NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.

Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.

Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Dua Dunia yang Berbeda

Hari-hari pertama di kediaman keluarga Pratama terasa seperti menjalani kehidupan di dunia lain bagi Laras. Rumah seluas lebih dari seribu meter persegi itu megah, rapi, dan dilengkapi segala kemewahan yang hanya bisa ia bayangkan selama ini. Namun bagi Laras, tempat itu terasa sangat luas, kosong, dan paling utama—dingin. Tidak ada tawa hangat, tidak ada obrolan santai, hanya keheningan yang sesekali terpecah oleh langkah kaki pelayan atau suara detak jam dinding antik.

Aturan di rumah itu sangat ketat, sebagaimana tertulis jelas dalam buku panduan rumah tangga yang diserahkan kepadanya pada hari kedua. Segala hal memiliki jadwalnya sendiri: jam makan, jam berkunjung, cara berpakaian, hingga cara menyapa tamu. Semuanya diatur sedemikian rupa agar terlihat sempurna di mata luar, seolah rumah ini adalah pameran kemewahan, bukan tempat tinggal yang bernyawa.

Selama tiga hari pertama, Laras nyaris tidak melihat Arga. Ia hanya diberitahu oleh Bu Rina, kepala pelayan yang sudah mengabdi puluhan tahun, bahwa Tuan Arga memiliki jadwal kerja yang sangat padat dan jarang berada di rumah sebelum larut malam. Bahkan saat ia pulang, ia akan langsung masuk ke ruang kerjanya atau kamar tidur sebelah, tanpa menyapa atau sekadar melirik keberadaan istrinya sendiri.

Situasi itu sebenarnya membuat Laras merasa lega sekaligus sedih. Lega karena ia tidak perlu menghadapi tatapan dingin dan perkataan tajam Arga setiap saat, tapi sedih karena menyadari posisinya yang sebenarnya—ia hanyalah seorang penghuni yang keberadaannya sekadar memenuhi syarat administratif semata.

Pagi keempat, Laras baru saja turun ke ruang makan. Ia sudah bangun lebih awal, terbiasa dengan kebiasaan lamanya di rumah sederhana. Saat melangkah masuk, ia tertegun melihat Arga sudah duduk di ujung meja makan panjang yang bisa menampung dua puluh orang itu. Pagi ini ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru tua yang melengkapi penampilannya yang berwibawa. Wajahnya masih sama, datar tanpa ekspresi, sedang membaca koran bisnis sambil sesekali menyeruput kopi hitamnya.

Mendengar langkah kaki, Arga mengangkat wajah sekilas. Pandangannya menyapu Laras dari atas ke bawah, lalu kembali menatap koran seolah tidak melihat sesuatu yang menarik.

“Selamat pagi,” ucap Laras mencoba bersikap sopan dan menjaga kesopanan sebagai istri. Meski hatinya terasa canggung, ia tidak ingin terlihat lemah atau tidak tahu adat.

Arga hanya mendengus pelan sebagai jawaban, tidak menoleh, tidak tersenyum. “Duduklah. Jangan sampai kebiasaan santaimu di rumah lama membuat suasana di sini kacau. Semua hal punya tempatnya,” ucapnya datar, nadanya terdengar seperti mengingatkan sekaligus memperingatkan.

Laras menggigit bibir dalam-dalam untuk menahan rasa sakit di hatinya. Ia melangkah tenang, duduk di kursi yang paling ujung dari tempat duduk Arga—seolah ada jarak jurang yang memisahkan mereka. “Terima kasih atas peringatannya. Aku akan berusaha membiasakan diri,” jawabnya tenang, berusaha tidak terpancing emosi.

Gerakan tangannya mengambil sendok dan garpu dilakukan dengan hati-hati. Ia tidak terbiasa dengan peralatan makan yang beragam seperti ini, tapi ia tidak mau terlihat kikuk. Ia belajar mengamati dengan tenang, berusaha menguasai lingkungan baru ini selangkah demi selangkah. Namun ketenangan hatinya terusik ketika Arga kembali bersuara.

“Besok akan ada makan malam keluarga besar. Kakek, Bibi, dan sepupu-sepupuku akan datang. Kamu harus hadir. Berpakaian rapi, duduk di sampingku, dan cukup angguk atau senyum saja jika ditanya. Jangan banyak bicara. Mereka orangnya tajam melihat celah. Aku tidak ingin ada gosip bahwa istriku tidak pantas menyandang nama Pratama,” perintahnya tanpa membaca korannya lagi.

Kalimat itu menusuk telinga Laras. “Jangan banyak bicara… jangan sampai terlihat tidak pantas.” Rasanya harga dirinya sedikit demi sedikit digosok kasar. Ia mengangkat wajah, matanya menatap lurus ke arah Arga.

