NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Aku Sudah Mati Rasa, Mas!

Mari Bercerai, Aku Sudah Mati Rasa, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.

Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.

Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.

pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aulia 22

"Pa... Pa...pa!" Panggilan pelan lolos dari bibir mungil Cantika.

Jantung Aulia mendadak berpacu hebat. Dia langsung melempar pandangannya ke arah luar kaca. Benar. Itu Galang.

"Pa-pa! I-bu... lu-al... ada Pa-pa!" Cantika bertingkah heboh.

Kepolosan anak kecilnya membuat dia lupa akan rasa takut dan bentakan tadi pagi. Yang tertanam di benak polosnya hanyalah kerinduan pada sosok sang ayah.

Cantika tidak bisa dibendung lagi. Sebelum Aulia sempat menarik tangannya, bocah kecil itu sudah melesat mendorong pintu kaca restoran dan berlari ke arah parkiran dengan kaki-kaki mungilnya yang lincah.

"Cantika! Tunggu, Sayang!" teriak Aulia, kakinya berlari kencang tanpa mempedulikan sepatunya yang hampir terlepas. Di dalam restoran, Ghani segera berdiri, matanya mengawasi dengan waspada, siap turun tangan jika situasi memburuk.

"Farrel, tunggu di sini ya, jangan ke mana-mana!" perintahnya tegas namun cepat, lalu ia pun ikut berlari menyusul Aulia yang sudah hampir mencapai pintu kaca otomatis.

Cantika tidak berhenti. Kaki-kaki kecilnya berlari sekuat tenaga menuju area parkir di seberang jalan, tangannya melambai-lambai ke arah mobil hitam yang terparkir.

"Papa! Papa!" teriaknya lagi, kali ini dengan nada penuh harapan yang tulus.

Aulia berhasil meraih lengan Cantika tepat di ambang pintu keluar, napasnya memburu, jantungnya berdegup tak keruan.

"Cantika, jangan lari-lari! Bahaya!" bentak Aulia, bukan karena marah, melainkan karena rasa takut yang luar biasa. Namun, saat ia mendongak dan mengikuti arah pandang putrinya, tubuh Aulia seolah disambar petir.

Dunia seakan berhenti berputar.

Di sana, hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiri, pintu mobil hitam itu terbuka lebar. Galang, pria yang tadi pagi meninggalkan rumah dengan kemarahan, kini berdiri di sana dengan setelan rapi yang tampak berbeda dari biasanya. Namun, bukan itu yang membuat napas Aulia berhenti.

Seorang wanita turun dari pintu penumpang, anggun dengan gaun berwarna senada dengan kemeja yang dikenakan Galang. Wanita itu, Belinda. Keduanya tampak begitu serasi, tertawa kecil saat Galang merangkul pinggang wanita itu dengan begitu posesif dan mesra, seolah-olah dunia hanyalah milik mereka berdua.

Cantika berhenti berlari, senyum di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh kebingungan yang mendalam melihat papanya justru menggandeng tangan wanita asing, bukan menoleh padanya.

Aulia mencengkeram tangan Cantika begitu kuat, hingga kuku-kukunya memutih. Matanya dingin, menatap pemandangan yang menghancurkan sisa-sisa harapannya. Di bawah terik matahari, kebenaran itu terpampang nyata, terlihat jelas di depan matanya dan menyakitkan. Galang tidak sedang lembur kerja. Galang sedang membangun dunia baru, di atas reruntuhan rumah tangga mereka yang kini resmi tak bersisa.

"Pa... Pa...pa!!"

Suara cempreng Cantika membelah kebisingan area parkir. Anak kecil itu mencoba melepaskan cengkeraman ibunya, masih berharap bahwa sosok yang ia panggil "Papa" itu akan berbalik dan mendekapnya erat.

Dan kali ini, Galang mendengar.

