Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantor kecamatan Geger
Dua hari kemudian...
Suasana di Kantor Kecamatan berubah drastis menjadi jauh lebih sibuk, padat, dan melelahkan daripada hari-hari biasanya.
Sejak pukul tujuh pagi tepat, halaman luas kantor sudah dipenuhi oleh antrean ratusan warga yang ingin mengurus berbagai macam berkas administrasi kependudukan. Beberapa pegawai tampak berlarian mondar-mandir di koridor sambil membawa tumpukan map berkas. Suara mesin printer di ruang pelayanan umum bahkan hampir tidak berhenti berbunyi sedetik pun.
"Pak Satria!" panggil seorang staf dari ujung lorong.
"Pak, ini berkas pengajuan pindah domisili warga RT 05 mohon ditandatangani segera," pinta staf lain menyorongkan map.
"Pak Kasubag, formulir fisik untuk pendaftaran KTP elektronik di meja depan sudah habis!" seru pegawai perempuan dari loket pelayanan dengan wajah panik.
"Pak, area aula kecamatan untuk acara besok juga harus segera disiapkan dekorasinya!"
Satria tampak berjalan cepat dengan langkah jangkungnya dari satu ruangan ke ruangan lain, memegang sebuah map tebal di tangan kirinya. Perintah demi perintah meluncur dari bibirnya dengan tegas, taktis, dan teratur.
"Untuk semua berkas kependudukan darurat, dahulukan pengurusannya sekarang juga," instruksi Satria tanpa menghentikan langkah.
"Segera koordinasikan dengan pihak Disdukcapil pusat. Lalu untuk masalah dekorasi aula, sore nanti setelah jam pelayanan tutup kita adakan rapat kilat. Jangan sampai ada satu pun pelayanan masyarakat yang terlambat atau terbengkalai hari ini!"
"Baik, Pak Kasubag!" jawab seluruh staf serempak, bergerak cepat sesuai arahan.
Di sela-sela kesibukan yang menggila itu, Doni tampak berjalan mendekati meja kerja Satria di ruang utama sambil membawa setumpuk proposal kegiatan yang cukup tebal.
"Pak Satria," panggil Doni, menaruh proposal itu di atas meja.
"Hm? Ada apa lagi, Don?" Satria mendongak dari balik layar komputernya, jemarinya masih mengetik laporan.
"Ini berkas persiapan untuk acara perayaan Agustusan tingkat kecamatan sudah mulai padat dan masuk tahap final, Pak," jelas Doni sembari mengusap keringat di dahinya.
Satria menganggukkan kepalanya paham, melirik kalender meja. "Dua minggu lagi sudah masuk tanggal tujuh belas Agustus. Kita harus pastikan seluruh rangkaian acara besar ini siap tanpa ada kendala."
Gea yang kebetulan lewat membawa berkas ikut menyela pembicaraan dari balik sekat meja. "Betul, Pak. Mulai dari rangkaian lomba antar warga, bazar UMKM lokal, pelayanan kesehatan terpadu, sampai malam pentas hiburan rakyat semuanya harus matang susunan acaranya."
Siska ikut menambahkan dari kursinya sambil membuka buku catatan agenda kerja tahunan. "Oh iya Pak Satria, Pak Camat tadi sempat berpesan khusus kepada saya. Beliau meminta agar jumlah stand kuliner makanan lokal di area bazar diperbanyak untuk tahun ini, supaya bisa membantu meningkatkan ekonomi warga."
Satria tampak berpikir sejenak, mengetuk-ngetukkan pena di atas meja kerja kayunya. "Kalau begitu, libatkan seluruh pelaku usaha UMKM baru yang ada di wilayah kecamatan kita. Jangan hanya memakai jasa pelaku usaha yang lama saja. Kalau ada usaha kuliner baru milik warga yang memang produknya layak dan enak, ikutkan saja ke dalam daftar peserta bazar."
Doni mengangguk-angguk setuju dengan cepat. "Siap, Pak. Nanti segera saya buatkan daftar undangannya."
Namun, belum sempat Doni membalikkan badannya untuk pergi meninggalkan ruangan, langkah kakinya mendadak terhenti. Sebuah ide jahil mendadak melintas di kepalanya, memicu senyuman seringai nakal di wajahnya.
"Eh, sebentar... Pak Satria," panggil Doni lagi, membalikkan badannya menghadap Satria.
Satria kembali mendongakkan wajahnya dari tumpukan berkas dengan dahi berkerut heran. "Apa lagi, Don? Ada berkas yang kurang?"
