Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Romansa di Parkiran
“Ma, liat deh… Kak Doni udah mirip Papa belum?” goda Olivia setelah menghabiskan makanannya tanpa sisa.
“Iya ya, Liv? Pakai baju Papa pula”, jawab Mama yang ikut menggoda Doni.
“Masa sih, Ma? Padahal aku udah pilih yang modelnya paling anak muda, loh. Yang lainnya bapak-bapak banget”, ucap Doni menyangkal.
“Sudah, sudah. Kalian ini…” sela Marcella seolah memarahi Olivia dan Mamanya. “Tetep ganteng kok, sayang”, sambungnya membela Doni.
“Iya kan, sayang? Pilihan baju aku udah bener, kan?” tanya Doni meyakinkan.
“Iya. Udah bener, sayang. Kamu adalah bapak-bapak terganteng di kompleks ini”, canda Marcella diikuti oleh gelak tawa lepas dari Olivia dan Mamanya.
“Lah… tetep bapak-bapak, dong!” ucap Doni yang juga ikut tertawa setelahnya.
Obrolan santai dan suara tawa riang yang bersahutan mencerminkan kehangatan di rumah ini. Kehangatan yang membuat Doni melupakan sejenak dilema yang dia rasakan beberapa saat lalu. Setelah menghabiskan porsi makan malamnya yang melimpah, dan air mineral dingin di gelasnya, Doni refleks berdiri dan membawakan piring-piring kotor dan gelas kosongnya ke bak cuci piring.
“Aduh, Doni... nggak usah repot-repot, Nak. Biar Mama aja sama Cella”, cegah Mama ramah.
“Nggak apa-apa, Ma. Cuma bawa piring aja kok, nggak berat”, sahut Doni sopan yang bersikeras membantu. Mama hanya tersenyum hangat melihatnya.
Setelah mencuci tangan dan melihat jam dinding, Doni merasa sudah harus pulang ke kosannya. Dia pun mendatangi Marcella yang bersiap-siap ingin mencuci piring.
“Cell, udah malem nih”, bisik Doni pelan. Marcella yang langsung mengerti ‘kode’ itu menganggukkan kepalanya dan bergegas mencuci tangan.
Setelah mengambil kunci mobil, Marcella menarik Doni mendatangi Mamanya yang sedang duduk di ruang tengah untuk berpamitan.
“Ma, aku pamit pulang dulu, ya”, ucap Doni sambil menyalami tangan Mama. “Terima kasih banyak buat makan malamnya. Enak banget, seperti biasa”, sambungnya sambil mengacungi jempol.
“Iya. Makasih juga ya, Doni. Sudah mau bantuin anak-anak Mama”, ucap Mama yang refleks berdiri menyambut uluran tangan Doni. “Sering-sering main kesini, ya”, sambungnya sambil mengelus bahu Doni dengan kasih sayang yang tulus.
“Pasti, Ma”, jawab Doni tersenyum.
Di belakang Mama, tampak Olivia berdiri bersandar di pilar dekat ruang tengah. Gadis SMA itu telah kembali ke dunianya yang tenang, hanya menorehkan senyum tipis seraya melambaikan tangannya pelan sebagai gestur perpisahan. Tidak ada kata-kata tambahan, namun tatapan matanya di detik-detik terakhir itu menyimpan rahasia kecil yang membuat dada Doni kembali berdesir tegang. Setelah menaikkan alisnya kepada Olivia, Doni melangkah keluar bersama Marcella.
Perjalanan kembali menuju supermarket kini terasa jauh lebih sepi dibandingkan sore tadi. Di dalam city car merah yang dingin karena AC, suasana terasa hangat karena hanya ada mereka berdua. Marcella mengemudi dengan santai, sementara tangan kirinya terulur, menggenggam erat jemari Doni di belakang tuas persneling.
“Aku seneng banget deh hari ini, Don”, bisik Marcella lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.
“Seneng kenapa, Cell?” tanya Doni pelan.
“Ya… Seneng aja. Liat kamu makin deket sama Mama. Udah mulai bercanda-canda juga sama si Oliv”, ujar Marcella seraya tersenyum manis. “Aku ngerasa beruntung banget punya kamu. Lima tahun kita bareng, kamu nggak pernah berubah. Selalu bisa diandelin”, sambungnya bangga.
