NovelToon NovelToon
The Dark Lord

The Dark Lord

Status: tamat
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Vampir / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.

Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.

Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.

Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aura Raja Iblis

Dua sosok pria tampan dengan iris mata yang sama, berdiri saling berhadapan. Kakak dan adik yang kini berada di kubu berbeda itu saling melempar tatapan dingin, seolah tak ada lagi sisa kasih yang pernah mengikat hubungan darah mereka.

Sorot mata Alex perlahan menelisik tubuh Arthur. Alisnya terangkat tipis saat menyadari ada sesuatu yang sangat berbeda dari sosok kakaknya.

Aura iblis.

Aura itu menguar begitu pekat hingga memenuhi udara sekitar mereka. Tekanannya begitu berat, jauh melampaui aura para iblis tingkat rendah yang beberapa kali pernah ditemui Alex. Bahkan, aura itu hampir menyamai sosok yang hanya pernah ia temui sekali seumur hidupnya, yaitu king Demon.

Ingatan Alex melayang ke masa lalu, ketika ayahnya masih hidup dan baru dinobatkan sebagai pemimpin Klan Dark Moon. Saat itulah ia pernah melihat Raja Iblis keluar dari alam bawah. Hanya sekali, tetapi aroma kekuatan yang mengerikan itu tak pernah bisa ia lupakan.

Awalnya Alex mengira makhluk yang sedang mendekatinya adalah Raja Iblis, namun kenyataannya, yang berdiri di hadapannya adalah Arthur. Aroma iblis yang begitu tajam bahkan menutupi aroma tubuh Alea yang berdiri tak jauh darinya. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Mungkinkah Arthur...

"Jangan terus menatapku dengan wajah sebodoh itu," potong Arthur dengan nada merendahkan."Cepat putuskan. Mati atau bergabung denganku? Jangan buang waktuku, Alex."

Dengan ancaman kepada Alea, Arthur berhasil memaksa wanita itu membawanya menemui Alex. Tanpa berbasa-basi, ia langsung menawarkan sebuah persekutuan. Arthur memang telah memperoleh kekuatan yang jauh melampaui vampir biasa. Namun baginya, kekuatan saja tidak cukup. Ia membutuhkan pasukan.

"Kau bisa membalas dendam kepada para pengecut tua itu," lanjut Arthur, suaranya dipenuhi kebencian.

Alex mengembuskan napas pelan."Apa Kakak masih ingin terus berperang?" tanyanya tenang."Ayah sudah meninggal. Kakak juga sudah mendapatkan Sonja dan kekuatan iblis kini mengalir di tubuhmu. Bukankah semua itu sudah cukup?"

Tatapan Arthur semakin dingin."Sifatmu memang tidak pernah berubah." Bibirnya menyunggingkan seringai sinis."Ayahmu dibunuh Markus, tetapi kau malah memaafkan mereka. Dasar anak durhaka."

Sejak dulu Arthur selalu menganggap adiknya terlalu lembut. Bagi Arthur, hati Alex lebih menyerupai manusia daripada vampir. Lemah. Dan terlalu mudah memaafkan.

Alex hanya tersenyum tipis."Kalau aku anak durhaka..." ucapnya pelan, "lalu Kakak apa? Anak berengsek yang sejak dulu selalu ingin membunuh ayahnya sendiri?"

Sorot mata Arthur berubah gelap."Dia bukan ayahku." Suara itu terdengar begitu dingin, tetapi menyimpan luka yang belum pernah benar-benar sembuh."Ikatan kami sudah lama berakhir."

Arthur mengepalkan tangannya."Sudah cukup membahas masa lalu. Lebih baik kau mati menyusul ayahmu." Luka lama itu masih membusuk di dalam hatinya. Arthur tak ingin lagi mengingatnya. Begitu kata-kata itu selesai terucap, tubuh Arthur dipenuhi aura membunuh. Ia melangkah maju, bersiap menghabisi adiknya.

Namun sebuah tubuh mungil tiba-tiba berdiri di antara mereka, Alea membentangkan kedua tangannya, melindungi Alex tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut."My Lord," ucap Alea lirih, "berikan aku waktu. Aku akan mencoba membujuknya."

Arthur menatapnya tajam."Percuma. Dia terlalu keras kepala." Tatapannya beralih kepada Alex."Minggir, Alea. Aku tidak ingin melukaimu."

