Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*18
Sha kesal bukan kepalang. Ucapan Dimas dan teman-temannya barusan itu mengatakan seolah-olah, dirinya beneran kebelet untuk nikah. Tidak punya calon, malah pilih sembarangan untuk dijadikan suami karena tidak punya banyak pilihan.
"Cukup!" Suara Sha terdengar lantang. "Kalian ini kenapa sih? Kalian pikir, aku kebelet nikah gitu? Ingin buru-buru menikah tapi gak punya pasangan? Kalian mikirnya ke mana sih? Aku ini bukan perawan tua yang dipaksa nikah tanpa calon."
"Terus kenapa milih Irza, Sha? Kenapa gak milih aku aja. Aku jauh lebih baik dari pria gemulai itu."
Sha terdiam sambil menatap lekat wajah Dimas. Jujur saja, ucapan itu cukup mengejutkan, sekaligus juga membuat Asha kebingungan. Kenapa para cowok bisa bicara aneh begitu padanya. Menawarkan diri untuk menjadi pasangan setelah kabar pertunangannya dengan Irza tersebar. Serendah itukah Irza di mata para lelaki ini?
"Kamu ngomong apa sih? Antara aku dengan Irza, ada hal yang tidak perlu aku bicarakan pada kalian semua. Kalo aku pilih Irza, itu tandanya, aku punya alasan ku tersendiri untuk memilih dia."
"Apa sih alasannya? Karena dia kaya?"
"Bukan urusan kamu." Kesal Sha tidak bisa dibendung lagi. Manik matanya menatap tajam kearah Dimas selama beberapa detik.
Setelahnya, Sha langsung menarik diri agar segera menjauh dari para cowok yang jika ia tetap di sana, pokok pembahasan tentang perjodohan dirinya dengan Irza tidak akan pernah selesai. Beruntungnya, saat dia beranjak menjauh, para lelaki itu tidak menahannya. Jadi, dia bisa pergi dengan mudah tanpa harus berbalik lagi.
Sha melepas napas berat secara perlahan saat kaki mencapai ruangan kelas. Napas berat yang terdengar penuh akan beban. Berulang kali ia melakukan hal tersebut sampai kedua temannya yang ada di dalam kelas menatapnya dengan tatapan bingung.
"Sha .... Kenapa?" Cindi bertanya sesaat setelah temannya menghempaskan bokong ke atas kursi.
"Heh .... Hidup gue rasanya berat banget, Cin. Berasa ingin pindah planet aja udah sekarang."
"Hah? Pindah planet? Seberat itukah hidup kamu sekarang, Sha?" Laura ikut bicara.
Asha mengangguk pelan. "Iya, begitulah. Berat banget. Sangat-sangat berat malahan."
"Masalah ... Irza lagi?" Cindi bertanya dengan penuh hati-hati.
Asha kembali mengangguk. "Iya. Jadi sekarang itu, masalahnya mulai membesar. Semakin besar dan telah merembes ke mana-mana."
Dua teman Asha hanya bisa menatap wajah Sha dengan tatapan penuh simpati. Mereka ingin membantu, sayangnya, tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk meringankan beban yang sedang Sha pikul saat ini.
"Sha .... "
"Kalian tahu? Yang jadi beban aku sekarang bukan hanya kehadiran Irza. Tapi juga karena pikiran para anak lelaki yang entah bagaimana bisa berpikiran yang gak masuk akal seperti tadi. Bikin aku pusing."
Cindi dan Laura seketika langsung bertukar pandang. Tentu saja mereka tidak mengerti dengan apa yang baru saja Sha katakan. Mereka tidak ada di samping Asha sebelumnya. Jadi, apa yang Sha alami beberapa saat yang lalu, mereka berdua tidak ikut menyaksikannya.
"Mm ... maksudnya gimana, Sha?"
"Iya, Sha. Kamu barusan bicara apa? Nggak ngerti," ucap Laura ikut membenarkan apa yang Cindi katakan barusan.
Sha langsung melepas napas berat. Sesaat terdiam, kemudian ia menceritakan prihal Dimas dan teman-temannya yang sudah menawarkan diri untuk menjadi pasangan.
Tanggapan Cindi dan Laura tentu saja sama dengan apa yang Asha bayangkan. Terkejut.
