Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Enam Belas
El masuk ke dalam kamar dengan langkah cepat. Pintu kamar itu tertutup cukup keras, membuat suara benturannya menggema di ruangan yang selama ini menjadi tempat paling nyaman baginya.
Namun malam ini, kamar itu terasa berbeda. Ia berdiri beberapa detik di tengah ruangan. Matanya menyapu setiap sudut kamar. Semua benda yang ada di sana mengingatkannya pada kehidupan yang selama ini ia jalani bersama keluarganya.
Foto keluarga yang terpajang di meja. Penghargaan yang diberikan Arsaka ketika dirinya berhasil memenangkan sesuatu. Bahkan benda-benda kecil yang dulu membuatnya merasa bahwa rumah ini adalah tempat untuk pulang. Tapi sekarang, yang ia rasakan hanya sakit hati.
El membuka lemari dengan kasar. Tangannya langsung mengambil koper yang tersimpan di bagian atas. Tanpa banyak berpikir, ia mulai memasukkan pakaian ke dalamnya. Dan beberapa barang pribadinya. Semua ia masukkan dengan gerakan cepat, seolah ingin segera pergi dari tempat itu.
Namun sebenarnya, jauh di dalam hatinya, El masih menunggu seseorang datang dan menghentikannya. Ia masih berharap Daddy-nya masuk ke kamar dan berkata bahwa semua ucapan tadi hanya karena emosi.
Tapi beberapa menit berlalu, tidak ada siapa pun. El menarik napas panjang.
"Baiklah ...," gumamnya pelan.
Jika mereka memang tidak ingin menahannya, maka ia akan pergi. Baru saja ia hendak menutup koper, pintu kamar terbuka.
"El ...."
Suara Hana membuat gerakannya berhenti. El tidak menoleh. Ia tahu ibunya pasti datang dengan mata yang penuh kesedihan.
Hana masuk perlahan. Tatapannya langsung jatuh pada koper besar di atas tempat tidur. Dadanya terasa sesak.
"Nak ...," panggil Hana lirih.
El tetap memasukkan beberapa barang terakhir tanpa melihat ibunya.
"Jangan pergi, Nak," ucap Hana.
Tangannya perlahan meraih tangan putranya yang sedang mengambil baju. "Jangan pergi, Nak. Daddy hanya sedang emosi. Kamu juga sedang emosi."
El akhirnya menatap ibunya.
"Masalah tidak akan selesai kalau kalian berdua sama-sama mengutamakan ego."
Tatapan El melemah sesaat mendengar ucapan ibunya, tapi kemudian kembali dingin. "Apa Mom tidak dengar?" tanyanya pelan. "Daddy mengusirku."
Hana menahan napas. "El ...."
"Itu bukan hanya marah, Mom. Daddy bilang aku jangan pulang lagi."
Hana mendekati putranya. "Karena Daddy sedang emosi. Kamu tahu sendiri bagaimana Daddy kalau sedang kecewa."
"Tapi dia tetap mengatakannya, Mom."
Suara El mulai bergetar. "Selama ini aku tidak pernah membantah Daddy. Aku selalu berusaha menjadi anak yang dia banggakan. Tapi malam ini, hanya karena aku punya pendapat yang berbeda, aku dianggap tidak punya hati."
Air mata Hana mulai menggenang. "Kamu salah memahami semuanya, Nak."
"Tidak, Mom." El menggeleng. "Aku sudah memutuskan." Ia menutup koper lalu menarik gagangnya.
Hana langsung panik. "El, dengarkan Mom dulu."
Namun El berjalan keluar kamar. Hana tidak punya pilihan selain mengikuti.
"Nak, tolong jangan pergi dengan keadaan seperti ini."
Langkah El tetap berjalan. "Kalau aku tetap di sini, kita hanya akan semakin menyakiti satu sama lain."
Hana terus mengikutinya sampai tangga. "El ...." Tapi putranya tidak berhenti.
Saat sampai di lantai bawah, suara roda koper yang bergesekan dengan lantai membuat Arsaka menoleh. Pria itu masih berdiri di ruang keluarga. Melihat putranya benar-benar pergi, hatinya terasa sakit.
Hana yang masih mencoba menahan El langsung berjalan mendekat. "El, jangan lakukan ini."
