NovelToon NovelToon
Resep Cinta Setelah Akad

Resep Cinta Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:745
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?

Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.

Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.

Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.

Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.

Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangisan Pertama Sang Istri

Pintu kaca toko kue berbunyi pelan saat Satria mendorongnya dengan napas terengah-engah.

Ting...

Raisa yang sedang sibuk melayani seorang pelanggan di dekat etalase langsung menoleh ke arah sumber suara. Begitu melihat Satria berdiri di ambang pintu dengan seragam PNS yang sedikit kusut, napas memburu, dan tangan yang mencengkeram erat tas kain berisi rantang hijau, gadis itu langsung mengerti apa yang sedang terjadi.

Wajah Satria yang biasanya selalu tenang, kaku, dan lempeng, kini dipenuhi oleh guratan kecemasan yang teramat sangat.

"Mas Satria..." gumam Raisa lirih, matanya membelalak kecil melihat penampilan berantakan sang atasan.

Satria menganggukkan kepalanya sopan, mencoba mengatur pasokan udara di parunya. "Maaf mengganggu kesibukanmu, Raisa. Apa... Naira ada di dalam?"

Raisa melirik sekilas ke arah pintu pembatas ruang belakang, lalu kembali menatap Satria dengan pandangan prihatin. "Mbak Naira baru saja ke belakang, Mas. Sejak tiba beberapa menit lalu dia sempat duduk di meja kasir, beliau cuma diam saja lalu berdiri dan berjalan ke ruangan belakang."

Satria menundukkan kepalanya sejenak, merutuki dirinya sendiri. "Maaf ya, sudah membuat suasana toko jadi tidak nyaman."

Raisa tersenyum kecil, lalu memberikan isyarat dengan tangannya agar Satria segera masuk. "Silakan langsung masuk saja, Mas. Urusan depan dan pelanggan biar toko saya yang jaga sepenuhnya."

"Terima kasih banyak, Raisa." Satria kembali menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat sebelum melangkah cepat memotong ruangan menuju pintu belakang toko.

Suasana di dalam ruangan belakang itu terasa sangat sunyi dan dingin. Hanya terdengar suara mesin pendingin ruangan yang berdengung pelan, menemani keheningan yang mencekam.

Naira duduk meringkuk di atas sofa kain kecil dekat jendela dengan kepala yang tertunduk dalam. Kedua belah tangan lentiknya menggenggam ujung kain celemek kremnya begitu erat, memelintirnya kuat-kuat hingga ujung jemarinya memutih.

Sepasang mata indahnya yang biasa memancarkan binar ceria kini tampak sembab dan memerah. Bahkan, sisa-sisa jalur air mata yang basah masih tercetak jelas di kedua pipinya.

Satria menghentikan langkah jangkungnya tepat beberapa langkah di depan pintu. Dadanya terasa begitu sesak dan nyeri melihat kondisi istrinya yang tampak begitu rapuh.

Selama satu minggu mereka membina rumah tangga belum pernah sekali pun ia melihat Naira menangis sesedih ini. Dan sialnya, tangis pertama itu pecah karena ulah refleksnya sendiri.

"Naira..." Panggil Satria dengan suara baritonnya yang melembut.

Suara lembut yang sangat familier itu seketika membuat bahu mungil Naira sedikit bergetar karena tersentak. Namun, perempuan itu tetap bergeming dan enggan mengangkat wajahnya untuk menatap sang suami.

Ruangan kembali dilingkupi keheningan yang pekat selama beberapa saat.Satria perlahan berjalan mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatu pantofelnya menyentuh ujung kaki Naira.

"Nai..." panggil Satria lagi, kali ini intonasi suaranya terdengar jauh lebih pelan dan sarat akan penyesalan. "Aku minta maaf yang sebesar-besarnya."

Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Naira. Perempuan itu tetap memilih bungkam, menatap lurus ke arah pangkuannya sendiri.

Satria mengembuskan napas panjang, mencoba menekan rasa panik di dadanya. "Aku tahu... aku tahu apa yang kamu lihat di halaman kantor kecamatan tadi siang, Naira."

