NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Kedua Orin

Orin meletakkan lampu rune di lantai.

Gerakannya pelan dan hati-hati. Tidak ada usaha melarikan diri, tidak pula gerakan untuk mengambil senjata yang tersembunyi. Ia hanya berdiri di anak tangga paling bawah dengan kedua tangan terbuka.

“Yang Mulia,” katanya, “saya tidak memahami situasinya.”

Maura mencengkeram lengan Aelora.

“Jangan percaya.”

Napas perempuan tua itu masih tersengal. Bekas benang emas melingkari pergelangan tangannya seperti luka bakar. Setiap kali Orin bergerak sedikit, seluruh tubuhnya menegang.

Kael berdiri di antara mereka. Bilah bayangan melayang di sisi lengannya, ujungnya diarahkan pada dada Orin.

“Kapan terakhir kali kau berada di lorong ini?” tanyanya.

Orin melihat sekeliling ruang bawah tanah. “Saya tidak pernah berada di sini.”

“Pikirkan lagi.”

“Saya bahkan tidak tahu pintu itu ada sebelum melihatnya terbuka.”

Maura menggeleng keras.

“Dia berbohong. Dia datang melalui tangga itu. Dia membawa bayi dalam selimut putih.”

Orin memandang Aelora.

Wajahnya kehilangan sedikit warna.

“Tujuh tahun lalu?” tanyanya.

Maura tidak menjawab. Tatapannya cukup jelas.

Orin mengangkat tangan ke pelipis. “Saya tidak pernah membawa Putri keluar dari istana.”

“Maura melihatmu,” kata Kael.

“Kalau begitu Maura melihat seseorang yang menyerupai saya.”

“Wajah yang sama,” bisik Maura. “Suara yang sama. Bahkan pakaianmu sama.”

Orin menelan ludah.

Aelora memperhatikan keduanya. Maura sungguh takut, tetapi Orin juga tidak terlihat seperti orang yang baru saja tertangkap. Kebingungan di wajahnya terlalu nyata. Ia berkali-kali membuka mulut, lalu mengurungkan niat, seolah sedang memeriksa ingatannya sendiri dan tidak menemukan bagian yang dicari.

“Apakah kau pernah kehilangan ingatan?” tanya Aelora.

Kael menoleh kepadanya.

Orin tidak langsung menjawab.

“Itu pertanyaan sederhana,” kata Aelora.

“Tidak untuk orang yang bekerja mengatur jadwal Raja,” jawab Orin. “Saya sering merasa kehilangan satu atau dua hari.”

“Orin.”

Nada Kael membuatnya berhenti mencoba bercanda.

Kepala pelayan itu memandang lantai. “Ada satu malam yang tidak saya ingat dengan jelas.”

Maura mulai gemetar lagi.

“Kapan?” tanya Kael.

“Tujuh tahun lalu. Malam ketika Mirael datang.”

Ruangan menjadi sunyi.

Orin mengusap bagian belakang lehernya.

“Saya ingat menyiapkan kamar di sayap timur. Saya membawa air hangat, kain bersih, dan obat untuk Nona Mirael. Setelah itu…” Ia berhenti.

“Setelah itu apa?” desak Kael.

“Saya terbangun di gudang anggur menjelang pagi.”

Kael mempersempit mata. “Kau tidak pernah melaporkannya.”

“Saya mengira pingsan karena racun cahaya. Separuh pelayan sakit malam itu.”

“Dan kau tidak merasa aneh terbangun di gudang?”

“Saya merasa sangat aneh. Tetapi kota hampir diserang Elyrion, Mirael sudah pergi, dan Yang Mulia mengurung diri selama tiga hari. Waktu itu banyak hal lebih penting daripada kepala pelayan yang tertidur di tempat salah.”

“Itu tetap seharusnya dilaporkan.”

“Benar.”

Orin mengatakannya tanpa membela diri.

Aelora menatap bayangannya.

Lampu rune berada di lantai sebelah kanan. Cahaya ungu jatuh miring ke tubuh Orin, membuat bayangannya memanjang di dinding belakang.

Namun bentuk tersebut tidak mengikuti tubuhnya dengan tepat.

Orin berdiri dengan kedua tangan di samping badan.

Bayangannya memiliki satu tangan terangkat.

Aelora mengedip, mengira matanya keliru.

