Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Di Antara Fitnah dan Kesetiaan
Sore itu, Hartato baru saja pulang dari toko obat saat mendapati ayah dan ibunya duduk di ruang tengah.
Pak Kades meletakkan cangkir tehnya di atas meja.
"Har."
Hartato yang hendak ke kamarnya menghentikan langkahnya. "Iya, Pak?"
"Duduk dulu," ujar Pak Kades.
Hartato menurut. Tanpa mengatakan apapun ia duduk di depan kedua orang tuanya. Dari suasana yang ia rasakan di ruangan ini, ia yakin kedua orang tuanya akan membicarakan sesuatu yang serius dengannya.
"Kamu sudah dengar gosip tentang Vira?" tanya Pak Kades.
Hartato mengangguk pelan. "Sudah."
Bu Kades yang duduk di samping suaminya ikut mengembuskan napas panjang. "Seharian tadi ibu dengar orang-orang membicarakan itu."
Hartato menggeleng pelan. "Aku gak percaya."
Pak Kades menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Bapak juga belum tentu percaya."
"Kalau begitu..." Hartato menatap kedua orang tuanya penuh harap. "Kenapa kita gak tetap melamar?"
Pak Kades terdiam beberapa saat sebelum menjawab. "Karena keluarga kita sekarang membawa nama desa."
Hartato mengernyit.
"Bapakmu ini kepala desa, Har." Suaranya tenang, tetapi tegas. "Setiap keputusan keluarga kita bakal diperhatiin banyak orang."
Bu Kades mengangguk setuju. "Kalau kita tetep melamar saat gosip itu sedang ramai, orang-orang bakal bilang kita menutup mata, Nak."
"Sebaliknya," sambung Pak Kades, "kalau nanti ternyata gosip itu benar, bukan cuma nama Vira yang dipertaruhkan."
"Tapi nama keluarga kita juga," sambung Bu Kades.
Hartato mengepalkan tangan. "Tapi Vira bukan perempuan seperti itu."
"Kamu yakin?" tanya Pak Kades.
Hartato mengangguk mantap. "Selama mengenalnya, aku gak pernah melihat dia melakukan hal yang aneh."
Pak Kades menatap putranya cukup lama. "Perasaanmu boleh yakin."
"Tapi keputusan keluarga gak boleh hanya berdasarkan perasaan."
Untuk beberapa detik tak ada yang bicara, hingga Bu Kades akhirnya membuka suara. "Ibu kasihan sama Vira."
Hartato menoleh.
"Kalau semua itu cuma fitnah..." lirih Bu Kades, "berarti dia sedang menghadapi cobaan yang berat."
Pak Kades mengangguk pelan. "Itulah sebabnya kita gak boleh ikut menyebarkan gosip."
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Pak?" tanya Hartato.
"Kita cari tahu kebenarannya."
"Kalau ternyata itu cuma fitnah?"
Pak Kades tersenyum tipis. "Bapak sendiri yang bakal datang melamar Vira."
Mata Hartato langsung berbinar.
"Tapi..." lanjut Pak Kades. "Selama belum ada kejelasan..." Ia menggeleng pelan. "...niat melamar kita tunda dulu."
Hartato menundukkan kepala. Keputusan itu memang membuatnya kecewa. Namun ia juga memahami alasan ayahnya.
Sebagai keluarga kepala desa, mereka bukan hanya menjaga nama sendiri, tetapi juga menjaga kepercayaan masyarakat.
Di dalam hati, Hartato berdoa. "Semoga semua itu hanya fitnah, Vira. Karena aku lebih memilih menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti."
***
Sementara itu, di sebuah rumah sederhana yang dulunya merupakan kandang kambing, Arvin sedang menyuapi ibunya.
"Ayo, Bu. Buka mulut. Aak..."
Dengan lembut, ia menyodorkan sesendok bubur hangat.
Wanita paruh baya itu menurut. Wajahnya tampak putih. Bukan semata karena kulitnya memang cerah, melainkan karena bedak yang dipakainya terlalu tebal.
