Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Drama Cowo yang tertarik kepada Lyra
Atmosfer di kelas X-3 SMA Bangsa siang itu terasa lebih gerah dari biasanya.
Bukan hanya karena pendingin ruangan yang sedang tidak berfungsi maksimal, melainkan karena drama remaja yang kembali dipentaskan di barisan bangku tengah.
Di sana, duduk dua orang sahabat karib yang sudah berteman sejak masa orientasi: Lyra, gadis anggun yang selalu fokus mencatat pelajaran sejarah, dan Rian, teman setia sebangkunya yang selalu siap dengan stok lelucon dan bekal makanan yang melimpah.
Namun, ketenangan sudut bangku mereka hari ini terusik oleh kehadiran Bima, cowok dari kelas sebelah yang akhir-akhir ini secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya kepada Lyra.
Bima bukanlah tipe pengagum rahasia yang suka menyelipkan surat cinta di bawah kolong meja.
Ia adalah tipe cowok yang agresif, percaya diri tinggi, dan tidak malu menyuarakan isi hatinya di depan seluruh penghuni kelas X-3.
"Lyra! Sumpah, jepit rambut warna biru yang kamu pakai hari ini bikin tingkat kefokusan aku buyar seratus persen!" seru Bima lantang sambil bersandar di kusen pintu kelas X-3, memegang sebuah kotak susu stroberi dingin.
Beberapa siswa yang sedang asyik mengobrol langsung menoleh dan bersorak menggoda, "Ciee! Bima beraksi lagi! Gas terus, Bim!"
Lyra hanya menghela napas pelan. Wajahnya agak merona karena malu menjadi pusat perhatian, namun ia tetap berusaha mempertahankan ekspresi anggun dan tenangnya.
Ia tidak merespons titipan gombalan itu dan memilih kembali menatap buku sejarahnya.
Di sebelahnya, Rian melirik Bima dengan tatapan malas. Sebagai teman sebangku yang paling tahu batasan kenyamanan Lyra, Rian bisa membaca perubahan gestur sahabatnya itu.
Lyra tidak menyukai perhatian yang terlalu berlebihan.
"Woi, Bim! Mending kamu balik ke kelasmu deh. Itu susu stroberi kalau kelamaan dipegang bisa berubah jadi susu hangat. Lagian, Lyra lagi mau ngerjain tugas, jangan diganggu," sahut Rian dengan nada santai namun tegas, mencoba mencairkan ketegangan sekaligus pasang badan untuk Lyra.
Bima tertawa remeh, lalu melangkah masuk ke dalam kelas X-3 mendekati meja mereka.
"Santai dong, Rian. Aku kan cuma mau ngasih ini ke Lyra, bukan mau ngajak kamu berantem. Nih, Lyra, buat nemenin kamu belajar sejarah biar nggak bosan," ucap Bima sambil meletakkan kotak susu itu tepat di atas meja Lyra.
Sebelum Lyra sempat menolak, Rian dengan gerakan kilat mengambil susu tersebut dan meminumnya menggunakan sedotan yang sudah terpasang.
Slurp.
"Wah, makasih banget ya, Bim! Kebetulan tenggorokan aku lagi kering habis baca bab perang dunia. Kamu emang pengertian banget jadi temen kelas sebelah," ujar Rian sambil tersenyum tanpa dosa, memperlihatkan kotak susu yang kini sudah kempis setengah.
"Hahahaha...."
Anak-anak kelas X-3 yang melihat aksi nekat Rian langsung meledak dalam tawa. Bima mendengus kesal, mukanya sedikit melipat.
"Yee, dibilang buat Lyra malah kamu yang sikat, Yan! Ya sudahlah, awas ya kamu. Lyra, aku balik ke kelas dulu ya, dadah Lyra cantik!" seru Bima sambil melambaikan tangan heboh sebelum akhirnya melangkah pergi karena bel masuk berbunyi.
Begitu Bima hilang dari pandangan, Lyra langsung menoleh ke arah Rian.
Ketegangan di bahunya mendadak runtuh, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa.
"Rian, kamu bener-bener nekat ya. Tapi... makasih banyak. Aku tadi bingung banget mau nolak gimana biar dia nggak tersinggung."
Tuk... (Suara pelan meletakkan kotak susu kosong ke dalam laci meja)
Rian meletakkan kotak susu stroberi yang sudah kosong ke dalam laci mejanya, lalu menepuk dadanya bangga.
"Tenang aja, Ly. Selama aku masih duduk di bangku sebelah kamu, jaminan keamanan dari gangguan cowok-cowok agresif kayak Bima itu gratis seumur hidup. Lagian, susunya lumayan enak, gratisan lagi."
Lyra tertawa kecil, suara tawa yang renyah dan menenangkan.
Di dalam hatinya, ia sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Rian.
Di usia remaja di mana batasan antara pertemanan dan perasaan romantis sering kali kabur, Rian tetap konsisten berdiri di garis batas sebagai teman setia.
Rian tidak pernah memanfaatkan kedekatan mereka untuk mencari keuntungan pribadi atau ikut-ikutan menggoda Lyra.
Ia murni menjaga Lyra karena ia menghargai persahabatan mereka yang tulus.