Masih tidak ada respons atau pergerakan berarti dari istrinya.

"Aku sangat mengerti kenapa kamu bisa sampai salah paham dan sesedih ini," lanjut Satria, nada suaranya bergetar penuh penyesalan yang mendalam. "Tapi demi Allah, Nai... Mas benar-benar tidak melakukan apa pun dengan staf perempuan itu."

Perlahan-lahan, Satria menurunkan tubuh jangkungnya dan memilih untuk berjongkok tepat di depan lutut istrinya. Kini posisi duduk mereka menjadi sejajar. Dengan gerakan yang teramat lembut, Satria mengulurkan tangan kanan untuk mendongakkan sedikit dagu Naira yang terus-menerus menunduk menyembunyikan wajah.

"Naira, tatap Mas sebentar..." pinta Satria lirih.

Akhirnya... Naira perlahan mengangkat wajahnya. Sepasang mata yang biasanya berbinar terang itu kini berkaca-kaca, dipenuhi oleh genangan air mata yang siap tumpah kembali. Tatapan terluka dan rapuh dari Naira seketika membuat lubuk hati Satria terasa seperti diremas kuat-kuat oleh tangan tak kasat mata.

Tanpa ada keraguan lagi, Satria mengangkat kedua belah telapak tangan besarnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah sedang menyentuh porselen kuno yang sangat rapuh dan mudah pecah, ia menangkup kedua pipi Naira yang terasa hangat.

"Nai... dengarkan Mas, ya. Mas benar-benar minta maaf karena sudah membuatmu salah paham," ucap Satria, menatap lurus-lurus ke dalam manik mata Naira.

"Tadi itu ada seorang pegawai perempuan baru yang berjalan terburu-buru membawa tumpukan map berkas. Tumit sepatunya tersangkut di lantai ubin yang retak, dan tubuhnya limbung ke depan. Karena posisiku yang paling dekat dengannya, Mas secara refleks langsung mengulurkan tangan untuk menahan bahunya agar dia tidak jatuh terjerembap ke paving blok. Itu saja, Nia. Demi apa pun, Mas tidak punya maksud atau niat lain di balik itu."

Tatapan mata Satria yang jernih memancarkan kejujuran yang mutlak. Tidak ada sedikit pun kepanikan palsu atau kebohongan yang ditutupi di sana. Yang ada hanyalah rasa sesak dan penyesalan yang mendalam karena telah menjadi penyebab runtuhnya air mata sang istri.

Naira menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menahan gejolak di dadanya. Namun, pertahanan dirinya runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi berusaha ia bendung akhirnya kembali jatuh meluncur bebas melewati pipinya, membasahi ibu jari Satria.

Butiran demi butiran air mata itu mengalir deras tanpa bisa dihentikan lagi. Satria yang panik melihat hal itu pun buru-buru mengusap lelehan air mata tersebut menggunakan kedua ibu jarinya dengan gerakan menyapu yang konstan.

"Jangan menangis lagi, Naira... tolong," bisik Satria lirih dengan suara yang nyaris tercekat di tenggorokan. "Mas benar-benar tidak tahan dan sakit sekali rasanya melihatmu menangis seperti ini."

Kalimat jujur dan sederhana yang keluar dari bibir Satria justru menjadi pematik utama yang meruntuhkan sisa-sisa benteng pertahanan di hati Naira. Tanpa ada aba-aba atau peringatan terlebih dahulu... Naira langsung memajukan tubuhnya ke depan.

Bruk.

Tubuh mungil Naira langsung menerjang dan memeluk tubuh tegap Satria dengan teramat erat. Sangat erat, hingga membuat Satria yang posisinya sedang berjongkok sempat sedikit kehilangan keseimbangan dan mundur beberapa senti ke belakang.

Tangisan Naira yang sejak tadi tertahan akhirnya meledak pecah di dalam dekapan dada bidang suaminya.

"Hu... huuu... Mas Satria..."

