NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.

Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.

Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.

Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.

Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.

Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Makan Malam Mahendra

Stefanus menghentikan mobilnya di depan gerbang tinggi kediaman Wisnu Mahendra. Lampu-lampu taman bergaya klasik menyala terang.

Dari dalam bangunan mewah itu, terdengar riuh suara tawa, denting sendok yang beradu dengan porselen mahal, dan percakapan puluhan kerabat. Makan malam keluarga besar Mahendra memang selalu dirancang untuk terlihat hangat dan harmonis dari luar.

Namun, hanya mereka yang pernah duduk di meja itu yang tahu kebenarannya. Tidak semua senyum yang mengembang lahir dari kebahagiaan.

Shaquena berdiri berdampingan dengan suaminya. "Apa kita terlambat?"

Stefanus menggeleng pelan, pandangannya lurus ke jendela ruang makan. "Bukan. Aku cuma sedang mengingat sesuatu."

"Mengingat apa?"

"Dulu aku selalu berharap mereka akhirnya menganggapku sebagai keluarga." Stefanus tersenyum kecil, menertawakan sisa kenaifannya. "Sekarang, aku cuma berharap makan malam ini cepat selesai."

Shaquena menatap suaminya sesaat. Tanpa mengucapkan sepatah kata penghiburan kosong, wanita itu menyentuh pelan punggung tangan Stefanus. Sentuhan singkat itu sudah cukup membuat langkah kaki Stefanus kembali mantap memasuki rumah tersebut.

Ruang makan berpanel kayu jati itu sudah dipenuhi oleh hampir seluruh anggota dewan keluarga. Paman Wisnu duduk berwibawa di ujung meja. Di sebelahnya ada Tante Lastri, mengenakan perhiasan yang berkilau menyilaukan dari leher sampai pergelangan tangan.

Sebastian rupanya sudah datang lebih dulu. Pria itu sedang berbincang santai dengan beberapa petinggi keluarga, lalu mengangkat pandangannya ketika Stefanus masuk. Tatapan kedua bersaudara itu bertemu dan terkunci. Sebastian hanya tersenyum tipis meremehkan. Stefanus membalasnya dengan anggukan singkat yang dingin.

"Hei, akhirnya datang juga kalian," ucap Tante Lastri dengan suara yang sengaja dibuat keras.

Semua kepala di meja makan sontak menoleh.

"Stefan, sini duduk."

Stefanus menarik kursi di samping istrinya. Belum sempat mereka menyentuh sendok makanan pembuka, suara tajam Tante Lastri kembali terdengar.

"Dengar-dengar kamu sekarang sibuk bantu keluarga istrimu, ya?"

Stefanus mengangguk tenang. "Iya."

"Wah, rajin juga." Nada suaranya terdengar terlalu manis. Namun, semua orang di meja makan tahu kalimat berikutnya tidak akan menyenangkan. "Tapi ya, kasihan juga."

Stefanus tetap diam, menolak terpancing.

"Kamu sampai harus pakai hak warisan terakhir cuma buat menolong pabrik tekstil."

Beberapa orang saling pandang. Berita tentang peretasan izin logistik pelabuhan tempo hari rupanya sudah menyebar luas.

Tante Lastri menggeleng pelan dengan raut prihatin palsu. "Warisan sepenting itu habis cuma buat urusan begitu." Wanita tua itu tertawa kecil mencemooh. "Kalau dari awal ikut Bastian, hidupmu pasti jauh lebih nyaman."

Suasana meja makan langsung berubah canggung.

Paman Wisnu berdeham cukup keras. "Lastri. Cukup."

"Apa? Aku cuma prihatin." Tatapan wanita itu beralih menyorot Shaquena. "Quena, kamu juga."

Shaquena membalas tatapan itu dengan tenang.

"Kenapa memilih hidup susah?" cecar bibinya. "Kamu cantik, pintar, masih muda. Harusnya pilih laki-laki yang bisa mengangkat hidupmu."

Shaquena meletakkan sendoknya. "Saya sudah memilih."

"Iya, tapi kamu memilih pecundang Mahendra."

Kalimat hinaan itu membuat beberapa anggota keluarga menahan napas. Stefanus tetap duduk tenang. Tangannya bahkan tidak berhenti mengambil segelas air. Ia sudah terlalu sering mendengar hinaan itu seumur hidupnya. Yang berubah hanya orang yang berani mengucapkannya secara terang-terangan.

"Kalau laki-laki benar-benar mampu, istrinya nggak perlu repot ikut memikirkan bisnis keluarga," lanjut Tante Lastri. "Bastian beda. Dia memang lahir buat memimpin."

