Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
BRAK!
Kepala Kanza nyusruk ke atas meja kayu yang keras.
Tasya kaget bukan main.
“KANZA! Bangun! Lo jangan mati syahid di kelas statistik sekarang!”
Kanza membuka satu mata dengan susah payah.
“Gue nggak tidur, Tas... gue cuma memejamkan mata lima detik buat memvisualisasikan rumus tadi…”
Pak Rifa’i melotot.
“Kalau Saudari Kanza masih mengantuk, silakan berdiri di barisan belakang sampai kelas selesai.”
Kanza langsung berdiri tegap dengan sikap sempurna.
“Siap, Pak! Semangat pagi luar biasa!”
Tasya langsung menangkupkan wajah ke meja.
“Gue nggak kenal dia. Sumpah, ini orang asing nyasar ke kelas kita.”
Kanza akhirnya berdiri selama 15 menit di belakang, sambil pura-pura menulis di udara menggunakan jari telunjuknya.
Setiap kali dosen berbicara, dia mengangguk-angguk mantap seperti prajurit sedang upacara.
“Lo tuh… gue gak ngerti, lo dapet energi dari mana buat tetap malu-maluin begini,” bisik Tasya saat dosen sedang menulis di papan tulis.
“Energi ini berasal dari harapan masa depan dan kopi sachet yang tadi pagi gue minum, Bro,” bisik Kanza balik dengan bangga.
Sesi kelas akhirnya selesai. Pak Rifa’i melirik Kanza sejenak sebelum keluar dan berkomentar pendek.
“Saya tak tahu harus marah atau bersyukur punya mahasiswa seperti kamu. Kamu… benar-benar istimewa dalam artian yang sulit saya jelaskan.”
Kanza cengar-cengir lebar.
“Saya juga sering bingung sama diri sendiri, Pak. Terima kasih pujiannya!”
Setelah kelas berakhir, Tasya langsung merangkul Kanza Arumi dengan gemas.
“Lo gila, Kanza. Kalo suatu hari lo beneran jadi dosen gara-gara ketularan suami lo, gue bakal duduk paling depan di kelas lo sambil ngupil sebagai bentuk solidaritas!”
Kanza mengunyah permen karetnya dengan santai.
“Dan gue bakal kasih lo nilai A mutlak, karena lo adalah satu-satunya saksi sejarah yang setia nemenin gue dari zaman kegelapan sampai zaman pencerahan ini.”
Langkah kaki para mahasiswa mulai menyebar memenuhi koridor; sebagian menuju perpustakaan dengan wajah serius, sebagian lainnya menyerbu kantin seperti pasukan yang kelaparan.
Di antara kerumunan itu, Kanza dan Tasya melangkah dengan energi yang seolah tak kunjung habis, meski otak mereka baru saja diperas habis-habisan oleh materi regresi linear.
“Apa lo lapar?” tanya Tasya sambil merapikan jilbabnya yang sedikit berantakan tertiup angin koridor.
Kanza mengangguk lesu.
“Lapar lahir batin. Bukan cuma perut gue, jiwa gue juga kayaknya butuh diisi ulang. Setiap liat muka Pak Rifa’i, gue ngerasa kayak abis ditampar bolak-balik oleh kenyataan hidup yang pahit.”
Tasya tertawa keras hingga membuat beberapa mahasiswa menoleh heran.
“Lo tuh… drama mulu hidupnya! Udah, ke kantin aja dulu. Siapa tahu ada promo nasi goreng beli satu gratis sesi curhat sama ibu kantin.”
Setibanya di kantin, Kanza langsung memasang mode detektif, mengamati pengunjung yang duduk di meja-meja kayu panjang.
Matanya tertuju pada seorang pria yang masih mengenakan helm sepeda lengkap sambil makan bakso dengan lahap.
“Lo liat gak?” bisik Kanza dengan ekspresi sangat serius seolah sedang mengungkap konspirasi besar.