"Bedak ibu habis, Vin," rengeknya manja sambil menggoyang-goyangkan lengan putranya seperti anak kecil. "Beliin lagi, ya."
Arvin tersenyum kecil. Ia mengusap sudut bibir ibunya yang masih basah oleh bubur.
"Iya, nanti Arvin beliin."
"Beneran?" Mata wanita itu langsung berbinar.
"Beneran. Memangnya Arvin pernah bohong sama Ibu?"
Wanita itu tersenyum lebar. "Bedaknya harus banyak. Biar ibu lebih cantik dari perempuan itu. Biar ayahmu nyesel ninggalin ibu."
Senyum di wajah Arvin perlahan memudar. "Ibu udah cantik, kok."
Benarkah?"
"Iya." Arvin merapikan rambut ibunya yang sedikit berantakan. "Ibu mandinya jangan kelamaan, ya."
Wanita itu langsung menggeleng. "Kalau gak lama, gimana mau bersih?"
"Cuacanya lagi dingin, Bu. Nanti masuk angin."
"Ibu kuat kok."
Belum sempat Arvin menjawab...
"Hacih!" Wanita itu bersin cukup keras.
"Nah, 'kan." Arvin tersenyum geli. "Pilek, 'kan?"
Ibunya malah ikut terkekeh.
"Ayo, tinggal satu suap lagi."
Arvin kembali menyodorkan sendok ke mulut ibunya. Wanita itu kembali membuka mulut hingga suapan terakhir habis.
"Ibu istirahat di rumah, ya. Arvin mau ke warung beli obat flu."
Wanita itu mengangguk patuh.
Arvin membawa piring kotor itu ke dapur kecil, mencucinya sekadarnya. Saat kembali, ia melihat ibunya sibuk menyisir rambut di depan cermin kecil yang mulai kusam.
Sejak diusir ayahnya bertahun-tahun lalu, kondisi mental wanita itu tak pernah benar-benar pulih.
Dulu, saat mereka masih tinggal serumah dengan ayahnya, ibunya bekerja dari pagi hingga malam demi menghidupi keluarga. Sementara ayahnya jarang memberi nafkah, tetapi selalu marah jika tidak ada makanan di rumah.
Sedikit saja terlambat membuat kopi atau tidak segera memijat kakinya, pukulan pasti melayang. Bukan hanya kepada ibunya. Arvin kecil pun sering menjadi sasaran.
Memori itu masih jelas di kepala Arvin. Suatu hari ketika ayahnya menyuruhnya membeli rokok. Karena salah merek, pria itu murka.
Rahang Arvin mengeras kala mengingat ayahnya melayangkan sabuk kulit berkali-kali ke arahnya yang dulu masih kecil. Lalu tanpa merasa iba pria itu menendang kakinya hingga tubuhnya terjatuh berguling di lantai.
Arvin menunduk. Tendangan keras itulah yang membuat kaki kirinya mengalami cedera dan meninggalkan sedikit pincang hingga sekarang.
Arvin memejamkan mata kala bayangan tubuh kecilnya meringkuk sambil menahan sakit. Namun amarah ayahnya belum juga reda. Pria itu meraih sebatang balok kayu di sudut rumah, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.
Saat itu tubuh Arvin gemetar ketakutan. Ia tahu, jika balok itu menghantam kakinya, mungkin ia tak akan bisa berjalan lagi.
Tepat sebelum balok itu diayunkan, ibunya berlari dan memeluk tubuhnya erat-erat, menjadikan dirinya sebagai tameng.
Buk!
Pukulan keras itu mendarat tepat di punggung sang ibu. Wanita itu tersungkur sambil memuntahkan darah.
Meski begitu, kedua tangannya tetap memeluk Arvin agar tubuh kecil putranya tidak terkena pukulan berikutnya.
Arvin membuka matanya menatap ibunya yang kini sedang bercermin.
