Setiap tahun selalu saja para pembantu yang masih perawan akan meninggal dunia, namun mereka tidak ada yang sadar dengan hal itu
Hingga akhir nya Dila datang ke rumah itu untuk mencari tahu tentang keberadaan sang adik yang hilang entah ke mana, dan tempat terakhir dia kerja adalah rumah keluarga Susanto.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Bertengkar
Pagi hari sebenarnya teman yang lain mencari keberadaan Lisa, namun mereka tidak berani banyak bertanya karena takut nanti justru akan membuat Dina semakin emosi dan mereka justru akan terkena masalah, kerja di dalam rumah ini memang terasa begitu santai ketika mereka tidak berurusan langsung dengan Nyonya rumah yang terkesan begitu dingin sekali.
Dina memang baik asal dia tidak mendapat gangguan dari para pembantu itu dan mendapat pertanyaan yang menurut dia cukup menyakitkan hati, bila para pembantu itu diam saja maka dirinya akan menjadi nyonya yang sangat baik dan sanggup memberikan banyak bonus agar mereka bisa bekerja dengan lebih baik lagi untuk kedepannya nanti.
Jadi mereka memilih untuk tetap diam saja Walau saat ini penasaran dengan Lisa yang menghilang entah ke mana, bahkan ketika pulang kampung biasanya Lisa akan mengatakan kepada mereka untuk sekedar berpamitan karena esok dia pasti akan kembali lagi ke kota ini untuk melanjutkan pekerjaan yang sangat dia cintai itu.
Lalu sekarang malah hilang secara mendadak sehingga membuat mereka semua bertanya-tanya dan ingin bertanya langsung kepada Dina, tapi sebagian teman melarang karena mereka tidak mau nanti terlibat masalah yang cukup jauh, cukup diam dan menunggu apakah nanti memang Lisa akan kembali atau dia akan menghilang begitu saja tanpa ada kabar berita.
"Kenapa kalian terlihat begitu muram?'' Aura bertanya kepada para pembantu yang sedang sibuk berdiskusi.
''Ah ini loh non Aura, Lisa tidak tahu ada di mana dan kami masih bingung untuk mencari keberadaan dia.'' Mila mengatakan terlebih dahulu kepada Aura.
''Lisa hilang dan tidak ada berpamitan dengan kalian?'' Aura bertanya dengan nada gemetar karena tadi malam dia telah mengalami hal yang tidak biasa.
''Iya, biasa dia pulang kampung masih berpamitan dengan kami tapi sekarang malah dia menghilang begitu saja.'' Helen juga membuka suara.
''Apa tidak ada hal aneh ketika dia akan hilang?'' Aura sudah gemetar dan terlihat takut.
''Tidak kok!'' mereka semua menggeleng serentak.
Aura terdiam karena tidak tahu harus bagaimana untuk menanggapi masalah ini, mau tidak mau dia harus berbicara juga kepada Dina untuk mencari tahu Keberadaan Lisa yang sekarang entah ada di mana, dinas sebagai nenek rumah makan pasti dia mengetahui keberadaan Lisa yang hilang secara mendadak.
''Nanti aku akan bertanya kepada Kak Dina terlebih dahulu.'' Aura tersenyum dan meninggalkan mereka berdua.
''Non Aura jelas lebih baik bila dibanding dengan nyonya Dina ya.'' Helen menatap gadis kecil itu.
''Anak bungsu memang begitu, terkesan manja namun aku yakin dia menyimpan duka besar dalam hati nya.'' Mila berkata pelan.
''Ah sok tau saja!'' Helen tidak percaya dengan Mila.
''Tapi dia dulu memang banyak menderita kok, cuma Non Vera yang paling bisa paham.'' kekeh Mila karena dia adalah orang desa juga.
''Nama dia saja bisa ganti begitu, paling karena dia yang banyak tingkah.'' Helen berkata sinis dan segera pergi.
