⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mesin Berat dan Ratusan Ternak
Beberapa hari berikutnya, jadwal Banyu sangat padat. Pembangunan peternakan pada dasarnya telah rampung, dan ia harus melakukan inspeksi serah terima bersama Mark. Ini bukan urusan sepele; semua infrastruktur harus dipastikan sesuai dengan standar yang tertulis di kontrak, kalau tidak akan merepotkan operasional nantinya.
Di bidang ini, Banyu benar-benar amatir. Beruntung, ada Mark si koboi veteran yang mendampinginya, membuat Banyu bisa bernapas lebih lega. Mark yang baru saja dipromosikan menjadi Manajer Peternakan terlihat sangat bersemangat dan penuh dedikasi. Ia mengecek setiap detail konstruksi dengan ketelitian tingkat dewa, dan baru mengizinkan Banyu menandatangani berita acara serah terima setelah ia sendiri memastikan semuanya sempurna.
Volume pekerjaan ekspansi peternakan ini tidaklah kecil. Banyu dan Mark menghabiskan waktu tiga hari penuh untuk menginspeksi semuanya hingga tuntas. Harus diakui, perusahaan kontraktor lokal itu memiliki kapabilitas yang sangat baik dan etos kerja yang serius. Selain beberapa cacat minor yang tidak signifikan, Mark yang teliti tidak menemukan masalah besar sama sekali.
Banyu sangat puas dengan hasil tersebut, dan kesannya terhadap Damon, sang bos kontraktor, melonjak drastis. Sebagai pria yang praktis dan tak suka berbasa-basi, Banyu langsung menulis selembar cek di tempat untuk melunasi sisa pembayaran. Sikap blak-blakannya ini sukses merebut hati Damon. Sambil menepuk dada, pria itu berjanji bahwa jika peternakan butuh pekerjaan konstruksi di masa depan, ia pasti akan memberikan harga diskon paling rendah dengan jaminan kualitas dan kecepatan pengerjaan yang sama.
Setelah Damon pulang dengan wajah semringah, Banyu dan Mark bertolak menuju San Antonio untuk mengunjungi Perusahaan Alat Berat Wildcat. Di sana, Banyu memborong berbagai mesin agrikultur kelas berat yang dibutuhkan peternakan: mulai dari traktor bajak dalam, mesin penabur benih, hingga mesin pemanen multifungsi. Pokoknya, semua alat berat yang relevan untuk lahan pertanian maupun peternakan dibeli tanpa sisa. Sebagai pelengkap, Banyu juga memesan dua unit traktor biasa dan dua unit truk kargo besar khusus untuk mobilitas hewan ternak.
Membeli alat berat sebanyak itu sekaligus jelas merupakan pesanan bernilai fantastis. Manajer penjualan Wildcat sampai tersenyum begitu lebar hingga deretan gigi belakangnya terlihat. Begitu menerima cek dari Banyu, sang manajer bersumpah akan mengirimkan seluruh armada alat berat itu ke peternakan secepat mungkin.
Meski menghabiskan lebih dari satu juta Dolar dalam sekali belanja sukses membuat dompet dan hati Banyu menjerit perih, ia sadar bahwa peternakan raksasa di Amerika mutlak membutuhkan sistem mekanisasi. Kalau mengandalkan tenaga manusia untuk mengurus lahan seluas itu, biaya gaji operasionalnya pasti akan membengkak hingga ke angka yang tak masuk akal. Dibandingkan dengan itu, berinvestasi besar-besaran di awal untuk membeli mesin canggih jauh lebih hemat dan menguntungkan untuk prospek jangka panjang.
Sebelumnya, Banyu baru saja menyerahkan cek hampir satu juta Dolar untuk melunasi tagihan konstruksi. Sekarang, ditambah dengan belanja alat berat, total pengeluarannya sudah menembus angka nyaris tiga juta Dolar! Tiga juta Dolar itu adalah sisa uang tunai terakhir yang ia miliki. Akibatnya, Banyu harus menelan ludah saat melihat saldo di rekening banknya kini hanya menyisakan empat digit. Jangankan memborong sapi, sisa uang itu bahkan tidak cukup untuk membeli sekelompok domba!
Beruntung, tim manajemen yang baru ia rekrut di perusahaannya di Indonesia sangat bisa diandalkan. Hanya dengan satu panggilan telepon, keesokan harinya dana segar di atas tujuh digit dalam bentuk Dolar AS langsung mendarat mulus di rekeningnya. Dana itu merupakan akumulasi pendapatan dari penjualan benih sayuran super ke Jepang dan Australia dalam sebulan terakhir. Uang itu resmi menyelamatkan Banyu dari krisis kebangkrutan.
Dengan napas finansial yang kembali segar, Banyu mengajak Mark dan dua orang koboi veteran lainnya meluncur ke pasar ternak di Distrik Alameda yang terletak di wilayah tetangga. Pasar ternak ini berskala sangat masif; hampir seluruh pemilik peternakan dari berbagai distrik di sekitarnya melakukan transaksi jual beli hewan hidup di sini. Biasanya, para penjual akan menggiring ternak mereka ke area khusus agar para calon pembeli bisa memantau dan menyeleksi. Jika dirasa cocok, kedua belah pihak tinggal menegosiasikan harga.
