Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.
Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
Ucapan Edward membuat Angela dan Raymond sama-sama tertegun. Angela menggenggam kotak beludru itu sedikit lebih erat.
"Kok, berkaitan dengan Raymond, Om?" Edward tidak langsung menjawab. Ia mengambil cangkir tehnya, menyesapnya pelan, lalu meletakkannya kembali.
"Hendra menitipkan cincin itu bukan untuk dipakai sekarang, melainkan sebagai simbol sebuah janji."
"Janji?" tanya Angela pelan. Edward mengangguk.
"Dulu, saat perusahaan yang kami rintis bersama hampir bangkrut, ayahmu pernah menyelamatkan Daddy. Bahkan, Daddy masih hidup sampai hari ini karena pengorbanannya." Raymond mengernyit.
"Daddy tidak pernah menceritakan hal itu."
Edward tersenyum tipis.
"Tidak semua hal harus kamu ketahui sejak kecil." Ia menghela napas sebelum melanjutkan.
"Waktu itu, Hendra bercanda sambil menyerahkan sepasang cincin ini."
"'Kalau nanti aku punya anak perempuan dan kamu punya anak laki-laki, siapa tahu mereka berjodoh.'" Edward terkekeh pelan mengenang sahabatnya. "Daddy hanya menganggapnya sebagai gurauan. Daddy juga menjawab, 'Kalau mereka saling mencintai saat dewasa, aku yang akan menjadi saksi pertama pernikahan mereka."'
Ruangan kembali sunyi. Angela menatap cincin di tangannya, lalu buru-buru menggeleng.
"Om... itu kan cuma candaan."
"Iya." Edward tersenyum hangat. "Itu memang hanya candaan dua sahabat. Daddy sama sekali tidak berniat memaksakan janji itu."
Diana pun ikut mengangguk.
"Benar, Angela. Karena itu Daddy dan Mama tidak pernah membahasnya selama ini. Kami ingin kalian menentukan jalan hidup kalian sendiri."
Angela mengembuskan napas lega.
Sementara Raymond tetap duduk tenang.
"Kalau begitu, kenapa Daddy menceritakannya sekarang?"
Edward dan Diana saling berpandangan. Keduanya sama sekali tidak menyangka apa yang akan dilakukan Raymond berikutnya.
Raymond yang sejak tadi diam tiba-tiba mengulurkan tangan ke arah kotak beludru di pangkuan Angela.
"Boleh aku melihatnya?" Angela yang masih larut dalam pikirannya hanya mengangguk pelan.
Raymond membuka kotak itu. Tatapannya tertuju pada sepasang cincin sederhana yang tersimpan rapi di dalamnya. Perlahan, ia mengambil kedua cincin tersebut.
"Raymond?" panggil Diana heran. Tanpa menjawab, Raymond menggenggam salah satu tangan Angela.
Angela sontak membelalakkan mata.
"Raymond...?" Jantungnya berdetak semakin cepat ketika pria itu mengangkat tangan kirinya. Dengan gerakan mantap, Raymond menyelipkan salah satu cincin itu ke jari manis Angela. Cincin itu pas, seolah memang dibuat khusus untuk jari Angela.
Ruangan mendadak sunyi. Angela hanya bisa menatap cincin di jari manisnya dengan napas yang memburu.
"R-Raymond, apa yang kamu lakukan?" Raymond tidak menjawab. Ia mengambil cincin satunya lagi, lalu tanpa ragu memasangkannya ke jari manis tangan kirinya sendiri. Edward sampai berdiri dari kursinya.
"Raymond!" Diana pun menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Ya Tuhan..." Angela benar-benar tidak mampu berkata-kata. Ia menatap Raymond dengan wajah memerah karena syok.
"Ini... ini cincin peninggalan Ayahku...." Raymond akhirnya menatap lurus ke dalam mata Angela.
"Aku tahu." Jawabnya singkat.
