NovelToon NovelToon
The Lecturer'S Secret Wife

The Lecturer'S Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."




​Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.

​"Yuna Anindya."

​Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.

​"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.

​Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecupan Pagi Menjelang Siang

​"Aku nggak mau! Aku bisa bawa mobil sendiri!" tolak Yuna cepat. Ia menarik tangannya dari genggaman Labib, melipatnya di dada sambil memalingkan wajah dengan dahi berkerut.

​Sifat keras kepala mahasiswi berusia 21 tahun itu kembali muncul setelah rasa takutnya mereda. "Kan kita udah sepakat dari awal buat rahasiain ini semua biar orang-orang di kampus nggak curiga. Kalau Mas Labib yang antar, terus ada yang lihat gimana? Gimana sih, Mas?"

​Labib berdiri tegak, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Pria 31 tahun itu menatap istrinya dengan dahi yang sedikit berkerut, kembali ke mode dosennya yang penuh pertimbangan rasional.

​"Yuna, lenganmu sedang memar dan kaku. Menyetir mobil dalam kondisi begitu sangat berbahaya untuk refleksmu di jalanan," jelas Labib tenang, mencoba memberi pengertian. "Saya bisa menurunkanmu di halte dekat gerbang luar kampus, jadi tidak akan ada mahasiswa yang melihat kita dalam satu mobil."

​"Nggak mau, tetep berisiko!" keukeuh Yuna. Ia melirik ketat ke arah suaminya, lalu sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah drastis. Matanya melirik ke arah bawah, meraba perutnya sendiri yang tiba-tiba mengeluarkan suara keroncongan yang cukup nyaring di dalam kamar yang sepi itu.

​Kruuuk...

​Yuna langsung menggigit bibir bawahnya, merona merah karena malu. Aksi protes dan mogoknya mendadak runtuh oleh tuntutan biologis. "Lagian... aku laper," cicit Yuna kemudian dengan suara ketus yang dipaksakan, mengalihkan pandangan ke arah jendela. Semalam ia memang hanya makan seblak pedas, dan pagi ini ia belum sempat sarapan sama sekali.

​Mendengar keluhan itu, sudut bibir Labib berkedut menahan senyum. Amarah, cemas, dan ketegangan gila yang sempat menguasai rumah ini sejak subuh tadi seketika mencair hanya karena bunyi perut istrinya yang manja.

​"Kamu ini... menguras emosi saya sejak semalam, ternyata ujung-ujungnya hanya karena lapar," ujar Labib sambil menggelengkan kepala geli.

​Pria itu berjalan mendekati pintu kamar, lalu berbalik menatap Yuna yang masih cemberut di atas kursi riasnya. "Ya sudah. Di bawah ada cumi saus telur asin yang saya masak semalam. Memang sudah dingin, tapi saya bisa memanaskannya sebentar di microwave. Turunlah dan makan."

​Mendengar kata 'cumi saus telur asin', mata Yuna langsung berbinar sedetik, sebelum ia buru-buru menyembunyikannya lagi di balik wajah ketusnya.

​"Mas Labib nggak ikut makan?" tanya Yuna pelan saat melihat Labib bersiap melangkah keluar kamar.

​"Saya ada jadwal rapat koordinasi dengan dekanat pukul sebelas siang ini, jadi saya harus segera berangkat ke kampus," jawab Labib sambil melirik jam tangannya. Ia menatap Yuna lekat-lekat, memberikan tatapan penuh peringatan yang tidak boleh dibantah.

​"Saya izinkan kamu membawa mobil sendiri siang ini, dengan syarat kamu harus makan sampai habis dan menyalakan ponselmu sekarang juga di depan saya. Mengerti, Istriku?"

​Yuna menelan ludah mendengar penekanan di akhir kalimat Labib. Tanpa banyak protes lagi, ia merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel, dan menekan tombol power hingga layarnya menyala di hadapan suaminya.

