"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Obat Salju di Bawah Sinar Bulan
Nama Wei Changqing menggema di setiap kedai teh dan penginapan Kota Lembah Anggrek menjelang senja hari.
Pertarungan satu tebasan yang menghancurkan pedang emas Zhao Kang dari Sekte Pedang Langit menjadi buah bibir ribuan pendekar. Sekte Lembah Bambu Biru—yang pagi harinya masih diremehkan dan ditempatkan di dekat kandang kuda umum—kini mendadak dihormati sebagai kuda hitam paling menakutkan di turnamen.
Di dalam ruang tengah Pondok Bambu Selatan Nomor 14, Zhou Hao sedang sibuk memperagakan kembali tebasan Changqing tadi siang di depan dua murid pembantu lainnya dengan penuh semangat.
"Kalian tidak lihat wajah si sombong Zhao Kang itu!" tawa Zhou Hao meledak-ledak. "Pedang emasnya hancur jadi berkeping-keping seperti kerupuk! Hahaha!"
Di sudut ruangan, Chen Wu duduk bersandar dengan perban herbal melingkari dadanya yang memar. Meski terluka, mata Kakak Senior Pertama itu menyala terang oleh kebanggaan.
"Changqing," kata Chen Wu saat Changqing masuk membawakan air minum hangat. "Kemenanganmu hari ini telah menyelamatkan harga diri sekte kita yang coba diinjak oleh Jiang Chen. Aku... aku sangat berterima kasih."
"Kita adalah satu keluarga sekte, Kakak Senior," jawab Changqing santai. "Tetaplah beristirahat malam ini. Memar di dadamu perlu waktu untuk pulih sebelum babak perempat final besok lusa."
Setelah memastikan Chen Wu dan Zhou Hao beristirahat, Changqing mengenakan jubah luarnya dan melangkah keluar pondok saat malam mulai pekat. Ia berniat mencari beberapa akar Ginseng Putih di toko herbal guna mempercepat pemulihan jaringan otot dada Chen Wu.
Namun, saat langkah Changqing melewati jalan setapak sunyi di pinggir sungai bambu di selatan kota, kepekaan inderanya menangkap kehadiran seseorang yang berdiri menunggu di bawah bayangan pohon besar.
Aroma harum anggrek putih dan salju pegunungan tercium samar.
Changqing menghentikan langkahnya dan tersenyum lembut. "Angin malam di pinggiran selatan ini cukup dingin untuk seorang gadis yang mengenakan jubah sutra tipis, Nona Shen Yue."
Sosok itu melangkah keluar dari balik bayangan di bawah rembulan purnama.
Shen Yue berdiri di sana. Wajah cantiknya diterangi cahaya bulan, membuat kulit seputih saljunya terlihat begitu agung. Rambut panjangnya berkibar pelan ditiup angin malam sungai.
"Aku... aku menyelinap keluar saat Kakak Senior Liu Fang sedang bermeditasi," ucap Shen Yue sedikit gugup, langkahnya mendekat dua jengkal ke arah Changqing.
"Apakah ada sesuatu yang mendesak hingga kau berani keluar sendirian ke pinggiran selatan ini?" tanya Changqing dengan nada yang hangat namun penuh perhatian.
Shen Yue mengeluarkan sebuah botol giok kecil berwarna putih salju dari balik jubahnya, lalu menyodorkannya ke tangan Changqing.
"Ini... ini adalah Salep Teratai Salju Seribu Tahun milik sekteku," jelas Shen Yue dengan pipi merona. "Aku melihat Kakak Seniormu Chen Wu terluka cukup parah di bagian dada saat melawan murid Sekte Pedang Langit siang tadi. Salep ini bisa menyembuhkan luka memar organ dalam hanya dalam satu malam."
Changqing tertegun menatap botol giok dingin di telapak tangannya. Salep pusaka Sekte Teratai Salju sangatlah berharga dan biasanya hanya diberikan kepada murid inti atau anggota keluarga yang dekat.
"Kenapa kau memberikannya untuk sekteku, Nona Shen Yue?" tanya Changqing lembut, menatap lurus ke mata jernih gadis itu.
Shen Yue menundukkan wajahnya sesaat, jarinya melilit ujung sabuk sutranya. "Karena... karena aku melihat bagaimana Sekte Pedang Langit sengaja mengincar dan melukai sektemu dengan cara yang licik. Jiang Chen... dia juga sering menekan sekteku dengan kesombongannya."
Shen Yue mengangkat kepalanya kembali, matanya bersinar dengan ketulusan yang murni. "Dan saat kau mencabut pedang hitammu siang tadi untuk membela kehormatan sektemu... aku merasa kau adalah pendekar sejati. Kau tidak bertarung demi kesombongan diri, tapi demi melindungi orang-orang di belakangmu."
Mendengar pengakuan jujur itu, hati Changqing berdegup hangat. Di kehidupannya yang dulu maupun di kehidupannya yang sekarang, hati yang tulus Shen Yue tidak pernah berubah. Gadis ini selalu mampu melihat kebenaran jiwa seseorang dari status dan tampilan luar.
Changqing menyimpan botol giok itu ke dalam jubahnya, lalu meneteskan sedikit tenaga dalam hangatnya ke telapak tangan Shen Yue yang dingin terkena angin malam.
"Terima kasih banyak, Shen Yue," ucap Changqing, suaranya begitu dekat dan akrab. "Kebaikan hatimu jauh lebih berharga dari seribu kemenangan di atas arena marmer itu."
Mendengar namanya dipanggil tanpa gelar formal oleh Changqing, jantung Shen Yue berdesir hebat. Alih-alih merasa marah atau risih seperti dua hari lalu, ia justru merasakan kehangatan yang membuat hatinya bergetar tenang—seolah-olah suara pemuda ini adalah rumah yang telah lama ia cari.
"J-Jaga dirimu baik-baik di babak perempat final lusa, Changqing," bisik Shen Yue tersipu malu sebelum berbalik melompat ringan melintasi jalan setapak, kembali menuju penginapan utara sebelum kepergiannya disadari tetua sektenya.
Changqing menatap punggung gadis yang ia cintai itu menghilang di balik tikungan jalan. Senyuman tipis terukir di bibirnya.
Namun, senyum Changqing perlahan memudar begitu sosok Shen Yue hilang dari pandangan.
Mata hitam pemuda 19 tahun itu berputar tajam ke arah atap bangunan gudang berjarak tiga ratus meter di seberang sungai. Di dalam pupil matanya, cahaya hijau zamrud menyala kilat membaca jejak energi di kegelapan malam.
‘Ada mata pembunuh tingkat tinggi yang memantau pergerakan penginapan utara dan selatan sejak sore tadi,’ batin Changqing dingin. ‘Napas energi-nya... beraroma darah teratai yang pekat dan beracun.’
Itu bukan mata-mata dari Sekte Pedang Langit.
Itu adalah pengintai dari Klan Teratai Darah! Konspirasi besar yang menjadi Akar Perang Kedua mulai menunjukkan bayangan taringnya di sekitar arena turnamen Lembah Anggrek.
lanjutkan Thor.....👍👍🙏