Sebastian tidak ikut menyela. Pria itu hanya menikmati makanannya, membiarkan bibinya bertindak menjadi anjing penjaga untuk menyerang adiknya.

Shaquena mengusap pelan bibir gelasnya. "Saya tidak pernah mengukur seseorang dari jumlah uangnya."

Tante Lastri tersenyum sinis. "Orang miskin memang selalu bilang begitu. Lucu. Saat orang kaya bilang uang bukan segalanya, orang percaya. Kalau yang bilang orang susah, kedengarannya cuma menghibur diri."

Beberapa orang mulai gelisah di kursinya. Paman Wisnu hendak membuka mulut ketika suara kecil memecah ketegangan.

"Om Stefan."

Semua menoleh ke arah suara. Niko berdiri dari kursinya sambil membawa sendok kecil. Anak itu berjalan cepat lurus menuju Stefanus.

Rian langsung memanggil panik. "Niko. Sini kembali ke Ayah."

Niko menggeleng kuat-kuat. "Nggak."

"Ayo makan sama Ayah aja."

"Nggak mau." Anak kecil itu terus berjalan lalu memeluk lengan Stefanus dengan manja. "Aku mau sama Om."

Stefanus menoleh lembut. "Niko. Kenapa?"

"Om suapin aku ya."

Rian tertawa canggung ke arah dewan keluarga. "Anak ini. Sini sama Ayah aja."

Niko malah memeluk Stefanus lebih erat. "Nggak. Sama Om Stefan aja."

Suasana berubah sunyi karena canggung. Tante Lastri mengerutkan dahi tuanya. "Niko. Kamu ini, om kamu itu kan belum makan dari tadi."

Niko mengangkat wajahnya menantang. "Aku maunya Om Stefan."

Stefanus tersenyum kecil melihat tingkah bocah itu. Ia mengambil mangkuk kecil bergambar kartun di depan anak itu. "Mau makan apa?"

"Itu." Niko menunjuk sup jagung.

Stefanus meniup sesendok sup panas itu dengan hati-hati sebelum menyuapkannya perlahan. Niko membuka mulutnya lebar.

"Haa..."

"Lagi."

Stefanus tertawa pelan. "Iya, jagoan."

"Lambat."

Shaquena memperhatikan pemandangan langka di hadapannya itu tanpa sadar ikut tersenyum. Gerakan Stefanus begitu luwes dan alami. Sabar. Tidak ada kesan terburu-buru. Setiap kali sup masih panas, pria itu meniupnya lebih dulu. Tidak sekali pun ia terlihat terganggu oleh keponakannya.

Paman Wisnu memperhatikan cucunya dengan sorot mata lembut. "Anak kecil memang tidak bisa dibohongi."

Semua orang di meja kembali menoleh kepadanya.

"Mereka selalu tahu siapa yang benar-benar menyayangi mereka dengan tulus."

Kalimat bijak itu membuat senyum sinis di wajah Tante Lastri membeku seketika.

Rian menggaruk tengkuknya dengan kikuk. "Aku juga sering nyuapin dia kok, Pa."

Paman Wisnu tersenyum. "Mungkin. Tapi perhatian yang tulus tidak bisa dipaksa."

Stefanus tetap fokus menyuapi Niko. Ia tidak ikut menanggapi perdebatan itu. Niko mengunyah makanannya perlahan lalu tertawa senang.

"Enak?" tanya Stefanus.

"Karena Om yang suapin."

Stefanus mengusap sudut bibir anak itu menggunakan tisu bersih. "Makan yang banyak."

"Biar cepat besar?"

Niko mengangguk semangat. "Iya."

Shaquena memandang wajah suaminya cukup lama. Dalam kehidupan pertama, ia tidak pernah punya kesempatan melihat sisi Stefanus yang begitu hangat ini.

Ia menarik napas pelan.

"Orang yang paling kaya bukanlah yang punya paling banyak uang." Suara Shaquena meluncur pelan, tapi cukup jernih untuk didengar semua orang di meja makan. "Tapi dia yang membuat orang lain merasa menemukan tempat untuk pulang."

Sebastian akhirnya berhenti mengunyah. Tatapannya berhenti pada Stefanus, lalu beralih pada Niko yang tertawa tanpa beban. Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Sebastian kehilangan senyum tipis andalannya.

Tante Lastri masih ingin membalas telak kalimat Shaquena. Namun Niko lebih dulu berseru keras.

"Om Stefan paling baik."

"Kalau aku jatuh, Om gendong."

