NovelToon NovelToon
Jangan Harap Cintaku Lagi

Jangan Harap Cintaku Lagi

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:67.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.

Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.

Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.

Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Di Antara Fitnah dan Kesetiaan

Sore itu, Hartato baru saja pulang dari toko obat saat mendapati ayah dan ibunya duduk di ruang tengah.

Pak Kades meletakkan cangkir tehnya di atas meja.

"Har."

Hartato yang hendak ke kamarnya menghentikan langkahnya. "Iya, Pak?"

"Duduk dulu," ujar Pak Kades.

Hartato menurut. Tanpa mengatakan apapun ia duduk di depan kedua orang tuanya. Dari suasana yang ia rasakan di ruangan ini, ia yakin kedua orang tuanya akan membicarakan sesuatu yang serius dengannya.

"Kamu sudah dengar gosip tentang Vira?" tanya Pak Kades.

Hartato mengangguk pelan. "Sudah."

Bu Kades yang duduk di samping suaminya ikut mengembuskan napas panjang. "Seharian tadi ibu dengar orang-orang membicarakan itu."

Hartato menggeleng pelan. "Aku gak percaya."

Pak Kades menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Bapak juga belum tentu percaya."

"Kalau begitu..." Hartato menatap kedua orang tuanya penuh harap. "Kenapa kita gak tetap melamar?"

Pak Kades terdiam beberapa saat sebelum menjawab. "Karena keluarga kita sekarang membawa nama desa."

Hartato mengernyit.

"Bapakmu ini kepala desa, Har." Suaranya tenang, tetapi tegas. "Setiap keputusan keluarga kita bakal diperhatiin banyak orang."

Bu Kades mengangguk setuju. "Kalau kita tetep melamar saat gosip itu sedang ramai, orang-orang bakal bilang kita menutup mata, Nak."

"Sebaliknya," sambung Pak Kades, "kalau nanti ternyata gosip itu benar, bukan cuma nama Vira yang dipertaruhkan."

"Tapi nama keluarga kita juga," sambung Bu Kades.

Hartato mengepalkan tangan. "Tapi Vira bukan perempuan seperti itu."

"Kamu yakin?" tanya Pak Kades.

Hartato mengangguk mantap. "Selama mengenalnya, aku gak pernah melihat dia melakukan hal yang aneh."

Pak Kades menatap putranya cukup lama. "Perasaanmu boleh yakin."

"Tapi keputusan keluarga gak boleh hanya berdasarkan perasaan."

Untuk beberapa detik tak ada yang bicara, hingga Bu Kades akhirnya membuka suara. "Ibu kasihan sama Vira."

Hartato menoleh.

"Kalau semua itu cuma fitnah..." lirih Bu Kades, "berarti dia sedang menghadapi cobaan yang berat."

Pak Kades mengangguk pelan. "Itulah sebabnya kita gak boleh ikut menyebarkan gosip."

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Pak?" tanya Hartato.

"Kita cari tahu kebenarannya."

"Kalau ternyata itu cuma fitnah?"

Pak Kades tersenyum tipis. "Bapak sendiri yang bakal datang melamar Vira."

Mata Hartato langsung berbinar.

"Tapi..." lanjut Pak Kades. "Selama belum ada kejelasan..." Ia menggeleng pelan. "...niat melamar kita tunda dulu."

Hartato menundukkan kepala. Keputusan itu memang membuatnya kecewa. Namun ia juga memahami alasan ayahnya.

Sebagai keluarga kepala desa, mereka bukan hanya menjaga nama sendiri, tetapi juga menjaga kepercayaan masyarakat.

Di dalam hati, Hartato berdoa. "Semoga semua itu hanya fitnah, Vira. Karena aku lebih memilih menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti."

***

Sementara itu, di sebuah rumah sederhana yang dulunya merupakan kandang kambing, Arvin sedang menyuapi ibunya.

"Ayo, Bu. Buka mulut. Aak..."

Dengan lembut, ia menyodorkan sesendok bubur hangat.

Wanita paruh baya itu menurut. Wajahnya tampak putih. Bukan semata karena kulitnya memang cerah, melainkan karena bedak yang dipakainya terlalu tebal.

"Bedak ibu habis, Vin," rengeknya manja sambil menggoyang-goyangkan lengan putranya seperti anak kecil. "Beliin lagi, ya."