Tangan hitam pada dinding bergerak mendekati leher Orin. Jari-jarinya terlalu panjang, beruas seperti kaki laba-laba.

“Kael.”

Kael tidak berpaling. “Apa?”

“Bayangannya.”

Orin menoleh ke dinding.

Pada saat yang sama, tangan hitam itu menutup lehernya.

Tubuh Orin tersentak.

Matanya terbuka lebar, tetapi tidak ada suara keluar. Kakinya terangkat beberapa sentimeter dari lantai seakan sesuatu menariknya dari belakang.

Kael mengayunkan bilah bayangan.

Bilah tersebut memotong tangan hitam pada dinding.

Jeritan melengking memenuhi ruangan.

Bukan suara Orin.

Suara itu terdengar seperti beberapa orang menjerit dari tenggorokan yang sama.

Bayangan di belakang Orin menggelembung, kemudian terlepas dari dinding. Bentuknya hitam pekat dan setinggi orang dewasa, tetapi wajahnya terus berubah. Sesaat menyerupai Orin, kemudian Maura, lalu Kael.

Terakhir, wajahnya berubah menjadi Mirael.

Aelora membeku.

Makhluk itu tersenyum menggunakan wajah ibunya.

“Sayang,” katanya.

Kael langsung menebaskan bilah kedua.

Makhluk tersebut melompat ke langit-langit. Tubuhnya merata seperti cairan, merayap di antara batu-batu sambil meninggalkan jejak asap.

Orin jatuh berlutut dan batuk keras.

“Apa itu?” tanya Aelora.

“Peniru bayangan,” jawab Kael. “Mundur.”

Aelora membantu Maura bergeser ke sudut ruangan. Kakinya sendiri masih lemas, tetapi ia tidak mau meninggalkan perempuan tua itu sendirian.

Peniru bergerak cepat di atas kepala mereka.

Bentuknya sulit diikuti karena menyatu dengan bagian langit-langit yang tidak terkena cahaya. Hanya sepasang mata putih yang sesekali muncul, menghilang, lalu muncul di tempat lain.

Kael memperluas bayangannya ke seluruh lantai.

“Matikan lampunya,” katanya.

Orin yang masih berlutut mengangkat wajah. “Yang Mulia?”

“Matikan.”

“Bukankah benda itu hidup dalam gelap?”

“Dia bersembunyi di perbedaan cahaya.”

Orin meraih lampu rune dan menekan simbol pada bagian bawahnya.

Cahaya ungu padam.

Ruangan tenggelam dalam kegelapan.

Aelora tidak dapat melihat apa-apa. Ia hanya merasakan tangan Maura menggenggam pakaiannya dan mendengar napas Orin yang belum teratur.

Kemudian dua mata merah terbuka di tengah ruangan.

Mata Kael.

Bayangan sang raja tidak lagi terbatas pada lantai. Dalam gelap, seluruh ruangan menjadi wilayahnya.

Suara benturan terdengar dari langit-langit.

Peniru menjerit.

Garis-garis ungu menyala, membentuk rantai yang mengikat sesuatu di udara. Makhluk hitam itu muncul di antara rantai, menggeliat dan mengganti wajahnya berkali-kali.

Orin.

Maura.

Mirael.

Bahkan Aelora.

Wajah kecil Aelora muncul pada bagian depan tubuhnya.

“Tolong,” kata makhluk itu dengan suara anak-anak. “Sakit.”

Aelora tahu itu bukan dirinya.

Namun mendengar suaranya sendiri meminta pertolongan tetap membuat jantungnya berdegup tidak teratur.

Kael tidak ragu. Rantai bayangan mengencang.

Peniru memekik dan mengubah wajah kembali menjadi Mirael.

“Kae,” panggilnya.

Tangan Kael berhenti sepersekian detik.

Cukup lama bagi makhluk itu untuk mencairkan salah satu lengannya, menyelinap di antara rantai, lalu menghantam dinding. Batu pecah. Debu memenuhi udara.

Makhluk itu meluncur menuju Aelora.

Kael bergerak, tetapi jaraknya terlalu jauh.

Orin melompat lebih dulu.

Ia menabrak makhluk tersebut dari samping. Tubuhnya menghantam lantai bersama gumpalan bayangan hitam. Peniru langsung melilit leher dan wajahnya.