Satria sempat membeku selama beberapa detik di posisinya. Jantungnya berdegup kencang berkejaran dengan detak jantung Naira yang tak kalah cepat. Ini adalah kali pertama istrinya memeluk dirinya dengan begitu erat atas dasar kemauan dan inisiatifnya sendiri.

Perlahan tapi pasti, kedua tangan kekar Satria yang sempat kaku di udara mulai terangkat naik. Ia membalas pelukan hangat itu dengan penuh kehati-hatian. Satu telapak tangan besarnya bergerak mengusap lembut punggung Naira yang naik turun karena terisak, sementara tangan satunya lagi mengelus pelan bagian belakang kepala istrinya yang tertutup hijab instan.

"Naira... tenanglah, Mas di sini," bisik Satria, menenggelamkan wajahnya di samping kepala Naira.

Namun, tangisan Naira justru terdengar semakin menjadi-jadi di dalam dada seragam cokelat Satria.

"Mas Satria jahat...!" ucap Naira dengan suara yang tercekat oleh isakan tangis yang hebat.

Satria memejamkan matanya rapat-rapat, meresapi setiap pukulan emosi istrinya. "Iya... Mas tahu. Mas minta maaf, ya."

"Kenapa... kenapa harus sedekat itu sama cewek lain...?" Isak Naira semakin pecah, jemarinya meremas kain seragam di punggung Satria dengan kuat. "Naira tadi lihatnya... dada Naira rasanya sesak banget... Naira sakit hati, Mas...!"

Satria menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis di balik rasa bersalahnya yang besar. Bukan karena ia merasa senang melihat istrinya menangis tersedu-sedu, melainkan karena untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Naira mau membuka diri dan mengungkapkan isi hati serta cemburunya secara gamblang tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi.

"Itu murni hanya kejadian tidak sengaja, Nai. Mas bahkan tidak mengenal nama staf itu dengan baik," jelas Satria lembut, terus mengusap punggung Naira untuk menenangkannya. "Naira... dengarkan Mas. Kamu adalah satu-satunya perempuan di dunia ini yang ingin dan wajib Mas jaga seumur hidup Tidak ada yang lain."

Mendengar penuturan tulus itu, tangisan Naira perlahan mulai mereda. Isakannya tidak lagi se-histeris tadi, namun kedua tangan mungilnya tiba-tiba terkepal dan mulai memukul-mukul pelan punggung tegap Satria secara berkali-kali sebagai pelampiasan rasa kesalnya.

Buk!

"Mas Satria jahat...!" seru Naira manja di sela sisa isakannya.

Buk!

"Aku sudah membuat kan mas bekal makan siang dengan sepenuh hati" lanjut Naira lagi, mengadu.

Buk!

"Tapi Naira malah dapat pemandangan yang enggak bagus"

Buk!

"Mas Satria Jahat!" Pukulan-pukulan kecil yang mendarat di punggung Satria itu sama sekali tidak terasa sakit.

Alih-alih pukulan marah, itu lebih mirip seperti rengekan manja seorang anak kecil yang sedang mengadukan kekesalannya kepada sang ayah.

Satria hanya bisa tertawa pelan, membiarkan punggungnya menjadi sasaran empuk tinju kecil istrinya. "Iya, maaf."

"Mas salah, maaf ya."

Buk!

"Maafkan Mas, Naira." Setiap kali kata 'maaf' meluncur dari bibir Satria, satu pukulan kecil kembali mendarat manis di punggungnya, hingga akhirnya gerakan tangan Naira perlahan-lahan mulai melambat dan berhenti sepenuhnya.

Yang tersisa di antara mereka kini hanyalah sebuah pelukan hangat yang begitu erat di tengah keheningan ruang belakang toko. Satria terus mengusap lembut punggung istrinya, memberikan rasa aman yang utuh.

"Naira, kalau nanti di kemudian hari ada kejadian atau kesalahpahaman seperti ini lagi..." bisik Satria pelan tepat di dekat telinga Naira. "Marahi Mas langsung. Pukul Mas di tempat kalau memang itu perlu kamu lakukan untuk meluapkan kekesalanmu."