Arvin tersenyum kecil. Ia mengusap sudut bibir ibunya yang masih basah oleh bubur.

"Iya, nanti Arvin beliin."

"Beneran?" Mata wanita itu langsung berbinar.

"Beneran. Memangnya Arvin pernah bohong sama Ibu?"

Wanita itu tersenyum lebar. "Bedaknya harus banyak. Biar ibu lebih cantik dari perempuan itu. Biar ayahmu nyesel ninggalin ibu."

Senyum di wajah Arvin perlahan memudar. "Ibu udah cantik, kok."

Benarkah?"

"Iya." Arvin merapikan rambut ibunya yang sedikit berantakan. "Ibu mandinya jangan kelamaan, ya."

Wanita itu langsung menggeleng. "Kalau gak lama, gimana mau bersih?"

"Cuacanya lagi dingin, Bu. Nanti masuk angin."

"Ibu kuat kok."

Belum sempat Arvin menjawab...

"Hacih!" Wanita itu bersin cukup keras.

"Nah, 'kan." Arvin tersenyum geli. "Pilek, 'kan?"

Ibunya malah ikut terkekeh.

"Ayo, tinggal satu suap lagi."

Arvin kembali menyodorkan sendok ke mulut ibunya. Wanita itu kembali membuka mulut hingga suapan terakhir habis.

"Ibu istirahat di rumah, ya. Arvin mau ke warung beli obat flu."

Wanita itu mengangguk patuh.

Arvin membawa piring kotor itu ke dapur kecil, mencucinya sekadarnya. Saat kembali, ia melihat ibunya sibuk menyisir rambut di depan cermin kecil yang mulai kusam.

Sejak diusir ayahnya bertahun-tahun lalu, kondisi mental wanita itu tak pernah benar-benar pulih.

Dulu, saat mereka masih tinggal serumah dengan ayahnya, ibunya bekerja dari pagi hingga malam demi menghidupi keluarga. Sementara ayahnya jarang memberi nafkah, tetapi selalu marah jika tidak ada makanan di rumah.

Sedikit saja terlambat membuat kopi atau tidak segera memijat kakinya, pukulan pasti melayang. Bukan hanya kepada ibunya. Arvin kecil pun sering menjadi sasaran.

Memori itu masih jelas di kepala Arvin. Suatu hari ketika ayahnya menyuruhnya membeli rokok. Karena salah merek, pria itu murka.

Rahang Arvin mengeras kala mengingat ayahnya melayangkan sabuk kulit berkali-kali ke arahnya yang dulu masih kecil. Lalu tanpa merasa iba pria itu menendang kakinya hingga tubuhnya terjatuh berguling di lantai.

Arvin menunduk. Tendangan keras itulah yang membuat kaki kirinya mengalami cedera dan meninggalkan sedikit pincang hingga sekarang.

Arvin memejamkan mata kala bayangan tubuh kecilnya meringkuk sambil menahan sakit. Namun amarah ayahnya belum juga reda. Pria itu meraih sebatang balok kayu di sudut rumah, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.

Saat itu tubuh Arvin gemetar ketakutan. Ia tahu, jika balok itu menghantam kakinya, mungkin ia tak akan bisa berjalan lagi.

Tepat sebelum balok itu diayunkan, ibunya berlari dan memeluk tubuhnya erat-erat, menjadikan dirinya sebagai tameng.

Buk!

Pukulan keras itu mendarat tepat di punggung sang ibu. Wanita itu tersungkur sambil memuntahkan darah.

Meski begitu, kedua tangannya tetap memeluk Arvin agar tubuh kecil putranya tidak terkena pukulan berikutnya.

Arvin membuka matanya menatap ibunya yang kini sedang bercermin.

Sejak hari itu, Arvin tahu... Kalau bukan karena ibunya, mungkin ia sudah cacat seumur hidup.

Ibunyalah yang berkali-kali menjadi tameng hidupnya.

Dan ketika akhirnya ayahnya mengusir mereka sambil membawa perempuan lain, pria itu masih sempat melontarkan hinaan yang terus menghantui sang ibu.

"Lihat dirimu! Kurus, kusam, dekil. Pakai bedak aja enggak. Mana ada laki-laki yang betah lihat muka kayak kamu?"

Lalu pria itu merangkul perempuan di sampingnya.

"Lihat istri baruku. Cantik, putih, badannya berisi. Jauh lebih enak dipandang daripada kamu."

