Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Rina memilih bertemu di mushala kecil dekat klinik umum di Tebet.
Tempat itu ramai menjelang zuhur. Orang keluar masuk. Penjual minuman berdiri di depan gang. Motor parkir berdesakan. Pilihan lokasi itu cukup cerdas. Terlalu terbuka untuk penculikan, terlalu biasa untuk dicurigai.
Alya datang dengan Yusuf.
Ia memakai masker dan kerudung longgar, bukan untuk menyamar dramatis, hanya agar tidak langsung dikenali sebagai menantu baru Pradipta yang sedang ramai dibicarakan di grup WhatsApp keluarga elite.
Rina duduk di bangku samping mushala.
Perempuan itu berusia awal tiga puluhan, wajah lelah, tangan menggenggam tas kanvas seperti memegang pelampung. Begitu melihat Alya, ia berdiri terlalu cepat.
"Nyonya Alya?"
"Duduk."
Rina duduk lagi.
Yusuf berdiri beberapa meter dari mereka, cukup dekat untuk bertindak, cukup jauh agar percakapan tidak terdengar jelas.
Alya menatap Rina. "Lilis bilang kamu pernah merawat Arga."
"Iya. Hampir dua tahun."
"Lalu dituduh mencuri."
Mata Rina memerah. "Saya tidak mencuri."
"Aku tahu. Kalau kamu mencuri, kamu tidak akan menyimpan catatan obat."
Rina mengeluarkan flashdisk kecil dari dalam tas. Tangannya gemetar.
"Ini salinan foto catatan manual. Saya juga punya rekaman suara Bu Marni dan Dokter Hamzah beberapa kali. Tidak semuanya jelas, tapi ada."
Alya tidak langsung mengambil. "Kenapa kamu menyimpan?"
Rina menunduk. "Karena saya takut suatu hari Tuan Arga mati dan semua kesalahan dilempar ke perawat."
Jawaban itu realistis.
Bagus.
"Kenapa baru muncul sekarang?"
"Karena Lilis bilang Nyonya menghentikan obatnya." Rina menatap Alya dengan takut dan harap bercampur. "Saya pikir... mungkin akhirnya ada orang yang bisa melawan."
"Kamu pikir aku bisa?"
"Saya tidak tahu. Tapi Nyonya berani membuat Bu Ratna marah di hari pernikahan. Orang biasa tidak akan berani."
Alya mengambil flashdisk itu.
"Apa isi catatan paling penting?"
Rina melihat sekitar, lalu mendekat sedikit.
"Obat cair itu mulai rutin tiga tahun lalu. Sebelumnya Tuan Arga memang sakit, tapi masih bisa jalan lebih sering. Masih bisa membaca laporan perusahaan. Kadang ikut rapat lewat video. Setelah obat itu, beliau makin sering tidur, makin sulit bicara lama. Dokter Hamzah bilang penyakitnya berkembang."
"Siapa yang memerintahkan obat?"
"Dokter Hamzah yang menulis. Bu Marni yang memastikan diberikan. Tapi beberapa kali saya dengar Bu Marni berkata, 'Nyonya Ratna minta dosis jangan dikurangi dulu.'"
"Dosis pernah dinaikkan?"
"Iya. Setiap kali ada kabar Pak Bima ingin membawa Tuan Arga ke rapat keluarga, malam sebelumnya dosis dinaikkan. Besoknya Tuan Arga pasti tidak kuat bangun."
Mata Alya dingin.
"Ada catatan tanggal?"
"Ada."
"Pembayaran?"
"Saya tidak tahu detail. Tapi obat dan dokter selalu dibayar dari rekening operasional rumah utama, bukan dari rumah Tuan Arga."
Alya menyimpan flashdisk.
"Kamu tahu risiko memberikan ini padaku?"
Rina mengangguk. Air matanya jatuh. "Saya sudah kehilangan pekerjaan. Nama saya sudah jelek. Klinik tempat saya bekerja sekarang pun hampir menolak saya karena tuduhan itu. Kalau saya diam terus, saya tetap takut. Kalau bicara, setidaknya takut saya ada gunanya."
Kalimat itu membuat Alya diam sesaat.
Takut yang ada gunanya.
Ia menyukai itu.
"Aku akan minta orang memeriksa tuduhan pencurianmu. Kalau memang palsu, namamu akan dibersihkan."
Rina menutup mulut. "Nyonya..."
"Jangan berterima kasih dulu. Ini belum selesai."
Rina mengangguk cepat.
Ponsel Yusuf bergetar. Ia melihat layar, lalu mendekat.
"Nyonya, ada mobil hitam berhenti di ujung gang sejak kita datang. Orangnya tidak turun."
Rina langsung pucat.
Alya berdiri. "Kamu pergi lewat belakang mushala. Yusuf, antar dia sampai naik ojek online."
"Bagaimana dengan Nyonya?"
"Aku keluar depan."
Yusuf tampak ragu.
"Itu perintah," kata Alya.
Yusuf mengangguk.
Rina berbisik, "Nyonya hati-hati."
Alya berjalan keluar sendiri.
Mobil hitam itu memang ada.
Kaca gelap. Mesin menyala. Bukan mobil Ratna. Terlalu sederhana. Mungkin orang suruhan. Mungkin hanya pengintai.
Alya tidak berlari.
Ia justru berjalan ke warung minuman di dekat mobil, membeli air mineral, lalu menatap kaca mobil itu cukup lama.
Ponselnya ia angkat.
Ia memotret plat nomor.
Mobil itu langsung bergerak.
Alya tersenyum tipis.
Amatir.