"Lalu kenapa kamu memakainya?" suara Angela bergetar. Raymond menjawab dengan tenang, namun penuh keyakinan.
"Karena aku tidak suka janji yang hanya disimpan di dalam kotak." Semua orang kembali terdiam. "Kalau ini memang hanya simbol persahabatan dua sahabat, maka cincin ini tidak seharusnya terus berdebu." Raymond melanjutkan "Tapi kalau suatu hari nanti simbol ini berubah menjadi sebuah ikatan..." diaenjeda ucapnnya, tatapannya tidak pernah lepas dari Angela. " aku ingin orang pertama yang memakaikannya adalah aku." Pipi Angela memanas seketika.
Ia bahkan lupa bagaimana cara bernapas dengan benar.
"R-Raymond... kamu jangan bercanda seperti ini...."
"Aku tidak bercanda." Jawaban singkat itu membuat jantung Angela serasa berhenti berdetak. Edward menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala.
"Anak ini...." Diana tersenyum geli sekaligus terharu.
"Tadi katanya tidak tertarik soal perjodohan."
"Lihat sekarang." Raymond tetap memasang wajah datarnya.
"Aku memang tidak suka dijodohkan."
"Lalu?" tanya Edward. Raymond menggenggam tangan Angela yang masih gemetar.
"Kalau keputusan ini berasal dariku sendiri, itu berbeda." Angela refleks menundukkan kepala. Jari manisnya terasa hangat oleh cincin yang baru saja dikenakan Raymond.
Entah mengapa, cincin itu terasa begitu pas, seolah memang telah menunggu momen ini selama bertahun-tahun. Di dalam hatinya, muncul perasaan yang sulit dijelaskan.
Sementara Edward dan Diana kembali saling bertukar pandang. Mereka sama-sama tahu, tindakan Raymond barusan bukanlah keputusan yang diambil secara impulsif. Tetapi, begitu Raymond memutuskan sesuatu, ia hampir tidak pernah menarik kembali keputusannya.
Tiba-tiba, Angela berdiri dari sofa. Wajahnya merah padam. Entah karena malu atau kesal, bahkan ia sendiri tidak tahu. Dengan gerakan cepat, ia berusaha mencabut cincin di jari manisnya. Namun, cincin itu sama sekali tidak bergeser.
"Lho?" Angela mencoba lagi.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali. Tetap tidak bergerak.
"Aneh..." Raymond yang melihat tingkahnya hanya menyandarkan tubuh ke sofa.
"Jangan dipaksa." ucapnya santai, Angela mendelik tajam.
"Ini gara-gara kamu!" balasnya ketus.
"Bisa lepas."
"Lalu kenapa tidak lepas?"
"Kamu panik." Jawaban datar itu justru membuat Angela semakin kesal.
"Aku panik karena siapa? Kamu kan?" Raymond mengangguk santai.
"Iya." Angela sampai ternganga.
"Kamu ini memang menyebalkan!" Diana yang melihat mereka langsung menutup mulut sambil menahan tawa.
"Mas, lihat Raymond." Edward ikut terkekeh. "Seumur hidup baru kali ini Daddy melihat ada orang yang berani memarahi Raymond."
Biasanya, semua orang justru takut mendekati putranya. Raymond sendiri tetap memasang wajah tanpa dosa. Angela kembali menarik cincin itu sekuat tenaga.
"Aduh..." Bukannya lepas, jarinya malah memerah. Raymond yang tidak tahan melihat tingkah Angela, akhirnya bangkit dari duduknya.
"Sudah, sini."
"Aku bisa sendiri!"
"Keras kepala."
"Kamu yang keras kepala!" Tanpa meminta izin lagi, Raymond meraih tangan Angela.
Refleks, Angela berusaha menariknya.
"Lepas!"
"Diam."
"Kamu jangan nyuruh-nyuruh aku!"
"Aku mau bantu."
"Nggak perlu!"
Tarik.
Dorong.
