NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Nisan di Bawah Pohon Dewandaru.

Fajar menyingsing di ufuk timur, membiaskan cahaya jingga yang menembus sela-sela rimbunnya pohon bambu di lereng Gunung Lawu. Namun, kehangatan matahari pagi itu sama sekali tidak mampu mengusir rasa dingin yang menggelayuti hati Erlang. Pemuda itu berdiri dengan tubuh tegak, meski kedua lengannya yang memegang gagang cangkul tampak gemetar.

Di hadapannya, sebuah lubang sedalam dada telah selesai digali. Di samping lubang itu, terbujur kaku jasad Ki Suro yang sudah rapi dibungkus dengan kain blacu putih milik mereka satu-satunya.

Erlang menarik napas panjang, menghapus sisa air mata di pipinya dengan lengan baju yang kotor oleh tanah. Ia berlutut di tepi lubang, menatap wajah paman gurunya untuk yang terakhir kali sebelum menutup kain putih itu sepenuhnya.

"Paman Suro... sekarang Paman sudah tidak sakit lagi. Istirahatlah yang tenang di sini," bisik Erlang, suaranya tercekat di tenggorokan.

Dengan hati-hati, Erlang mengangkat jasad Ki Suro dan menurunkannya ke dalam liang lahat. Setiap kepalan tanah yang ia jatuhkan kembali ke dalam lubang terasa begitu berat, seolah ia sedang mengubur sebagian dari jiwanya sendiri. Setelah lubang itu tertutup rapat dan membentuk gundukan tanah yang rapi, Erlang mengambil sebuah bilah kayu dewandaru yang sudah ia bentuk menjadi nisan sederhana. Ia menancapkannya di bagian kepala.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah jalan setapak hutan. Erlang menoleh dengan waspada, tangan kanannya langsung siaga di dekat gagang cangkul. Seorang lelaki paruh baya berbaju kain kasar muncul membawa seikat kayu bakar. Itu adalah Kang jaya, salah satu pencari kayu dari desa bawah yang sesekali lewat di dekat pondok mereka.

"Lho, Erlang? Apa yang terjadi?" tanya Kang Jaya terkejut, matanya beralih dari wajah Erlang yang sembap ke gundukan tanah baru di bawah pohon dewandaru. "Apakah... Ki Suro sudah tiada?"

Erlang mengangguk lemah, mencoba mengulas senyum tipis yang dipaksakan. "Iya, Kang. Paman Suro meninggal tadi malam. Penyakit paru-parunya sudah tidak bisa ditahan lagi."

Kang Jaya mendesah panjang, meletakkan ikat kayunya lalu berjalan mendekat. Ia menepuk pundak Erlang dengan prihatin. "Turut berduka ya, Le. Ki Suro orang baik. Selama ini dia sering membantuku kalau aku tersesat atau butuh air di gunung. Kenapa kamu tidak minta bantuan orang desa bawah untuk menguburkannya?"

"Paman Suro pernah berwasiat, Kang. Kalau dia meninggal, dia ingin dikuburkan di sini, di bawah pohon dewandaru dekat pondok. Dia tidak ingin merepotkan orang-orang desa," jawab Erlang jujur.

"Lalu... setelah ini kamu mau bagaimana, Erlang? Kamu mau tinggal sendirian di pondok tengah hutan begini?" tanya Kang Jaya dengan nada khawatir. "Ikut aku saja ke desa bawah. Kamu bisa tinggal di rumahku, membantu mengurus ladang. Setidaknya kamu punya tempat bernaung."

Erlang menatap nisan kayu Ki Suro, lalu mengalihkan pandangannya ke arah hamparan lembah di bawah gunung. Wasiat terakhir sang paman kembali berdengung di telinganya: Pergilah ke selatan, cari Mbah Wiro di Parangtritis... carilah guru sakti.

"Terima kasih banyak atas kebaikan Kang Jaya," kata Erlang sambil membungkuk sedikit sebagai tanda hormat. "Tapi saya tidak bisa tinggal di desa bawah. Saya harus pergi, Kang. Ada amanah dan janji yang harus saya penuhi kepada Paman Suro dan mendiang orang tua saya."

"Pergi? Memangnya kamu mau pergi ke mana, Le? Dunia di luar sana itu luas dan keras untuk pemuda seumurmu yang belum tahu apa-apa," ujar Kang Jaya mencoba menasihati.

"Saya mau ke selatan, Kang. Ke tempat yang namanya Parangtritis," jawab Erlang polos.

Kang Jaya terbelalak, menatap Erlang seolah pemuda itu sudah gila. "Parangtritis?! Itu kan jauh sekali di ujung selatan tanah Jawa, Erlang! Kamu tahu jalannya? Punya uang berapa kamu untuk bekal perjalanan sejauh itu?"

