Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 Panggung sandiwara yang runtuh
Pintu kayu jati ruang sidang utama tertutup rapat, meredam seluruh kebisingan koridor pengadilan. Ardi berjalan gontai di belakang Sarah, mengambil posisi di kursi tergugat yang terasa sedingin es. Di sebelah kirinya, seorang pengacara tua sewaan yang dibayar murah tampak sibuk merapikan berkas yang tipis—kontras dengan tumpukan map tebal di meja Rendra.
Ketua Majelis Hakim mengetuk palu tiga kali. Suara tok... tok... tok... itu memutus sisa-sisa harapan Ardi.
"Sidang perkara cerai gugat nomor 1422, antara Sarah Amelia sebagai penggugat dan Ardiansyah sebagai tergugat, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap Hakim Ketua dengan berwibawa.
Sesuai prosedur, Hakim memulai dengan agenda mediasi. Beliau menatap Ardi dan Sarah bergantian. "Saudara tergugat, Saudari penggugat, sebelum kita masuk ke pokok perkara, apakah ada upaya perdamaian di antara Saudara berdua? Pernikahan adalah ikatan suci, alangkah baiknya jika bisa dipertahankan."
Ardi langsung menegakkan punggungnya. Ini adalah kesempatan terakhirnya. Dia menatap Hakim dengan raut wajah seolah dialah manusia paling teraniaya di dunia.
"Yang Mulia," potong Ardi, suaranya sengaja dibuat bergetar dan serak. "Saya sangat mencintai istri saya. Saya mengakui ada kekhilafan dalam rumah tangga kami, namun saya siap memperbaiki semuanya. Saya mohon kepada Majelis Hakim untuk menolak gugatan ini. Saya tidak ingin bercerai dari Sarah."
Ardi kemudian menoleh ke arah Sarah, matanya berkaca-kaca menuntut belas kasihan. "Sarah, demi pernikahan kita yang sudah berjalan bertahun-tahun, aku mohon urungkan niatmu. Kita bisa pulang dan membicarakan ini baik-baik dengan Mama."
Sarah sama sekali tidak menoleh ke arah Ardi. Dia tetap menatap lurus ke arah Majelis Hakim dengan dagu terangkat. Tatapannya tegas, tanpa ada keraguan sedikit pun.
Rendra langsung berdiri dari kursinya, mengambil alih kendali. "Izin menanggapi, Yang Mulia. Klien kami, Nona Sarah Amelia, secara bulat dan mutlak menolak segala bentuk mediasi atau perdamaian dengan pihak tergugat."
Rendra membuka map hitam pertama dan menyerahkannya kepada petugas pengadilan untuk diteruskan ke meja Hakim. "Kami telah melampirkan bukti-bukti otentik yang melandasi gugatan ini. Bukan hanya sekadar percekcokan biasa, melainkan adanya pengkhianatan dalam bentuk perselingkuhan yang dilakukan tergugat di menara The Grand Pinnacle."
Mendengar nama tempat itu disebut, jantung Ardi terasa berhenti berdetak.
"Tidak hanya itu, Yang Mulia," lanjut Rendra, suaranya menggema di ruang sidang. "Kami juga membawa bukti rekam medis terkait tekanan psikologis atau KDRT mental yang dialami klien kami selama bertahun-tahun akibat perlakuan tergugat dan keluarga besarnya. Oleh karena itu, hubungan pernikahan ini sudah pecah total dan tidak mungkin disatukan kembali."
Hakim Ketua memakai kacamata bacanya, meneliti lembar demi lembar foto-foto digital dan bukti cetak yang diserahkan Rendra. Alis sang Hakim langsung bertaut rapat. Tatapan matanya yang semula netral, kini berubah menjadi tajam dan dingin saat melirik ke arah Ardi.
"Saudara tergugat," tegur Hakim Ketua, nadanya menuntut penjelasan. "Bukti-bukti yang diajukan penggugat sangat valid dan menunjukkan adanya pelanggaran berat terhadap amanah pernikahan. Apa pembelaan Anda?"
Ardi menoleh panik ke arah pengacaranya, menyenggol lengan pria tua itu. Pengacara Ardi berdeham, mencoba menyelamatkan situasi yang sudah di ujung tanduk. "Yang Mulia, klien kami membantah sebagian bukti tersebut. Klien kami saat ini juga sedang mengalami musibah finansial yang berat, di mana seluruh aset perusahaannya disita oleh pihak konsorsium yang—"
"Izin memotong, Yang Mulia," Rendra menyela dengan cepat dan lugas. "Penyitaan PT Reksa Tama adalah ranah hukum korporasi yang terpisah. Namun, karena pihak tergugat menyinggung masalah finansial, kami sekalian menyerahkan berkas tambahan."
Rendra menyerahkan map kedua yang jauh lebih tebal ke meja Hakim.
"Itu adalah bukti audit forensik keuangan PT Reksa Tama. Kami menemukan adanya aliran dana ilegal sebesar miliaran rupiah yang digelapkan oleh Saudara Ardiansyah dari kas perusahaan untuk membelikan aset pribadi atas nama pihak ketiga, yaitu saudari Tyas. Tindakan ini merupakan delik pidana murni, dan kami sudah mendaftarkan laporan resminya ke Polda Metro Jaya pagi ini."
Brak!
Ardi spontan berdiri dari kursinya, membuat kursi kayu itu terdorong ke belakang hingga menimbulkan suara berisik. Wajahnya pucat pasi, peluh dingin bercucuran membasahi pelipisnya.
"Sarah! Kamu menjebakku?!" teriak Ardi lupa diri, ego narsistiknya kembali meledak di depan persidangan. "Kamu sengaja mau memenjarakan aku?!"
"Tergugat! Jaga sikap Anda di ruang sidang! Duduk kembali!" bentak Hakim Ketua sambil mengetuk palu dengan keras.
Ardi jatuh terduduk kembali dengan lemas. Seluruh persendiannya terasa lolos. Dia menatap Sarah dengan tatapan tidak percaya. Wanita yang dulu selalu diam saat dicaci-maki oleh ibunya, wanita yang dulu hanya bisa menunduk saat kakak perempuannya meminta barang-barang mahal, kini duduk di sana sebagai sosok yang mengendalikan seluruh sisa napas hidupnya.
Sarah akhirnya menoleh ke samping, menatap Ardi untuk pertama dan terakhir kalinya di ruangan itu. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat dingin—sebuah penegasan bahwa jeruji tak kasat mata yang dirancang Ardi untuknya, kini telah berubah menjadi jeruji besi nyata yang siap mengurung Ardi.
.
.
.
.
.
. Puas banget ya melihat Ardi mati kutu di depan hakim! 🥳🔥 Yuk, klik LIKE sekarang juga sebagai bentuk dukungan kalian untuk Sarah yang super elegan! Jangan lupa tulis KOMENTAR kalian di bawah: menurut kalian, hukuman apa yang paling pantas untuk mantan suami narsistik seperti Ardi? 👇✨
.