seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pernikahan putra mahkota
Tiga bulan berlalu sejak kepergian Nyonya Ajeng.
Kediaman Bupati dan Perdana Menteri kini sunyi. Tidak ada lagi pesta. Tidak ada lagi tawa palsu. Pintu gerbangnya berkarat. Para pelayan sudah bubar.
Dan anehnya, tidak ada satu pun orang di ibukota yang berani membahasnya. Nama "Ajeng" dan "Bupati" seperti kata terlarang. Mereka takut. Takut menyinggung Hana. Takut membuat wanita itu marah. Karena semua orang tahu... siapa yang berani menyentuh keluarga Hana, akan berakhir seperti Nyonya Ajeng.
Sedangkan di *Istana Sanata*, kabar besar menyebar seperti api di musim kemarau.
*Pangeran Mahkota Alexander akan menikah dengan Putri Selena dari Kerajaan Timur.*
Tanggal pernikahan ditetapkan sebulan lagi.
Seluruh kota Sanata langsung bergerak.
Pedagang kain sutra di Pasar Barat kehabisan stok dalam tiga hari. Penjahit istana bekerja siang malam, mata mereka merah karena kurang tidur. Dapur kerajaan menyembelih ratusan ekor kambing dan sapi. Bau rempah dan daging panggang sudah tercium sejak dari gerbang luar.
Undangan emas berlapis lilin dikirim dengan kereta kuda ke seluruh bangsawan, pejabat, dan sekutu kerajaan.
Termasuk satu undangan khusus. Dengan segel lilin merah dan tulisan tangan Kaisar sendiri.
Untuk *Hana*, Jenderal Penjaga Mahkota yang tiga bulan lalu baru saja memenangkan perang.
*Leon* datang membawa surat itu ke rumah Hana dengan wajah ragu. Tangannya sedikit gemetar. "Nona... ada undangan dari Istana."
Hana menerima surat itu. Kertasnya tebal. Wangi dupa kerajaan. Ia membuka segelnya pelan.
Isinya singkat. Formal. _"...dengan hormat mengundang Jenderal Hana dan keluarga untuk menghadiri upacara pernikahan Pangeran Mahkota Alexander..."_
Setelah membacanya, Hana meletakkan undangan itu di atas meja kayu. Tanpa ekspresi. Lalu ia kembali menyusun peta perbatasan di atas meja. Seolah surat itu tidak ada artinya.
"Tidak usah pergi kalau kamu tidak mau, Nak," kata *Bima* pelan. Ia meletakkan cangkir teh di depan Hana. Sebagai ayah, ia tahu. Ia sudah dengar desas-desus. Tentang bagaimana Hana menolak cinta Pangeran Mahkota. Tentang bagaimana hati putrinya pasti masih tergores.
Mendengar itu Hana menggeleng. Matanya tidak lepas dari peta. "Tidak, Ayah. Aku akan pergi."
Bima menghela napas. "Kamu yakin?"
"Yakin," jawab Hana. Kali ini ia menatap ayahnya. "Aku tidak memiliki masalah dengan istana. Soal Pangeran Mahkota dan aku... itu sudah berlalu, Ayah. Dan aku tidak bersalah padanya. Cinta tidak bisa dipaksa. Menolak itu hakku."
Bima mengangguk. Dadanya lega. Itulah putrinya. Tegak. Tidak bersembunyi.
Di sudut ruangan, *Dominic* yang sedari tadi hanya diam sambil mengasah pedang akhirnya bersuara. Suaranya berat. "Aku akan menemanimu."
Hana menoleh. Ia menatap Dominic. Pria itu duduk bersandar di tiang, tapi matanya tidak pernah lepas darinya.
Bima tersenyum lega melihat itu. Ia melihat bagaimana mata Hana melembut saat menatap Dominic. Bagaimana selama tiga bulan ini, putrinya yang dulu selalu dingin, kini sering tertawa kecil.