Ketika kembali ke kediaman Arga, ia menemukan Arga sedang menunggu di ruang kerja kecil lantai dua.
Ruang kerja itu dulu tertutup. Pagi tadi Alya meminta Yusuf membuka kunci. Di dalamnya ada meja besar, rak buku berdebu, dan beberapa dokumen lama Pradipta Group yang tidak pernah disentuh karena pemiliknya terlalu sering dibuat tidur.
"Kamu lama," kata Arga.
"Kamu menghitung?"
"Aku pasien. Waktuku banyak."
Alya meletakkan flashdisk di meja. "Rina punya catatan."
Arga menatap benda kecil itu.
"Apa katanya?"
Alya menceritakan singkat.
Tidak semua detail. Cukup untuk membuat wajah Arga berubah dari pucat menjadi dingin.
"Setiap kali Ayah ingin membawaku ke rapat..."
"Dosis dinaikkan."
Arga menutup mata.
Tangannya di atas meja mengepal. Gemetar, tetapi bukan karena obat.
"Aku ingat," katanya pelan. "Beberapa kali Ayah datang. Dia bilang, kalau aku lebih sehat, dia ingin aku ikut mendengar rapat direksi. Malamnya aku selalu tidur berat. Besoknya Marni bilang aku demam atau tekanan darahku turun."
Alya tidak menyela.
"Aku pikir tubuhku memang tidak berguna."
Kalimat itu keluar datar.
Terlalu datar.
Justru karena itu terdengar menyakitkan.
Alya memasukkan flashdisk ke laptop khusus yang tidak terhubung ke jaringan rumah. File terbuka satu per satu. Foto catatan obat. Tanggal. Jam. Inisial. Rekaman suara. Semua belum cukup rapi untuk langsung menyerang, tetapi cukup untuk menyusun pola.
Arga menatap layar.
Pada satu foto, terlihat catatan: `malam sebelum RUPS keluarga, dosis 15 tetes`.
Ia tertawa tanpa suara.
"Aku bahkan tidak tahu ada RUPS keluarga."
"Mereka tidak ingin kamu tahu."
"Daren hadir?"
"Kemungkinan."
"Rafi?"
"Mungkin tidak. Saat itu dia masih tidak dianggap."
Arga menoleh. "Kamu tahu banyak tentang Rafi."
Alya tetap melihat layar. "Aku tahu banyak tentang banyak orang."
"Kamu menghindar."
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena kamu belum perlu tahu."
Arga diam beberapa detik.
"Apakah kamu pernah mencintainya?"
Alya berhenti mengetik.
Pertanyaan itu akhirnya datang.
Ia menoleh.
Arga menatapnya dengan wajah tenang, tetapi matanya tidak.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Karena Nabila memilih Rafi seperti orang yang tahu sesuatu. Karena kamu tidak terkejut. Karena setiap kali namanya disebut, kamu tampak seperti melihat kesalahan lama."
Alya bersandar.
"Cinta bukan kata yang tepat."
"Berarti ada sesuatu."
"Ada pengalaman."
"Dengan Rafi?"
"Dengan orang seperti dia."
Arga menatapnya lama.
"Kamu tidak akan menjawab."
"Belum."
"Aku harus percaya pada perempuan yang menyembunyikan masa lalunya?"
"Tidak harus."
"Tapi kamu ingin aku percaya."
"Aku ingin kamu berpikir. Kepercayaan bisa menyusul kalau kamu cukup hidup."
Arga tertawa pelan, kali ini getir.
"Kamu selalu kembali ke hidupku seolah itu proyek."
"Untuk sekarang memang."
"Dan setelah aku hidup?"
Alya menutup laptop.
"Setelah kamu hidup, kita bicara tentang kekuasaan."
Arga menatapnya.
"Kekuasaan?"
"Kamu putra Bima Pradipta. Kamu dibuat sakit setiap kali mendekati ruang keputusan. Kamu pikir semua ini hanya karena ibu tirimu tidak menyukaimu?"
Arga tidak menjawab.
"Ini soal kursi Daren. Soal saham. Soal siapa yang mengendalikan rumah sakit, yayasan, dan proyek besar. Kalau kamu sembuh, peta berubah."
"Dan kamu ingin peta berubah."
"Iya."
"Untukku?"
"Untuk kita."
Kata itu keluar tenang.
Namun ruangan terasa berubah.
Arga menatapnya seolah kata "kita" adalah benda asing yang baru diletakkan di meja.
"Kita," ulangnya.
"Kamu butuh orang yang bisa membuka jalan. Aku butuh identitas yang cukup kuat untuk menghancurkan orang-orang yang selama ini mengira aku bisa dibeli dengan budi."
"Dan kalau aku menolak?"
"Kamu boleh tetap menjadi korban."
Arga tersenyum.
Tidak lembut.
Berbahaya.
"Kamu pandai membuat orang tidak punya pilihan."
"Tidak. Aku menunjukkan pilihan yang selama ini disembunyikan."
Ponsel Alya bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal lain.
`Jangan gali masa lalu Arga kalau tidak ingin suamimu benar-benar mati.`
Alya membaca pesan itu, lalu memperlihatkannya kepada Arga.
Arga menatap layar.
Alih-alih takut, ia berkata pelan, "Kirim balasan."
"Apa?"
"Tulis: terlambat."
Alya menatapnya sebentar.
Lalu mengetik:
`Terlambat.`
Pesan terkirim.
Di ruangan kecil yang dulu berdebu itu, Arga Pradipta tersenyum untuk pertama kalinya seperti orang yang mengingat cara melawan.