NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 032

Penanggung Jawab

"Mulai sekarang, kamu tidak perlu bergerak sendiri."

Kalimat itu masih tinggal di telinga Kiara ketika perawat datang membawa kursi roda.

"Mbak Kiara, kita pindah ke ruang rawat, ya. Kaki kanan jangan turun. Kami bantu pelan-pelan."

Kiara menatap kursi roda, lalu menatap kakinya yang terangkat. Jarak dari ranjang ke kursi itu pendek. Sangat pendek. Namun dalam keadaan sekarang, jarak itu tampak seperti tangga darurat lain.

Tubuhnya langsung kaku.

Rayhan menyadarinya.

"Takut sakit?"

Kiara ingin menyangkal. Ia sudah terlalu sering menyangkal malam ini. Akhirnya ia hanya mengangguk kecil.

Perawat tersenyum lembut. "Kami bisa pindahkan pakai bantuan dua orang."

Rayhan berdiri. "Saya bantu, kalau dokter mengizinkan."

Perawat menatapnya, lalu memeriksa posisi penyangga kaki Kiara. "Boleh, Pak, tapi jangan menekuk kaki kanan. Satu tangan di belakang punggung, satu di bawah lutut kiri. Kaki kanan tetap kami pegang."

Kiara langsung panas sampai telinga. "Tidak perlu. Aku bisa geser."

"Tidak bisa," kata Rayhan dan perawat hampir bersamaan.

Kiara menutup mata.

Rayhan menunduk sedikit. "Kiara."

"Banyak orang."

"Aku tahu."

"Malu."

"Lebih baik malu daripada sakit lagi."

Ia tidak punya bantahan.

Rayhan menunggu sampai perawat memegang penyangga kaki kanan, lalu mengulurkan tangan. "Boleh aku angkat?"

Pertanyaan itu lagi.

Kiara mengangguk, kali ini lebih cepat karena kalau terlalu lama ia bisa menangis lagi.

Rayhan menyelipkan lengan di belakang punggungnya dan di bawah lutut kiri. Tidak ada gerakan kasar. Tidak ada tarikan mendadak. Tubuh Kiara terangkat dari ranjang dengan sangat hati-hati, seolah ia bukan manusia dewasa, melainkan sesuatu yang retak dan harus dibawa melewati malam tanpa pecah lebih jauh.

Meski begitu, nyeri tetap menyambar.

Kiara menghirup napas tajam.

"Sakit?"

"Sedikit."

"Jujur."

"Banyak."

Rahang Rayhan mengeras, tetapi langkahnya tetap stabil. Ia menurunkan Kiara ke kursi roda dengan perlahan. Perawat menata kaki kanan di penyangga kecil. Ketika akhirnya tubuhnya duduk, punggung Kiara basah oleh keringat dingin.

"Bagus," kata perawat. "Kita jalan pelan."

Rayhan mengambil selimut dari ranjang dan menutup lutut Kiara, memastikan kaki kanannya tidak tergeser. Lalu ia berdiri di belakang kursi roda, kedua tangannya di pegangan.

Koridor IGD terasa terlalu terang. Beberapa orang menoleh saat mereka lewat. Kiara menunduk, bukan karena malu pada luka, melainkan karena ia tidak tahan melihat simpati asing.

Rayhan membungkuk sedikit dari belakang. "Lihat aku kalau pusing."

"Aku tidak pusing."

"Kiara."

Ia mengangkat mata ke pantulan kaca jendela koridor. Di sana, ia melihat Rayhan berdiri di belakangnya, tinggi, kusut, mata gelap. Seperti pagar yang bergerak bersama kursi rodanya.

"Sedikit," akunya.

"Bagus."

"Apa bagusnya?"

"Kamu jujur."

Ruang rawat berada di lantai lima. Bukan kamar paling mewah, tetapi cukup tenang. Satu ranjang, satu sofa kecil untuk penunggu, kamar mandi dalam, jendela menghadap lampu kota. Cici ditempatkan dua kamar setelahnya, masih satu lorong, sesuai permintaan Rayhan.

Saat perawat memindahkan Kiara ke ranjang, Rayhan ikut membantu dengan instruksi yang sama. Kali ini Kiara tidak memprotes. Ia hanya menggenggam ujung kemeja Rayhan ketika nyeri datang terlalu tajam.

