NovelToon NovelToon
Maaf.. Kukira Ini Taksi

Maaf.. Kukira Ini Taksi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Payung dan Senyum yang Tertinggal

Sore itu langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah gelap. Angin kencang berhembus memukul jendela kantor, dan tak lama kemudian hujan turun dengan deras sekali. Bunyi hantamannya membuat kaca jendela bergemuruh pelan. Jam kerja sudah habis, tapi banyak karyawan yang masih berdiri di lobi, menunggu hujan reda atau menunggu kendaraan jemputan.

Rima memeriksa tasnya dengan cemas. Payung lipat kecil yang biasa ia bawa ternyata tertinggal di kamar kost pagi tadi. Ia menepuk jidatnya pelan. "Aduh... kenapa bisa lupa lagi ya? Padahal dari pagi juga sudah mendung."

Ia melihat ke arah jalan raya di depan kantor. Bus yang biasa ia tumpangi lewat setiap sepuluh menit, tapi jarak dari halte ke pintu kantor lumayan jauh. Kalau berlari, pasti bajunya akan basah kuyup.

"Sudah berapa lama berdiri di sini?"

Suara berat yang dikenalnya terdengar dari belakang. Rima menoleh cepat dan melihat Andre berdiri di sana, mengenakan jas panjang yang rapi, sedang memegang gagang payung besar berwarna hitam polos.

"Selamat sore Pak Andre!" sapa Rima sopan sambil membungkuk sedikit. "Saya... saya menunggu hujan agak reda dulu. Payung saya tertinggal."

Andre menatap ke arah jalan yang masih diguyur hujan deras dan langit sangat gelap. "Sepertinya hujan masih lama redanya. Kamu naik bus nomor berapa?"

"Nomor 24 Pak. Yang lewat halte depan saja."

Andre diam sejenak, lalu mengulurkan payung besar di tangannya. "Pakai ini saja. Kamu lebih butuh daripada saya. Mobil saya sudah menunggu di basement."

Rima terkejut setengah mati. Ia menolak dengan cepat. "Jangan Pak! Ini payung Bapak, nanti Bapak sendiri yang kebasahan. Saya nunggu sebentar saja tidak apa-apa kok."

"Saya tidak butuh payung untuk masuk ke dalam mobil," jawab Andre tegas namun lembut, lalu menaruh payung itu di tangan Rima. "Pakai saja. Kembalikan besok saat masuk kantor."

Tangan Rima memegang gagang payung yang terasa dingin dan kokoh itu. Ia melihat wajah Andre yang biasanya dingin, tapi kali ini matanya menatapnya dengan perhatian yang tidak biasa.

"Terima kasih banyak ya Pak... Bapak baik sekali," ucap Rima tulus. "Saya pastikan payung ini saya kembalikan dalam keadaan bersih dan kering."

Andre mengangguk singkat, lalu berjalan menuju pintu samping yang langsung terhubung ke basement. Rima berdiri diam sebentar memandangi payung besar itu. Terasa terlalu besar untuk tubuhnya yang mungil, tapi terasa hangat seperti ada sisa kehadiran Andre di sana.

Ia pun membuka payung itu dan berlari kecil menembus hujan menuju halte. Payung itu cukup lebar, sehingga ia sama sekali tidak terkena tetesan air. Sesampainya di halte, ia menutupnya perlahan, lalu duduk sambil memegang gagang payung itu erat-erat.

Sementara itu, di dalam mobil yang melaju pelan keluar dari garasi, Andre duduk di kursi belakang sambil menatap ke luar jendela. Dino yang menyetir melihat ke arah kaca spion sambil tersenyum tipis.

"Maaf Pak, tadi saya lihat Bapak memberikan payung kesayangan Bapak pada Mbak Rima?" tanyanya pelan. "Bukannya Bapak jarang sekali meminjamkan barang pribadi pada orang lain?"

Andre tidak menoleh, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. "Dia terlihat cemas sekali. Dan payung itu... entah mengapa rasanya lebih baik di tangan dia daripada di lemari saya."

Ia diam sejenak, lalu menambahkan pelan seolah berbicara pada diri sendiri. "Saat dia berterima kasih tadi, senyumnya begitu tulus. Tidak ada kepura-puraan sedikit pun. Rasanya saat aku melihat senyumnya seperti hujan yang tiba-tiba berhenti sejenak."

Dino tersenyum dan mengangguk pelan, tidak berani menyela. Ia tahu betul bahwa sejak lama tidak pernah ada orang yang bisa membuat Andre berbicara selembut itu, apalagi mengagumi hal sederhana seperti senyum seseorang.