Namun, perjuangan Rian menjaga kenyamanan Lyra tidak berhenti di siang itu saja.
Bima tampaknya memiliki cadangan rasa percaya diri yang tidak ada habisnya.
___________________
Keesokan harinya saat jam istirahat, kelas X-3 kembali kedatangan Bima.
Kali ini, ia membawa gitar akustik milik salah satu temannya.
Kriet...
Tanpa permisi, Bima menarik sebuah kursi kosong dan duduk tepat di depan meja Lyra dan Rian.
Suasana kantin yang ramai sengaja ia lewatkan demi melancarkan aksi romantisnya di dalam kelas yang agak sepi.
"Lyra, dengerin ya. Lagu ini khusus aku ciptain—maksudnya aku hafalin semalaman buat kamu," kata Bima percaya diri.
Ia mulai memetik gitar dengan kunci-kunci dasar, mencoba menyanyikan sebuah lagu cinta populer dengan suara yang sebenarnya lumayan merdu.
Anak-anak perempuan kelas X-3 yang tersisa di dalam kelas langsung berkumpul di pojokan, berbisik-bisik heboh sambil merekam momen tersebut dengan ponsel mereka.
Lyra yang sedang membaca novel mendadak kaku. Ia merasa sangat canggung dan tidak nyaman dengan aksi sepihak Bima yang terlalu mengekspos dirinya di depan umum.
Rian yang sedang asyik bermain game di ponselnya langsung mematikan layarnya.
Ia melihat wajah Lyra yang mulai menunduk dalam, mencoba bersembunyi di balik lembaran novel.
Rian tahu, ini saatnya ia beraksi lagi sebagai benteng pertahanan. Rian tidak marah atau membentak Bima.
Klring! (Terdengar bunyi nyaring karena penggaris)
Rian justru mengambil penggaris besi panjang milik Lyra yang ada di atas meja.
Tepat saat Bima mencapai bagian reff lagu yang penuh penghayatan, Rian mulai mengetuk-ngetukan penggaris besi itu ke pinggiran meja kayu dengan ritme yang sangat berantakan dan bising.
Trak! Trak! Trak!
"Asyik! Lanjutkan Bim! Gua bagian perkusi ya!" seru Rian dengan suara sengau yang sengaja dibuat jelek, lalu ikut bernyanyi dengan lirik yang asal-asalan dan meleset jauh dari nada asli.
"Kau yang tertulis di al-ur-an... eh salah, di lauful mahfuz... ayo Bim, bareng!"
Suara genjrengan gitar Bima langsung buyar berantakan karena ketukan penggaris Rian yang sangat berisik dan merusak estetika lagu.
Anak-anak yang tadinya menonton aksi romantis itu malah tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana Rian dengan sukses mengacaukan suasana puitis yang dibangun Bima.
"Aduh, Rian! Rusak semua konsep gua!" protes Bima, menurunkan gitarnya dengan wajah frustrasi.
"Lu mending pergi ke kantin sana, beli siomay atau apa gitu, jangan jadi obat nyamuk di sini!"
Rian tertawa lepas, meletakkan penggaris besi itu kembali ke tempatnya.
"Yah, Bim, kan gua mau mendukung bakat bermusik lu. Tapi kalau lu mau akustikan terus, mending di ruang seni aja, di sana akustiknya bagus. Di sini kasihan Lyra, dia lagi pusing baca novel misteri, nanti malah ketukar alur ceritanya sama lirik lagu lu."
Bima menatap Lyra, yang sekarang sudah tidak kaku lagi melainkan sedang menahan senyum di balik novelnya.
Sadar bahwa usahanya hari ini kembali digagalkan oleh kombinasi kecerdikan Rian dan sikap pasif Lyra, Bima akhirnya menyerah. Ia berdiri sambil membawa gitarnya.
"Oke, oke, gua mengalah hari ini. Tapi besok gua bakal datang lagi dengan rencana yang lebih matang!" ancam Bima bercanda sebelum melangkah keluar kelas.
Tap.. tap.. tap...
Setelah Bima pergi, Lyra menurunkan novelnya. Mata indahnya menatap Rian dengan binar penuh rasa terima kasih.
"Rian, kamu bener-bener perusak suasana paling hebat yang pernah aku kenal."
Rian terkekeh sambil kembali membuka ponselnya.
"Itu bukan merusak suasana, Ly. Itu namanya menyelamatkan sahabat dari zona canggung tingkat internasional. Lagian, aku tahu kamu paling anti sama hal-hal yang terlalu dramatis kayak gitu di depan kelas."
Lyra mengangguk setuju.
Di tengah hiruk-pikuk masa SMA yang penuh dengan tekanan untuk memiliki pasangan atau bersikap populer, kehadiran Rian yang stabil dan protektif sebagai seorang teman sejati adalah hal paling berharga bagi Lyra.
Rian membuktikan bahwa persahabatan antara laki-laki dan perempuan bisa berjalan dengan murni, tanpa ada perasaan yang egois, melainkan saling menjaga dan menghormati batasan masing-masing.
Bersambung ~~~
hayy guyss!! semoga suka cerita nya ya!! 🤗
Jangan lupa follow akunnya, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow
See you~~