"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Bel tanda pulang sekolah yang biasanya terdengar seperti nyanyian surga, sore ini justru terdengar layaknya sirene tanda bahaya di telinga Almeera.
Begitu guru Sejarah keluar dari kelas, Almeera buru-buru menjejalkan buku-bukunya ke dalam tas dengan kasar. Pikirannya masih mendidih mengingat kejadian di ruang OSIS siang tadi. Gara-gara insiden kopi tumpah itu, ia belum sempat merevisi proposalnya, dan kini ia harus memikirkan cara memutar otak agar dana pensi NOISE tetap turun.
"Al, balik bareng nggak? Mau mampir makan seblak depan gang," tawar Sophia yang sudah menggendong tasnya.
"Duluan aja, Phia. Gue mau..." Almeera mencari-cari alasan di kepalanya, "...mau beli senar gitar buat Darren! Iya, senar Darren putus."
"Lho? Darren kan bawa mobil, kenapa lo yang beliin?" Sophia mengerutkan kening.
"Biar cepet! Udah ya, bye!" Almeera langsung melesat keluar kelas sebelum Sophia menginterogasinya lebih lanjut. Ia mempercepat langkahnya menuju gerbang belakang sekolah. Itu adalah titik penjemputan rahasia yang telah disepakati via chat lima menit yang lalu.
Tepat di bawah pohon rindang dekat dinding pembatas, sebuah motor sport hitam sudah terparkir. Akram duduk di atasnya, mengenakan jaket kulit hitam yang menutupi seragam putih abu-abunya, helm full face menggantung santai di spion.
Almeera menghampirinya dengan langkah menghentak. "Bisa nggak sih nyokap lo ngasih tahunya agak jauh-jauh hari? Pindah hari ini juga? Sinting," omel Almeera tanpa salam.
Akram menyodorkan sebuah helm bogo berwarna hitam polos ke arah Almeera. "Lo pikir gue yang bikin jadwal? Kalau gue bisa milih, gue lebih milih pindah ke kutub utara daripada harus satu apartemen sama lo. Pakai."
Almeera mendengus kasar, merebut helm itu dan memakainya. Ia naik ke boncengan motor Akram dengan kaku, memastikan ada jarak setidaknya sepuluh sentimeter antara tubuhnya dan punggung cowok itu. Ia berpegangan erat pada besi belakang motor.
"Udah?" tanya Akram melirik dari kaca spion.
"Udah. Jalan pelan-pelan, jangan caper di jalanan," sungut Almeera.
Bukannya pelan, Akram justru menarik gas dengan hentakan yang disengaja. Motor sport itu melesat maju tiba-tiba.
"AKRAM!" jerit Almeera kaget. Refleks, kedua tangannya terlepas dari besi belakang dan melingkar erat di pinggang Akram. Wajahnya membentur punggung tegap cowok itu. Aroma mint dan parfum maskulin yang khas langsung memenuhi indra penciumannya.
Di balik helmnya, Akram tersenyum miring. Ia tidak menurunkan kecepatannya. Ia bisa merasakan tangan kecil Almeera mencengkeram erat jaket kulitnya, dan entah kenapa, debaran aneh yang sedari siang tadi mengganggunya kembali muncul. Sialan, batin Akram. Ia berniat menjahili cewek ini, tapi kenapa tubuhnya sendiri yang bereaksi salah tingkah?
Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah apartemen mewah di kawasan elit Jakarta Selatan. Langkah Almeera masih gontai saat mengikuti Akram masuk ke dalam lift yang melesat menuju lantai dua puluh lima.
Akram menempelkan kartu akses di depan pintu unit bernomor 2507. Bunyi klik pelan terdengar sebelum pintu kayu berukir elegan itu terbuka.
Almeera melangkah masuk, dan matanya langsung membelalak takjub.
Unit apartemen itu sangat luas. Lantai marmer putih memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang hangat. Ada ruang tamu dengan sofa letter L berwarna abu-abu gelap, TV layar datar berukuran raksasa, dan dinding kaca floor-to-ceiling yang menampilkan panorama gemerlap lampu kota Jakarta dari ketinggian. Di sebelah kanan, terdapat dapur bersih ala minibar yang sangat estetik.
"Lumayan," guman Almeera tanpa sadar, lupa sejenak dengan statusnya sebagai tawanan pernikahan rahasia. Ia melangkah menyusuri lorong pendek. "Gue tidur di kamar mana? Awas aja kalau kamar gue lebih kecil dari—"
Kalimat Almeera menggantung di udara saat ia membuka satu-satunya pintu yang ada di lorong itu.
