Kesalahan yang dilakukan Azalea Calista membuat suaminya kecewa dan berakhir ingin menceraikannya. Namun demi cinta yang tumbuh di hati Alea, dia bertekad untuk mengejar kembali cinta sang suami.
Sayangnya Alea harus kehilangan Fathan karena laki-laki itu pergi tanpa berpamitan. Hingga suatu hari, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan berbeda.
Akankah mereka kembali bersama atau justru memilih saling melepaskan bersama pasangan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 - Setitik kebenaran
Usai menceritakan kisah versi Alea dia menangis tersedu-sedu dalam dekapan Gavin, hari itu hari paling menyakitkan baginya. Setiap mencoba menghampiri dia selalu di tolak dan di katai anak haram terkadang dapat perlakuan buruk dari Yuni maupun Rahmat. Bapaknya berubah menjadi kasar tidak terkendali selalu marah-marah saat melihatnya.
Mereka yang mendengar mengepalkan tangan ikut emosi tapi tidak dengan Yuni dan Rahmat terlihat biasa saja malah menunjukan kemesraan di hadapan mereka sambil menikmati hidangan makanan dari Gavin, tidak tahu diri.
"Sejak saat itu aku dan ibu memutuskan kembali ke kota, tempat kakek dan nenek orangtuanya ibu berada. Disana kami disambut dengan hangat tapi keadaan ibu makin terpuruk. Aku gak tahu ibu kenapa, dia sering ketakutan sendiri dan bilang terus dikejar-kejar sosok menyeramkan. Ibu sampai dinyatakan mengalami gangguan jiwa dan ibu .. Hiks hiks." Alea tak sanggup melanjutkan ceritanya, dia mendekap erat tubuh Gavin.
Gavin mendongak, mengerjapkan mata berkaca-kaca, sedih, marah, kecewa dan bingung menjadi satu saat itu. Sebagai seorang adik tidak terima kakaknya diperlukan tidak adil, ingin membalas nyatanya mereka tidak punya bukti dan pada saat itu masih tergolong orang tidak punya sehingga tidak bisa menghukum Yuni dan Rahmat.
Orangtuanya dulu hanya pelayan di salah satu warung makan dan Gavin sendiri masih sekolah meski sering membantu orangtuanya bekerja.
"Kak Karina nekat mengakhiri hidupnya sendiri, menabrakan dirinya ke kereta," sambung Gavin mengepalkan tangannya.
"Astaghfirullah." Fathan, Bu Rima, Vale, Ayumi, Alan dan pak Danang serta pak RT dan beberapa warga syok, tercengang sama kenyataan barusan.
Namun berbeda dengan Rahmat dan Yuni yang terlihat biasa saja, Rahmat malah terlihat bengong dengan tatapan kosongnya tapi mulut mengunyah makanan yang dibawa Gavin, begitu juga dengan Yuni yang santai memakan kue di atas meja sesekali menyuapi suaminya.
Brak!
Mereka terlonjak kaget sama gebrakan Bu Rima.
"Dasar bapak dan suami dzolim, beraninya elu berbuat kasar pada anak dan istrimu demi wanita pelakor ini, apa elu tidak punya otak, hah? Kalian berdua keterlaluan! Gue sumpahin kalian mati kena azab dan mati masuk neraka jahanam!" sentak Bu Rima seraya menunjuk wajah bapak dan Yuni berganti. Menatap bengis keduanya penuh emosi, gak habis pikir sama keduanya yang terlihat santai tanpa merasa bersalah.
Fathan tercengang, baru kali ini dia melihat ibunya bicara lo gue dan soal marah emang udah tahu marah ibunya seperti apa.
"Hei, jaga mulut kamu, saya bukan pelakor, saya hanya mempertahankan dan mengambil kembali pria yang seharusnya memang jadi milik saya dari dulu," balas Yuni tidak terima.
"Bibi yang jahat sudah merebut bapak dari kami," sahut Alea di sela tangisnya.