"Hah! Mereka ngomong gitu ke kamu, Sha?"
"Hm .... " Sha berucap sambil mengangguk.
"Aku rasa mereka gila," ucap Sha lagi.
"Tapi kalau menurut aku, nggak juga sih." Laura langsung menyela. "Mereka cukup waras saat ngomong gitu, Sha."
"Ha?"
"Lah iya. Secara, mana ada yang mikir mau nikah sama pria gemulai kek Irza. Kamu aja nggak mau kan kalo bukan karena dijodohkan," ucap Laura tanpa beban seolah kelas itu hanya ada mereka berdua saja.
"Oh, jadi Asha bertunangan dengan Irza itu gara-gara perjodohan?" Salah satu teman sekelas yang mendengar perkataan Laura langsung angkat bicara.
"Sudah ku duga sebelumnya. Jika bukan karena terpaksa, mana ada Sha mau bertunangan dengan si gemulai. Karenakan selama ini, kalian gak dekan kan Sha," ucap yang lainnya pula.
"Astaga, Sha .... Kasihan banget kamu. Kamu pasti terpaksa banget kan sekarang?"
"Kalo aku ya, Sha. Mending kabur aja dari rumah dari pada menerima perjodohan dengan pria gemulai. Pria yang cuma bisa jadi pajangan saja."
"Ganteng sih, Sha wajahnya. Tapi gak bisa ngapa-ngapain, buat apa? Orang nikah juga harus bahagia."
Dan, masih banyak kata-kata lainnya lagi yang menyentuh telinga Sha. Bukan hanya ucapan, tatapan mengiba atau kasihan mereka perlihatkan. Sha terpaku tanpa bisa bicara apa-apa. Rencana pernikahan itu memang karena perjodohan. Tapi hatinya merasa kasihan pada Irza yang sedang disalahartikan oleh semua orang.
Asha menatap kotak makanan yang ada di depannya sekarang. Seketika, wajah Irza yang tersenyum bahagia langsung menyapa. Senyum yang membuatnya merasa hangat. Namun, sekarang juga menimbulkan beban rasa bersalah dalam hati tersebut.
'Maaf, Za. Sekarang, aku gak tahu harus apa. Ingin bela kamu, tapi aku masih gak punya keberanian untuk melakukannya. Tapi saat memilih diam, hatiku malah terasa terbebani dengan rasa bersalah. Aku harus apa sekarang?' Sha bicara dalam hati dengan mata yang terus saja menatap lekat ke arah kotak makanan yang ada di depannya.
....
Kampus terus saja menjadikan Irza dan Asha sebagai bahan gosip terhangat. Di setiap sudut, di setiap pertemuan sesama teman, bahkan di saat jam pelajaran, obrolan tentang pasangan anak manusia yang dianggap tidak cocok itu terus menjadi hal paling asik untuk dibicarakan.
Bahkan, sangking asiknya pokok pembahasan itu, mereka terkadang lupa kalau orang yang mereka bicarakan ada di sekitar mereka. Seperti halnya saat ini. Mereka terus saja bergosip, padahal Sha ada di pojokan kantin sambil menikmati makanan siangnya. Tapi, pokok pembahasan tentang dia tidak berkurang sedikitpun.
Awalnya, semua masing tenang. Karena Sha tidak ingin menghiraukan apa yang mereka katakan. Tapi, saat Irza datang, gosip kecil semakin terdengar kasar.
"Wah ... mas calon suami gadis cantik sudah datang. Mau pesan apa, Mas? Makan siang ya," ucap anak lelaki yang sedang duduk bersama temannya di meja paling depan.
Irza hanya diam saja. Wajahnya tetap tenang tanpa berubah kesal sedikitpun. Dia ingin mengabaikan apa yang teman sekelas itu katakan. Dia ingin menghindar dengan cara berjalan menjauh. Namun, si teman sepertinya tidak ingin membiarkan Irza lolos begitu saja.
"Kurangi gemulainya itu lho, Mas. Kasihan calon istrimu nikah sama kamu yang gak punya tulang ini."
"Iya ya. Kasihan banget nurut aku," ucap teman yang lainnya. "Tapi kamu serius mau nikah sama perempuan, Za? Gak mikir dulu gitu?"
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi