NovelToon NovelToon
Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Healing / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Aku Bukan Pembantu yang Bisa Dibentak

"Kamu dipecat."

Kalimat itu jatuh begitu dingin sampai Sekar sempat tidak merasakan apa-apa.

Kevin masih duduk di sofa, menahan sakit di paha. Darren menatap Ardian dengan wajah panik. Di lantai, laptop yang pecah menjadi satu-satunya bukti bahwa barusan ada sesuatu yang benar-benar meledak.

Sekar menatap Ardian.

"Pak Tan serius?"

"Keluar."

Darren langsung maju. "Koko, jangan begitu. Mbak Sekar tadi..."

"Darren." Suara Ardian rendah. "Diam."

Darren berhenti seperti ditampar.

Sekar menarik napas. Tangannya masih terasa hangat bekas menggenggam tinju Ardian. Ia masih ingat bagaimana kaku dan panasnya tangan itu saat Kevin memancingnya. Ia juga masih ingat kata-kata Tan Hendrawan yang membuat pria itu seperti ditarik kembali ke jurang.

Ia bisa memahami luka.

Tapi memahami tidak berarti bersedia diinjak.

"Baik," kata Sekar pelan.

Darren menoleh cepat. "Mbak?"

Sekar melepas celemek dapur yang masih ia pakai sejak pagi, melipatnya, lalu meletakkannya di meja. Gerakannya rapi. Terlalu rapi untuk seseorang yang baru saja dipecat.

"Saya memang pengasuh. Saya bekerja untuk jadwal makan, jadwal pijat, dan kebutuhan Pak Tan selama masa kontrak. Tapi saya bukan samsak tinju."

Ardian menatapnya.

Sekar melanjutkan, suara tetap sopan, tetapi setiap kata berdiri tegak. "Kalau Pak Tan marah pada Kevin, marahlah pada Kevin. Kalau sakit karena ucapan Papa, itu urusan Pak Tan dan Papa. Jangan lempar semuanya ke orang yang tadi berdiri di depan kursi roda Pak Tan."

Wajah Ardian tidak berubah. Justru itu yang membuat dada Sekar lebih sesak.

Kevin tertawa kecil dari sofa. "Mbak pengasuh ternyata pandai ceramah."

Sekar menoleh padanya. "Pak Kevin, saya sudah tendang sekali. Jangan buat saya menyesal kenapa cuma sekali."

Tawa Kevin langsung hilang.

Darren seperti ingin berkata amin, tetapi menahannya.

Sekar mengambil ransel dari kursi samping. Koper kecilnya masih di kamar staf, belum sempat dibongkar. Ironis sekali. Ia datang sebagai nomor delapan puluh delapan dan bahkan belum melewati pagi kedua.

"Saya ambil barang dulu."

Ardian tidak menjawab.

Sekar berjalan melewatinya. Saat sampai di ambang pintu, ia berhenti sebentar tanpa menoleh.

"Pak Tan, orang yang menyakiti kita tidak selalu orang yang ada di depan kita. Kadang kita sendiri yang meneruskan pukulannya ke orang lain."

Setelah itu, ia pergi.

Rumah Tan di Menteng tetap luas, tetap mahal, tetap bersih. Tetapi saat Sekar menyeret koper keluar, rumah itu terasa lebih dingin daripada ketika ia datang.

Darren mengejarnya sampai teras.

"Mbak Sekar, tunggu. Aku bicara sama Koko dulu. Dia cuma..."

"Lagi marah?" Sekar tersenyum kecil. "Saya tahu."

"Dia tidak bermaksud."

"Pak Darren, kalau orang tidak bermaksud tapi tetap melukai, lukanya tetap ada."

Darren terdiam.

Sekar menepuk lengannya pelan. "Terima kasih bonusnya. Kalau bisa, minta bagian keuangan potong pajak yang benar."

Darren hampir menangis. "Mbak masih sempat mikir pajak?"

"Uang bersih lebih menenangkan."

Mobil ojek online yang dipesan Sekar berhenti di depan gerbang. Ia naik tanpa menoleh lagi. Baru setelah Rumah Tan menghilang dari kaca spion, bahunya turun.

Ia tidak menangis.

Setidaknya tidak di jalan.

Pijat Bahagia di Depok sedang ramai ketika Sekar sampai. Papan nama kuningnya agak pudar, tetapi ruang tunggunya hangat. Bau minyak kayu putih, teh tawar, dan handuk bersih menyambutnya seperti pelukan.

Budiman Bayu sedang memijat pelanggan lama di ruang depan. Begitu melihat Sekar membawa koper, gerak tangannya berhenti. Halim Meliana yang sedang melipat handuk juga langsung berdiri.

Mama menatap koper. Lalu wajah Sekar.

Sekar tersenyum. "Pulang cepat."

Papa melepaskan tangan pelanggan sebentar, memberi isyarat cepat: Ada yang menyakitimu?

Sekar menjawab dengan bahasa isyarat, Tidak apa-apa. Cuma pekerjaan tidak cocok.

Mama berjalan mendekat, menyentuh pipi Sekar. Ia tidak bertanya banyak. Hanya menarik Sekar ke pelukan. Di dalam pelukan itu, punggung Sekar akhirnya melemah.

"Mama," bisik Sekar, meski tahu suara itu tidak sepenuhnya didengar.

Meliana mengusap punggungnya. Dengan tangan satunya, ia memberi isyarat di dekat bahu Sekar.

Pulang dulu. Makan dulu. Menangis nanti juga boleh.