Erlang menggaruk tengkuknya, tersenyum kecut. "Jujur... saya tidak tahu jalannya, Kang. Nanti sepanjang jalan saya bisa bertanya pada orang-orang. Kalau soal uang... saya tidak punya uang sama sekali. Bekal saya cuma beberapa potong singkong bakar, pakaian ganti, dan sebilah pisau kecil ini."

"Gusti Allah... itu namanya modal nekat, Erlang! Jalan ke selatan itu melewati hutan-hutan lebat yang banyak penyamunnya, belum lagi binatang buas. Kamu ini cuma tahu silat dasar yang diajarkan Ki Suro, kan? Bagaimana kalau kamu dicegat di jalan?" Kang Jaya menggeleng-gelengkan kepala penuh kecemasan.

"Paman Suro selalu bilang, kalau kita berniat baik dan jujur, Gusti Allah pasti akan melindungi, Kang. Saya tidak berniat cari musuh, saya cuma mau mencari seseorang dan mencari guru untuk belajar silat lebih tinggi," kata Erlang dengan binar mata yang penuh tekad, tidak goyah sedikit pun oleh peringatan Kang Jaya.

Melihat keteguhan di mata Erlang, Kang Jaya akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah. Ia merogoh kantong kain di pinggangnya, mengeluarkan beberapa keping koin tembaga lusuh, lalu merampas tangan Erlang untuk meletakkannya di telapak tangan pemuda itu.

"Ini... aku cuma punya sedikit uang sisa menjual kayu kemarin. Ambil ini. Jangan menolak! Setidaknya ini bisa buat kamu membeli makan atau jamu di pasar nanti," kata Kang Jaya tegas ketika melihat Erlang hendak mengembalikan uang itu.

Erlang menatap koin-koin di tangannya, matanya kembali berkaca-kaca karena terharu. "Kang Jaya... ini terlalu banyak. Terima kasih banyak, Kang. Saya tidak akan melupakan kebaikan sampeyan."

"Sudah, simpan baik-baik. Jangan dipamerkan di depan orang asing," pesan Kang Jaya. "Lalu, kapan kamu mau berangkat?"

"Sekarang juga, Kang. Tapi sebelum pergi, ada satu hal lagi yang harus saya lakukan," ucap Erlang misterius.

Erlang melangkah masuk ke dalam pondok kayu yang telah menaunginya selama delapan tahun terakhir. Ia memandangi amben bambu yang kosong, tungku tanah liat yang sudah dingin, dan sudut-sudut ruangan yang menyimpan begitu banyak kenangan bersama Ki Suro. Erlang mengambil sebuah obor bambu, menyalakannya dengan sisa batu api di dapur, lalu melangkah kembali ke halaman.

Tanpa ragu, Erlang melemparkan obor menyala itu ke atas atap rumbia pondoknya.

"Erlang! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Kang Jaya kaget, reflek maju selangkah seolah ingin memadamkan api.

"Biarkan saja, Kang," cegah Erlang lembut, menahan lengan Kang Jaya. "Pondok ini didirikan Paman Suro untuk menyembunyikan saya. Sekarang Paman sudah tidak ada, dan saya harus pergi. Saya tidak ingin tempat ini digunakan oleh orang-orang jahat atau penyamun hutan untuk hal yang tidak benar. Biarlah pondok ini ikut pergi bersama kenangan Paman Suro."

Dalam hitungan menit, api menjalar dengan cepat, melahap dinding bambu kering dan atap rumbia. Asap hitam membubung tinggi ke langit, menciptakan suara gemeretak kayu yang terbakar hebat. Erlang berdiri diam, membiarkan hawa panas api menerpa wajahnya. Di balik kobaran api itu, ia melihat masa lalunya perlahan runtuh dan menjadi abu.

Setelah api mulai mengecil dan menyisakan puing-puing yang menghitam, Erlang membalikkan badannya. Ia menggendong buntalan kain berisi pakaian dan singkong bakar di pundaknya, lalu menyampirkan pisau kecil di pinggang.

"Saya berangkat sekarang, Kang Jaya. Tolong sesekali kalau Kang Jaya lewat sini, tengok makam Paman Suro di bawah pohon itu, ya," pamit Erlang, suaranya terdengar jauh lebih dewasa dari usianya yang baru lima belas tahun.

Kang Jaya menepuk lengan Erlang dengan erat. "Pasti, Le. Pasti aku tengok. Berhati-hatilah di jalan. Jaga dirimu baik-baik. Jangan mudah percaya pada orang asing di luar sana."

"Matur nuwun, Kang. Selamat tinggal," kata Erlang.

Erlang mulai melangkah, meninggalkan area pondok yang kini telah rata dengan tanah. Ia berjalan mantap menyusuri jalan setapak hutan yang licin akibat embun pagi, menuju arah selatan yang sama sekali belum pernah ia ketahui petanya. Langkah kakinya memang masih polos, bekalnya sangat minim, dan ilmunya pun seadanya, namun sebuah tekad membara di dalam dadanya telah membakar habis rasa takutnya untuk memulai pengembaraan panjang yang akan mengubah garis takdir hidupnya.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!