Ia mematung. Matanya menyapu seisi ruangan. Ada lemari pakaian besar yang sudah terisi beberapa baju mereka (pasti ulah orang tua mereka siang tadi), meja rias, kamar mandi dalam dengan bathtub, dan... sebuah ranjang king size yang terletak tepat di tengah ruangan.
Hanya satu ranjang.
Almeera berbalik cepat, menatap Akram yang baru saja masuk sambil meletakkan kunci motor di atas meja pantry. "Kram. Kamar yang lain mana?"
Akram bersandar di meja dapur, melipat tangannya di dada. Wajahnya terlihat tenang, meski di dalam kepalanya ia juga sedang memaki takdir. "Menurut lo? Ini apartemen studio tipe satu kamar tidur. Lo pikir nyokap gue sama mertua bakal nyewa unit dua kamar buat pengantin baru?"
"T-tapi... ranjangnya cuma satu!" suara Almeera melengking panik. Ia menunjuk ke arah kamar dengan jari gemetar. "Gue nggak mau tidur seranjang sama lo! Lo bisa aja khilaf nendang gue waktu tidur, atau lebih parah, lo macem-macemin gue!"
Akram mendengus remeh. Cowok itu berjalan pelan mendekati Almeera. Ia menunduk sedikit, menatap tepat ke manik mata Almeera yang sedang dilanda kepanikan luar biasa.
"Denger ya, Almeera Azzahra. Jangankan macem-macemin lo, ngebayangin tidur di sebelah lo aja udah bikin gue merinding. Gue ini cowok normal, selera gue cewek yang anggun dan nggak hobi mukul orang pakai stik drum," bisik Akram tajam.
Almeera memelotot. Egonya kembali tersengat. "Oh ya?! Bagus! Karena selera gue juga bukan cowok manipulatif tukang atur kayak lo! Jadi kita sepakat, lo tidur di sofa luar!"
"Enak aja," tolak Akram cepat. "Gue yang bawa motor menembus macetnya Jakarta, gue yang harus mikirin proposal pensi yang lo bikin hancur siang tadi, masa gue yang dihukum tidur di sofa?"
"Kan elo cowoknya! Katanya gentleman!"
"Ini kesetaraan gender, Al. Nggak ada privilege buat lo di apartemen ini."
Setelah perdebatan sengit selama lima belas menit yang diwarnai dengan saling lempar bantal sofa, mereka akhirnya mencapai sebuah kesepakatan genjatan senjata yang konyol.
Satu jam kemudian, ranjang king size itu resmi dibelah menjadi dua wilayah kekuasaan. Di tengah-tengahnya, terdapat tumpukan bantal dan guling yang disusun memanjang dari ujung atas sampai ke bawah, mirip seperti Tembok Berlin.
"Denger aturan mainnya," kata Almeera tegas. Ia sedang duduk bersila di sisi kiri ranjang, masih memakai celana olahraga yang ia bawa dari rumah, sementara rambutnya diikat asal. "Lo lewatin bantal ini sehelai rambut aja, gue tendang lo ke bawah."
Akram yang sudah mandi dan berganti memakai kaos oblong putih serta celana training hitam, hanya memutar bola matanya dari sisi kanan ranjang. Rambutnya masih sedikit basah, dan aroma sabun mint segar kembali menguar, diam-diam menyusup ke wilayah udara Almeera.
"Siapa juga yang mau nyebrang ke wilayah zona berbahaya? Lo kalau tidur ngigo atau ngorok, gue rekam terus gue sebar ke anak-anak NOISE," ancam Akram tak mau kalah, ia menarik selimut tebalnya sendiri.
"Coba aja kalau berani." Almeera menjulurkan lidahnya.
Suasana hening sejenak. Keduanya sibuk menatap ponsel masing-masing. Di luar, langit Jakarta sudah sepenuhnya gelap. Namun, perut Almeera tiba-tiba berkhianat. Bunyi keroncongan yang cukup nyaring terdengar dari perutnya, memecah keheningan di kamar itu.
Akram melirik dari balik 'Tembok Berlin' bantal mereka. "Lo melihara kodok di perut?"
"Gue laper, tahu!" sungut Almeera sambil memegangi perutnya. "Sejak siang gue belum makan karena sibuk ngurusin revisi proposal sialan itu."
Ia menekankan kata revisi dengan nada menyindir. Akram hanya mengangkat bahu acuh tak acuh.
