Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.
Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.
Setelah kejadian penghapus yang "kabur", suasana kelas masih dipenuhi tawa.
Bahkan saat guru berikutnya belum datang, beberapa teman masih menggoda Alesha.
"Les."
"Hm?"
"Penghapusnya jangan kabur lagi ya."
Alesha langsung memeluk penghapusnya.
"Tenang."
"Sekarang dia sudah sadar jalan pulang."
Satu kelas kembali tertawa.
Tak lama kemudian, ketua kelas masuk.
"Anak-anak, Bu Maya masih rapat. Kita dikasih waktu sepuluh menit."
"Yeay!"
Suasana kelas langsung ramai.
Ada yang mengobrol.
Ada yang bermain tebak-tebakan.
Ada yang mengerjakan PR.
Sedangkan Alesha...
Ia menatap langit-langit kelas dengan wajah serius.
Dinda mulai curiga.
"Kenapa?"
Alesha mengangkat telunjuk.
"Aku lagi mikir."
"Mikir apa?"
"Aku penasaran."
"Sama?"
"Kalau cicak jatuh..."
"Iya?"
"...dia malu nggak ya?"
Dinda mematung.
"Hah?"
"Tadi aku lihat cicak hampir jatuh."
"Nah terus?"
"Kalau aku jadi cicaknya, pasti malu."
Dinda langsung tertawa.
"Kamu kok mikirin cicak?"
"Soalnya kasihan."
Saat itu seekor cicak benar-benar berlari di langit-langit kelas.
Alesha langsung mendongak.
"Nah itu dia!"
Ia berdiri di atas kursinya sambil menunjuk ke atas.
"Semangat ya!"
Seluruh kelas langsung ikut mendongak.
"Apa?"
"Mana?"
"Cicaknya."
Beberapa teman mulai ikut mencari.
"Yang mana?"
"Itu!"
Alesha terlalu semangat menunjuk hingga keseimbangannya goyah.
"Astaga!"
Bruk!
Untung Dinda dengan cepat menarik lengannya.
"Ya ampun!"
"Hampir jatuh!"
Alesha memegang dadanya.
"Hampir aja aku nyusul cicaknya."
Teman-teman kembali tertawa.
Saat itu Bu Maya masuk ke kelas.
Beliau melihat hampir semua siswa sedang mendongak ke langit-langit.
"Sedang melihat apa?"
Semua langsung menunjuk Alesha.
Bu Maya menghela napas sambil tersenyum.
"Alesha lagi?"
Alesha nyengir.
"Hehe..."
"Ada apa sebenarnya?"
Alesha menjawab dengan polos.
"Kami lagi mendukung cicak, Bu."
"..."
"Supaya dia nggak jatuh."
Bu Maya terdiam beberapa detik.
Lalu tanpa sengaja beliau ikut tertawa kecil.
"Kasihan sekali cicaknya sampai dapat tim pendukung."
Satu kelas kembali dipenuhi gelak tawa.
Alesha mengangguk bangga.
"Iya, Bu."
"Kalau dia jatuh, mentalnya bisa down."
Bu Maya menggeleng geli.
"Sudah-sudah."
"Sekarang semuanya duduk."
"Iya, Bu."
Alesha baru saja hendak duduk ketika tiba-tiba terdengar suara kecil.
"Cit..."
Ia langsung menoleh.
"Eh?"
Seekor cicak kecil benar-benar terjatuh... tepat di atas mejanya.
Alesha membeku dua detik.
Lalu...
"AAAAAAAA!"
Ia berlari mengelilingi kelas sambil membawa kursinya.
"Cicaknya menyerah!"
"Cicaknya menyerah!"
Satu kelas langsung heboh.
Dinda sampai tertawa sambil mengejar Alesha.
"Les! Itu cicak kecil!"
"Dia milih mejaku buat jatuh!"
Bu Maya menahan tawanya sambil berkata,
"Alesha, berhenti lari. Cicaknya sudah kabur."
Alesha berhenti, melihat ke arah meja.
Benar saja, cicak itu sudah menghilang.
Ia menghela napas lega.
"Huft..."
"Lain kali kalau mau jatuh..."
"Kasih surat izin dulu."
Mendengar kalimat itu, bahkan Bu Maya pun tidak bisa lagi menahan tawanya, sementara seluruh kelas kembali dipenuhi suara gelak tawa akibat tingkah absurd Alesha yang tidak pernah ada habisnya.
Satu kelas masih belum bisa berhenti tertawa.
Bahkan Bu Maya harus mengetuk meja guru pelan agar suasana kembali tenang.
"Sudah, sudah."
