Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengajari adab : 23
Kejadiannya begitu cepat, Ganira dan Siska gagal membaca gerakan tangan Helyara.
Tangan kiri Helya mencengkram pipi Kartika sampai mulutnya terbuka, lalu cabai rawit masih tersisa satu buah diambilnya, dijepit jari jempol dan telunjuk tangan kanan.
Helya berdiri dengan masih menekan pipi sang keponakan yang ketakutan, mata terbelalak, napas tertahan.
“Kamu mau tahu bagaimana dampak dari kata-kata pedasmu. Seperti ini rasanya!” Kuku jarinya menekan cabai sampai bijinya melompat, lalu dijejalkan ke mulut Kartika.
Hem Hem ….
Air mata Kartika mengenang lalu berlomba-lomba keluar. Kepalanya menggeleng berusaha melepaskan tangan tantenya, tentu saja tidak berhasil.
Helyara menekan mulut gadis kecil yang sudah tidak lagi pantas disebut terlalu kanak-kanak.
Wajah Kartika memerah, berkeringat, jeritan tertahan, kepalanya panas, dia tidak kuat terhadap rasa pedas.
Setelah dirasa cukup, Helya menurunkan tangannya. Keponakan Alan mundur kebelakang.
“Pedas! Pedas …. huaaaa. Mami, Papi!” Tubuh kurus itu berjingkrak-jingkrak, air liurnya menetes, dia menjerit.
“Gila kamu Helyara!” Ganira memucat, cepat-cepat memeluk, mau menggendong tapi berat badan Kartika sering membuat sakit pinggangnya kambuh.
Seketika suasana riuh, para penghuni rumah keluar dari dalam kamar. Siska berlari ke belakang mengambil air minum.
“Papi! Mulutku dicabai sama tante Helya!” adunya berlari memeluk sang ayah.
“Apa-apaan kamu, Helya? Anakku salah apa sampai kamu siksa seperti ini?!” Wandi menggendong Kartika yang langsung bersembunyi di belakang leher ayahnya.
Siska memberikan air putih dalam gelas, membantu Kartika minum.
“Keterlaluan kamu, Helyara! Kartika itu masih anak-anak! Harusnya yang tua ngalah, maklumi!” Sapto tersulut emosi, tidak tega melihat cucunya terisak-isak, masih terus menangis.
Helya masih diam, berdiri mematung. Tangan yang tadi memegang cabai mulai terasa panas.
Dari kamar lain, Rianti keluar dengan menggendong Alamsyah, tidak mau ikut campur, takut melihat pemilik rumah tengah marah besar. Cepat-cepat dia pergi ke depan.
“Tanggung jawab kamu!” tuntut Zanaya baru saja keluar dari kamar dengan cuma memakai handuk, belum sempat berpakaian.
Alandi juga keluar dari dalam kamar, sudah berpakaian rapi, siap berangkat ke toko setelah sarapan pagi.
Ganira mengadukan kelakuan menantunya. “Istrimu nyiksa Kartika, cuma karena dikatai mandul —”
“CUMA? MENGHINA DENGAN KATA-KATA KASAR DIANGGAP CUMA?!” suaranya menggelegar, membuat semua orang tersentak, terdiam.
Jari telunjuk Helyara menuding punggung gadis kecil yang wajahnya bersembunyi di lekuk leher Wandi.
“Jangan terus-terusan bersembunyi dibalik kalimat dia masih anak kecil. Wajar kalau ucapannya tidak disaring. Hei! Umur Kartika sudah sepuluh tahun lebih, mau 11 tahun. Kalau gak dari sekarang diajari adab, apa kalian terima jika nanti dia besar dihajar orang lain lantaran mulut kurang ajarnya itu?”
“Tahu apa kamu tentang cara mendidik anak. Dirimu sendiri saja gak bisa hamil —”
“Gak bisa hamil bukan berarti aku tidak tahu caranya mendidik anak! Kamu itu yang sudah jadi ibu, tapi naluri keibuan gak ada!” ia menyela kalimat Zanaya.
“Cuma bisa mengandung sama melahirkan. Namun gak becus membentuk karakter anak, menumbuhkan rasa simpati sama empati. Lihatlah hasil didikanmu. Kecil-kecil mulutnya sudah kurang ajar, suka menghina, tidak sabaran, apa-apa harus dituruti. Kenapa, gak terima aku kritik?” Helya menantang kakak iparnya yang maju satu langkah.
“Bahkan hal dasar yang harus ditanamkan ke anak saja tidak bisa kamu lakukan. Kartika mana pernah bilang terima kasih kepada seseorang yang sudah membantu, atau memberikan sesuatu kepadanya,” kritikannya sangat keras.