Tarik lagi. Karena sama-sama keras kepala, tubuh Angela kehilangan keseimbangan.
"Astaga!"
Bruk!
Tanpa sengaja ia jatuh tepat ke arah Raymond. Pria itu sigap menahan tubuh Angela agar tidak terbentur lantai. Kini posisi mereka sangat dekat. Terlalu dekat.
Wajah Angela hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Raymond.
Mata mereka saling bertemu.
Angela bahkan bisa merasakan embusan napas Raymond di wajahnya. Jantungnya langsung berdegup tidak karuan.
"Eh..." Raymond tetap tenang.
"Sudah selesai marahnya?" Angela baru sadar posisi mereka. Ia buru-buru berdiri sambil menutupi wajahnya yang memerah.
"Kamu... kamu sengaja, ya?" Raymond mengangkat sebelah alis.
"Sengaja apa?"
"Bikin aku jatuh!"
"Kamu yang narik tangan." Angela membuka mulut, tetapi tidak ada satu pun kalimat yang bisa membantah.
"Soalnya, soalnya..." Raymond menunggu.
Angela akhirnya mengembuskan napas kesal.
"Pokoknya salah kamu!" Mendengar jawaban itu, Edward tertawa lepas.
"Hahaha... logikanya sudah hilang."
Diana bahkan sampai memegang perutnya karena menahan tawa.
"Angela, kalau sudah tidak punya alasan, langsung bilang 'pokoknya salah kamu'."
Angela langsung salah tingkah.
"Tante...Aduh, malu sekali."
Raymond yang biasanya dingin, sudut bibirnya tiba-tiba terangkat membentuk senyum tipis.
Sangat tipis. Namun, cukup membuat semua orang di ruangan itu terdiam. Edward mengucek matanya sendiri.
"Mah."
"Iya?"
"Barusan Raymond...Tersenyum." Diana ikut melongo.
"Ya ampun," cicitnya gemas. "Anak kita ternyata masih bisa tersenyum."
Mendengar itu, senyum Raymond langsung menghilang.
"Itu refleks." Edward kembali tertawa.
"Sudah, sudah. Tidak usah malu."
Angela tanpa sadar menoleh ke arah Raymond. Untuk pertama kali sejak mengenalnya, ia melihat pria itu tersenyum.
Meski hanya sesaat, entah mengapa, senyum tipis itu jauh lebih tampan daripada wajah dinginnya selama ini. Namun, Angela buru-buru menggeleng dalam hati.
'Ya ampun, Angela! Jangan sampai ketipu wajahnya. Orang ini nyebelin banget!'
Seolah bisa membaca isi pikirannya, Raymond tiba-tiba mendekat sambil berbisik pelan di telinganya.
"Besok jam enam pagi." Angela menoleh bingung.
"Kenapa?"
"Aku Antar ."
"Aku belum bilang mau ikut!"
"Kamu sudah tinggal di rumahku."
"Ini rumah Om Edward!"
"Rumah keluarga Wijaya." Raymond berhenti sejenak, lalu melirik cincin di jari manis Angela. "Dan sekarang... cincinmu juga masih bersamaku." Sambil Raymond mengakat tangan kirinya yang tersemat cincin. Angela langsung mendengus kesal.
"Ih... orang ini benar-benar bikin emosi!"
Raymond hanya berjalan santai menuju tangga sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Sebelum menghilang ke lantai atas, ia sempat menoleh dan berkata dengan nada datar,
"Jangan tidur terlalu malam, nanti besok telat." Angela spontan mengambil bantal sofa lalu melemparkannya.
"Woi! Siapa yang mau telat gara-gara kamu!"
Bantal itu melayang tepat mengenai punggung Raymond.
Pria itu berhenti sejenak, mengambil bantal tersebut, lalu menoleh ke arah Angela.
"Boleh."
"Hah?"