Keesokan harinya, Rima datang lebih awal dari biasanya. Payung itu sudah dilap sampai kering, dibungkus dengan kantong plastik bersih, dan ia bawa dengan hati-hati seperti membawa barang berharga. Begitu melihat Andre masuk ke lobi, Rima langsung menghampirinya.

"Selamat pagi Pak Andre. Ini payungnya, terima kasih banyak kemarin," katanya sambil menyerahkan bungkusan itu dengan kedua tangan.

Andre menerimanya, tapi matanya justru menatap wajah Rima. "Kamu tidak basah kemarin?"

"Tidak sama sekali Pak! Payungnya sangat lebar," jawab Rima ceria. "Bahkan saya bisa melindungi tas gambar saya juga dari hujan. Benar-benar berguna sekali."

"Syukurlah," Andre tersenyum tipis, senyum yang belakangan ini semakin sering muncul setiap kali berhadapan dengan gadis itu. "Kalau begitu simpan saja dulu. Nanti hujan lagi."

"Eh tidak usah Pak! Saya sudah beli payung baru kemarin sore saat pulang," Rima tertawa kecil menutup mulutnya. "Saya tidak mau meminjam terus-menerus barang Bapak. Nanti Bapak jadi repot."

Andre tertawa pelan. Suara tawa yang jarang didengar orang lain. "Kamu ini, sungkan sekali ya. Padahal itu cuma payung."

"Bagi Bapak mungkin cuma payung Pak," Rima menatapnya dengan mata bulat yang polos. "Tapi bagi saya kemarin itu sangat terbantu. Kalau Bapak tidak pinjamkan, saya pasti sakit karena basah kuyup. Saya tidak mau karena saya sakit jd merepotkan orang lain lagi.."

Andre terdiam menatapnya lama sekali. Hatinya berdebar kencang karena alasan yang tidak biasa. Ia kagum pada kemandirian Rima, pada prinsipnya yang teguh, dan pada ketulusan tanpa ada pamrih sedikit pun. Semakin ia melihat sisi Rima, semakin ia merasa tertarik. Bukan sekadar rasa iba atau perhatian sebagai pimpinan, tapi rasa ingin selalu berada di dekat gadis itu.

"Baiklah," kata Andre akhirnya pelan. "Kalau begitu terima kasih sudah mengembalikannya. Tapi kalau hujan lagi dan kamu tidak bawa payung, jangan sungkan bertanya pada saya. Saya tidak keberatan."

"Iya Pak! Terima kasih!" Rima membungkuk senang, lalu berlari kecil menuju ruang administrasi.

Andre berdiri diam di lorong sepi sambil memegang gagang payung itu. Dino yang datang menyusul melihatnya dan tersenyum.

"Bapak benar-benar sudah jatuh hati ya Pak," bisiknya pelan.

Andre tidak menyangkal. Ia hanya memandang punggung Rima yang menjauh, lalu berkata pelan, "Saya baru menyadari, tidak ada yang lebih menarik daripada seseorang yang sederhana tapi kaya hati seperti dia."

1
Edi Lupiyan
harus nunggu lagi cuma 2bab
partini
jaraknya kaya Cilacap Jogyakarta naik bus efisiensi atau purwokerto Jogya
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁: iya kak. terimakasih ya
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁
betul ka. mau hujan deres kek.. bomat😄
🌺⃟ SasMaya
Oohh... ternyata emng Rima-nya yang mau anter hujan-hujanan... 🙄
🌺⃟ SasMaya
jangan sebel-sebel sama Rima pak Andre nanti ketulah jadi bucin 😆
🌺⃟ SasMaya
Andre ini tipe-tipe yang ga mau ribet dan bomat sama urusan orang lain 🫠
Mingyu gf😘
aduhh si bapak galak banget
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁: galak dan kesel dikira supir taksi😄
total 1 replies
Mingyu gf😘
sibuk banget ngurusin perut orang lain di saat kamu aja sedang terjebak masalah
Tulisan__mawar
Heh nota utang🥲
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏
Alia Chans
Dan ke salah pahaman di mulai dari sini😌
kenzi moretti
bisa-bisanya rim salah masuk mobil/Facepalm/
kenzi moretti
wuihh/Blush//Sly/
THE GIRL COOL😑
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
RahmaYesi
Rima Rima, kamu itu menggemaskan bingittt zih dg segala gedebag gedebug hidup mu
arsyila putri
lucu banget ceritanya, bikin penasaran part selanjutnya. 😍😍
mama Al
aduh salah alamat
arsyila putri
makin malu🤣🤣
arsyila putri
wih malu pasti, mana aku pernah lagi🤣🤣
Nyai Aksara 👩‍🦯
Dasar ceroboh, udah lihat Andre juga masih aja ngomong santai
RahmaYesi
Syukurlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!