"Kalau begitu kita akan pergi bersama-sama," putus Hana.
Dominic dan Bima mengangguk bersamaan.
*Hari Pernikahan Tiba*
Istana Sanata berubah menjadi lautan cahaya.
Lampion sutra warna merah dan emas digantung di setiap tiang. Ribuan lilin ditaruh di mangkuk air, mengambang di kolam istana. Taman istana dipenuhi bunga kamelia putih, bunga kebanggaan Kerajaan Timur. Wanginya manis, bercampur dengan aroma dupa dan makanan.
Alunan musik gamelan dan seruling mengisi udara. Riuh. Meriah. Tapi di balik kemeriahan itu, ada ketegangan yang tidak terlihat.
Para pejabat datang mengenakan jubah terbaik mereka. Ada Adipati dari Utara dengan bulu rubah di bahunya. Bupati dari Selatan dengan tongkat emas. Utusan dari lima kerajaan kecil dengan mahkota aneh. Semuanya berkumpul di pelataran utama.
Bisik-bisik mulai terdengar sejak gerbang dibuka.
"bukankah itu Nona Hana? Sudah lama aku tidak melihatnya... dia semakin cantik."
"apa kalian sudah dengar? Nona Hana menolak cinta Pangeran Mahkota. Dia sangat berani... tapi dia memang tidak salah."
"Benar. Dan coba lihat. Dia datang bersama Komandan Dominic. Mereka terlihat dekat... apa jangan-jangan mereka sudah menjadi pasangan?"
Hana turun dari kereta.
Ia mengenakan gaun biru tua dari sutra. Gaun itu sederhana, tapi jatuh sempurna di tubuhnya. Itu hadiah dari Dominic tiga bulan lalu. Di rambutnya terpasang jepit kamelia perak. Tidak ada perhiasan berlebihan. Hanya itu. Dan itu sudah cukup membuatnya bersinar di antara para Nyonya yang bertabur permata.
Dominic turun setelahnya. Jubah hitam dengan bordir perak di lengan. Rambutnya diikat rapi. Pedangnya tidak ia bawa, sesuai protokol. Tapi tatapan tenangnya dan aura pembunuhnya tetap membuat para penjaga istana memberi jalan tanpa disuruh.
Mereka berjalan berdampingan. Bahu mereka hampir bersentuhan.
Dominic sesekali menunduk, berbisik sesuatu di telinga Hana. "Jangan tegang."
Hana tersenyum kecil dan mengangguk. "Aku tidak tegang."
Pemandangan itu membuat para pejabat saling pandang.
"Lihatlah mereka," bisik seorang Bupati pada temannya. "Mesra sekali. Jarak mereka bahkan tidak sejengkal."
"Berbeda jauh dengan dulu," jawab yang lain. "Dulu Nona Hana selalu dingin seperti es. Sekarang... ia tampak hidup. Karena dia."
Di sisi lain, Adipati tua menggeleng sambil memegang tongkatnya. "Berani sekali dia datang. Setelah menolak Pangeran Mahkota. Tidak tahu malu."
"Berani, tapi pantas dihormati," sahut seorang pejabat muda. "Dia tidak bersembunyi. Dia datang sebagai tamu. Dan sebagai pahlawan perang. Kita yang harusnya malu membicarakannya."
Bisik-bisik itu sampai ke telinga *Kaisar*. Dari singgasananya di pelaminan, ia melirik ke arah Hana dan Dominic. Namun Kaisar hanya tersenyum tipis. Ia tidak melarang. Karena ia tahu, Hana adalah pedang Sanata. Dan pedang tidak boleh dipatahkan oleh gosip.
*Upacara Dimulai*
Gong dibunyikan tiga kali. _Duuung... Duuung... Duuung..._
Semua orang langsung menunduk. Musik berhenti. Hanya suara angin.
Lalu terdengar suara langkah pelan dari dalam istana.
*Putri Selena muncul.*
Ruangan seketika hening.