"Kalau aku nangis, Om beli es krim."

"Om juga nggak pernah marah sama aku."

Hampir semua orang di ruangan itu tertawa kecil mendengar kejujuran bocah lima tahun tersebut. Kecuali Tante Lastri. Wajah wanita itu memerah padam menahan kemarahan.

Ia mengambil gelas air di depannya dengan gerakan terlalu kasar. Siku kanannya tidak sengaja menyenggol tumpukan piring.

Brak!

Piring porselen itu jatuh ke lantai marmer. Pecah berkeping-keping menjadi bagian tajam. Suara itu membuat seluruh ruangan kembali dilingkupi kesunyian tegang.

Seorang asisten rumah tangga buru-buru datang membersihkan pecahan.

Tante Lastri menarik napas panjang. "Tinggalkan saja. Aku sudah nggak selera makan."

Wanita itu bangkit lalu berjalan cepat keluar ruang makan tanpa menoleh lagi.

Paman Wisnu hanya menggeleng pelan menatap punggung istrinya. "Umurnya bertambah. Sabarnya belum."

Beberapa anggota keluarga hanya berani tersenyum kecut. Suasana perlahan kembali mencair. Niko masih duduk nyaman di pangkuan Stefanus sambil menikmati suapan terakhir. Setelah selesai makan, anak itu menguap sangat panjang.

"Ayah, ngantuk."

Rian menggendong putranya. "Kita pulang dulu ya."

Niko melambaikan tangannya lemas. "Bye Om."

Stefanus membalas lambaian kecil itu. "Hati-hati di jalan."

Malam semakin larut. Satu per satu anggota dewan keluarga mulai meninggalkan rumah Paman Wisnu.

Stefanus dan Shaquena berjalan beriringan menuju mobil. Baru berjalan beberapa langkah menyusuri trotoar, seseorang memanggil lirih dari belakang.

"Stefan."

Langkah Stefanus berhenti. Rian berdiri menyender di bawah bayangan pohon, tidak jauh dari pagar besi. Pria itu melihat ke kanan dan kiri lebih dulu sebelum melangkah mendekat.

"Ada waktu sebentar?" tanyanya terburu-buru.

Stefanus mengangguk.

Shaquena yang peka langsung memahami situasi itu. "Aku tunggu di mobil saja."

Setelah Shaquena masuk ke dalam kabin, Rian perlahan mengeluarkan sebuah map cokelat tipis dari dalam tas kerjanya. Tangannya terlihat sedikit gemetar.

"Aku mau tanya sesuatu sama kamu."

"Tanya saja."

"Kalau ada dokumen yang bisa bikin posisi Bastian goyah dan hancur." Rian menelan ludah dengan susah payah. "Kamu berani beli?"

Stefanus tidak langsung menjawab tawaran itu. Tatapannya berpindah fokus ke map cokelat di tangan Rian.

"Dokumen apa itu?"

"Proyek Singapura. Semua data busuknya ada lengkap di sini." Ia mengangkat map itu sedikit lebih tinggi.

"Laporan asli?"

"Bukan, hanya salinan."

Stefanus memandang wajah sepupunya dalam diam. Otaknya berputar mencari celah motifnya. "Lalu kenapa kamu berani memberikannya kepadaku malam ini?"

Rian tertawa hambar menertawakan keputusasaannya sendiri. "Karena aku juga punya keluarga. Dan aku butuh suntikan uang yang sangat besar secepatnya."

1
watno antonio
lanjut thor
Carisoy
Baca nti ajh tunggu kalau sudah selesai revisi deh👍
DdCantik
Emang bisaan bikin cerita seru, jadi si shqena paling udah gila, mantaplah ayok lanjut
DdCantik
Semangat 💪💪💪💪
Fahreziy
👣👣👣
falea sezi
jd saquena uda gila kali q 😓
falea sezi
baru aja baca😕 uda nyesek😓 air mata keluar sendiir😓
DdCantik
ribet banget jadi orang kaya🤭
Pratiwiajah
kaya gini palingan beneran ada di Konoha sini ya????🤭
Pratiwiajah
ok Fik aku benci si basbas ini
Pratiwiajah
tragis bgt/Sob/
NolaRona
up🙏
Betharia Anggita Dominique
thor, bikin cerita mesti sadis👍
Betharia Anggita Dominique
bagussss👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
wih, kaga bisa bayangin begimana jadi shaqena duh
Betharia Anggita Dominique
keluarga lucknut
Jitison
ditunggu 🙏
Jitison
kasihan skali
Carisoy
lanjutkan yu
DdCantik
makin seru👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!