"Anu, Pak... kalau misal nanti stand toko kue premium milik Bu Naira ikut didaftarkan masuk ke dalam bazar kuliner Agustusan kecamatan..." Doni sengaja menggantung kalimatnya, menyeringai jahil dengan mata berkedip-kedip ke arah rekan kerja lainnya. "...berarti nanti Pak Kasubag kita ini bakal sering bolak-balik bolos dari ruang kerja demi memantau ke *stand* itu, dong? Menjaga keamanan istri tercinta, ya kan?"
Uhuk! Uhuk!
Seketika itu juga, seluruh ruangan divisi yang tadinya tegang dan sibuk langsung pecah oleh gelak tawa yang membahana dari para pegawai.
Gea bahkan sampai tertawa terbahak-bahak sambil menepuk permukaan mejanya dengan keras, sedangkan Siska mencoba menahan tawanya agar tidak terlalu keras dengan cara menutup mulutnya rapat-rapat menggunakan telapak tangan.
Satria hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat tingkat kejahilan rekan kerjanya itu. Namun... ada satu hal yang berbeda kali ini. Pria kaku itu tidak lagi membalas godaan tersebut dengan wajah lempeng, dingin, ataupun datar yang menyeramkan seperti biasanya.
Di hadapan seluruh stafnya, Satria justru mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat manis, matanya berbinar jenaka.
"Kalau memang kue buatan istri saya rasanya enak... kenapa tidak? Tidak ada salahnya saya sering berkunjung ke sana, kan?" jawab Satria dengan nada santai namun telak.
Seketika, seluruh ruangan kantor kecamatan itu mendadak hening total selama dua detik akibat jawaban tak terduga dari sang atasan. Semua pegawai melongo tidak percaya.
Hingga beberapa detik kemudian...
"Hoooooo...!!! Cieee, Pak Kasubag!"
Sorakan heboh dan riuh menggoda dari para pegawai langsung meledak memenuhi seluruh ruangan kantor. Doni bahkan sampai menunjuk-nunjuk wajah Satria sambil tertawa terpingkal-pingkal saking tidak percayanya.
"Astaga naga! Pak Kasubag kita yang biasanya kaku kayak papan tripleks, sekarang ternyata sudah pintar dan jago nge-gombal juga ya di depan umum! Luar biasa efek pengantin baru!" Ejek Doni membuat suara riuh di kantor semakin menggema.
Satria hanya tersenyum kecil menanggapi kehebohan anak buahnya, lalu kembali memfokuskan pandangan matanya membuka lembar demi lembar berkas laporan di atas mejanya dengan tenang.
Namun, di balik sikap tenang dan berwibawanya itu... entah sejak kapan pastinya, Satria menyadari satu hal di dalam hatinya. Ia kini mulai teramat menikmati setiap kali nama panggilan sang istri disebut dan digaungkan oleh rekan-rekan kerjanya di kantor.
Ada rasa bangga dan bahagia tersendiri yang kini mengisi relung hatinya, membuktikan bahwa Naira kini telah sepenuhnya menjadi bagian terpenting dari pusat dunianya.
Di sela-sela ketukan jemarinya pada papan ketik komputer, Satria melirik ponselnya yang tergeletak di samping cangkir kopi yang mulai mendingin. Di sana, nama kontak Naira ❤️ seolah memanggil-manggilnya untuk kembali membuka ruang obrolan mereka yang sempat terhenti tadi pagi.
Dengan gerakan perlahan agar tidak memancing kejahilan Doni lagi, Satria meraih benda pipih tersebut. Sambil menyunggingkan senyum tipis yang tak bisa ditahan, ibu jarinya bergerak lincah mengetikkan sebuah pesan singkat.
Satria Baskara❤️
"Nia, nanti pertengahan Agustus ada bazar kuliner besar di kantor kecamatan. Kalau toko kuemu mau ikut, beri tahu Mas, ya. Nanti Mas daftarkan di stan paling depan biar Mas punya alasan untuk sering mampir beristirahat di sana.✉️✉️"
Setelah menekan tombol kirim, Satria meletakkan kembali ponselnya dengan dada yang berdesir hangat. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah cantik istrinya akan merona hebat membaca pesan tak terduga itu di balik meja kasir toko kuenya.
Genggaman tangan mereka tadi pagi, tangisan cemburu kemarin siang, serta kesalahpahaman yang berhasil mereka lalui, semuanya perlahan melebur menjadi fondasi baru yang kian kokoh.
Langkah kecil yang mereka ambil untuk mengurangi jarak, ternyata kini telah menuntun mereka pada sebuah kedekatan yang jauh lebih indah dan manis dari apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bersambung
semangat kak key/Coffee/