"Tolong cicaknya jangan dijadikan bahan rapat lagi."
"Iya, Bu..." jawab seluruh siswa sambil masih menahan tawa.
Alesha kembali duduk di bangkunya.
Namun ia masih sesekali melirik ke bawah meja.
Dinda memperhatikan tingkah sahabatnya.
"Ngapain?"
"Takut dia balik lagi."
"Itu cicak, bukan penagih utang."
"Iya sih..."
Beberapa menit kemudian pelajaran dimulai.
Bu Maya sedang menjelaskan materi sambil menulis di papan tulis.
Semua siswa mulai fokus.
Alesha juga tampak mencatat dengan rapi.
Tiba-tiba...
"Krek..."
Suara kecil terdengar dari tas Alesha.
Alesha langsung membeku.
Dinda ikut menoleh.
"Itu suara apa?"
Alesha berbisik pelan.
"Aku nggak tahu..."
"Krek..."
Suara itu terdengar lagi.
Mata Alesha membulat.
"Jangan-jangan..."
"Apa?"
"Cicaknya masuk tasku!"
Dinda langsung melotot.
"Mana mungkin!"
Dengan wajah penuh kewaspadaan, Alesha membuka resleting tasnya sedikit demi sedikit.
Seluruh gerakannya dibuat sangat dramatis.
Teman-teman di belakang mulai memperhatikan.
"Alesha ngapain?"
"Nggak tahu."
Alesha memasukkan tangan ke dalam tas dengan mata terpejam.
"Ayo keluar..."
Dinda langsung menahan tawa.
"Kamu ngomong sama siapa?"
"Kalau memang ada cicaknya, biar dia keluar baik-baik."
Saat tangannya menyentuh sesuatu...
Alesha langsung menariknya keluar secepat mungkin.
"AAAA!"
Semua siswa refleks menoleh.
Ternyata...
Yang ada di tangannya hanyalah sebungkus keripik.
Hening.
Dinda menatap bungkus keripik itu.
"Itu..."
Alesha membaca tulisan di bungkusnya.
"Oh..."
"Keripik."
Dinda langsung memukul pelan bahu Alesha.
"Suara kresek bungkus makanan!"
Alesha nyengir.
"Pantesan."
"Kenapa bisa bunyi sendiri?"
"Aku lupa tadi naruh di bawah buku."
Bu Maya yang sedari tadi memperhatikan akhirnya tidak kuat menahan senyum.
"Alesha."
"Iya, Bu."
"Lain kali kalau bawa camilan..."
"Jangan dicurigai sebagai cicak."
Satu kelas kembali tertawa.
Alesha mengangguk malu.
"Siap, Bu."
Reza yang kebetulan lewat di depan kelas karena mengantar buku ke guru lain mendengar suara tawa lagi.
Ia mengintip dari jendela.
"Eh."
Kevin yang berjalan di belakangnya ikut berhenti.
"Kenapa?"
"Kayaknya adikmu bikin ulah lagi."
Kevin menghela napas panjang.
"Apa sekarang?"
Reza menunjuk ke arah Alesha yang sedang memegang bungkus keripik.
"Nuduh keripik jadi cicak."
Kevin menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Ya ampun..."
Di dalam kelas, Alesha memasukkan kembali keripik itu ke dalam tas.
Ia menepuk-nepuk tasnya pelan.
"Maaf ya."
Dinda langsung bertanya,
"Sekarang ngomong sama tas?"
"Nggak."
"Sama keripiknya."
"Takut dia tersinggung."
Seluruh kelas kembali meledak tertawa.
Bu Maya sampai menggeleng sambil tersenyum.
"Untung kamu pintar menghibur orang, Alesha."
Alesha tersenyum lebar.
"Itu bakat, Bu."
"Bakat bikin kelas nggak pernah sepi."
Mendengar itu, teman-temannya serempak mengangguk.
"Setuju!"
Alesha justru membusungkan dada dengan bangga.
"Nah, akhirnya prestasiku diakui juga."
Seketika tawa kembali memenuhi seluruh ruang kelas.
Bel pulang akhirnya berbunyi.
"Alhamdulillah..."
Alesha langsung berdiri sambil meregangkan badan.
"Selamat tinggal, papan tulis."
"Selamat tinggal, buku."
"Besok kita bertemu lagi."
Dinda memasukkan bukunya ke dalam tas sambil tertawa.
"Memangnya kamu lagi pidato perpisahan?"
"Aku menghargai jasa mereka."
Dinda menggeleng geli.
Mereka pun berjalan keluar kelas.
Di koridor, Alesha tiba-tiba berhenti tepat di depan papan pengumuman sekolah.
