 menit perjalanan, Maara tiba dan memarkir motornya.
"Pagi Ra..." sapa Lisa dengan senyum cerah seperti biasa.
Kadang Maara bertanya-tanya, kapan gadis ini bersedih karena bertahun-tahun mengenalnya, Maara tak pernah melihat Lisa galau apalagi menangis.
"Pagi Sa.. Happy banget kelihatan" ujar Maara.
"Ya dong... Kan mau nikah... Jadi auranya harus bahagia..." Lisa menggandeng lengan Maara untuk berjalan ke ruang guru "Moga kamu juga cepat dapat laki-laki yang bisa lindungi kamu dan buatnya bersyukur memiliki mu... Aamiin..." ucap Lisa tulus mendoakan.
"Aamiin..." batin Maara.
"Sa..." panggil Maara.
"Ya...?"
Maara melipat bibirnya. Seketika dirinya ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Nggak jadi... Aku ke toilet dulu, mau rapikan dandanan dikit...kamu duluan aja..." ucap Maara yang langsung berbelok kearah toilet.
"Aneh..." gumam Lisa dengan kening berkerut kecil.
Di dalam toilet, Maara masih berdiri di depan cermin besar wastafel.
Menatap dirinya lewat pantulan cermin.
Dia sudah memutuskan akan berbicara dengan Revan hari ini.
Dia ingin menyelesaikan semuanya.
Jika memang bercerai jalan terbaik, maka Maara dengan ikhlas melepasnya.
Toh sejak awal, suaminya bukanlah miliknya.
"Samangat Ra... Semua akan baik-baik saja..." ujarnya pada diri sendiri.
...********^********...
Sebuah mobil sedan keluaran Eropa terparkir didepan sebuah sekolah dimana Maara mengajar.
Laura menurunkan sedikit kaca mata hitam yang bertengger cantik di hidungnya yang bangir.
Dia mendapat alamat tempat kerja Maara dari Revan tentunya atas paksaan dan ancaman perempuan itu karena Revan awalnya tidak ingin memberikannya.
Kaki Maara terhenti sejenak.
Dia tahu siapa tamu yang tadi dikatakan oleh Pak Dendi, satpam sekolah.
Maara menggigit bibir bagian dalamnya.
Dia memang ingin bertemu dan bicara pada kekasih Revan ini tapi dia tak menyangka akan secepat ini mereka bertemu.
Laura berbalik dan mendapati Maara yang berdiri tak jauh darinya.
"Bisa kita bicara sebentar. Tidak disini. Kita cari tempat yang nyaman untuk ngobrol" tutur Laura dengan suara yang begitu tenang dan kata yang teratur. Tidak meledak atau emosi.
Cukup tenang untuk seorang perempuan yang kekasihnya dimiliki oleh seorang penyusup.
"Baik.. Tapi aku tidak bisa lama, karena satu jam lagi masih ada kelas, kita ke cafe depan saja... " sahut Maara sambil menunjuk sebuah coffee shop didepan sekolah.
^^^^
Suasana cafe terasa panas meski cuaca diluar kembali gerimis.
Meja petak disudut ruangan menjadi batas tak kasat mata antara Laura dan Maara.
Dua perempuan yang saling bersitatap dengan isi kepala yang mungkin saja berbeda, namun topik mereka tetap sama, yaitu Revan Adiyasa.
Diatas meja terhidang dua cangkir kopi yang masih mengepul namun tak satupun dari mereka menyentuhnya.
Laura duduk anggun dengan punggung tegap seperti tak tersentuh.
Sementara Maara?
Gadis ini hanya bisa menunduk seperti seorang terdakwa yang sedang diadili.
Padahal kenyataanya dia adalah korban dari keegoisan orang-orang yang memiliki kuasa dan uang.
Hidupnya dipermainkan sedemikian rupa oleh Revan dan keluarganya.
"Aku sudah dengar semua alasan kenapa kalian menikah..." Laura diam sejenak untuk memperhatikan reaksi lawan bicaranya. Tatapannya lurus pada Maara.
"Aku akan tetap membiarkan mu menjadi istri mas Revan tapi kamu nggak berhak meminta apapun darinya termasuk nafkah batin.... Kami akan tetap menikah!" sambung Laura tenang namun bisa dirasakan nada suaranya yang sedikit bergetar.
Maara mengangkat pandangannya pada Laura.
"Kenapa?" suara Maara terdengar bergetar.
Laura menaikkan sebelah alisnya. Heran akan pertanyaan rivalnya.
"Apa karena keluarga Adiyasa takut aku akan melaporkan bu Mira? Kenapa tak minta mas Revan menceraikan ku dan kenapa harus mengikatku tapi tak mengganggap kehadiran ku? Apa dia mau menyiksa ku lebih lama lagi?" lanjut Maara dengan suara tercekat.
Laura bersidekap.
"Itu salah satu alasannya. Dan alasan lain adalah mas Revan punya tanggungjawab padamu"
Laura terdengar berdecak.
"Aku benci mengatakannya, tapi itulah yang dia katakan... Dia kasihan padamu karena kesalahan tante Mira, kamu jadi perempuan yang tidak sempurna lagi... Jika mas Revan menceraikan mu, maka tidak akan ada seorang laki-laki pun yang mau menerimamu karena kecacatan fisik yang tak terlihat padamu..."
Maara mengepal kedua tangannya yang berada dipangkuannya.
"Kenapa kalian yakin sekali?"
Laura tersenyum tipis.
"Realistis saja Maara...! Siapapun pasti ingin perempuan yang sempurna untuk dijadikan pendamping dan apalagi dia anak tunggal yang pastinya sangat dituntut seorang keturunan sebagai penerus garis keturunan keluarga.. Dan kamu tidak bisa memberikan itu... Jadi tetaplah seperti ini, jangan menutut banyak. Diam dan sembunyilah dalam bayang-bayang mas Revan. Hidupmu akan tetap kami tanggung... Simple kan?" ujarnya.
Kalimat demi kalimat yang Laura lontarkan bagai palu godam yang menghujam ulu hati Maara.
Andai dia tidak miskin, andai Maara punya tabungan yang cukup, dia akan mengurus semuanya dan pergi dari keluarga ini sejauh mungkin.
Maara yang malang kini terjebak dalam kehidupan yang mengikatnya dengan tali tak kasat mata bernama pernikahan.
Dalam hati, Maara membenci keluarga Adiyasa karena telah menyebabkan dirinya kehilangan ibu serta memiliki kecacatan.
Laura mendorong kursinya.
Menenteng tas mahal salah satu merek terkenal.
"Ingat kata-kata ku...! Tetaplah diposisimu dan diamlah..! Biarkan semua berjalan sesuai urutan sebagaimana mestinya"
Dia lalu berjalan meninggalkan cafe tanpa berbalik.
Tak ada empati dalam sorot matanya.
Maara bagai perempuan bod*h yang tak bisa apa-apa kala harga dirinya diinjak sedemikian rupa oleh orang yang bahkan tak ia kenal.
Mencemooh dirinya lewat tatapan matanya.
Bersambung....