“Orin!” teriak Aelora.

Kepala pelayan itu mencengkeram makhluk tersebut, tetapi tangannya menembus tubuh cairnya. Bayangan hitam masuk melalui telinga dan mulutnya.

Orin berhenti melawan.

Tubuhnya menegang.

Ketika membuka mata lagi, bagian putih matanya telah berubah hitam.

“Sudah lama,” katanya.

Suaranya bercampur dengan suara lain.

Kael mengarahkan bilah bayangan kepadanya.

“Keluar dari tubuhnya.”

Orin—atau sesuatu di dalamnya—tersenyum.

“Tubuh ini nyaman. Teratur. Disiplin. Banyak pintu terbuka saat wajahnya muncul.”

Maura menutup mulut dengan tangan.

“Kaulah yang membawa Aelora keluar dari istana,” kata Kael.

“Bukan aku.”

Makhluk itu memiringkan kepala Orin.

“Aku hanya meminjam wajah yang tepat.”

“Siapa yang menyuruhmu?”

Senyumnya melebar.

“Orang yang tahu seorang raja akan mengorbankan apa saja untuk kotanya.”

Bayangan Kael merayap menuju kaki Orin.

Makhluk tersebut mengetahuinya. Ia mengangkat satu tangan dan membentuk benang emas dari ujung jari.

Benang itu sama dengan pengikat Maura.

“Jangan mendekat,” katanya. “Tubuh ini sudah kutinggali lama. Kalau aku mati, mungkin dia ikut mati.”

Kael tidak menghentikan bayangannya.

“Kau sedang berbohong.”

“Mungkin.”

Benang emas melilit leher Orin sendiri.

Kulitnya langsung terbakar.

Aelora tidak berpikir panjang. Ia berlari mendekat.

Kael menangkap bagian belakang pakaiannya sebelum ia mencapai Orin.

“Lepaskan aku.”

“Tidak.”

“Aku bisa menariknya keluar.”

“Kau baru pingsan karena memakai sihir.”

“Kalau dibiarkan, Orin mati.”

“Kalau kau mendekat, makhluk itu akan masuk ke tubuhmu.”

Aelora melihat Orin.

Ia masih berada di sana. Di balik mata hitam dan senyum asing itu, satu tangannya bergerak pelan. Jemarinya menggaruk lantai, menulis sesuatu di atas debu.

Potong.

Orin meminta Kael menyerang.

Kael juga melihat tulisan tersebut.

Bilah bayangannya terangkat.

“Jangan bunuh dia,” kata Aelora.

“Aku tidak berniat membunuhnya.”

“Bilahmu besar sekali.”

“Aku sedang memastikan makhluk itu percaya.”

Peniru tertawa melalui mulut Orin.

“Kalian selalu bicara terlalu banyak.”

Benang emas menegang.

Darah mengalir dari leher Orin.

Aelora mengangkat telapak tangannya. Tanda di pergelangan menyala tipis.

Kael langsung menahannya. “Tidak.”

“Aku tidak perlu membuat cahaya besar.”

“Kau bahkan tidak tahu cara mengaturnya.”

“Aku tahu apa yang kucari.”

Ia tidak menunggu izin.

Aelora memusatkan perhatian pada bayangan yang menempel pada Orin. Tidak pada seluruh tubuh makhluk itu. Tidak pada benang emasnya. Ia mencari bagian kecil yang menghubungkan keduanya.

Setiap parasit membutuhkan tempat berpijak.

Setiap segel memiliki simpul.

Cahaya putih muncul sebesar nyala lilin di ujung jarinya.

Peniru berhenti tertawa.

Aelora melihatnya.

Di belakang telinga kiri Orin terdapat garis hitam sangat tipis, hampir seperti rambut. Garis itu masuk ke bawah kulit dan berakhir pada lambang kecil di tengkuk.

“Di lehernya,” kata Aelora. “Ada tanda.”

Kael bergerak tanpa bertanya.

Satu rantai bayangan menarik kedua tangan Orin ke belakang. Rantai lain menahan kepalanya. Makhluk di dalam tubuhnya menjerit dan mencoba menggigit lidah Orin, tetapi Kael menutup rahangnya menggunakan bayangan.

“Sekarang,” katanya.

Aelora menempelkan dua jari pada lambang di tengkuk Orin.