Sejak saat itulah, ibunya berubah.

Ia mandi berkali-kali dalam sehari, memakai bedak setebal mungkin, lalu berkali-kali bercermin sambil bertanya apakah dirinya sudah cantik.

Arvin mengembuskan napas panjang. Kini, ibunya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Selama ia masih mampu bekerja, ia akan menjaga wanita yang dulu rela mengorbankan tubuhnya demi melindungi putra semata wayangnya.

Arvin menyalakan lampu ruang tengah agar rumah tidak terlalu gelap saat sore menjelang. Setelah memastikan ibunya baik-baik saja, ia mengunci pintu dari luar, lalu berjalan menuju warung untuk membeli obat flu.

Tak lama kemudian Arvin tiba di sebuah warung kecil dekat rumahnya. Namun ia menghentikan langkahnya saat mendengar pembicaraan di dalam warung.

 

...✨"Fitnah tak membutuhkan bukti untuk menyebar. Namun kebenaran selalu membutuhkan waktu agar dipercaya."...

..."Prasangka membuat orang menjauh, sementara ketulusan tetap memilih bertahan meski tak dipercaya."...

..."Orang yang paling keras menjaga kita sering kali adalah orang yang diam-diam paling banyak terluka."✨...

.

To be continued

1
fii 🤩
👍👍👍
anonim
Arvin setia mendampingi Ibunya yang mentalnya terganggu. Masa lalunya menjadikan Arvin tulus dalam merawat Ibunya.

Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.

Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.

Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.

Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.

Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.

Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.

Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
anonim
Pak Kades dan istrinya sudah mendengar gosip tentang Vira.

Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.

Pak Kades juga belum tentu percaya.

Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.

Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.

Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
anonim
Dasar Ibu dan anak sama-sama bejatnya. Keduanya masih menginginkan Vira tapi dengan cara yang salah.
anonim
Kebetulan sekali leher Vira di gigit tomcat. Jadi semakin meyakinkan ibu-ibu dengan apa yang telah dikatakan Tari.

Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.

Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.

Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
anonim
Daril ini lekaki pecundang. Menambah omongan yang sudah gak benar, dengan bicara bohong.

Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.

Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
A.R
mau bangun usaha kok minta dana sama org lainn,,, gadaikan saja tuhh rmh ibu mu
Anitha
Alhamdulillah akhir bahagia Vira dan Arvin...

Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Kembali kasih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
fii 🤩
mampir kk
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Makasih, Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
abimasta
terimakasih thor
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Saatnya Vira menanyakan skincare yang hilang.

Yanti langsung tersedak mendengarnya.

Dia mengelak, tidak tahu.

Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.

Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.

Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.

Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.

Tari mengaku itu miliknya.

Ditanya beli di mana, harganya berapa.

Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
anonim
Tari semakin parah kebohongannya. Ia sekaligus memfitnah Vira.

Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.

Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.

Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
anonim
Yanti baru memarkirkan motornya di tempat penjual buah. Iya mendengar suara beberapa ibu sedang membicarakan Vira yang sudah tidak perawan lagi.

Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.

Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.

Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
anonim
Vira masih mau memberikan kesempatan sekali lagi.

Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.

Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.

Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.

Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.

Yanti pergi naik motor.

Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.

Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
mery harwati
Terimakasih karyanya yang sudah menghibur readers yang author 🙏
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Masih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Nah bingung kan Yanti mau tinggal di mana kalau Vira benar-benar mengusirnya.

Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.

Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
anonim
Yanti banyak akalnya untuk bisa menjaga tokonya Vira. Tapi Vira juga bisa mematahkan setiap omongan Yanti yang akal-akalan kekeh menjaga toko biar bisa ngutil uangnya Vira.

Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.

Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.

Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.

Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.

Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
LibraGirls
Selalu suka sama karya author Nana banyak pelajaran tentang kehidpan yg baik bisa di ambil yang tidak baik jagan di ambil ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️😍😍😍😍😍😍
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
LibraGirls
Makasih Nana yang selalu menyuguhkan cerita² bagusnya 🤩 sukses selalu menciptkan karya² bagus yang lainya 🤩🤩🤩🤩🙏🙏🙏
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏
total 1 replies
anonim
Gosip Hartato mau melamar Vira cepat sekali diketahui Ibu-ibu. Di warung tempat paling pas untuk ngerumpi sambil berbelanja.

Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.

Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.

Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.

Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.

Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!