Arthur tahu betul konsekuensinya. Jika ia sampai menyakiti Alea, Sonja tidak akan pernah memaafkannya.

"Dia masih berduka atas kematian ayahnya," bujuk Alea lagi."Berilah dia waktu untuk menenangkan dirinya."

"Bunuh saja aku." Suara Alex terdengar datar dari balik tubuh Alea."Aku tidak peduli."

Arthur menyeringai tipis. Ternyata, adiknya benar-benar telah kehilangan semangat hidup."Baiklah, Lea." Arthur akhirnya mengalah."Selesaikan urusan dengan kekasihmu itu. Kesabaranku sangat terbatas. Jangan membuatku menunggu terlalu lama."

Sesaat kemudian, tubuh Arthur lenyap begitu saja. Bukan berlari. Bukan pula terbang. Melainkan benar-benar menghilang tanpa meninggalkan jejak.

Alex membelalakkan mata."Dia menghilang?" gumamnya tak percaya."Tidak ada vampir yang mampu melakukan itu. Kami hanya bisa bergerak atau terbang dengan kecepatan tinggi."

"Arthur berubah setelah ritual penyatuan darah," jawab Alea pelan."Aku bisa merasakan energi iblis yang mengalir sangat kuat di dalam tubuhnya."

Alex terdiam beberapa saat. Tatapannya kemudian melembut saat memandang wajah Alea."Alea..."

"Ya?"

"Apa kau tahu makhluk apa yang mampu menghilang secepat itu?"

Alea menggeleng perlahan. Selama hidupnya, ia belum pernah melihat kemampuan seperti itu.

Keheningan menyelimuti mereka.

Lalu Alex menarik napas panjang sebelum mengucapkan satu nama yang membuat suasana terasa semakin mencekam."Raja Iblis."

Nama itu meluncur pelan dari bibir Alex, tetapi gaungnya seolah mengguncang kesunyian hutan. Tubuh Alea langsung menegang. Kedua matanya membulat, sementara jantungnya berdetak semakin cepat."Itu tidak mungkin," bisiknya lirih.

King Demon adalah penguasa mutlak alam iblis. Makhluk yang keberadaannya hanya menjadi legenda bagi sebagian besar ras supernatural. Tidak ada yang berani menyebut namanya sembarangan, apalagi mengaitkannya dengan seorang vampir.

Namun, semua yang baru saja mereka saksikan seolah mengarah pada satu kenyataan yang mengerikan. Arthur telah memperoleh kekuatan yang bahkan tidak seharusnya dimiliki oleh seorang vampir. Jika dugaan Alex benar, maka yang sedang mereka hadapi bukan lagi sekadar Pangeran kegelapan, melainkan sesosok monster yang perlahan berubah menjadi ancaman bagi seluruh dunia bawah.

***

Angin berembus lembut, membelai rambut panjang Sonja yang kini menjuntai hingga melewati pinggang. Helaian-helaiannya yang sedikit bergelombang menari mengikuti arah angin, sesekali menutupi sebagian wajah mungilnya yang tampak begitu damai.

Perubahan yang terjadi pada dirinya ternyata bukan hanya pada iris mata yang kini berwarna biru bening. Rambut lurusnya pun perlahan berubah menjadi lebih panjang dengan gelombang-gelombang halus yang membuat penampilannya terlihat semakin anggun dan memesona. Kecantikannya seolah bertambah setiap hari, menghadirkan pesona yang sulit diabaikan oleh siapa pun yang memandangnya.

Sonja memejamkan mata, membiarkan semilir angin menyapu wajahnya. Sudah terlalu lama ia terkurung di dalam kastil yang megah namun terasa seperti sangkar. Menghirup udara segar dan menikmati hangatnya sinar matahari menjadi kemewahan yang sangat ia rindukan.

Di atas pangkuannya, seekor kelinci putih berbulu lembut tampak berbaring dengan tenang. Jemari mungil Sonja mengusap bulunya perlahan, penuh kasih sayang. Sesekali kelinci itu menggerakkan hidung kecilnya, seolah ikut menikmati ketenangan yang menyelimuti tempat itu.

Tidak jauh dari posisi Sonja, dua vampir yang ditugaskan Arthur sebagai pengawalnya berjaga dengan penuh kewaspadaan. Meski duduk santai, mata mereka terus mengawasi setiap sudut di sekitar taman.

