NovelToon NovelToon
Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Dokter Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Harem
Popularitas:87.3k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Pukul tujuh malam, Arka menunggu di basement Lestari Intimates.

Ia membuka ponsel. Pesan dari Yulia muncul paling atas.

`Yulia: Kamu pulang makan malam? Pak Sari bikin sop ayam kampung. Katanya hidup boleh pahit, tapi kuah harus gurih.`

Arka tersenyum.

`Arka: Malam ini ada urusan. Mungkin agak telat. Kalian makan dulu, jangan tunggu.`

`Yulia: Baik. Hati-hati. Kalau sudah selesai, kabari.`

Belum sempat ia menutup aplikasi, pesan lain masuk.

Maya Santoso.

`Maya: Sopir kecil, lagi apa? Bianca bilang hari ini kamu lagi-lagi membuatnya untung besar.`

Arka menatap layar tanpa langsung menjawab.

Maya tidak pernah bertanya karena sekadar ingin tahu. Wanita itu selalu punya pancing, kail, dan kolamnya sendiri.

Pesan berikutnya muncul.

`Maya: Bantu apa? Aku juga mau dengar.`

`Maya: Jangan diam.`

`Maya: Cepat cerita ke Kak Maya, seberapa hebat sopir kecilku hari ini.`

Arka berpikir sebentar, lalu mengetik.

`Arka: Kak Maya, itu urusan rahasia perusahaan. Saya tidak boleh membuka detail.`

Balasan datang hampir seketika.

`Maya: Wah, sekarang sudah bisa bicara seperti pejabat.`

`Maya: Aku tanya Bianca, dia tidak mau cerita. Katanya tanya sendiri ke kamu.`

`Maya: Jadi, cerita.`

Arka tidak percaya Bianca menyuruh Maya bertanya padanya. Kalau itu benar, Monas mungkin besok pagi pindah ke Bekasi.

Ia mengetik lagi.

`Arka: Kalau Bu Bianca tidak cerita, berarti ada alasan. Saya lebih tidak boleh cerita.`

Beberapa detik hening.

Lalu Maya mengirim video.

Arka membukanya.

Matanya langsung menyipit.

Video itu berasal dari dapur Vila Bukit Menteng. Sudut kameranya tidak terlalu jelas, tetapi cukup memperlihatkan tubuh Maya yang duduk di meja marmer, tepung berantakan, dan Arka yang terlalu dekat dengannya.

Maya benar-benar menyimpan kartu.

Ponselnya langsung bergetar. Panggilan masuk dari Maya.

Arka menarik napas dan mengangkat.

Suara Maya terdengar manis, nyaris malas.

"Aduh, sopir kecil. Maaf ya. Barusan jariku terpeleset. Video itu hampir saja kukirim ke Jaya."

Arka menyandarkan kepala ke kursi.

"Untung terpeleset ke saya."

"Kamu tidak takut?"

"Takut. Tapi kalau video itu sampai ke Bang Jaya, Kak Maya juga harus menjelaskan kenapa yang lebih aktif di rekaman bukan saya."

Hening.

Tawa Maya berhenti.

Saat ia bicara lagi, suaranya lebih dingin.

"Sayapmu mulai tumbuh, Arka."

"Belum. Saya cuma sedang mengingatkan bahwa kita duduk di perahu yang sama. Kalau Kak Maya melubangi perahu itu, saya basah, Kak Maya juga tidak kering."

Maya diam beberapa detik.

Arka bisa membayangkan wanita itu menyipitkan mata, mungkin sambil memutar gelas wine di tangannya. Maya tidak suka kehilangan kendali. Tetapi ia juga cukup pintar untuk tahu Arka tidak lagi selemah pria yang ia tarik ke mobil pertama kali.

"Jangan terlalu percaya diri."

"Tidak berani."

"Berani sekali."

Panggilan ditutup.

Arka menurunkan ponsel. Senyum kecilnya hilang. Maya indah dan berbahaya. Di satu sisi ia membuka pintu untuk Arka mendekati Bianca. Di sisi lain, ia jelas punya agenda yang tidak pernah ia letakkan di meja.

Apa sebenarnya yang ia incar dari Bianca?

Sebelum pikirannya bergerak lebih jauh, pintu lift basement terbuka.

Arka menyimpan ponsel.

Bianca keluar lebih dulu.