Pria itu menoleh secara refleks. Senyum lebar yang tadinya terukir untuk Belinda seketika lenyap, digantikan oleh raut wajah yang mendadak pias. Pegangan tangannya di pinggang Belinda terlepas begitu saja. Matanya membelalak tak percaya melihat Cantika berdiri di sana dan yang lebih mengerikan baginya, ada Aulia yang sedang berdiri tegak di samping putri mereka.

Belinda ikut menoleh, menatap Aulia dengan pandangan menilai yang sinis, lalu kembali menggelayuti lengan Galang dengan posesif, seolah ingin menegaskan kepemilikannya. Namun, Aulia tidak menunjukkan air mata atau histeria sedikit pun.

Tatapan mata Aulia yang biasanya hangat kini berubah menjadi sedingin es. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi rasa bersalah karena merasa menjadi istri yang kurang sempurna, dan tidak ada lagi ketakutan akan masa depan. Di depan matanya, bukti pengkhianatan itu terpampang begitu nyata dan menjijikkan. Keputusan yang sejak pagi berkecamuk di dalam dadanya kini telah mengkristal dengan sempurna: Dia harus berpisah. Detik ini juga.

"AAulia? Cantika?" suara Galang tercekat di tenggorokan.

Kepanikan luar biasa langsung menyerangnya saat melihat tatapan membeku dari istrinya. Itu bukan tatapan wanita yang sedang cemburu atau ingin mengamuk, melainkan tatapan seseorang yang sudah mati rasa dan selesai dengan segalanya.

Aulia tidak membalas sepatah kata pun. Detik itu juga, dia langsung memutar tubuhnya, menggendong Cantika ke dalam pelukannya, dan melangkah lebar menjauh. Persetan dengan makanan yang baru tersaji di dalam. Persetan dengan segalanya. Dia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari atmosfer beracun ini.

"Aulia! Tunggu! Dengerin mas dulu!" teriak Galang panik.

Pria itu langsung menepis tangan Belinda yang menggelayutinya, mengabaikan seruan protes dari selingkuhannya, dan berlari menyeberangi jalan raya yang memisahkan mereka. Melihat kekacauan itu, Ghani yang sejak tadi menyusul di belakang segera membaca situasi. Dengan sigap, Ghani menghadang langkah Galang yang hendak mengejar Aulia masuk ke area parkir restoran.

"Maaf, Pak. Tolong jangan membuat keributan di sini," ujar Ghani dingin, berdiri tegap membatasi jarak antara Galang dan Aulia.

"Minggir Anda! Siapa Anda berani ikut campur urusan rumah tangga saya?!" bentak Galang dengan napas memburu, wajahnya merah padam karena panik dan malu.

"Selesaikan masalah rumah tangga kalian di rumah dengan cara yang beradab, bukan berteriak di jalanan seperti ini," ucap Ghani dengan nada rendah yang menuntut kepatuhan. Pandangannya kemudian beralih sekilas ke arah Belinda yang masih berdiri cemberut di seberang jalan, lalu kembali menatap Galang.

"Dan satu lagi... bawa juga wanita yang merangkul Anda dengan mesra tadi ke rumah. Selesaikan semuanya sekaligus bersama dia secara jantan, jangan menjadi pengecut. Pertanggungjawabkan perbuatan anda sebagai seorang suami dan juga ayah dengan baik,"

Aulia sama sekali tidak menoleh ke belakang untuk melihat perdebatan itu. Tanpa mempedulikan teriakan Galang yang terus memanggil namanya, Aulia langsung berjalan cepat menuju jalan raya, mengangkat tangannya ke arah sebuah taksi kosong yang kebetulan lewat, dan langsung masuk ke dalam bersama Cantika.

"Pak, ke alamat ini ya," ucap Aulia dengan suara bergetar namun tegas, menyebutkan alamat rumahnya.

Begitu pintu taksi tertutup rapat dan mobil mulai melaju membelah jalanan, pertahanan Aulia runtuh. Dia memeluk Cantika erat-erat, menenggelamkan wajahnya di bahu kecil sang putri. Cantika yang kebingungan hanya bisa mengusap lembut punggung ibunya dengan tangan mungilnya.