Rayhan membiarkannya.

Perawat memasang bel panggil di sisi tangan kiri Kiara. "Kalau perlu apa pun, tekan ini. Jangan turun sendiri, termasuk ke kamar mandi."

Rayhan langsung mengambil bel itu, memeriksa posisinya, lalu meletakkannya kembali dalam jangkauan Kiara. "Obat nyeri berikutnya jam berapa?"

"Tergantung keluhan, Pak. Tapi ada jadwal rutin jam enam pagi. Kalau nyeri berat sebelum itu, panggil perawat."

"Efek samping?"

"Mengantuk, mual ringan. Jangan makan berat dulu."

Rayhan mengangguk dan mencatat di ponselnya. Kiara memperhatikan layar itu sekilas. Di bawah daftar CCTV dan kontak Polres, kini ada tulisan: obat nyeri, ortopedi, tidak menapak, bel kiri.

Ia tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat hidupnya berubah menjadi daftar tugas di ponsel Rayhan.

Setelah perawat keluar, kamar menjadi sunyi.

Terlalu sunyi.

Kiara menatap kaki kanannya yang dibalut. "Berapa lama aku tidak boleh jalan?"

"Besok ortopedi yang jawab."

"Kalau lama?"

"Kita atur."

"Aku magang."

"Kita atur."

"Kopi di rumah."

"Aldi cek pagi. Dokter Yoga bisa datang kalau perlu."

"Kak Rayhan kerja."

"Aku cuti."

Kiara menoleh cepat. "Tidak bisa."

"Bisa."

"Kasus Kak Rayhan banyak."

"Ada tim."

"Tapi..."

"Kiara." Rayhan menarik kursi ke sisi ranjang lagi. "Kamu baru jatuh dari tangga karena orang mencoba mengambil bukti tindak pidana. Jangan jadikan pekerjaanku alasan untuk mengusirku dari kamar rumah sakit."

Kiara terdiam.

Ia menatap tangannya sendiri. "Aku cuma tidak mau Kak Rayhan repot karena janji pada Kak Kevin."

Udara di kamar berubah.

Rayhan tidak langsung menjawab. Ia mengambil gelas air dari meja, memastikan sedotannya menghadap Kiara, lalu meletakkannya kembali. Gerakan kecil itu seperti cara ia menahan diri agar tidak bicara terlalu keras.

"Dengar baik-baik," katanya akhirnya.

Kiara mengangkat mata.

"Aku memang pernah berjanji pada Kevin untuk menjagamu."

Nama kakaknya membuat dada Kiara sakit dengan cara lain.

"Tapi aku tidak terbang ke sini karena janji itu saja."

Kiara menahan napas.

Rayhan menatapnya tepat. "Secara agama, kamu istriku. Di depan Opa, Kevin, dan Tuhan, aku menerima tanggung jawab itu. Jadi ini bukan hanya karena janji."

Tidak ada musik. Tidak ada lampu romantis. Hanya kamar rawat, bau antiseptik, dan kaki yang berdenyut sakit.

Namun kalimat itu membuat dunia Kiara berhenti.

Istriku.

Rayhan tidak mengucapkannya keras. Tidak untuk perawat. Tidak untuk polisi. Tidak untuk siapa pun di luar pintu.

Hanya untuknya.

"Tapi..." Suara Kiara hampir tidak ada. "Kita tidak seperti pasangan lain."

"Aku tahu."

"Kita menikah karena keadaan."

"Aku tahu."

"Kak Rayhan dulu bilang ini untuk melindungiku."

"Aku juga tahu."

"Jadi kenapa..."

Rayhan menunggu.

Kiara tidak sanggup menyelesaikan pertanyaan itu. Kenapa kamu terlihat sesakit ini? Kenapa kamu datang secepat ini? Kenapa kamu bertanya sebelum menyentuhku? Kenapa kamu membuat aku merasa semua ini bukan pura-pura?

Rayhan menjawab seolah mendengar semuanya.

"Karena kamu bukan tugas."

Mata Kiara panas.

"Kamu juga bukan beban."

Ia menggenggam seprai.

"Dan kalau kamu masih mau berpikir semuanya karena Kevin, kita bicarakan nanti saat kamu tidak menahan sakit." Rayhan menggeser selimut sedikit, memastikan kaki Kiara tertutup tanpa menyentuh perban. "Malam ini, cukup percaya satu hal."