Sekar tertawa kecil, tetapi matanya panas.

Baru sepuluh menit ia duduk di ruang belakang sambil makan bubur ayam, suara motor berhenti di depan toko. Seorang perempuan paruh baya masuk dengan tas belanja besar. Di belakangnya, laki-laki muda dengan kemeja kantor mengikuti.

Bu Yati dan Gunawan Denny.

"Loh, Sekar?" Bu Yati langsung berseru. "Katanya kerja di rumah orang kaya Menteng. Kok sudah pulang? Jangan-jangan tidak kuat?"

Denny menatap koper di sudut ruangan. Ada sesuatu seperti puas di matanya, meski ia cepat-cepat menutupinya.

"Kerja di rumah konglomerat memang tidak gampang," kata Denny. "Orang seperti kita harus tahu diri."

Sekar meletakkan sendoknya.

Papa di depan menoleh. Mama juga menegang.

Sekar tersenyum. "Benar. Makanya kalau masuk rumah orang, saya tahu diri. Tidak seperti orang yang masuk hidup orang lain cuma untuk merasa lebih tinggi."

Wajah Denny berubah. "Aku cuma bicara baik-baik."

"Saya juga menjawab baik-baik."

Bu Yati mendecak. "Mulutmu itu, Kar. Pantas saja tidak betah kerja."

Mama mengangkat tangan, memberi isyarat cepat pada Sekar: Tidak perlu diladeni.

Sekar mengangguk. Ia mengambil mangkuknya lagi. "Bu Yati mau pijat? Kalau mau, daftar dulu. Kalau mau gosip, kursinya di luar. Anginnya lebih cocok."

Bu Yati tersinggung, tetapi pelanggan lain mulai melirik. Akhirnya ia hanya menggumam dan duduk di kursi tunggu.

Hari itu, Sekar membantu di Pijat Bahagia sampai malam. Ia menyiapkan teh, mencuci handuk, menerima pelanggan, menerjemahkan bahasa isyarat Papa pada pelanggan baru. Perlahan, napasnya kembali normal.

Sementara itu, di Rumah Tan, Darren berdiri di ruang kerja dengan ponsel menempel di telinga.

"Iya, Bu. Gaji dua kali lipat. Tidak, tiga kali juga boleh. Halo? Halo?"

Panggilan terputus.

Ia menatap daftar agensi pengasuh di tablet. Semua nama sudah diberi tanda merah.

Ditolak.

Ditolak.

Ditolak.

Handi, asisten Darren, berdiri di dekat pintu dengan wajah datar yang justru membuat kabar buruk terdengar lebih buruk.

"Pak Darren, saya sudah hubungi enam agensi tambahan."

"Hasilnya?"

"Dua langsung menutup telepon setelah mendengar alamat Menteng. Satu bilang semua staf seniornya tiba-tiba cuti. Satu lagi mengirim emoji menangis."

Darren menatapnya kosong. "Emoji?"

Handi mengangguk. "Ada juga grup internal pekerja rumah tangga. Rumah Tan masuk daftar hitam tidak resmi."

Darren memegang kepalanya. "Sejak kapan?"

"Sepertinya sejak Bu Susi membuat voice note perpisahan berdurasi tujuh menit."

Ruang kerja makin sunyi.

Di seberang meja, Tan Ardian duduk diam menghadap jendela. Di lantai, laptop yang pecah belum dipindahkan.

Darren menelan ludah.

"Koko," katanya hati-hati, "tidak ada yang mau jadi nomor delapan puluh sembilan."

1
sunaryati jarum
Beruntungnya kamu Sekar dicintai Tan Ardian dengan ugal-ugalan
sunaryati jarum
Itu juga emak nanti, Tante Nana yang ikut bulan madu sudah ada isi orok rahimnya
sunaryati jarum
Akhirnya kembali
sunaryati jarum
Tiga puluh negara berapa bulan tuh
sunaryati jarum
Itu aturan kamu lho mengganti kata maai😃😃
sunaryati jarum
Bulan madunya keliling dunia
sunaryati jarum
Sepertinya mau berbaikan dan balikan
sunaryati jarum
Semoga mereka . balikin lagi jadi suami istri dan kepulangan dari bulan madu ada kabar gembira dari Budiman Sekar, kecebong Tan Ardian ada yang tumbuh di rahim Sekar
sunaryati jarum
Perjuangan keluarga untuk mendapatkan pendengaran Ibu Melina berhasil
sunaryati jarum
Selamat akhirnya menikah cepat
sunaryati jarum
Nah gitu ,jika sudah menikah dimana pun tinggal bisa tidur bersama
sunaryati jarum
Maka segera nikahin Sekar, Setelah semua urusan hukum Kevin, Yenni,dan Felicia selesai
sunaryati jarum
Ternyata kau mempelajari bahasa dengan sungguh sungguh
sunaryati jarum
Bravo Ardian ,calon menantu idaman
sunaryati jarum
Dalam tidur saja kalau sudah bucin , yang teringat hanya Ardian
sunaryati jarum
Tan Hendrawan hanya bisa menyesal dan meratapi kebodohannya
sunaryati jarum
Nah Kevin dan Violeta yang merasa aman,akan diminta pertanggungjawabannya
sunaryati jarum
Ardian sudah mengumumkan pacarnya siapa
sunaryati jarum
Ingin merebut milik Tan Ardian,Kevin.Yang ada kehancuran kamu
sunaryati jarum
Dengan cinta semangat bangkit kembali ,Tan Ardian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!