Ia sudah mengganti setelan kantor dengan gaun beludru biru tua yang jatuh elegan sampai betis. Warna itu membuat kulitnya tampak lebih putih, dan garis lehernya sederhana tetapi cukup membuat mata pria normal berhenti setengah detik lebih lama.

Di belakangnya muncul Liana.

Arka langsung merasa kepalanya sedikit sakit.

Liana memakai blus putih dan rok pendek hitam, tampak rapi seperti sekretaris manis sampai senyumnya muncul.

"Hai, pacar."

Bianca menoleh padanya.

Liana langsung memperbaiki, "Maksudku, mantan pacar palsu yang masih dalam masa evaluasi."

Arka membuka pintu mobil. "Kenapa kamu ikut?"

"Bu Bianca memintaku menemani. Katanya malam ini kamu akan memberi terapi kepala. Aku datang sebagai pengawas moral."

"Kamu?"

"Ada masalah?"

"Tidak. Pengawas moral biasanya tidak mengajak orang check-in hotel."

Liana tersenyum manis. "Justru karena pengalaman lapangan."

Bianca masuk ke kursi belakang dan membuka dokumen. Ia tidak menegur. Entah tidak dengar, atau memilih tidak mendengar.

Liana duduk di sebelahnya, lalu mencondongkan tubuh ke depan.

"Arka, kamu kelihatan tegang. Takut menghadapi dua wanita cantik?"

"Saya takut mobil ini berubah jadi ruang sidang."

"Kalau begitu mengemudi yang baik."

Arka menyalakan mesin. Cullinan keluar dari basement dan masuk ke jalan malam Jakarta.

Awalnya Bianca membaca dokumen. Namun kelelahan di wajahnya jelas terlihat. Tidak lama, ia menutup map dan menyandarkan kepala.

Liana justru terlalu segar.

Ia berbisik ke telinga Bianca, entah mengatakan apa. Bianca menahan senyum. Setelah itu Liana kembali maju ke antara kursi depan.

"Arka, kamu bisa baca garis tangan?"

"Saya sedang menyetir."

"Sebentar saja."

Liana menyodorkan telapak tangan ke depan, hampir menyentuh pipi Arka.

"Saya tidak terlalu ahli membaca garis tangan. Biasanya saya melihat wajah."

"Oh?" Liana mendekat lagi. "Kalau begitu lihat wajahku. Aku tipe wanita pembawa rezeki atau pembawa masalah?"

Arka melirik dari kaca spion. Mata Liana berbinar penuh jebakan.

"Wajahmu cantik, rezekinya besar."

Liana tersenyum puas.

"Tapi?"

"Tapi pria yang mendekat harus punya nyali panjang. Kalau tidak, belum kaya sudah stres duluan."

Liana menepuk sandaran kursi.

"Kamu bilang aku sumber masalah?"

"Saya bilang kamu butuh pria kuat."

"Lalu kamu kuat?"

Arka pura-pura fokus pada jalan.

Bianca akhirnya membuka mata. "Liana, jangan ganggu dia menyetir."

"Bu Bianca membela dia?"

"Aku membela nyawaku."

"Alasan yang sangat formal." Liana merangkul lengan Bianca. "Padahal Bu Bianca paling jarang membiarkan pria masuk rumah. Sekarang malah minta terapi kepala."

Bianca menatapnya.

Liana langsung tersenyum polos.

"Aku hanya kagum pada kemajuan hubungan kerja."

"Kalau masih bicara, besok laporan meeting kamu tambah."

"Aku diam."

Tiga detik kemudian, Liana menatap kaca spion dan membuat gerakan bibir tanpa suara.

Kamu tidak akan lolos.

Arka melihatnya dan hampir tertawa.

Mobil masuk ke kawasan perumahan elit. Vila Bianca berdiri tenang di balik gerbang tinggi, jauh lebih modern daripada rumah Leon, dengan taman minimalis, kolam kecil, dan lampu hangat di sepanjang jalan masuk.

"Sudah sampai, Bu Bianca."

Bianca membuka mata dan memijat pelipis. "Terima kasih."

Liana sudah turun lebih dulu. Ia berjalan ke sisi Arka, lalu tiba-tiba menggandeng lengannya.

"Aku bantu mengawal terapis masuk."

"Aku bukan tahanan."

"Belum."

Bianca melihat mereka dari depan pintu, menggeleng pelan, lalu masuk lebih dulu.