“Apakah bagimu aku hanya aksesoris yang harus dipajang agar terlihat pas?” tanyanya perlahan namun tegas. Suaranya tidak meninggi, tapi mengandung kekuatan yang membuat Arga akhirnya meletakkan korannya dan menatap balik tajam.

“Panggil saja itu kenyataan dari kesepakatan kita,” jawab Arga dingin. “Ingat, Laras. Aku sudah menepati janjiku—utang ayahmu lunas, hidupmu terjamin. Sebagai gantinya, tugasmu adalah menjaga citra ini. Jika kamu bisa melakukannya dengan baik, kita akan hidup damai tanpa masalah. Jika kamu mulai banyak menuntut atau mencari masalah, aku tidak akan ragu untuk mengingatkan posisimu.”

Jantung Laras berdegup kencang. Ia merasa marah, terluka, namun sadar ia tidak bisa meledak. Ia menelan rasa pahit itu. “Aku tahu posisiku, Arga. Aku tidak akan menuntut cinta atau perlakuan istimewa darimu. Tapi satu hal yang ingin kau ingat juga: meski aku datang dari keluarga sederhana, aku punya harga diri. Aku bisa diam dan berpakaian sesuai aturan, tapi jangan pernah berharap aku menjadi boneka yang bisa kau atur sesuka hati tanpa pikiran sendiri.”

Untuk sesaat, ruangan itu hening. Udara terasa semakin berat. Arga memandang wajah gadis di hadapannya, mencari-cari kebohongan atau rasa takut di matanya. Namun ia hanya menemukan ketulusan dan ketegasan yang membuatnya sedikit terkejut. Selama ini, semua orang di sekitarnya hanya patuh, takut, atau berusaha menyenangkannya demi keuntungan. Tidak ada yang berani bicara setegas ini padanya.

“Baiklah,” jawab Arga akhirnya, nada bicaranya sedikit melunak meski tetap dingin. “Selama batas itu tidak melanggar kesepakatan kita, aku tidak keberatan. Jangan sampai menyesal nanti.”

Ia bangkit berdiri, meluruskan jasnya. “Pertemuan keluarga besok malam pukul tujuh. Jangan terlambat. Sopir akan mengantarkanmu ke butik sore ini untuk memilih pakaian. Gunakan saja, jangan ragu. Tapi ingat—ini bukan hadiah, ini kebutuhan tugas.”

Setelah berkata demikian, Arga melangkah pergi meninggalkan ruang makan, meninggalkan Laras dengan perasaan campur aduk. Ia memandang makanan di piringnya yang masih utuh, namun seleranya hilang sama sekali. Tangan kanannya mengepal kuat.

Aku bisa melewati ini, ucapnya dalam hati memberi semangat diri sendiri. Asalkan aku tetap menjadi diriku sendiri, tidak menjual hatiku meski tubuhku terikat kontrak ini.

 

Benar saja, sore harinya seorang sopir membawanya ke pusat perbelanjaan paling elit di pusat kota. Di sana, seorang penata gaya profesional sudah menunggu dan mempersilakannya mencoba berbagai gaun malam berdesainer ternama. Harga satu gaun itu saja mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selama setahun penuh. Laras merasa asing, merasa seperti orang asing yang terlempar ke dunia yang bukan haknya.

Saat sedang memeriksa gaun-gaun itu, ponselnya berdering. Ternyata telepon dari ibunya. Mendengar suara ibunya yang lembut dan khawatir, pertahanan emosi Laras sedikit goyah.

“Laras, bagaimana keadaanmu di sana? Apakah dia memperlakukanmu dengan baik?” tanya Bu Harun dengan nada cemas.

Laras menarik napas panjang, berusaha menyembunyikan kepahitannya agar orang tuanya tidak merasa bersalah. “Semua baik, Bu. Tempatnya bagus, semua kebutuhanku terpenuhi. Laras baik-baik saja.”

“Kamu yakin, Nak? Jika dia menyakitimu atau membuatmu menderita, katakan saja pada Ibu. Kita akan cari jalan lain sekalipun itu sulit,” suara ibunya terasa terharu.

“Ibu jangan khawatir. Ini pilihanku, dan Laras sanggup menjalaninya. Sampaikan salam sayang Laras untuk Ayah ya. Jagalah kesehatan kalian,” jawab Laras menutup telepon itu dengan mata berkaca-kaca. Ia mengusap air matanya cepat sebelum penata gaya kembali masuk.

Ia akhirnya memilih sebuah gaun berwarna biru langit yang sederhana namun elegan, tidak terlalu mencolok namun tetap terlihat anggun. Itu paling cocok dengan seleranya, dan ia tidak ingin terlihat mencoba terlalu keras untuk menjadi orang lain.

 

Malam berikutnya tepat pukul tujuh kurang sepuluh menit, Laras sudah turun ke ruang tamu utama. Suasana malam itu terasa berbeda, lebih meriah namun juga lebih tegang. Begitu ia melangkah turun tangga, ia melihat Arga sudah berdiri menunggunya. Sekilas pandang, mata Arga terhenti sejenak pada sosok istrinya itu.