"Besok aku balas." Setelah mengatakan itu, Raymond kembali berjalan ke lantai atas, meninggalkan Angela yang hanya bisa melotot sambil menggertakkan gigi.
"Raymond Wijaya! Awas saja kalau besok macam-macam lagi!" Dari lantai atas, terdengar suara Raymond yang tetap tenang.
"Aku tunggu!" serunya. Angela mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Nyebelin! Benar-benar nyebelin!" Diana yang masih tertawa kecil menghampiri Angela, lalu merangkul bahunya.
"Sudah, jangan dimasukkan ke hati." Angela mengembuskan napas panjang. Angela memijat pelipisnya sambil mengembuskan napas panjang.
"Tante..."
"Iya, Nak?" Angela menggaruk pipinya yang memerah karena malu sekaligus kesal.
"Tante, apa sikap Raymond aslinya memang seperti ini? Tapi, kenapa waktu pertama kali kami kenal kelihatannya kalem, dingin... meskipun sekarang juga masih dingin, tapi nggak nyebelin seperti barusan." Mendengar pertanyaan itu, Diana dan Edward saling berpandangan. Beberapa detik kemudian, Diana justru tertawa kecil.
"Sepertinya... cuma sama kamu saja, deh."
"Hah?"
"Ke Raina sama Richard saja, dia selalu bersikap tegas dan datar. Jarang sekali menggodai orang." Edward mengangguk membenarkan.
"Benar. Raymond itu tipikal orang yang bicara seperlunya. Bahkan adik-adiknya sering mengeluh karena dia terlalu serius." Diana menatap ke arah tangga tempat Raymond baru saja menghilang. Senyum haru perlahan terukir di wajahnya.
"Jujur saja, Mama juga heran. Melihat Raymond yang biasanya dingin, sekarang malah iseng menggodamu seperti tadi, "
Ia menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Ini benar-benar sebuah keajaiban." Angela berkedip beberapa kali.
"Jadi... dia memang sengaja ngerjain saya?"
Edward langsung terkekeh.
"Sepertinya begitu." Angela spontan mengembuskan napas panjang.
"Pantas saja, saya sampai bingung harus marah atau malu." Diana merangkul bahu Angela sambil terkikik pelan.
"Kalau menurut Tante, itu tandanya kamu sudah berhasil membuat Raymond merasa nyaman." Angela langsung menggeleng cepat.
"Nyaman apanya, Tante? Orang dia hobinya bikin saya emosi."
"Itu justru anehnya." Diana tersenyum penuh arti.
"Raymond tidak pernah menghabiskan waktu untuk mengusili orang yang tidak penting baginya." Kalimat itu membuat Angela seketika terdiam. Pipinya kembali memanas.
"Saya... saya rasa Tante terlalu berlebihan."
Diana hanya tersenyum tanpa membantah.
Dalam hati, ia merasa sangat bersyukur.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia melihat putra sulungnya tidak lagi hidup hanya dengan rutinitas, kuliah, dan pekerjaan.
---
Beberapa menit kemudian....
Diana mengantar Angela menuju kamar yang telah disiapkan untuknya.
"Istirahatlah. Besok kamu mulai kuliah lagi, kalau ada apa-apa, kamar Tante ada di ujung lorong, kalau nggak ketuk kamar Raymond aja." Seketika, Angela membelalakan mata, tubuhnya menegang.
"Baik, Tante." Setelah Diana keluar, Angela menutup pintu perlahan. Ia bersandar di balik pintu sambil mengembuskan napas panjang.
"Huft....Hari ini benar-benar gila."
Ia berjalan menuju tempat tidur, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk. Matanya kembali tertuju pada cincin di jari manisnya dan mengangkat tangan kirinya. Cincin itu berkilau terkena cahaya lampu.
"Aku benar-benar lupa melepasnya...." Ia kembali mencoba menariknya.
"Sedikit lagi, tolong lepas," desisnya, Angela kembali mencoba melepaskannya, tapi tetap tidak berhasil.