Rasa dingin menusuk sampai tulang.

Dunia di sekelilingnya menghilang.

Untuk sesaat, Aelora berada dalam ingatan yang bukan miliknya.

Ia melihat lorong istana tujuh tahun lalu.

Orin berjalan membawa nampan berisi obat. Seseorang memanggil dari belakang. Ketika menoleh, ia melihat dirinya sendiri berdiri di ujung lorong.

Dua Orin saling berhadapan.

Salah satunya tersenyum.

Kemudian semuanya menjadi gelap.

Ingatan berubah.

Peniru berjalan dengan wajah Orin, menggendong bayi yang dibungkus selimut putih. Bayi itu menangis keras dan meraih udara.

Aelora mengenali gelang kecil di tangannya sendiri.

Makhluk itu membawa bayi melewati lorong rahasia, tetapi tidak keluar dari istana.

Ia menyerahkan bayi tersebut kepada seseorang berjubah abu-abu.

Aelora berusaha melihat wajah orang itu.

Tangan besar menerima dirinya.

Pada jari manisnya terdapat cincin dengan lambang matahari yang terbelah dua.

Ingatan pecah.

Aelora kembali ke ruang bawah tanah dengan napas tersengal.

“Tarik,” kata suara Kael.

Ia baru menyadari jari-jarinya telah mencengkeram sesuatu.

Seutas benang hitam keluar dari tengkuk Orin. Benang tersebut bergerak seperti cacing dan berusaha masuk ke kulit Aelora.

Kael menutup tangannya di atas tangan Aelora.

Bayangannya mengalir melalui jemari mereka.

“Bersama-sama,” katanya.

Aelora menarik.

Benang hitam itu semakin panjang.

Orin menjerit. Suaranya sendiri bercampur dengan pekikan Peniru. Makhluk tersebut mencoba mengubah wajahnya lagi, tetapi tubuh Orin mulai menolaknya.

Asap hitam keluar dari hidung dan mulutnya.

“Sedikit lagi,” kata Aelora.

Kepalanya mulai berputar.

Kael menopang punggungnya menggunakan satu tangan.

Benang terakhir tercabut.

Peniru terlempar keluar dari tubuh Orin dalam bentuk gumpalan hitam kecil, tidak lebih besar dari seekor kucing. Ia berusaha melarikan diri menuju celah dinding.

Kael menginjak bayangannya.

Makhluk itu tertahan di lantai.

Ia menggeliat, membentuk wajah-wajah kecil pada permukaan tubuhnya.

“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Kael lagi.

Peniru tertawa, tetapi suara itu kini lemah.

“Dia sudah lebih dekat daripada yang kalian kira.”

“Namanya.”

“Nama adalah pintu.”

Kael memperkuat tekanannya.

Tubuh makhluk itu mulai retak.

“Cincinnya,” kata Aelora. “Orang yang menerima aku memakai cincin matahari terbelah.”

Peniru langsung berhenti bergerak.

Kael melihatnya.

“Siapa pemilik cincin itu?”

Makhluk tersebut memandang Aelora menggunakan wajah Mirael.

“Orang yang memberimu kepada manusia,” bisiknya. “Dan orang yang memastikan kau akan kembali untuk membuka gerbang.”

Sebelum Kael sempat bertanya lagi, cahaya emas meledak dari dalam tubuh Peniru.

Kael meraih Aelora dan menutupinya dengan mantel.

Ledakan tidak besar, tetapi cukup untuk menghancurkan makhluk itu. Potongan bayangan menyebar di lantai, kemudian terbakar menjadi abu putih.

Keheningan kembali memenuhi ruang bawah tanah.

Orin terbaring tidak bergerak.

Kael segera berlutut dan memeriksa denyut nadinya.

“Masih hidup.”

Maura mengembuskan napas panjang, lalu menutup wajahnya.

Aelora duduk di lantai. Seluruh tubuhnya gemetar akibat kelelahan. Ia memandang tempat Peniru tadi hancur.

“Dia tidak menjawab.”

“Makhluk seperti itu dirancang untuk mati sebelum membocorkan tuannya,” kata Kael.

“Tapi aku melihat seseorang.”

“Apa lagi yang kauingat?”

“Cincin. Lambangnya matahari yang terbelah.” Aelora memejamkan mata, berusaha mempertahankan gambar itu. “Tangannya memakai sarung tangan abu-abu. Suaranya…”

“Apa?”