"Justru ibumu yang sudah merebut Rahmat dari saya. Dia calon suami saya terus ibu mu malah datang dan membuat Rahmat berpaling dari saya, apa salah jika saya mengambil kembali milik saya, hah?"
"Salah bodoh! Itu benar-benar salah! Otak elu emang isinya syetan, sudah salah, tidak mau salah, nyolot lagi, emang pantasnya pelakor seperti elu mati! mati dengan tubuh membusuk!" Sentak Bu Rima ikut emosi.
Jangankan Bu Rima, mereka saja geram sama pengakuan Yuni, tak tahu malu dan tidak mau mengaku salah.
"Terserah! Terserah kalian mau apa, saya tidak peduli! Saya tidak ingin lagi memiliki masalah dengan dia, dia bukan anak saya!" Kata Rahmat tegas.
"Stop!" pak RT melerainya. "Kalian semua diam! Tidak akan ada penyelesaian jika kalian terus seperti ini." Pak RT menatap mereka silih berganti.
"Maaf Pak RT, kedatangan kita kesini tidak ada niatan untuk membuat ke kacauan, justru kita kesini niat baik. Saya selaku pamannya Alea mau meminta kemurahan hati Pak Rahmat supaya mau menikahkan Alea."
"Dia bukan anak saya!" tegas Rahmat bebal.
"Dia anak kandung Anda! Saya punya buktinya!" balas Gavin tajam serta dalam hati berdoa dijauhkan dari segala tipu daya syetan terkutuk. Berharap makanan yang sengaja dia bawa dapat melunturkan aura negatif dari dalam diru Rahmat maupun Yuni.
Dan anehnya Rahmat langsung bungkam, hatinya mulai berkecamuk gelisah merasakan sesuatu berbeda. Pikirannya pun tak lagi kosong serta tatapannya juga terlihat berubah terlihat kebingungan.
"Sekian lama saya diam atas tuduhan yang sudah syetan ini lakukan, sekian lama saya mencari bukti atas foto-foto yang syetan ini bawa, SEMUA ITU PALSU! REKAYASA!" Bahkan Gavin tak sudi menyebut nama Yuni dan memilih menyebutnya setan berwujud manusia.
Deg.
Yuni terbelalak, kok bisa Gavin meyakini hal itu dan kenapa sangat sulit baginya membuat mereka tunduk serta takut.
Sejenak Gavin melepaskan pelukannya pada Alea dan meminta Fathan menenangkan keponakannya. Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Ini pak RT, bukti nyata siapa pria itu. Semuanya rekayasa hasil editan tapi Rahmat malah mempercayainya." Gavin menunjukan foto asli dan membandingkannya dengan foto lama.
Mata Yuni terbelalak, dari mana Gavin mendapatkan foto itu sedangkan kejadiannya sudah belasan tahun lamanya.
'Ini mustahil, dari mana Gavin punya foto itu.'
"Diam-diam Alea balik ke rumah ini tepat mereka di usir, dia memungut semua foto yang tercecer di lantai dan mendengar suara laknat kalian berdua dalam kamar!" jelas Gavin.
Hari itu Alea memang kembali saat ibunya sedang istirahat di salah satu rumah tetangga baik hati. Malam-malam tubuh kecilnya menyelinap masuk lewat jendela yang kebetulan masih ada celah terbuka, Alea kecil diam-diam mengambil harta ayahnya untuk bertahan sampai ke kota, memungut setiap foto dibawa sebagai bukti.
Yuni mendengus kesal mengepalkan tangan. 'Sial, wanita ini sangat cerdik, pantas saja malam itu tiba-tiba aneh gak ada satupun foto dan simpan di kamar Karina. Gak ada harta apapun di kamar Karina ternyata...'
Tiba-tiba tangan Rahmat bergetar mengambil salah satu fotonya.
"Wanita dan laki-laki itu pasangan suami istri di desa sebelah tapi syetan ini malah mengedit wanita itu jadi wajah kakak saya. Selama ini saya diam karena saya ingin membangun kekuatan dulu, mencari penyebabnya dulu, serta mengumpulkan uang agar saya bisa MENYERET KALIAN!"