Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.
Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.
Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.
Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 6.
Di mansion Kensington.
Sania sedang duduk di ruang tamu ketika seorang pelayan lewat membawa dokumen. Wanita itu tanpa sengaja melihat nama Velicia tertulis di salah satu berkas.
Ekspresinya langsung berubah.
"Berikan itu padaku."
Pelayan tersebut ragu. "Ini adalah dokumen penting Tuan Michael."
"Aku hanya ingin melihat."
Pelayan akhirnya menyerahkan map itu, Sania membukanya cepat. Isinya laporan pencarian, foto-foto dan beberapa catatan. Dan nama Velicia yang muncul berkali-kali. Wajah Sania langsung menegang, Michael benar-benar masih mencari wanita itu.
Apa Michael masih memikirkan wanita itu? Padahal Velicia sudah pergi.
Bukankah seharusnya semuanya selesai?
Sania mulai kehilangan ketenangannya. Selama beberapa hari terakhir ini, Michael memang terus menyelidiki sesuatu. Pria itu bahkan beberapa kali menyebut nama Velicia saat berbicara dengan bawahannya, meski hanya dalam konteks penyelidikan. Dan itu semua membuat Sania tidak nyaman.
Malam itu ia sengaja memasuki ruang kerja Michael. "Aku membawakan makan malam."
"Taruh saja di sana." Michael masih membaca laporan.
Sania memaksakan senyumnya lagi, biasanya Michael akan langsung menghentikan pekerjaannya dan menemaninya. Namun sekarang, Michael memperlakukannya dengan cara yang sama persis seperti dulu pria itu memperlakukan Velicia saat wanita itu masih berada di sisinya—penuh ketidakpedulian dan sikap dingin yang menyakitkan.
"Michael."
"Hm?"
"Kau masih mencari Velicia?"
Michael akhirnya mengangkat kepala, tatapannya tajam terbaca. "Aku sedang mencari jawaban."
"Jawaban apa?"
"Kenapa semua ini terjadi."
Sania mencoba tetap tenang. "Mungkin hanya kebetulan."
Michael langsung menutup berkas di tangannya. "Kebetulan tidak pernah ada di dunia kita.“
Pria itu menghela napas panjang. “Sudahlah, tugasmu sekarang adalah menjaga kandunganmu, anak ini satu-satunya anak kakakku. Meskipun dulu aku menyesalkan keputusanmu menikah dengan Kak Fernando, aku tetap selalu menghormatinya. Jangan sampai terjadi apa-apa pada anak ini, Sania. Dia akan menjadi pewaris keluarga Kensington.”
“Michael, apa kamu perhatian padaku hanya karena anak ini? Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?” tanya Sania dengan suara lirih, terdengar menyedihkan.
Michael tampak terdiam, pertanyaan wanita itu membuatnya bingung. Apakah ia masih mencintai Sania, atau selama ini hanya terjebak dalam obsesi karena pernah kehilangan wanita itu?
“Istirahatlah...” ucap Michael akhirnya.
Pria itu tidak menjawab pertanyaan Sania, karena bahkan dirinya sendiri tidak yakin dengan isi hatinya. Sejak kepergian Velicia, pikirannya justru terus dipenuhi oleh wanita itu. Semakin ia berusaha mengabaikannya, semakin sering bayangan Velicia muncul dalam benaknya.
Sania menggigit bibirnya, ia merasa situasi mulai bergerak ke arah yang tidak bisa ia kendalikan. Namun pada akhirnya, ia membalikkan badan dan melangkah keluar.
Wanita itu baru saja keluar dari ruang kerja Michael ketika ponselnya bergetar. Begitu melihat nama yang muncul di layar, wajahnya langsung berubah. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada siapa pun di koridor mansion sebelum menjawab panggilan itu.
"Ada apa?" bisiknya pelan.
"Kau sudah mengabaikanku tiga hari." Suara pria di seberang terdengar kesal.
"Aku sedang di mansion."
"Aku tidak peduli! Aku ingin segera bertemu denganmu."
Sania menggigit bibirnya. "Sekarang tidak bisa."
“Hitung saja waktunya, Sania. Kandunganmu baru dua bulan, sedangkan mendiang suamimu sudah meninggal tiga bulan lalu. Fakta itu tidak bisa dibantah. Anak yang kau kandung... adalah anakku.”