Aelora menggeleng. “Aku tidak mendengarnya jelas.”

Orin mengerang pelan.

Matanya terbuka kembali. Warna hitam sudah hilang, meski pembuluh di sekelilingnya masih terlihat gelap.

“Yang Mulia,” katanya lemah.

Kael menopang bahunya. “Jangan bergerak.”

Orin menyentuh lehernya, lalu meringis.

“Apakah saya baru saja mencoba membunuh seseorang?”

“Belum sempat.”

“Itu sedikit melegakan.”

Aelora merangkak mendekat. “Kau ingat sesuatu?”

Orin memandangnya.

“Saya ingat sedang mencari Anda di lorong. Lalu menemukan pintu terbuka.” Ia menelan ludah dengan susah payah. “Setelah itu saya seperti berada di belakang kaca. Saya bisa melihat, tetapi tidak bisa menggerakkan tubuh.”

“Makhluk itu sudah ada dalam bayanganmu sejak tujuh tahun lalu,” kata Kael.

Orin menutup mata.

Rasa bersalah muncul di wajahnya meski semua orang tahu itu bukan pilihannya.

“Jadi selama ini saya membawa mata musuh ke dalam istana.”

“Kau juga salah satu korbannya,” kata Aelora.

“Saya kepala pelayan. Seharusnya saya mengetahui siapa yang mengikuti saya, bahkan kalau yang mengikuti adalah bayangan sendiri.”

“Itu sulit dilihat.”

“Saya biasa memperhatikan debu di rak dari jarak tiga lorong.”

“Bayangan lebih tipis daripada debu.”

Orin membuka mata dan menatap Aelora. “Apakah itu usaha menghibur saya?”

“Sedikit.”

“Belum terlalu baik.”

“Aku masih belajar.”

Sudut mulut Orin bergerak tipis.

Kael memanggil penjaga melalui rune komunikasi. Tidak lama kemudian, Eirna turun bersama empat prajurit. Begitu melihat Orin dan Maura di lantai, ia langsung mulai memberi perintah.

Orin dibaringkan di atas tandu. Maura mendapat selimut dan obat penahan nyeri. Eirna mencoba memeriksa Aelora, tetapi anak itu terus menoleh ke bagian belakang ruangan.

Di tempat Peniru hancur, sebagian abu putih tidak terbakar.

Abu itu membentuk garis tipis di lantai.

Bentuk sebuah pintu.

“Ada sesuatu di sana,” kata Aelora.

Kael mengikuti arah pandangnya.

Dinding batu terlihat biasa, tetapi ketika bayangannya menyentuh garis abu, permukaan tersebut bergetar. Sebuah pintu kedua muncul, jauh lebih kecil daripada pintu masuk.

Tingginya hanya cukup untuk dilewati anak-anak.

Ukiran pada permukaannya menunjukkan matahari yang terbelah dua.

Sama seperti cincin dalam ingatan Aelora.

Eirna menghalangi ketika Aelora hendak mendekat.

“Kau sudah memakai sihir dua kali.”

“Aku hanya mau melihat.”

“Lihat dari sini.”

Kael memeriksa pintu tersebut tanpa menyentuhnya. Tidak ada gagang, lubang kunci, atau rune yang terlihat. Hanya simbol matahari retak di tengahnya.

Piko bergerak di pelukan Aelora.

Boneka itu mengangkat kepala ke arah pintu.

Jahitan mulutnya terbuka.

Suara yang keluar bukan suara Kael.

Bukan pula suara Mirael.

Suara seorang laki-laki yang belum pernah didengar Aelora, tetapi langsung membuat darah dalam tubuhnya terasa hangat.

“Putriku,” kata suara itu.

Simbol matahari terbelah menyala.

Pintu kecil terbuka perlahan.

Di baliknya tidak ada lorong.

Hanya sebuah cermin tinggi yang memantulkan Aelora seorang diri.

Kael, Eirna, Maura, Orin, dan para penjaga tidak terlihat di dalam pantulan.

Aelora dalam cermin tersenyum.

Padahal Aelora yang asli tidak.

Kemudian pantulan itu mengangkat tangan dan menuliskan satu nama pada permukaan kaca.

SERAPHIEL.

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!