NovelToon NovelToon
Melodi Air Mata Samudera

Melodi Air Mata Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.

Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.

Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?

"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Lemari Gerbang Menuju Alfheim

"Hweee... kenapa yang ini rasanya pahit sekali!" pekik Elara seketika.

Wajah cantiknya langsung mengernyit ngeri. Dengan terburu-buru, ia memuntahkan kembali kunyahan buah jeruk yang bercampur kulit tebal itu ke atas telapak tangannya. Elara menatap sisa buah di tangannya dengan raut wajah jijik dan kecewa.

"Aku benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa para manusia daratan menyukai benda aneh ini dan malah menyimpannya sebagai makanan? Padahal rasanya sama sekali tidak enak dan membuat lidahku kelu," gerutunya kesal sembari meletakkan kembali buah jeruk yang tersisa ke atas meja dengan gerakan gusar.

Ia mengusap bibirnya yang masih terasa getir, semakin merindukan aroma amis darah dari ikan segar yang biasa ia santap di kedalaman samudra.

Lalu, pandangan Elara mendadak tertuju pada sebuah benda berukuran besar yang tertutup selembar kain putih di sudut dapur. Dahi gadis Siren itu berkerut dalam, dipenuhi rasa penasaran.

"Benda apa lagi itu? Kenapa harus ditutupi kain tebal seperti itu?" gumam Elara menerka-nerka.

"Apa jangan-jangan... itu adalah tempat penyimpanan rahasia untuk bahan makanan?"

Didorong oleh rasa lapar yang kian merongrong, ia beranjak dari kursi dan bergegas melangkah mendekat. Tanpa ragu, tangan cantiknya terjulur untuk menyentak kain putih tersebut dengan satu gerakan cepat.

Sret!

Kain putih itu luruh dan jatuh menumpuk di atas lantai dapur. Kedua mata Elara seketika menyipit saat mendapati sebuah lemari kayu berukuran sangat besar yang terlihat begitu mewah. Permukaannya dilapisi warna keemasan yang megah, dihiasi dengan ukiran indah berbentuk dedaunan serta tanaman rambat pada kedua daun pintunya.

"Sebuah lemari?" Elara bergumam heran, mengetuk-ngetuk dagunya. "Untuk apa Tuan Cedric menyimpan benda seindah ini di sudut dapur? Tidak mungkin, kan, kalau lemari secantik ini digunakan hanya untuk menyimpan bahan makanan mentah?"

Ia terkekeh pelan pada pemikirannya sendiri. Namun, karena tangannya terlanjur gatal akibat rasa penasaran yang membuncah, Elara akhirnya meraih gagang logam lemari itu dan menariknya perlahan.

Krieettt...

Begitu kedua daun pintu lemari itu terbuka lebar, sebuah embusan angin sepoi-sepoi yang sejuk mendadak berembus keluar dari dalam kegelapan lemari.

Wusss!

Angin magis itu langsung menerbangkan helaian rambut merah panjangnya dan menerpa wajah Elara dengan lembut, membawa aroma tanah basah, humus, dan kesegaran vegetasi hijau yang sangat pekat.

"Astaga! Apa itu?!"

Elara terlonjak kaget. Refleks, ia melangkah mundur beberapa langkah demi menjaga jarak aman. Sepasang netra biru jernihnya membelalak sempurna menyaksikan pemandangan di hadapannya. Tepat di dalam bagian dalam lemari tersebut, tidak ada rak baju ataupun tumpukan barang, melainkan sebuah hamparan hutan belantara dengan pohon-pohon raksasa menjulang tinggi yang ukurannya benar-benar di luar nalar manusia.

Itulah Alfheim, tanah suci bagi ras Elf hutan dan kaum Dryad. Tempat ini tampak sangat berbeda dengan hutan di sekitar Kota Luminara yang ada di dunia manusia, ataupun wilayah teritori kering milik ras Vampir yang sempat Elara lewati saat pelariannya tempo hari.

Rumput dan dedaunan di dalam hutan tersebut tampak sangat indah, memancarkan binar warna-warni terang yang berpendar lembut layaknya jutaan kunang-kunang. Kelopak bunga-bunga liar berukuran besar tumbuh subur di sana, menyala redup dalam spektrum warna yang memanjakan mata.

Ribuan kunang-kunang magis tampak beterbangan kian kemari di antara lebatnya pepohonan, sementara dahan-dahan raksasa yang saling bertautan di atas sana membentuk kanopi megah yang menutupi langit.

Keanehan lainnya, meski saat ini di dunia manusia masih siang hari, suasana di dalam dimensi hutan itu memancarkan aura senja abadi yang tenang dan penuh keajaiban khas alam para makhluk pelindung pohon.