Naira terdiam, mendengarkan kalimat suaminya dengan saksama.

"Tapi Mas mohon... jangan pernah sekali-kali berbalik dan pergi lagi sebelum kamu bersedia mendengarkan seluruh penjelasanku terlebih dahulu, ya?" pinta Satria dengan nada memohon yang teramat sangat.

Naira menganggukkan kepala kecilnya berulang kali di dalam dekapan dada Satria, merasa bersalah karena sifat impulsifnya tadi siang.

"Maafkan aku juga ya, Mas..." gumam Naira dengan suara lirih yang teredam kain seragam. "Aku tadi juga salah karena langsung pergi begitu saja tanpa tanya dulu."

Naira terdiam sejenak, menggigit bibirnya ragu sebelum melanjutkan kalimatnya yang sempat menggantung. "Aku... aku cemburu, Mas."

Kalimat pengakuan terakhir itu diucapkan Naira dengan volume yang sangat amat lirih karena saking malunya. Namun, karena jarak mereka yang menempel tanpa celah, kalimat itu terdengar sangat jelas dan jernih di indra pendengaran Satria, sukses membuat senyuman di wajah pria kaku itu mengembang semakin lebar dan cerah.

"Cemburu?" goda Satria dengan nada suara yang sedikit dinaikkan, ingin menggoda istrinya yang sedang mode manja.

Naira yang merasa digoda langsung semakin menyembunyikan wajah merah padamnya ke dalam ceruk leher dan dada bidang Satria, enggan memperlihatkan wajah malunya.

"Iya... cemburu! Soalnya... soalnya kan Mas Satria itu sekarang sudah jadi suami sahnya Naira!" seru Naira dengan nada merajuk yang menggemaskan. "Kalau ada perempuan lain yang berani dekat-dekat atau bersentuhan sama Mas... pokoknya Naira nggak suka!"

Satria mengembuskan napas panjang, sebuah perasaan lega dan hangat yang teramat sangat seketika menjalar dan memenuhi seluruh rongga dadanya. Perlahan-lahan, ia menundukkan kepala lalu mengecup pucuk kepala Naira yang tertutup kain hijab itu dengan sangat lama dan penuh perasaan sayang yang tulus.

"Terima kasih banyak, ya, Nai..." bisik Satria dengan suara baritonnya yang bergetar hangat. "Terima kasih karena sudah mau mengikis jarak di antara kita, dan terima kasih karena sudah menganggap Mas benar-benar sebagai milikmu seutuhnya."

Naira tidak menjawab dengan kata-kata lagi. Ia hanya bisa menganggukkan kepalanya malu-malu sembari semakin mempererat pelukan tangannya di pinggang kokoh Satria, enggan melepaskan kehangatan yang baru saja ia temukan kembali.

Sementara itu, di balik celah pintu kayu ruang belakang yang sedikit terbuka...

Raisa yang tanpa sengaja sempat mendengar suara isak tangis dramatis bosnya yang kini telah berubah menjadi obrolan manja pengantin baru, hanya bisa tersenyum kecil penuh kemenangan. Ia melangkah mundur perlahan agar tidak mengganggu privasi pasutri tersebut.

"Alhamdulillah... akhirnya baikan juga," gumam Raisa pelan dengan nada lega sembari berjalan kembali menuju meja kasir depan dengan langkah riang. "Ternyata benar kata orang tua dulu, pasangan pengantin baru itu memang harus sekali-kali dikasih bumbu pertengkaran kecil biar tahu rasanya cemburu. Lihat saja tuh... habis drama air mata begini, pasti hubungan mereka berdua bakal makin lengket kayak lem joss!"

Raisa pun kembali duduk di kursi kasirnya sambil menahan senyum geli yang terus menghiasi bibirnya, sengaja memberikan waktu luang yang luas bagi pasangan suami istri di dalam sana untuk menyelesaikan sisa-sisa kesalahpahaman mereka dengan damai dan penuh cinta.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!