"Apa?"

"Aku di sini karena aku memilih ada di sini."

Kiara memejamkan mata.

Air matanya jatuh lagi, tetapi kali ini tidak setakut sebelumnya.

Rayhan tidak menyuruhnya berhenti menangis. Ia hanya mengambil tisu, menunggu sampai Kiara membuka mata, lalu bertanya dengan suara rendah, "Boleh?"

Kiara mengangguk.

Ia menyeka air mata itu satu per satu.

Ponsel Rayhan bergetar. Ia melihat layar sekilas.

"Aldi."

"Angkat."

"Nanti."

"Mungkin soal Kopi."

Rayhan akhirnya menerima panggilan. "Ya."

Suara Aldi bocor sedikit dari speaker karena kamar terlalu sunyi.

"Bang Ray, saya sudah di depan rumah. Kopi gonggong terus. Kayaknya nyari Mbak Kiara."

Wajah Kiara berubah.

Rayhan langsung menatapnya, lalu berkata ke telepon, "Video call."

Beberapa detik kemudian, layar ponsel menampilkan ruang keluarga Perumahan Graha Perwira. Kopi berdiri di belakang pagar lipat tangga, telinganya tegak, matanya mencari-cari. Begitu mendengar suara Kiara yang lemah memanggil namanya, ekornya bergerak, lalu ia menggonggong pendek.

Kiara tertawa kecil sambil menangis.

"Hai, Kopi. Aku pulang nanti, ya."

Kopi menekan hidungnya ke pagar.

Aldi terdengar panik. "Senior, jangan panik. Mbak Kiara masih di layar."

Rayhan menatap layar itu, lalu menatap Kiara. "Lihat? Bahkan Kopi menunggu."

"Aku membuat semua orang khawatir."

"Kamu dicintai. Bedanya besar."

Kalimat itu membuat Kiara kehilangan kata.

Dicintai.

Kata itu terdengar terlalu terang untuk kamar rumah sakit yang bau antiseptik. Selama ini, Kiara lebih terbiasa dengan kata ditanggung, dijaga, dibantu, dikasihani. Dicintai terasa seperti sesuatu yang hanya boleh dimiliki orang yang tidak membawa utang keluarga, ayah bermasalah, dan kakak yang masih koma.

Namun Rayhan mengatakannya seolah itu fakta sederhana.

Seperti jadwal obat.

Seperti larangan menapak.

Seperti Kopi yang menunggu di rumah.

Setelah panggilan selesai, obat nyeri mulai menarik tubuhnya ke kantuk. Rayhan merapikan selimut, mematikan lampu utama, dan menyisakan lampu kecil di dekat pintu.

"Tidur," katanya.

"Kak Rayhan tidur juga."

"Nanti."

"Janji?"

Rayhan duduk di sofa penunggu, cukup dekat untuk langsung berdiri kalau Kiara memanggil. "Aku janji setelah kamu tidur."

Kiara tahu itu mungkin bohong.

Ia memaksa matanya terbuka sedikit. "Makan dulu."

"Kiara."

"Aku serius."

"Aku tidak lapar."

"Itu bukan jawaban jujur."

Rayhan menatapnya beberapa detik, lalu akhirnya membuka paper bag kecil yang tadi ia bawa dari bandara. Isinya roti polos dan air mineral. Mungkin dibeli terburu-buru. Mungkin belum sempat disentuh sejak ia mendarat.

Ia menggigit roti sekali.

Kiara menatapnya sampai ia menggigit lagi.

"Puas?"

"Sedikit."

"Tidur."

"Air."

Rayhan minum seteguk.

Baru setelah itu Kiara membiarkan kelopak matanya turun.

Namun malam itu, ia tidak punya tenaga untuk memarahi.

Di luar jendela, lampu Kota Pelangi tampak jauh dan kabur. Untuk pertama kalinya sejak datang, kota itu tidak terasa seperti perangkap yang menutup pintu.

Ia menutup mata. Sebelum kantuk benar-benar mengambilnya, ia mendengar Rayhan berkata pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Aku akan bawa kamu pulang. Tapi kali ini, tidak akan kubiarkan siapa pun menyentuhmu lagi."

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!