​"Pintar," puji Labib tipis, memberikan satu usapan lembut di puncak kepala Yuna sebelum melangkah turun ke lantai bawah, meninggalkan Yuna yang kini tersenyum tipis sendirian di dalam kamar. Rasa kesalnya entah mengapa menguap begitu saja.

Langkah kaki Labib terdengar mantap menuruni tangga undakan rumah, disusul oleh Yuna yang mengekor beberapa meter di belakangnya dengan langkah yang masih agak lambat. Begitu sampai di lantai bawah, aroma gurih cumi saus telur asin yang sempat terabaikan semalaman kembali menyapa indra penciuman Yuna, membuat perutnya lagi-lagi berbunyi pelan.

​Labib berjalan menuju meja makan, menekan tombol pada microwave yang sudah ia siapkan untuk menghangatkan makanan tebusan dosanya. Setelah memastikan mesin pemanas itu bekerja dengan bunyi mendengung yang teratur, pria berumur 31 tahun itu berbalik ke arah meja ruang tengah.

​Ia menyambar tas kerja kulitnya yang tergeletak di atas sofa, memeriksa sekilas berkas rapat dekanat di dalamnya, lalu memakai kembali kacamata bacanya. Aura profesionalnya sebagai seorang dosen yang efisien seketika kembali melekat pada tubuh tegapnya.

​Namun, sebelum melangkah menuju pintu depan, Labib menghentikan gerakannya. Ia berbalik, menatap Yuna yang berdiri canggung di dekat meja makan dengan kaos longgarnya.

​Labib memotong jarak di antara mereka dalam dua langkah lebar. Tanpa diduga, ia meletakkan sebelah tangannya di pinggang Yuna yang tidak cedera, memiringkan tubuhnya sedikit, dan mendaratkan sebuah kecupan singkat namun sangat dalam di kening istrinya.

​Cup.

​Yuna mendadak mematung, menahan napas dengan mata membelalak. Sentuhan bibir Labib yang hangat di dahinya terasa begitu kontras dengan ketegasan yang pria itu tunjukkan beberapa menit yang lalu. Rasa hangat menjalar dari keningnya, turun ke dada, hingga membuat pipinya kembali merona merah dalam sekejap.

​"Saya berangkat kuliah dulu," bisik Labib dengan suara beratnya, tepat di depan wajah Yuna setelah menarik kepalanya kembali. Tatapan mata elangnya melembut. "Makan yang banyak, habiskan cuminya. Dan ingat... hati-hati saat menyetir mobil nanti siang. Jangan mengebut."

​"I-iya, Mas," sahut Yuna terbata-bata, nyaris berbisik karena saking gugupnya.

​Labib mengangguk puas. Ia memberikan satu tepukan sangat pelan di bahu kanan Yuna, lalu berbalik dan melangkah lebar menuju pintu depan. Suara pintu yang menutup dan deru mesin mobil sedan hitamnya yang perlahan menjauh dari halaman rumah menjadi tanda bahwa sang dosen galak telah kembali ke dunianya di kampus.

​Yuna memegangi keningnya yang masih terasa hangat dengan ujung jarinya. Jantungnya berdegup tak karuan. Menikah diam-diam dengan pria berumur 31 tahun yang memiliki dua kepribadian ekstrem ini—menjadi macan yang mengerikan di kampus namun bisa berubah menjadi pria yang begitu manis di rumah—ternyata benar-benar membuat emosi Yuna terkuras habis setiap harinya.

​Ting!

​Suara microwave berbunyi, menandakan makanan spesialnya telah siap. Yuna tersenyum tipis, melangkah menuju dapur dengan perasaan yang kini sepenuhnya telah membaik. Rasa cemburu pada Bu Citra semalam mendadak terasa konyol setelah kecupan pamit yang baru saja ia terima.

1
Rian Moontero
mampiiirrrrR🤣
Sri Afrilinda
so sweet😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!