Selena mengenakan gaun pengantin warna gading, ditaburi benang emas yang berkilau setiap kali ia bergerak. Rambutnya disanggul tinggi dengan mahkota bunga kamelia putih asli. Wajahnya cantik. Cantik yang tenang. Tidak ada kesombongan. Tidak ada arogansi. Hanya kelembutan seorang putri yang dididik untuk menjadi ratu.
Ia berjalan perlahan menuju altar, diantar dua dayang. Setiap langkahnya membuat kain gaunnya berdesir pelan, seperti bisikan.
Para wanita bangsawan menahan napas.
"Sungguh cantik," gumam seorang Nyonya.
"Ia seperti dewi," bisik yang lain.
"Pangeran Mahkota sangat beruntung mendapatkan wanita secantik Putri Selena."
Di altar, *Alexander* menunggu.
Ia mengenakan jubah kebesaran Pangeran Mahkota, warna biru dongker dengan sulaman naga emas yang melingkar dari bahu sampai ke bawah. Mahkotanya berat. Wajahnya tegas. Tapi saat matanya bertemu Selena, ada sedikit kelunakan di sana. Kelegaan.
Ini bukan cinta seperti yang ia harapkan dulu. Tapi ini adalah kewajiban. Dan Selena... Selena adalah wanita yang layak.
Alex mengulurkan tangan. Selena menerimanya tanpa ragu. Jari mereka bertaut.
Upacara berlangsung khidmat. Tetua kerajaan membacakan doa dalam bahasa kuno. Asap dupa mengepul. Alex dan Selena saling bertukar cincin emas.
Tepuk tangan bergemuruh saat mereka resmi dinyatakan suami istri.
Kaisar berdiri. Suaranya menggelegar. "Rakyat Sanata! Bersoraklah untuk Pangeran Mahkota dan Permaisuri kita!"
"PANJANG UMUR SANG PANGERAN! PANJANG UMUR SANG PERMAISURI!" teriak para pejabat serempak. Suaranya mengguncang langit-langit istana.
*Pesta*
Setelah upacara, pesta dimulai.
Meja panjang berisi hidangan dari seluruh penjuru negeri. Ada daging panggang, kue madu, buah naga impor dari Timur, dan arak buah yang manis. Penari istana dengan kostum sutra tampil di tengah pelataran. Musiknya riuh. Tawa pecah di mana-mana.
Hana dan Dominic duduk di meja tamu kehormatan, tidak jauh dari pelaminan.
Seorang pejabat tua mendekat, membawa dua cangkir arak. "Komandan Dominic, Nona Hana. Selamat datang. Kehormatan bagi kami."
"Terima kasih," jawab Dominic singkat. Nada datarnya membuat pejabat itu gugup.
Pejabat itu melirik Hana, lalu memberanikan diri berbisik, "Nona... Anda tampak berbeda. Lebih... bahagia. Lebih bercahaya."
Hana mengangkat cangkir tehnya. Ia menatap Dominic sekilas, lalu tersenyum tipis. Senyum yang tulus. "Mungkin karena saya sudah menemukan tempat yang tepat. Dan orang yang tepat."
Pejabat itu terdiam. Ia mengerti maksudnya. Lalu ia tersenyum dan pergi, tidak berani bertanya lagi.
Di atas pelaminan, Alexander sesekali melirik ke arah meja Hana. Ia melihat Hana tertawa kecil karena sesuatu yang dibisikkan Dominic. Ia melihat bagaimana Dominic melindungi piring Hana dari pelayan yang hampir menumpahkan arak.
Dadanya sakit. Tapi ia menoleh ke Selena di sampingnya. Selena tersenyum padanya. Lembut. Tulus.
Alexander menarik napas. Mungkin ini yang terbaik.
Malam itu, di bawah ribuan lampion, dua cerita berjalan beriringan.
Satu pernikahan kerajaan yang megah.
Dan satu kisah cinta baru... yang tumbuh di antara bisik-bisik para bangsawan.