Sejak hari itu, Arvin tahu... Kalau bukan karena ibunya, mungkin ia sudah cacat seumur hidup.
Ibunyalah yang berkali-kali menjadi tameng hidupnya.
Dan ketika akhirnya ayahnya mengusir mereka sambil membawa perempuan lain, pria itu masih sempat melontarkan hinaan yang terus menghantui sang ibu.
"Lihat dirimu! Kurus, kusam, dekil. Pakai bedak aja enggak. Mana ada laki-laki yang betah lihat muka kayak kamu?"
Lalu pria itu merangkul perempuan di sampingnya.
"Lihat istri baruku. Cantik, putih, badannya berisi. Jauh lebih enak dipandang daripada kamu."
Sejak saat itulah, ibunya berubah.
Ia mandi berkali-kali dalam sehari, memakai bedak setebal mungkin, lalu berkali-kali bercermin sambil bertanya apakah dirinya sudah cantik.
Arvin mengembuskan napas panjang. Kini, ibunya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Selama ia masih mampu bekerja, ia akan menjaga wanita yang dulu rela mengorbankan tubuhnya demi melindungi putra semata wayangnya.
Arvin menyalakan lampu ruang tengah agar rumah tidak terlalu gelap saat sore menjelang. Setelah memastikan ibunya baik-baik saja, ia mengunci pintu dari luar, lalu berjalan menuju warung untuk membeli obat flu.
Tak lama kemudian Arvin tiba di sebuah warung kecil dekat rumahnya. Namun ia menghentikan langkahnya saat mendengar pembicaraan di dalam warung.
...✨"Fitnah tak membutuhkan bukti untuk menyebar. Namun kebenaran selalu membutuhkan waktu agar dipercaya."...
..."Prasangka membuat orang menjauh, sementara ketulusan tetap memilih bertahan meski tak dipercaya."...
..."Orang yang paling keras menjaga kita sering kali adalah orang yang diam-diam paling banyak terluka."✨...
.
To be continued
Juga sudah terbiasa memasak dan meladeni Ibunya.
Vira melihat Arvin meladeni Ibunya, menuangkan air minum ke dalam gelas, mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Ibunya. Berkata lembut pada Ibunya.
Lalu mengambilkan nasi goreng untuk Vira juga.
Apa yang dilakukan Arvin yang baru sehari menjadi suaminya, Vira jadi ingat Daril lagi dengan segala perlakuan buruknya.
Jadi tak ada kata jijik terucap ketika tahu Vira haid, Arvin yang mau membereskan tempat tidur dengan mengganti sprei yang ada noda haid.
Vira keluar dari kamar mandi tersenyum melihat sprei sudah berganti baru.
Vira jadi ingat masa lalu ketika Daril yang menjadi suaminya. Mana mau mengganti sprei. Melihat noda jijik langsung pergi.
Arvin dan Vira menikah kenapa Daril merasa mereka bahagia di atas penderitaannya
Daril sendiri yang berulah, malah menyalahkan Vira dan Arvin.
Hartato datang bersama kedua orang tuanya.
Ijab kabul dimulai, penghulu sebagai wali nikah mengucapkan ikrar kabul sampai selesai.
Arvin mengucap kabul dengan mantap.
Kata "Sah" dari para saksi terdengar hampir bersamaan.
Ibunya Arvin kambuh trauma diusir dari rumahnya.
cerita nya aku suka dan tidak berbelit belit,
sukses selalu ya ka,
aku mau baca cerita mu yg lain lagi
Dia merasa tampan dan mempunyai pekerjaan tetap. Dari keluarga terpandang pula.
Vira punya alasan lain kenapa memilih Arvin.
Hartato mendengar kalimat-kalimat yang ducapkan Vira, jadi mengerti dan tidak akan memaksa lagi.
Bahkan mendoakan Vira benar-benar bahagia, sambil mengulurkan tangannya.
Vira menyambut uluran tangan Hartato, dengan tersenyum hangat mengucapkan - terima kasih, Har.
Indah sekali.