Di dalam vila, ruang tamunya luas dan rapi. Tidak ada barang berlebihan. Semuanya mahal, dingin, dan terkontrol. Lukisan abstrak di dinding, sofa abu-abu, meja kaca, rak buku tertutup, dan aroma kayu manis tipis dari diffuser.

Bianca melepas outer tipisnya. Gaun beludru biru itu mengikuti garis tubuhnya dengan tenang. Ia tampak lelah, tetapi justru kelelahan itu membuat sisi dinginnya sedikit melunak.

"Kalian duduk. Aku ganti pakaian dulu."

Ia naik ke lantai dua.

Begitu Bianca menghilang, Liana melepas genggaman Arka dan menjatuhkan diri ke sofa seperti kucing yang menguasai rumah orang.

"Nah, pacar."

"Jangan panggil begitu di rumah Bianca."

"Kenapa? Takut?"

"Belajar dari hotel, kamu yang sering mulai lalu panik sendiri."

Wajah Liana langsung merah.

"Itu kecelakaan strategi."

"Strategimu banyak kecelakaan."

Liana melempar bantal sofa ke arahnya. Arka menangkapnya.

"Serius," kata Liana, matanya menyipit. "Kamu dan Bu Bianca benar-benar hanya hubungan kerja?"

"Apa lagi?"

"Dia tidak pernah mengizinkan pria masuk sedekat ini. Apalagi malam-malam. Apalagi terapi kepala."

"Karena saya dokter."

"Kamu bukan dokter."

"Terapis?"

"Kamu juga bukan terapis."

"Sopir multiguna."

Liana memutar mata.

"Aku cemburu."

Arka menatapnya.

"Pada saya?"

"Pada Bu Bianca."

Jawaban itu membuat Arka berhenti sesaat.

Liana menyilangkan kaki, tampak puas karena berhasil membuatnya bingung.

"Apa? Dua wanita cantik dalam satu rumah, dua-duanya butuh sentuhan penyembuhan. Bukankah itu impian laki-laki?"

"Kamu membuat terapi terdengar seperti kejahatan."

"Kalau pikiranmu bersih, kenapa merasa begitu?"

Arka belum sempat menjawab.

Langkah kaki terdengar dari tangga.

Bianca turun dengan pakaian rumah warna putih gading. Rambutnya yang tadi rapi kini dibiarkan jatuh di satu bahu. Tanpa setelan kantor dan tanpa ekspresi dingin perusahaan, ia tampak lebih dekat, tetapi justru lebih sulit diabaikan.

"Kalian membicarakan apa?"

Liana langsung mengangkat tangan.

"Aku sedang mendaftar giliran. Setelah Bu Bianca terapi kepala, aku juga mau."

Bianca berhenti di anak tangga terakhir.

"Kamu sakit kepala juga?"

"Belum. Tapi pencegahan lebih baik daripada pengobatan."

Arka menutup wajah dengan satu tangan.

Liana tersenyum lebar.

"Dua wanita cantik, dua kali terapi. Arka harus bersyukur."

Bianca menatap Arka.

Arka menurunkan tangan dan berkata datar, "Saya mulai merasa ini bukan kunjungan medis biasa."

Liana tertawa.

Bianca berusaha menjaga wajah tenang, tetapi sudut bibirnya tetap bergerak.

"Kalau begitu, Pak Sopir Konsultan, buktikan kemampuan medismu dulu."

Arka berdiri.

Malam itu baru mulai.

1
Sampe Batara
bagus menarik untuk dibaca
Don Juan
Lanjut Thor
Sampe Batara
👍 menarik untuk dibaca
Ismed Aidil
sudah 3 hari gak bisa lanjutan cerita, ya saya hapus aja aplikasi ini ! kecewa banget !
Jefry Maarebia
kalau di baca enak alur ceritanya ,aku puas membacanya ,lanjut..bosku.......
Ismed Aidil
mantap...lanjut thor !
Ismed Aidil
wau seru banget
Don Juan
Mantap thor👍
Ismed Aidil
lanjut cerita
Eva Rosita
up yg banyak and tiap hari ya thor💪
Ismed Aidil
seru sekali cerita nya
Don Juan
Good job Thor
Ismed Aidil
tambah seru !
Dian Purnomo
lanjut thor
Dian Purnomo
tnkyu thor
Don Juan
Terima kasih updatenya thor👍
Don Juan
Ditunggu kelanjutan ceritanya thor👍
Don Juan
Good job
Ismed Aidil
seru, lanjut !
Ismed Aidil
seru banget ! lanjut !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!