Kata-kata Marcella menghantam bagian terdalam dari nurani Doni. Setiap pujian dan kepasrahan rasa cinta yang diutarakan wanita di sampingnya ini justru terasa seperti cambukan rasa bersalah yang teramat sangat. Doni meremas pelan genggaman tangan Marcella, mencoba menutupi gelisah yang membakar dadanya.
“Aku... aku juga beruntung punya kamu, Cell”, bisik Doni dengan nada suara yang sedikit bergetar.
“Masa? Beruntung kenapa, coba?” tanya Marcella menantang.
“Ya… Beruntung karena kamu udah perhatian banget sama aku yang apa adanya ini. Aku padahal tadi nggak bilang apa-apa, kamu udah tau kalo aku emang capek banget seharian ini. Tapi capek aku langsung hilang pas liat kamu”, jawab Doni setulus mungkin.
“Halah… gombal kamu, Don!” ucap Marcella terkekeh. “Tapi, makasih ya. Walaupun aku nggak tau kamu gombal atau nggak, tapi aku percaya sama kamu. Kata-kata kamu bikin aku jadi makin sayang sama kamu, Don.”
“Iya, aku juga sayang sama kamu, Cell. Nggak gombal kok, sumpah!” ucap Doni yakin, disambut oleh tawa lepas mereka berdua.
Tak lama kemudian, mobil Marcella perlahan memasuki pelataran parkir supermarket yang kini sudah mulai sepi. Lampu-lampu pertokoan di sekitarnya mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan pendar penerangan jalan yang temaram. Mobil berhenti tepat di samping motor milik Doni yang terparkir rapi di sudut yang agak terpencil.
“Makasih ya, Cell, udah dianter. Kamu juga langsung pulang, ya. Udah malem banget ini”, kata Doni setelah melepas sabuk pengamannya.
“Iya, Don. Pasti”, sahut Marcella. Namun, saat Doni hendak membuka pintu mobil, Marcella menahan lengannya. Doni menoleh kaget, dan sebelum sempat bertanya, Marcella mendekatkan wajahnya. Tangan halus Marcella mengusap pelipis Doni, lalu memberikan sebuah kecupan hangat yang mendarat lembut di pipi kanannya. Marcella menatap mata Doni dengan tatapan penuh kasih sayang yang begitu dalam.
“Jangan capek-capek lagi ya, sayang. Kalau udah sampai kosan, langsung kabari aku. Okey?”, bisik Marcella manis.
“Iya, sayang. Pasti”, balas Doni dengan senyuman yang merekah setelah menerima rasa manis di pipinya itu.
Doni melangkah keluar dari mobil, menyambut terpaan angin malam yang dingin. Dia berdiri di samping motornya, melambaikan tangan kepada Marcella yang masih membuka kaca jendela mobilnya. Marcella membalasnya seraya menginjak pelan pedal gas. Tak lama, mobil city car merah Marcella itu melaju keluar dari gerbang supermarket dan menghilang di balik tikungan jalan raya.
Begitu deru mobil Marcella tak lagi terdengar, keheningan malam menyergap Doni sepenuhnya. Doni menghembuskan napas berat, menyandarkan dahinya sebentar di stang motor. Rasa lelah fisik yang menimpanya seharian ini tidak ada apa-apanya dibanding beban mental yang kini menumpuk di kepalanya. Doni baru saja merasakan kasih sayang Marcella yang begitu hangat dan tulus kepadanya. Bagaimana mungkin dia tega menyimpan rasa ketertarikan kepada gadis lain, terlebih itu adalah adik kandung dari pacarnya sendiri. Dengan pikiran berat itu, Doni teringat sesuatu.
Doni lalu memasukkan kunci ke lubang kunci di bawah jok motornya, dan memutarnya. Dengan jemari yang agak gemetar, dia mengangkat joknya. Di dalam bagasi di bawah jok yang sempit itu, terdapat tas olahraga milik Olivia yang tersimpan aman. Doni menatap tas itu cukup lama di bawah pendar remang lampu parkiran. Tas yang menyimpan rahasia-rahasia kecilnya.
Sandiwara hari ini telah usai dan rahasianya berhasil tersimpan rapat. Namun, entah sampai kapan.