Di dalam taksi yang bergerak menjauh, Aulia meraba ponsel di dalam tasnya. Dia menatap layar yang masih menampilkan kontak pengacara kiriman Ghani: "Yuda, S.H."

Sambil menghapus air mata yang mengalir di pipinya, jemari Aulia bergerak mengetik sebuah pesan singkat dengan kemantapan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Selamat siang, Pak Yuda. Saya Aulia, teman dari Pak Ghani. Saya ingin berkonsultasi mengenai pengajuan gugatan cerai sesegera mungkin."

Ketukan jemarinya pada tombol kirim menjadi tanda bahwa perjalanan barunya telah dimulai. Kali ini, dia tidak akan lagi berjalan di atas tali yang rapuh. Dia akan membangun fondasi yang kokoh demi dirinya, dan demi masa depan Cantika.

1
Sari Supriyanti
up...up...uuuuupppppp.....semangat ....semngaaaaattttt...💪💪💪😍😍😍😍
ryuka
baguusss aulia... kamu kereenn.. kereeenn bangwt malaaaahh.. cantika ga butuh keluarga bapak nya sama zekali toxic banget 🔥🔥🔥🔥
Ambu Rinddiany Thea
galon mana galooon 🤣
Mundri Astuti
libas sekalian Aulia ...jangan kasih muka tu si Galang banci....tampol sekalian keluarga benalunya
Ambu Rinddiany Thea
kmh lamn posisi s aulia aya d anak2 cewe manehna ratna .. mikir ath sagenah na we .. lila lila d sleding gera tah
Heni Setiyaningsih
gimana Galang?? panik kaaannn,,,, panik dong ,masa gak panik🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Yam_zhie: jangan keras-keras kak kasihan 🙈
total 1 replies
nely_48
keberuntungan berpihak pd mu aulia,,, sok kumpul semua para benalu n pelakor vs istri sah yg terzholimi , jd tontonan tetangga n ada yg mem viralkan, tamat s galang family s pelakor
Yam_zhie: haha bener teh 🙈
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjut makin seruuuiu 💪
Yam_zhie: maksih kak 🤗
total 1 replies
Ariany Sudjana
hahaha seru ini 🤣🤣😂😂 mampus kamu Galang, gimana Bu Ratna, pelacur murahan kesayangan Galang sudah muncul tuh 🤣🤣😂😂
Yam_zhie: pening Bu Ratna 🙈
total 1 replies
ryuka
terlambat kamu galang.. aulia zudah ga akan mundur.. makan itu semua kelakuan bodoh mu itu 🔥🔥🔥🔥🔥👍👍👍👍
Mundri Astuti
ohoooo tenang Galang, pelan" otw tuh yg kamu takutin di otak kamu, ga ngotak si jadi org...klo dah dtg tu karma ga kaleng" ntar
Yam_zhie: betul. apalagi yang dia dzalimi juga anaknya sendiri 😭😭
total 1 replies
Muft Smoker
jgn2 pak ghani niih yg punya perusahaan tempat si galang kerja ,🤭🤭🤭🤭🤭
nely_48
d kerutug kan sm keluarga toxic
Ilham
aku penasaran pertemuan pertama Aulia sama yang punya perusahan
Ilham
lanjut
Ambu Rinddiany Thea
ya Allah genahna d kumahakeun nya eta indung na s galang plus anak2na .. 🤔🤔
gemar baca
syuka sama ceritanya,keren Mengen banget
arniya
makin seru and gereget.....
Thewie
Pakah pak Ghani ci i o yg menyamar🤭
Muft Smoker: kyakny dy bos ny galang ,,, amsyoong deeh si galang 😂😂😂😂
total 2 replies
ryuka
jangan2 yang punya itu Pak ghani, perusahaan tempat kerja nya si galang ubur2.. duhhh jadi penasaran thoorrr 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!