Sania langsung memejamkan mata sesaat. Selama ini, semua orang percaya bahwa bayi yang dikandungnya adalah anak Fernando—mendiang suaminya yang juga kakak laki-laki Michael. Bahkan Michael pun meyakini hal itu. Padahal, kehamilan tersebut sama sekali tidak mungkin berasal dari Fernando. Anak yang ada di rahimnya adalah buah dari hubungannya dengan Ramon, pria yang selama ini menjalin hubungan terlarang dengannya.
Jika Michael sampai mengetahui bahwa anak yang ia kandung bukan darah daging Fernando, bukan keturunan keluarga Kensington—semuanya akan berubah. Pandangan Michael terhadapnya pasti tidak akan sama lagi. Dan yang paling menakutkan, pria itu mungkin akan membencinya.
Tidak! Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengetahui hal ini!
"Sania?"
"Aku dengar."
"Aku ingin bertemu."
Sania menghela napas panjang. "Baiklah, besok malam."
"Di tempat biasa?"
"Ya."
Baru setelah itu panggilan berakhir, Sania memegang ponselnya erat. Dadanya dipenuhi kecemasan, Ia tahu dirinya sedang bermain dengan api. Jika Michael sampai mengetahui kebenaran itu, semuanya akan hancur.
Michael mungkin masih mencintainya, tapi pria itu juga sangat membenci kebohongan. Dan apa yang ia lakukan sekarang adalah kebohongan terbesar dalam hidupnya.
Keesokan malam, Sania meninggalkan Mansion. Michael sedang sibuk menghadiri pertemuan dengan beberapa petinggi organisasi sehingga tidak terlalu memperhatikannya. Satu jam kemudian, di sebuah apartemen mewah di pusat kota. Pintu baru saja terbuka ketika seseorang langsung menarik Sania ke dalam.
"Kau lama sekali."
Ramon memeluk pinggang wanita itu tanpa ragu, Sania mendorongnya pelan.
"Jangan seperti ini."
Ramon malah tertawa kecil. "Kau sekarang tinggal bersama Michael, tentu aku cemburu."
Sania berjalan menjauh. "Jangan membahas itu."
"Aku serius." Ramon mengikuti dari belakang.
Pria itu berdiri di depan Sania lalu menatap perut wanita tersebut, tatapannya melembut. "Ini adalah anakku."
Sania menunduk menatap perutnya yang belum menonjol. Untuk sesaat, bahkan dirinya sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan.
"Kau seharusnya mengatakan yang sebenarnya pada Michael."
Ucapan Ramon membuat Sania langsung mengangkat kepala, matanya terlihat dingin. "Mustahil...!"
"Kenapa?"
"Karena jika Michael tahu bayi ini bukan anak Fernando, dia akan menyelidiki semuanya."
Ramon terdiam, Ia tahu itu benar. Michael bukan orang yang mudah dibohongi. Sekali pria itu curiga, seluruh rahasia mereka akan terbongkar.
"Kau takut padanya?"
“Aku takut kehilangan semua yang sudah susah payah kudapatkan! Aku bahkan berhasil menyingkirkan istri Michael yang sedang hamil dan tinggal menunggu waktu untuk melahirkan! Anakku harus menjadi satu-satunya pewaris keluarga Kensington. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut posisi itu!”
"Apa kau mencintai Michael?"
Sania tidak langsung menjawab, karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu. Dulu ia mencintai Michael, tapi keadaan membuat mereka berpisah. Lalu Fernando datang, kemudian Ramon. Dan sekarang Michael kembali berada di sisinya, tapi hati manusia tidak pernah sesederhana itu.
"Aku tidak tahu."
Ramon tertawa pahit. "Itu bukan jawaban, Sania!"
"Aku memang tidak tahu."
Ramon memalingkan wajah dengan wajah penuh amarah. "Aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh dengan menganggap pria lain sebagai ayahnya!"
Tubuh Sania langsung menegang, ketakutan benar-benar muncul di matanya. Karena ternyata ancaman terbesar bukanlah Michael yang sedang mencari Velicia, melainkan Ramon yang mulai tidak mau lagi bersembunyi. Dan jika pria itu nekat membuka mulut... maka seluruh kebohongan yang selama ini dibangun Sania akan runtuh dalam sekejap.
apa g nyesek tuh Michael 🤣🤣🤣🤣🤣🤣