Mila hanya menarik nafas panjang dan dia tidak ingin berdebat lagi dengan Helen karena menurut dia itu sama sekali tidak ada, terkadang dia juga menebak bahwa Helen menaruh rasa iri yang begitu besar terhadap Aura karena gadis itu bisa di katakan memiliki hidup yang lebih baik bila di banding dengan mereka berdua, memang mereka adalah seumuran tapi hanya nasib yang berbeda.
''Kak.'' Aura menghampiri Dina yang sedang mengupas buah untuk Susanto.
''Ya?''
''Lisa ke mana Kok tidak ada kabar itu kata teman mereka?'' Aura menatap dengan pandangan tidak berkedip karena dia ingin melihat ekspresi Dina.
''Ah kamu sudah tidak usah ikut campur dengan urusan pembantu seperti itu, Rum.'' Susanto yang menjawab pertanyaan adik ipar dia.
''Berhenti memanggil dia dengan sebutan nama itu karena sekarang nama dia adalah Aura!'' Dina menatap Susanto dengan Tatapan yang sangat marah.
''Ah aku lupa kalau kamu ganti nama karena ingin melupakan masa lalu kelam itu.'' Susanto seolah merasa bersalah namun kesan mengejek masih ada di dalam diri dia.
''Aku bertanya tentang Lisa dan tidak perlu membahas nama yang ada di dalam diri aku saat ini.'' Aura tak kalah keras karena dia ingin tahu apa yang telah terjadi.
''Kan tadi sudah aku katakan kalau kamu tidak perlu ikut campur dalam urusan itu!'' Susanto berdiri dan menatap Aura.
Semakin ke sini maka Aura semakin yakin bahwa keluarga Dina memang memiliki sesuatu yang tidak beres dan kemungkinan besar ini juga berhubungan dengan masa lalu mereka saat itu, rasa ingin tahu yang ada di dalam diri Aura semakin besar karena dia akan mengungkap apa yang telah terjadi.
Terlebih lagi Tadi malam dia melihat sendiri bagaimana keadaan Lisa di dalam kamar itu dengan tubuh tanpa kulit, jadi Aura semakin yakin bahwa ada sesuatu yang harus dia selidiki di dalam rumah ini, tumbal serta kekayaan masih berputar erat di dalam pikiran gadis tersebut karena dia telah hafal rute pesugihan yang dijalani oleh para manusia ini.
''Kalian memuja pesugihan?'' Aura melontarkan pertanyaan yang membuat mereka kaget.
''Arum!'' Dina berteriak keras setelah mendengar pertanyaan dari mulut sang adik.
''Kakak tidak pernah rela melepaskan pesugihan milik ayah dan sekarang justru mengambil pesugihan itu sendiri.'' Aura langsung menuduh begitu saja.
''Lalu Kenapa bila aku mengambil pesugihan itu?'' Susanto justru bertanya balik kepada Aura.
''Hentikan omong kosong ini.'' Dina juga mulai omosi tidak terkendali.
''Akui sekarang kepada diriku bahwa kau memang telah mengambil pesugihan.'' Aura tetap ingin mencari tahu tentang perbuatan Dina dan juga Susanto itu.
Praaaaang.
Dina membanting keras pisau yang sudah dia pegang sejak tadi, dia sejak tadi sudah berusaha untuk tetap sabar untuk tidak marah kepada Aura tentang ucapan Adik bungsunya itu tentang pesugihan ini Namun ternyata Aura justru semakin dalam mengorek apa yang telah terjadi sehingga mau tidak mau emosi Dina pun semakin memuncak.
Susanto juga bukan tipe orang yang bisa melerai pertengkaran di antara dua bersaudara itu dan Justru malah dia yang semakin menambah runyam, andai saja dia tadi bisa bersikap seperti pria normal lainnya maka permasalahan di antara Dina dan Aura tidak akan sampai sedalam ini.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar nya ya.
knp Bu Yuni asal tuduh aja padahal ga ada bukti😒 jln satu2nya datangkan purnama sang ratu ular👍