"Hm..."
Dinda ikut berhenti.
"Kenapa?"
Alesha menatap papan itu dengan wajah serius.
"Aku merasa..."
"Apa lagi?"
"...fotonya miring."
Dinda melihat papan pengumuman.
"Mana ada."
"Ada."
Alesha mendekat, lalu mencoba meluruskan salah satu kertas pengumuman.
Namun karena terlalu semangat...
Bruuk!
Seluruh pengumuman yang ditempel menggunakan paku payung ikut berjatuhan.
"Kyaaa!"
Kertas-kertas berhamburan memenuhi lantai koridor.
Alesha membeku.
Dinda ikut membeku.
Dua detik kemudian...
"Alesha..."
"Bukan aku."
Dinda melotot.
"Aku lihat sendiri!"
"Mungkin..."
Alesha menunjuk angin yang berembus pelan.
"...anginnya kuat."
"LES!"
Saat itu Pak Satpam yang sedang berkeliling menghampiri mereka.
"Lho, kok pengumumannya pada jatuh?"
Alesha langsung berdiri tegak.
"Pak..."
"Iya?"
"Kalau saya bilang angin..."
Pak Satpam melihat rambut mereka yang bahkan tidak bergerak sedikit pun.
"Anginnya lagi cuti ya?"
Dinda langsung menutup mulutnya agar tidak tertawa.
Alesha nyengir canggung.
"Hehe..."
"Maaf, Pak."
Pak Satpam tersenyum geli.
"Ya sudah."
"Dibantu pasang lagi saja."
"Siap!"
Alesha langsung jongkok mengambil satu per satu kertas yang berserakan.
Namun karena terlalu buru-buru...
Ia salah memasang.
Pengumuman lomba pidato tertukar dengan jadwal piket.
Pengumuman kantin sehat berada di tempat ekstrakurikuler.
Sedangkan jadwal ujian malah terbalik.
Dinda yang melihat langsung memegang kepala.
"Les..."
"Hm?"
"Itu salah semua."
"Hah?"
Alesha memperhatikan hasil kerjanya.
"Oh..."
"Pantesan kok aneh."
Pak Satpam sampai tertawa kecil.
"Nggak apa-apa."
"Pelan-pelan saja."
"Iya, Pak."
Beberapa menit kemudian, Arka lewat bersama Reza setelah selesai rapat OSIS.
Melihat Alesha jongkok di depan papan pengumuman, Arka bertanya,
"Kamu lagi ngapain?"
Sebelum Alesha sempat menjawab, Dinda langsung menyahut,
"Dia lagi bikin pengumuman sekolah pindah-pindah alamat."
Reza langsung tertawa.
"Apa lagi ulahnya?"
Alesha mengangkat tangan seperti murid yang mengaku salah.
"Aku cuma mau lurusin satu kertas."
"Terus?"
"Yang jatuh satu papan."
Reza sampai memegang perutnya.
"Hebat."
"Itu bakat."
Arka menghela napas kecil, lalu ikut membantu memasang kembali beberapa lembar pengumuman.
"Nih."
"Yang ini di sebelah sana."
Alesha menerima kertas itu.
"Siap, Pak Ketua."
Namun saat hendak menempelkan paku payung...
"Aduh!"
"Apa lagi?" tanya Reza.
"Paku payungnya nusuk jariku."
Reza langsung menggeleng.
"Kamu benar-benar nggak bisa diam lima menit ya."
Alesha meniup ujung jarinya pelan.
"Paku payungnya galak."
Arka yang selesai memasang lembar terakhir menatap Alesha sekilas.
"Bukan pakunya."
"Lalu?"
"Kamu yang kurang hati-hati."
Alesha terdiam beberapa detik.
"Iya juga..."
Dinda langsung tertawa.
"Akhirnya sadar."
Setelah semua pengumuman kembali rapi, Pak Satpam mengacungkan jempol.
"Nah, sekarang baru benar."
Alesha tersenyum lega.
"Alhamdulillah."
Ia kemudian menoleh ke papan pengumuman sambil berbisik pelan,
"Jangan jatuh lagi ya."
Reza yang masih berdiri di sana langsung tertawa.
"Kamu pamitan sama papan pengumuman juga?"
Alesha mengangguk polos.
"Iya."
"Soalnya tadi dia sempat trauma."
Mendengar jawaban itu, koridor sekolah kembali dipenuhi gelak tawa. Bahkan Pak Satpam ikut terkekeh sambil menggeleng, merasa sekolah memang selalu lebih ramai setiap kali Alesha berada di dekatnya.