"Gue mau bikin Indomie. Lo mau nggak?" tawar Almeera ketus sambil beranjak turun dari ranjang. Entah kenapa, meski ia sangat membenci cowok ini, insting manusianya tetap tidak tega membiarkan Akram kelaparan di malam pertama mereka tinggal di sini.
"Gue nggak makan makanan instan jam segini," tolak Akram santai tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Nggak sehat."
"Cih, sok healthy lifestyle," cibir Almeera. Ia melangkah keluar kamar menuju dapur.
Lima belas menit kemudian, aroma sedap Indomie goreng lengkap dengan telur setengah matang dan potongan cabai rawit memenuhi seisi apartemen. Almeera membawa mangkuknya ke meja pantry dan bersiap untuk makan dengan rakus.
Tiba-tiba, sebuah kursi di sebelahnya ditarik. Akram duduk di sana, menatap mangkuk mie Almeera dengan tatapan lurus.
"Katanya nggak makan makanan instan?" sindir Almeera dengan mulut penuh.
"Wanginya lumayan. Nyoba satu suap," kata Akram santai, seolah ia baru saja meminta segelas air putih. Tanpa menunggu persetujuan, Akram meraih garpu di tangan Almeera, mengambil gulungan mie yang cukup besar, lalu memakannya dengan tenang.
Almeera mematung. Matanya menatap garpu yang baru saja masuk ke mulut Akram, lalu menatap bibir cowok itu. Itu kan... garpu bekas gue masuk ke mulut?!
Wajah Almeera mendadak terasa panas. Secara tidak langsung, mereka baru saja berciuman secara tidak langsung melalui garpu!
Akram mengembalikan garpu itu ke tangan Almeera yang masih kaku. "Kurang asin dikit," komentarnya dengan wajah tanpa dosa, seolah tidak menyadari badai kepanikan yang sedang berkecamuk di dalam kepala istrinya.
"L-lo... lo kalau mau makan bikin sendiri dong! Ini garpu gue!" seru Almeera gugup, suaranya sedikit bergetar.
Melihat reaksi Almeera yang salah tingkah, Akram justru menyunggingkan senyum miringnya. Ia menopang dagu dengan satu tangan, memiringkan kepalanya menatap wajah Almeera yang kini memerah sampai ke telinga.
"Kenapa? Lo mikir kita baru aja indirect kiss?" goda Akram, suaranya dipelankan menjadi bisikan bariton yang mematikan. "Baper lo?"
"Nggak! Siapa yang baper?!" Almeera membuang muka, pura-pura fokus mengaduk mienya dengan kasar meski jantungnya sudah mau meledak.
Akram tertawa pelan. Tawanya terdengar hangat di ruang makan yang sepi itu. Untuk sejenak, atmosfer permusuhan di antara mereka memudar, digantikan oleh ketegangan aneh yang membuat perut mereka terasa seperti diisi ribuan kupu-kupu.
Namun, momen canggung yang menggemaskan itu tidak bertahan lama.
Ting tong!
Suara bel pintu apartemen berbunyi nyaring, disusul oleh suara dentingan intercom di dinding dekat pintu utama.
Almeera dan Akram langsung membeku. Mereka saling berpandangan dengan horor. Siapa yang datang ke apartemen ini jam sembilan malam?!
Akram memberi isyarat agar Almeera diam. Ia melangkah cepat tanpa suara menuju intercom dan menyalakan layar monitor luar. Di layar beresolusi tinggi itu, terpampang wajah seseorang yang sedang menyeringai ke arah kamera sambil mengangkat sebuah map hijau.
Itu Bastian. Wakil Ketua OSIS sekaligus sahabat terdekat Akram.
Melalui speaker intercom, suara Bastian terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan.
"Kram! Gue di depan pintu lo nih. Nyokap lo ngasih tahu gue alamat apartemen baru lo gara-gara HP lo nggak aktif. Gue bawain berkas revisian dari kepsek yang harus lo tanda tangan malam ini juga buat rapat besok pagi. Buka woi!"
Darah Almeera langsung surut dari wajahnya. Matanya membelalak menatap Akram.
Kalau Bastian masuk ke dalam dan melihat ada sepatu perempuan, tas sekolah perempuan, dan sosok Almeera Azzahra—musuh bebuyutan si Ketua OSIS—sedang makan Indomie malam-malam berdua di dalam apartemen yang sama... tamatlah riwayat mereka. Skandal terbesar SMA Bina Bangsa akan meledak malam ini juga.