Mark jelas merupakan wajah lama di tempat ini. Begitu masuk ke area pasar, ia langsung menyapa beberapa makelar ternak dengan akrab. Salah satu makelar tua berkepala plontos menatap Banyu sekilas, lalu tersenyum pada Mark dan bertanya, "Hai Mark! Kudengar Peternakan Lilian baru saja memperluas wilayah secara gila-gilaan dan sekarang dipimpin oleh bos baru dari Asia. Tebakanku, Tuan ini pasti bos barumu itu, kan?"
"Tepat sekali, James," jawab Mark sambil tertawa. "Tuan Banyu ini adalah bos baru saya. Kami datang hari ini untuk memborong sedikit ternak."
Mendengar ucapan Mark, mata para makelar di sana langsung berbinar-binar penuh semangat. Berita tentang Peternakan Lilian yang melesat menjadi peternakan nomor satu di Distrik Wharton adalah berita terpanas belakangan ini. Peternakan seluas itu pasti butuh pasokan ternak dalam jumlah masif. Kalau mereka berhasil mengegolkan kesepakatan ini, komisi yang cair pasti sangat melimpah.
James buru-buru menyambut dan menjabat tangan Banyu dengan penuh hormat. "Tuan Banyu, selamat datang di pasar kami! Hewan ternak seperti apa yang sedang Anda cari hari ini?"
Mayoritas peternakan di Amerika memang difokuskan untuk industri sapi potong, sementara populasi domba relatif lebih minim. Banyu dan Mark sudah mendiskusikan kuota yang mereka butuhkan sejak awal. Dengan nada tenang namun mendominasi, Banyu menjawab, "Kira-kira lima ratus ekor sapi, dan tiga ratus ekor domba."
Mendengar pesanan raksasa itu, para makelar seketika bersorak kegirangan dalam hati. Mereka berlomba-lomba mempromosikan ternak jualan mereka. Namun, meski statusnya adalah bos besar pengambil keputusan, Banyu sama sekali buta cara menilai fisik ternak. Ia mendelegasikan tugas seleksi teknis itu sepenuhnya kepada Mark dan dua koboi di timnya.
Bekerja langsung di bawah pengawasan bos baru, Mark dan timnya tentu tidak berani main-main. Mereka mengecek kondisi fisik setiap hewan dengan sangat brutal dan teliti. Jika kondisinya prima, mereka langsung menyetujuinya di tempat. Jika ada cacat atau gejala sakit, mereka menolaknya tanpa ampun dan menyuruh makelar menggantinya. Setelah seharian penuh berkeliling, Mark dan timnya baru berhasil memilah dua ratus ekor sapi dan seratus ekor domba. Banyu akhirnya memutuskan untuk mencari hotel di Distrik Alameda dan melanjutkan perburuan ternak keesokan harinya hingga kuota mereka terpenuhi.
Keempat pria itu sebelumnya telah sepakat menyusun strategi untuk menekan biaya modal: mereka akan memprioritaskan ternak betina usia subur dan yang sedang bunting. Dengan cara ini, populasi ternak di peternakan akan berlipat ganda dalam waktu singkat, sehingga roda keuntungan bisa berputar lebih cepat. Oleh karena itu, dari dua ratus ekor sapi yang mereka beli hari itu, setidaknya separuhnya berstatus bunting. Begitu pula dengan kawanan domba, lebih dari tiga puluh ekor sedang mengandung. Banyu sangat yakin, dalam beberapa bulan ke depan, para betina ini akan memberikan sumbangan populasi yang luar biasa.
Menyeleksi kualitas hewan ternak bukanlah pekerjaan instan; butuh observasi untuk mengecek kondisi mereka satu per satu. Ditambah lagi dengan dedikasi Mark dan kawan-kawan yang ingin unjuk kinerja di depan bos baru, proses seleksi menjadi jauh lebih alot. Banyu dan timnya harus bermalam selama empat hari penuh di Distrik Alameda sebelum akhirnya berhasil memenuhi target kuota yang ditetapkan.
Ternak-ternak yang dibeli pada hari-hari pertama sudah dikirim lebih dulu menggunakan truk kargo ke peternakan. Setelah menyerahkan cek pelunasan kepada para makelar, Banyu dan Mark turun tangan mengawal langsung pengiriman kloter terakhir kembali ke markas.
Kehadiran ratusan hewan ternak baru itu seketika menyuntikkan nyawa dan keriuhan di Peternakan Lilian. Para koboi baru yang direkrut Mark tempo hari langsung sibuk memeras keringat. Mereka menggiring sapi dan domba ke area bloknya masing-masing, memastikan pasokan air minum di toren penuh, dan memisahkan sapi-sapi jantan pejantan yang sedang beringas ke dalam kandang isolasi kecil. Berbagai pernak-pernik pekerjaan lapangan harus diselesaikan serentak.
Banyu juga tidak duduk manis. Ia melompat ke punggung sang Iblis Hitam, memacu kudanya berlari memutari kawanan sapi untuk memastikan tidak ada ternak yang terpisah dari rombongan. Memandangi kesibukan yang luar biasa di sekelilingnya, Banyu membatin dengan senyum puas, "Ini adalah peternakanku sendiri... Akhirnya, kerajaan bisnisku di sini resmi beroperasi!"
Namun, hanya berselang beberapa hari setelah Peternakan Lilian mulai menemukan ritme operasional hariannya, seorang tamu super VVIP mendadak muncul tanpa diundang. Koki eksekutif bertaraf dunia yang tersohor, Chef Gordon, datang menginjakkan kakinya secara langsung di peternakan!