"Aduh!" Angela cemberut. "Kenapa sih susah banget?" Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari balik pintu.
Angela buru-buru bangkit.
"Iya, sebentar!" Begitu pintu dibuka, Raymond aymond berdiri di depan kamar sambil membawa sebuah paper bag.
Angela langsung mengernyit.
"Kamu?" Raymond mengangkat paper bag itu.
"Baju."
"Hah?"
"Besok kamu kuliah."
"Aku tahu."
"Memangnya kamu mau berangkat pakai baju hari ini?"
Angela memandang paper bag itu, lalu kembali menatap Raymond.
"Kamu yang beli?"
"Bukan."
"Terus?"
"Mama." Angela menghela napas lega.
"Oh...."
"Tapi...." Raymond melanjutkan dengan wajah datar.
"Aku yang pilih." Senyum Angela langsung menghilang.
"Hah? Kamu?"
"Iya." Angela langsung menatap paper bag itu dengan curiga.
"Jangan-jangan isinya jas hitam semua."
Raymond tidak beraksi sama sekali, dia hanya memasang wajah datarnya.
"Buka saja." Angela mengambil paper bag itu dengan ragu.
Saat dibuka, di dalamnya terdapat beberapa set pakaian kasual berwarna pastel, dua pasang sneakers putih, tas ransel, hingga perlengkapan kuliah.
Angela benar-benar terkejut.
"Bagus?"
"Selera kamu ternyata normal juga." Raymond mengangkat sebelah alis.
"Memangnya kamu pikir aku bagaimana?"
"Aku kira kamu bakal pilih baju warna hitam semua."
"Aku suka hitam."
"Nah, kan!"
"Tapi..." Raymond menatap Angela dari ujung kepala hingga kaki. "Warna hitam tidak cocok buat kamu." Angela refleks menatap dirinya sendiri.
"Kenapa?"
"Kamu lebih cocok warna cerah." Jawaban itu membuat Angela terdiam. Untuk sesaat, suasana menjadi canggung. Pipi Angela perlahan memerah.
"Ma... makasih." Raymond mengangguk singkat.
"Sama-sama." singkatnya. Ia berbalik dan hendak pergi. Namun baru dua langkah berjalan, Angela tiba-tiba memanggilnya.
"Raymond!" Pria itu berhenti.
"Apa?" Angela mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin yang masih melingkar di jari manisnya.
"Besok kita cari cara buat lepas cincin ini."
Raymond melirik sekilas, lalu kembali menatap wajah Angela.
"Boleh." Angela tersenyum lega.
"Syukurlah, akhirnya kamu setuju."
"Tapi..." Raymond menyisipkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Kalau ternyata tidak bisa dilepas..." Angela mulai curiga.
"Terus?" Raymond tersenyum tipis.
"...berarti memang jodohnya." Seketika itu juga Angela mengambil bantal yang ada di dekat pintu dan melemparkannya.
"RAYMOND!" seru Angela yang sudah emosi tingkat tinggi. Dengan refleks cepat, Raymond menangkap bantal itu menggunakan satu tangan. Ia lalu meletakkan bantal tersebut di depan pintu kamar Angela.
"Selamat malam." Setelah itu, ia benar-benar pergi.
Angela berdiri mematung beberapa detik sebelum akhirnya mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Ya Tuhan...Kenapa sih setiap ngomong sama dia ujung-ujungnya aku yang kalah?"
Dari balik sudut lorong, Diana dan Edward yang diam-diam memperhatikan hanya bisa saling menatap sambil tersenyum geli.
"Mas," bisik Diana.
"Hm?"
"Kayaknya rumah ini bakal jauh lebih ramai mulai sekarang." Edward mengangguk pelan.
"Dan entah kenapa...Aku punya firasat, Raymond akhirnya menemukan seseorang yang bisa mengubah hidupnya."
kalau bisa up nya di tambahin
padahal seru kenapa sepi komen nan y