Namun sebelum Hana bisa kembali mengikuti, Arsaka meraih tangan istrinya. "Biarkan dia pergi."
Hana menatap suaminya tidak percaya. "Mas ...."
"Biarkan dia merenungi kesalahannya."
Hana menggeleng pelan. "Jiwa mudanya tidak akan mudah menerima kesalahan, Mas."
Air mata Hana jatuh. "Dia pasti akan merasa dirinya benar. Kita yang dewasa harus mengalah."
Arsaka menatap istrinya. "Aku tahu kamu sedih melihat dia pergi."
Suaranya terdengar lebih tenang, tapi luka masih terlihat jelas. "Sebagai ibunya, kamu pasti ingin mengejar dan menarik dia kembali."
Hana terdiam.
"Tapi percayalah, Hana. Ini akan menjadi pelajaran untuknya."
Hana menatap suaminya. "Bagaimana kalau selamanya dia tidak mau kembali, Mas?"
Pertanyaan itu membuat Arsaka terdiam. Namun beberapa saat kemudian, ia menghela napas. "Kita lihat saja."
Arsaka melihat ke arah pintu tempat El pergi. "Apakah dia bisa bertahan tanpa semua fasilitas dariku."
Hana mengerutkan kening. "Mas ...."
"Besok semuanya aku tarik." Nada Arsaka tegas. "Aku ingin tahu apakah dia benar-benar yakin dengan keputusannya atau hanya terbawa emosi."
Arsaka lalu menambahkan dengan tatapan serius. "Aku juga ingin tahu siapa yang sudah mempengaruhi pikirannya sampai dia melihat Chelsea seperti itu."
Hana hanya diam. Di satu sisi, ia memahami kekecewaan suaminya. Tapi di sisi lain, hatinya sebagai seorang ibu tidak sanggup melihat anaknya pergi.
Sementara itu, El sudah masuk ke dalam mobilnya. Tangannya menggenggam erat kemudi. Amarah masih memenuhi pikirannya.
Ucapan Arsaka terus terngiang di kepalanya. "Aku malu punya anak yang berpikiran sempit seperti kamu." Kalimat itu terasa lebih sakit daripada tamparan yang ia terima.
El menyalakan mesin mobil lalu meninggalkan rumah. Bangunan yang selama ini menjadi tempatnya pulang. Rumah yang dulu selalu membuatnya merasa dicintai.
Malam ini, ia pergi dengan perasaan seperti orang asing. Mobilnya melaju melewati jalanan kota yang mulai sepi. Tujuannya hanya satu, apartemen miliknya. Tempat yang biasanya ia gunakan jika terlalu lelah bekerja atau membutuhkan waktu sendiri.
Apartemen itu tidak jauh dari perusahaan keluarga yang sekarang ia pimpin. Tempat itu selalu menjadi tempat pelarian ketika pikirannya terlalu penuh.
Saat sedang menyetir, ponselnya berdering. Nama Zoya muncul di layar. El menghela napas kecil sebelum mengangkat panggilan itu.
"Halo."
"El, kamu di mana?" tanya Zoya dari seberang.
"Aku sedang di jalan."
"Kamu mau ke mana?"
El diam sebentar. Entah kenapa, mendengar suara Zoya membuat emosinya sedikit turun.
"Aku menuju apartemen."
Zoya langsung bertanya lagi. "Apartemen siapa?"
El menjawab singkat. "Apartemenku."
Beberapa detik hening. Zoya merasa ada yang tidak biasa. "El ... kenapa kamu ke sana?"
El menatap jalanan di depannya. "Aku bertengkar dengan Daddy." Nada suaranya terdengar datar. "Aku diusir."
Suasana mendadak menjadi hening. Zoya yang awalnya santai langsung terkejut.
"Diusir?" Suara Zoya terdengar tidak percaya.
"Iya." El menjawab pelan. "Aku keluar dari rumah."
Zoya terdiam. Ia tahu hubungan El dan keluarganya selama ini sangat dekat.Mustahil bagi keluarga Arsaka untuk benar-benar mengusir El tanpa alasan yang besar.
"El..." Suara Zoya berubah. "Kamu serius?"
El tidak menjawab. Tatapannya tetap lurus ke depan. Sementara di sisi lain, Zoya masih terdiam dengan rasa terkejut yang memenuhi pikirannya.
tapi sama Noah jg gak papa🤭
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka