NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Yang Terluka

Istri Pengganti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.

​Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!

​"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.

​Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.

​Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!

Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Keheningan yang mencekam kembali menguasai kamar penthouse suite setelah badai makian Liam mereda.

Namun, bagi Liam Oliver, berada di dalam ruangan yang sama dengan wanita yang dianggapnya penuh kepalsuan itu terasa seperti menghirup racun tak kasat mata. Setiap isak tangis tertahan yang keluar dari sudut ranjang tempat Mira Hazelya meringkuk hanya menambah rasa muak di dadanya.

Ego pria dan harga dirinya yang telanjur terluka parah menolak untuk membiarkan dirinya beristirahat di sofa itu.

Liam bangkit berdiri dengan sentakan kasar. Ia meraih kemeja dan jas kasual abu-abunya yang sempat tergeletak di atas sofa kulit hitam.

Dengan gerakan yang dinamis, cepat, dan penuh emosi, ia mengemas barang-barang pribadinya seperti, ponsel, dompet, dan kunci mobil, lalu memasukkannya ke dalam saku jas. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga guratan otot di sekitar pipi dan lehernya yang kokoh tercetak jelas di bawah pendaran lampu temaram.

"Aku tidak sudi menghabiskan sisa malam ini di ruangan yang sama denganmu," ujar Liam, suaranya terdengar sangat rendah, berat, dan sedingin es, tanpa menoleh sedikit pun ke arah ranjang. "Persetan dengan rumor besok pagi. Aku akan keluar dari hotel ini sekarang juga."

Liam melangkah lebar menuju pintu keluar utama, siap memutar kenop pintu dan meninggalkan pernikahan lelucon ini untuk selamanya. Namun, tepat saat jemari kekarnya baru saja menyentuh permukaan logam pintu yang dingin...

BRAK! BRAK! BRAK!

Pintu kayu jati tebal itu digedor dengan sangat kasar dan berisik dari luar, memutus keheningan malam dengan begitu drastis.

Liam tersentak mundur satu langkah, dahinya berkerut dalam. Siapa yang berani mengganggu ketenangannya di tengah malam buta seperti ini? Sebelum Liam sempat meraih kartu akses untuk membuka pintu, desakan dari luar membuat pintu itu terbuka dengan sentakan kuat.

Brak!

Sosok yang melangkah masuk seketika membuat tubuh tegap Liam membeku di tempat.

Papa Bramantyo berdiri di ambang pintu. Pria paruh baya itu masih mengenakan setelan kemeja formalnya yang kusut tanpa jas. Kondisinya jauh dari kata baik-baik saja, wajahnya yang biasa memancarkan otoritas mutlak kini tampak pucat pasi bagai mayat, dengan bibir yang sedikit membiru.

Napasnya memburu, pendek-pendek dan terdengar sangat berat, persis seperti orang yang dadanya sedang dihimpit beban berton-ton. Di belakangnya, seorang dokter hotel dan asisten pribadi tampak berdiri dengan wajah cemas, namun tidak berani melangkah masuk lebih jauh.

"Pa?! Kenapa Papa di sini? Bukankah Papa harus beristirahat?!" Liam melangkah maju, kepanikan seketika mengusir sisa-sisa keangkuhannya sebagai pria dingin. Ia mengulurkan tangan untuk menyangga tubuh sang ayah yang tampak sedikit limbung.

Namun, alih-alih menerima bantuan putranya, Papa Bramantyo justru menepis tangan Liam dengan satu sentakan keras yang mengejutkan.

"Singkirkan tanganmu, Liam!" bisik Papa Bramantyo, suaranya serak, bergetar hebat antara menahan rasa sakit fisik di dadanya dan amarah yang mendalam.

Mata elang Papa Bramantyo menyapu seisi kamar pengantin. Tatapannya tertuju pada kain cadar putih milik Mira yang tergeletak mengenaskan di lantai, lalu beralih pada sosok Mira Hazelya yang sedang bersujud di sudut ranjang dengan gaun pengantin yang berantakan dan tubuh yang bergetar hebat karena ketakutan.

Dari posisi itu, terlihat jelas bahwa baru saja terjadi sebuah konfrontasi yang sangat kejam di dalam kamar ini.

"Apa yang... apa yang sudah kau lakukan pada istrimu, Liam?!" bentak Papa Bramantyo, suaranya naik satu oktav membuat dadanya kembali kejang. Beliau terbatuk kecil, memegangi dada kirinya dengan tangan yang gemetar.

"Pa, jangan membela wanita ini! Dia menipu kita!" Liam mencoba menjelaskan, suaranya terdengar frustrasi namun tetap memancarkan aura tegas khas seorang pria Oliver yang tidak suka disalahkan. "Dia sengaja menjebak keluarga kita demi menutupi aibnya sendiri! Wanita yang Papa pilihkan untuk Kak Devon ini ternyata sudah tidak..."

"Cukup, Liam!! Cukup!!"

Sebelum Liam sempat menyelesaikan kalimat tuduhan kejinya, Papa Bramantyo melangkah maju dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

Dengan gerakan yang begitu protektif, pria paruh baya itu berjalan melewati Liam dan langsung berdiri tegak di depan ranjang, memosisikan tubuhnya sebagai tameng hidup yang memisahkan Mira dari jangkauan Liam.

Papa Bramantyo menatap menantunya yang sedang menangis ketakutan di atas ranjang. Tatapan tajam sang penguasa korporat itu mendadak melunak, berganti menjadi sorot mata yang dipenuhi rasa bersalah dan kepedihan yang amat dalam.

"Mira... menantuku... jangan takut," ucap Papa Bramantyo dengan suara yang melunak namun bergetar hebat. "Papa di sini. Selama Papa masih bernapas, tidak akan ada satu pun orang di rumah ini, termasuk bocah bodoh ini yang boleh menyentuh atau menyakitimu lagi."

Mira perlahan mengangkat wajah sembapnya dari balik lipatan lengannya. Melalui netra bulatnya yang basah oleh air mata, ia menatap punggung tegap Papa Bramantyo yang sedang melindunginya. Isak tangisnya kian pecah, namun kali ini ada rasa haru dan perlindungan yang ia rasakan di tengah keputusasaannya yang pekat.

Liam yang menyaksikan adegan itu merasa egonya diinjak-injak. Bagaimana bisa ayahnya sendiri, pria yang selalu memprioritaskan logika dan nama baik bisnis, kini justru berdiri melindungi seorang wanita yang dianggapnya kotor dan licik?

"Pa! Buka mata Papa! Kenapa Papa justru melindungi wanita penipu ini?!" Liam berteriak, melangkah maju satu langkah dengan aura intimidasi yang kuat, mencoba meraih lengan ayahnya agar menjauh dari ranjang. "Dia sudah menghancurkan hidupku malam ini! Aku berhak menjatuhkan talak kepadanya!"

Papa Bramantyo membalikkan badannya dengan cepat, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Liam dengan kilat kemarahan yang begitu pekat, hingga membuat langkah Liam terhenti seketika.

"Kau tidak tahu apa-apa, Liam! Kau tidak tahu sepeser pun tentang pengorbanan wanita ini!" napas Papa Bramantyo kian memburu, wajahnya yang semula pucat kini memerah karena emosi yang mencapai puncaknya. "Jika kau berani melangkah satu senti lagi untuk menyakitinya, jangan pernah panggil aku Papamu lagi!"

Rasa sakit di dada Papa Bramantyo tampaknya kembali menyerang dengan intensitas yang lebih parah. Pria itu terhuyung ke belakang, mencengkeram tepi ranjang kayu untuk menahan bobot tubuhnya yang mulai melemah.

Dokter hotel yang sejak tadi berjaga di luar langsung panik dan hendak menerobos masuk, namun Papa Bramantyo mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat mutlak agar tidak ada yang mendekat.

Pria paruh baya itu menatap Liam dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa kecewa yang mendalam pada kedangkalan pemikiran putranya.

"Ikut Papa ke ruang kerja sekarang," perintah Papa Bramantyo, suaranya melemah namun menyiratkan sebuah keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. "Papa akan menunjukkan kepadamu... seberapa rendahnya dirimu yang sudah menghakimi seorang malaikat malam ini."

Papa Bramantyo berbalik sekilas, menatap Mira dengan tatapan menenangkan sekali lagi sebelum melangkah keluar kamar dengan dipapah oleh asisten pribadinya.

Liam berdiri mematung di tengah ruangan, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menatap sekeliling kamar yang berantakan, lalu melirik ke arah Mira yang kembali menundukkan kepalanya di sudut kasur.

Rasa penasaran yang mencekik, amarah yang belum padam, dan firasat buruk yang mendadak muncul di hatinya membuat Liam akhirnya memutar tubuhnya.

Dengan langkah kaki yang berat dan penuh ketegangan, Liam melangkah keluar mengikuti jejak sang ayah menuju ruang kerja privat, siap menghadapi rahasia kelam apa pun yang selama ini disembunyikan darinya.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
cemburu tanda cinta ...❤️
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼‍♀️😅
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
makanya jangan so nolak kamu Arkan jadi pusing sendiri kan 😤🤣🤣🤣
Eva Karmita
seriyus mau nanya apa nama pu nya di ganti ...??
padahal bagus Liam
Eva Karmita
kenapa namanya di ganti otor yg tadinya Liam kenapa berubah jadi Arkana. 🤔🤔🤔
Riana Utami
puasssss
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
Lovita BM
kq jd Arkan Oliver namanya, bukanya Liam Oliver ????
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Lovita BM
luar biasa
Lovita BM
👍👍👍👍👍💪
Eva Karmita
kita lihat apakah liam mampu merebut hati Mira
Eva Karmita
ya Allah kasihan Mira jadi korban penculikan dan pemerkosaan 🥺
Eva Karmita
percuma menjelaskan Mira lebih baik kamu diam ... biarkan waktu yang berbicara
Eva Karmita
Liam edan main talak" aja ...awas aja nanti kamu menyesal 🥺
Dibalik Senja
Lebih baik diem mira biarkan liam dngn asumsinya krn wlupun kau membela diri dia tdk akan percaya ...talak sdh diucapkan dan mira pasti akan pergi liam tnpa dimintapun
Dibalik Senja
Tdak apa2 dicerai sdh bkn jdohnya jngn dtangisi lebih baik begitu dr pd setiap hari disiksa dan direndahkan....CEO gemblung mainya kekerasan tnpa tau permasalahan merasa pnya dinasti diluar angkasa sungguh awak gemess
N Wage
apa maksud dr paragraf "Di sana,di atas seprai putih bersih yang tertutup beberapa kelopak mawar,tidak ada tanda2 kesucian yang biasanya dst..."

emangnya seperti apa?
N Wage
bukan altar KK...meja akad😊
Lovita BM
👍👍👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!