“Itu kan mas-mas yang waktu itu lo bilang jualan tahu bulat pake sepeda fixie? Kenapa dia makan bakso masih pake helm? Takut baksonya mental menembus tengkorak?”
Tasya melirik cepat, lalu menggelengkan kepala heran.
“Mungkin dia lagi simulasi balap karung, Tas. Ini kampus, bukan trek downhill!”
Kanza melangkah ke meja kasir dan memesan dengan nada yang membuat kasir tersebut bingung antara ingin tertawa atau kasihan.
“Mas, pesan nasi goreng satu. Telurnya setengah matang, ya. Kayak hidup saya yang kadang semangat membara, tapi kadang lembek pengen kabur ke luar negeri kalau liat angka statistik.”
Kasir tersebut sempat terdiam, memproses kalimat barusan sebelum tersenyum kikuk.
“Baik, Mbak... pesanan sesuai suasana hati, ya.”
Kanza kembali ke meja tempat Tasya sudah duduk manis menunggunya. Ia membuka totebag dan mengeluarkan sekantong keripik pedas level dewa yang langsung diserbu oleh jemari Bella.
“Eh, lo pernah kepikiran gak,” ucap Kanza tiba-tiba sambil menatap langit-langit kantin.
“Gimana kalau sebenernya kita ini cuma karakter fiksi dari cerita seseorang? Dan semua kejadian absurd dalam hidup kita termasuk insiden mandi pagi tadi tuh gara-gara penulisnya lagi iseng atau kurang ngopi?”
Tasya mengunyah keripik dengan bunyi keriuk yang nyaring, lalu menjawab dengan santai.
“Kalau iya, gue cuma mau bilang: penulisnya pasti penganut aliran chaos garis keras. Dan lo adalah tokoh utamanya yang paling banyak dapet jatah ngerjain pembaca.”
Kanza tertawa, lalu menunduk dan membuka ponselnya. Ia mengambil selfie dengan ekspresi wajah yang dibuat sedramatis mungkin, lalu mulai mengetik sebuah caption.
“Hari ini aku makan nasi goreng, besok mungkin makan hati karena revisi. Tapi satu hal yang pasti, aku tak akan pernah makan teman, karena teman itu keras dan susah dikunyah.” ucapnya membacakan caption tersebut dengan penuh penghayatan bak pembaca puisi profesional.
Tasya melirik ke layar ponsel sahabatnya, lalu tersenyum miring.
“Gue gak ngerti kenapa muka lo serius banget kayak lagi baca proklamasi, tapi caption-nya tetap aja berasa kayak status Facebook emak-emak yang lagi galau.”
Kanza hanya mengedikkan bahu dengan sombong.
“Gue ini karya seni berjalan, Tas. Lo yang penganut aliran realis gak akan pernah ngerti estetika keabsurdan gue.”
Beberapa mahasiswa melewati meja mereka, salah satunya menyapa singkat dengan senyum tipis.
Kanza menanggapi dengan anggukan ringan yang sangat sopan, namun setelah orang itu menjauh, ia langsung berbisik penuh intrik.
“Lo tau kan itu siapa? Itu si anak kelas sebelah yang kemarin bilang makalah lo lebih mirip cerpen cinta monyet daripada karya ilmiah.”
Tasya langsung mendengus sebal, “Iya, gue inget mukanya. Gue doain printer dia mogok total pas deadline skripsi tinggal lima menit lagi!”
Mereka tertawa bersama, suara tawa yang lepas dan tulus.
Suasana siang itu terasa ringan, seolah beban akademik dan segala tekanan kampus termasuk bayang-bayang Zahira yang mengintai suaminya hanyalah latar belakang dari dua sahabat yang tak pernah kehilangan cara untuk menjadikan hari-hari mereka lebih berwarna, lebih penuh kelakar, dan tentu saja, jauh lebih hidup.