“Gak tau caranya bilang tolong kala meminta bantuan. Enggan meminta maaf setelah menyenggol atau berkata kasar ke orang lain. Aku lebih baik tidak punya anak daripada gagal jadi ibu yang memiliki kesempatan mengasuh, mendidik, tetapi memilih tutup mata, sibuk dengan dunianya sendiri,” Helyara menyerang mental kakak iparnya tanpa ampun.
Suasana bertambah panas, Alandi mencoba mendinginkan dengan memeluk istrinya, tapi tangannya langsung ditepis, dan giliran dia kena kritik.
“Kalau ibumu yang menghina dan mas Alan menyuruhku tetap diam, aku masih bisa memaksakan diri untuk memaklumi. Akan tetapi, ini anak kecil yang sudah terlalu banyak mendengar, melihat diriku dihina, dan dia menirukan kelakuan orang dewasa tanpa pernah mendapatkan teguran. Jadi, jangan lagi memintaku tinggal diam,” suaranya dingin, jelas dan jernih.
“Kartika!” teriak Helyara.
Yang dipanggil dengan suara lantang, badannya langsung gemetaran. Dia benar-benar merasakan apa itu namanya shock terapi. Kartika mengeratkan pelukan dileher ayahnya.
“Sekali lagi Tante dengar kamu berkata kasar, mencibir, menatap dengan mata penuh ejekan, bukan cuma sebiji cabai yang masuk ke mulutmu, tapi Tante pesankan khusus bubuk cabai paling pedas buat menyumpal mulut jahatmu itu! Dengar gak?!” Helyara Utomo tak gentar meskipun diancam lewat tatapan tajam kedua orang tua Kartika berikut nenek kakeknya.
“Iy …a.” Kartika mengangguk, suaranya tenggelam kalah oleh sedu sedan.
“Mudah bukan membuat anak menurut tanpa harus mengikuti, mengabulkan semua keinginannya dulu?” Bahunya naik turun, senyumnya pongah.
Seperti tidak merasa bersalah, Helya berjalan ke belakang rumah, saat melewati Wandi, dia berhenti sebentar — ditatapnya penuh peringatan wajah bermandikan air mata, mata memerah sang keponakan yang langsung memalingkan muka.
“Dia kenapa? Kesurupan atau sudah mulai hilang kewarasan?” bisik Ganira, badannya lemas sampai butuh penopang agar tidak merosot.
“Ini salah Mama, mbak Zanaya! Harusnya jangan melibatkan Kartika, lihat jadinya! Helyara yang biasanya pendiam, penakut, mudah ditekan terlebih kalau kita menyerang kelemahannya yang belum juga hamil, pasti tidak berkutik. Bisanya cuma nangis, minta maaf berulang kali, lah sekarang?” Alan merentangkan kedua tangannya.
“Lebih baik Mama pulang kampung kalau gak bisa menahan diri daripada mengacaukan rencanaku!” Alan pun kesal.
“Siska!”Jeritan Helya menggelegar, langsung ditanggapi langkah kaki tergesa-gesa.
“Kenapa, Sayang?” Alan lebih dulu sampai, dan apa yang dilihatnya sangat mengejutkan. “Kolam renangnya kok kotor?”
“Gak tau! Mana Siska?” Helya menoleh ke samping, dia berdiri di teras belakang rumah.
“Kenapa, Nyonya?” Siska menyahuti dengan suara lemah.
“Habis sarapan, kamu bersihkan kolam renang. Kuras airnya, sikat lantainya. Kemarin angin bertiup kencang sampai menerbangkan dedaunan dan pada masuk ke kolam,” titahnya enggan dibantah.
‘Apa lagi ini?!’ Jemari Siska pelan-pelan menekuk disisi tubuh.
Air kolam sedikit keruh kehitaman, dan bagian dasar banyak daun mengendap, ada juga mengambang di permukaan.
“Kamu dengar tidak?” Ia berbalik badan, menuntut jawaban.
“Iya, Nyonya. Nanti saya bersihkan.”
Alandi menghela napas sepelan mungkin, pagi hari pertama dalam hidupnya selama berumah tangga dengan Helyara, baru merasakan kemarahan wanita selama ini sangat sabar.
“Ayo kita masuk, biar kebersihan rumah menjadi urusan Siska.” Dirangkulnya pundak sang istri.
Helya menyahuti. “Kan karena keahliannya itu dia digaji. Sudah tugas pembantu membersihkan, merawat rumah majikannya.”
Deg.
.
.
Bersambung.
mau minta duitmu itu, Hel...
tabok aja mukanya...bilang aja, reflek karena kaget 🤭
mobil udah di jual..
abis ini cari rumah baru.
rumah lama mau di apain nih?
kan umumnya yg dtang ke toko emas,orang yg punya duit 🤭