Di balik gaun biru itu, rambutnya disanggul rapi memperlihatkan leher jenjangnya. Tanpa riasan berlebih, wajah Laras bersinar alami, memancarkan kelembutan dan ketenangan yang membuat Arga tertegun sepersekian detik—rasa yang asing baginya, yang ia segera tepis cepat-cepat.

“Cukup pantas,” komentar Arga singkat, nada suaranya tidak memuji namun juga tidak mengejek. Ia mengulurkan lengannya dengan sopan santun paksaan. “Ingat apa yang kukatakan tadi. Jangan biarkan mereka menjerat bicaramu.”

Laras mengaitkan tangannya pada lengan Arga dengan hati-hati. Sentuhan itu membuat jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena rasa haru, melainkan karena sadar betapa besar jarak batin yang ada di antara mereka.

Begitu masuk ke ruang makan besar, semua mata tertuju pada mereka. Di sana duduk seorang lelaki tua berwibawa—Kakek Pratama, pemilik sebenarnya fondasi kekayaan keluarga ini. Di sampingnya ada Bibi Ratna, wanita paruh baya yang tajam pandangannya, beserta dua pasang muda yang pasti sepupu Arga.

“Jadi ini istri pilihanmu, Arga?” tanya Bibi Ratna lebih dulu dengan senyum yang terasa menyelidik. Matanya menyapu Laras dari ujung kepala hingga kaki seolah sedang menilai barang dagangan. “Cantik juga, tapi sepertinya terlihat sangat sederhana. Dari keluarga mana lagi katanya?”

Sebelum Laras sempat menjawab, suara Arga terdengar tenang namun tegas, mengandung kekuasaan yang membuat semua orang diam seketika. “Dia Laras, istriku. Keluarganya terhormat dan jujur. Itu saja hal yang paling penting bagiku. Tidak perlu mempertanyakan latar belakangnya lebih jauh lagi.”

Perkataan itu membuat Laras terkejut sekaligus terharu. Meski ia tahu Arga melakukannya demi menjaga nama baiknya sendiri, bukan karena rasa sayang, tapi perlindungan itu terasa seperti perisai yang melindunginya dari tatapan dan sindiran tajam keluarga besar itu.

Kakek Pratama hanya mengangguk puas. “Bagus. Yang penting dia bisa menjaga ketenangan Arga dan melanjutkan keturunan keluarga ini. Semoga kalian langgeng.”

Namun sepanjang makan malam itu, sindiran dan pertanyaan menyelidik terus datang. Dari cara memegang sendok, kebiasaan bicara, hingga latar belakang pendidikannya. Laras menjawab semuanya dengan tenang, jujur, dan rendah hati tanpa terlihat minder. Ia tidak memamerkan apa pun, tapi ketulusan jawabannya perlahan membuat tatapan meremehkan itu perlahan berubah menjadi rasa hormat diam-diam.

Saat malam semakin larut dan tamu mulai pulang, Arga dan Laras kembali sendirian dalam perjalanan pulang. Di dalam mobil mewah yang melaju tenang di jalan raya, keheningan menyelimuti mereka.

“Terima kasih,” ucap Laras tiba-tiba memecah keheningan. “Terima kasih sudah membela tadi.”

Arga melirik sekilas, lalu memandang ke depan. “Jangan salah paham. Aku tidak melakukannya untukmu. Jika mereka meremehkanmu, itu sama saja meremehkan pilihanku. Dan Arga Pratama tidak pernah salah memilih. Itu satu-satunya alasannya.”

Jawaban itu terasa menusuk namun jujur. Laras hanya tersenyum pahit dalam hati. “Baiklah. Terima kasih atas alasannya itu juga.”

Mobil terus melaju menembus kegelapan malam. Di luar jendela, lampu kota berkelap-kelip bagai bintang jatuh. Di dalam hati keduanya, benih-benih rasa yang belum mereka kenali mulai tumbuh perlahan, meski tertutup tebal oleh dinding pertahanan masing-masing.

Arga tidak tahu, ketulusan gadis sederhana ini perlahan mulai mengusik ketenangan hatinya yang sudah mati rasa selama bertahun-tahun. Dan Laras pun belum sadar, di balik sifat dingin itu, ada luka yang mendalam yang butuh waktu lama untuk sembuh.

Malam itu, mereka kembali pulang ke rumah megah itu sebagai suami istri di atas kertas, namun masih dua jiwa asing yang perlahan mulai memahami bahwa takdir mungkin memiliki rencana lain di luar kesepakatan yang mereka buat sendiri.

1
Lisa
Ceritanya menarik Kak
ayu ambara: maksih kk😍
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: oke Kak Ayu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!