Mereka paham betul tanggung jawab yang dipikul. Jika sampai Sonja terluka, meski hanya lecet sekecil apa pun, kemarahan Arthur adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri.

"Dia terlihat semakin cantik," gumam Elleanor tanpa mengalihkan pandangan dari Sonja."Setiap perubahan pada tubuhnya justru membuatnya semakin memesona. Walaupun tingginya tidak bertambah sedikit pun, dia tetap terlihat sangat mungil."

"Bagiku, kau jauh lebih cantik dan jauh lebih mungil."

Suara Yuno langsung membuat Elleanor memutar bola mata dengan malas. Vampir itu memang tidak pernah kehabisan cara untuk menggodanya."Itu karena kau idiot."

"Di mataku kau sangat..."

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, kepalan tangan Elleanor lebih dulu menghantam kepala Yuno dengan keras.

"Astaga sakit!" Yuno meringis sambil memegangi kepalanya.

"Rasakan itu," dengus Elleanor puas. Tanpa memedulikan Yuno yang masih mengaduh, Elle bangkit lalu berjalan menghampiri Sonja."Sonja apa kau sedang tidur?" tanyanya.

Mendengar suara sahabatnya, kelopak mata Sonja perlahan terbuka. Manik birunya yang jernih langsung menatap Elleanor yang masih memasang wajah kesal."Ada apa, Elle? Apa Yuno mengganggumu lagi?" tanyanya sambil tersenyum kecil.

"Pria mesum itu tidak pernah berhenti menggangguku."

Senyum Sonja semakin lebar."Yuno menyukaimu."

Elleanor langsung mendengus."Dia menyukai semua vampir wanita, Sonja. Reputasinya buruk. Setelah berhasil membawa wanita incarannya ke ranjang, dia akan mencampakkannya begitu saja tanpa rasa bersalah."

"Benarkah?" Raut wajah Sonja berubah terkejut.

Elleanor mengangguk mantap."Dia bajingan tengik."

"Elle, jangan berkata kasar. Kau kan wanita," tegur Sonja lembut. Hingga kini ia masih belum terbiasa dengan cara bicara sahabatnya yang blak-blakan.

"Dia memang pantas mendapatkannya. Aku benar-benar membencinya."

Sonja terkekeh pelan."Jangan terlalu dalam membenci seseorang. Nanti malah berubah jadi cinta."

"Jangan mengutukku seperti itu!"

Ucapan Sonja langsung membuat Elleanor merinding sendiri, sementara Sonja hanya tertawa kecil melihat ekspresi sahabatnya.

"My Lady, sebaiknya kita segera kembali. Kita sudah terlalu lama berada di luar kastil." Suara Yuno membuat keduanya serempak menoleh.

Sonja segera berdiri sambil menggendong kelinci putih yang masih tenang dalam pelukannya."Bolehkah aku membawa kelinci ini pulang?" tanyanya penuh harap.

"Tentu saja boleh, My Lady," jawab Yuno sambil mengangguk hormat.

Sonja mengembuskan napas pelan."Yuno, jangan terus memanggilku dengan sebutan itu. Rasanya masih sangat aneh."

Ini bukan pertama kalinya Sonja meminta hal tersebut. Berkali-kali ia menolak dipanggil My Lady, tetapi tak satu pun vampir berani menuruti permintaannya.

Yuno tersenyum kaku."Maaf, My Lady. Itu adalah perintah langsung dari pemimpin kami, aku tidak memiliki keberanian untuk membantahnya."

Sonja hanya bisa menghela napas panjang."Baiklah, ayo kita pulang."

Seketika tubuh mungil Sonja melesat dengan kecepatan tinggi menuju kastil. Gerakannya kini jauh lebih lincah dan ringan daripada sebelumnya. Melihat itu, Elleanor dan Yuno saling berpandangan sesaat sebelum ikut berlari menyusul.

Perubahan dalam diri Sonja semakin hari semakin jelas. Bukan hanya kecantikannya yang bertambah, tetapi juga kekuatan yang perlahan mulai menyatu sempurna dengan tubuhnya.

1
Firkoh
menegangkannya dapet, cepet update ya kaka author
Saasaa: Terimakasih 🙏 Update tiap hari
total 1 replies
Firkoh
ngeri banget loe thur
Firkoh
kaaaaan bener
Firkoh
ikut tegang Cuy
Firkoh
jangan2 Arthur nih pangeran kegelapannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!