Elara terdiam selama beberapa saat, berdiri kaku layaknya sebuah patung manekin yang terpaku di depan pintu lemari keemasan itu. Sepasang mata biru jernihnya menatap tanpa berkedip pada hamparan keajaiban dan keanehan dimensi Alfheim yang membentang di hadapannya.

Namun, sedetik kemudian, ia justru terkekeh geli sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku pasti sudah gila. Rasa lapar ini benar-benar menyiksa akal sehatku, sampai-sampai aku berhalusinasi melihat hutan belantara di dalam sebuah lemari pakaian."

Akan tetapi, tawa ringannya mendadak terhenti seketika.

Dari balik rimbunnya pepohonan raksasa di dalam lemari, sekumpulan kunang-kunang magis yang berpendar terang tampak terbang perlahan mendekat ke arahnya. Hewan-hewan kecil itu menembus pembatas tak kasat mata antara dua dimensi, dan dengan ringannya, salah satu kunang-kunang tersebut hinggap tepat di atas ujung hidung mancung Elara.

"Eh!" Elara terlonjak kaget, refleks memundurkan wajahnya hingga membuat serangga bercahaya itu kembali terbang menjauh.

Ia menyentuh ujung hidungnya yang terasa sedikit menggelitik akibat kepakan sayap serangga tadi. "Serangga itu... kenapa sensasi sentuhannya terasa sangat nyata sekali?"

Demi membuktikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi di siang bolong, Elara mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

Plak!

Ia menampar pipinya sendiri dengan cukup keras hingga menimbulkan suara debuman kecil di dapur sunyi itu.

"Shhh... sakit!" rintih Elara kesakitan, mengusap pipinya yang kini terasa berdenyut hangat.

Sepasang matanya kembali menatap lurus ke dalam lemari dengan binar ketakutan sekaligus takjub. "Sial... aku rasa ini benar-benar bukan mimpi, halusinasi, ataupun efek dari perutku yang kelaparan."

Sadar bahwa hutan bercahaya itu adalah sebuah kenyataan fisik yang nyata, detak jantung sang Siren mulai berpacu liar. Ia kini dihadapkan pada pilihan sulit: menutup kembali pintu lemari itu dan berpura-pura tidak tahu, atau membiarkan insting petualangnya menuntun langkah kakinya melintasi gerbang sihir menuju dimensi Alfheim.

Tok! Tok! Tok!

"Permisi, paket!"

Suara berat, keras, dan lantang dari seorang kurir pengantar barang yang menggema dari arah luar rumah berhasil membuat Elara tersentak kaget.

Karena terkejut yang luar biasa, keseimbangan tubuhnya yang masih lemas seketika goyah. Sial baginya, alih-alih mundur ke area dapur, tubuh Elara justru terjerembab ke depan... melintasi batas dimensi dan masuk ke dalam hutan lebat tersebut.

"Kyaaa!"

Blammm!

Tepat setelah tubuh Elara melewati ambang pembatas, kedua daun pintu lemari keemasan itu langsung menutup kembali dengan debuman keras yang memekakkan telinga.

Elara meringis kesakitan, buru-buru bangkit berdiri sambil mengumpat di dalam hati. Ia menepuk-nepuk telapak tangan serta dress biru muda selutut—pakaian lama mendiang ibu Cedric—yang kini tampak kotor oleh serpihan dedaunan kering dan tanah humus yang basah.

"Sialan! Siapa orang yang berani berteriak-teriak tidak sopan di depan rumah orang lain siang-siang be—"

Perkataan Elara seketika terhenti di tenggorokan saat ia membalikkan tubuhnya untuk membuka kembali pintu lemari. Sepasang netranya membelalak sempurna, sementara pasokan oksigen di dadanya mendadak terasa menipis.

Di belakangnya, tidak ada lagi dinding dapur kayu milik Cedric. Tidak ada kain putih yang luruh, dan tidak ada jejak peradaban manusia sama sekali.

Yang membentang di hadapannya hanyalah hamparan hutan belantara dengan pohon-pohon purba yang raksasa. Pintu lemari keemasan yang baru saja menutup itu telah lenyap menghilang tanpa bekas, seolah-olah keberadaannya tidak pernah nyata.

"Hah?! Di... di mana pintunya?!" ucap Elara dengan nada suara yang bergetar hebat.

Kepanikan mutlak menjalar ke seluruh aliran darahnya. Gadis Siren itu mulai celingukan, berlari kecil ke sana kemari, dan meraba-raba udara kosong di tempat ia terjatuh tadi, berharap sihir portal itu akan kembali terbuka jika ia menyentuhnya.

Namun, tangannya hanya menangkap angin senja Alfheim yang dingin, meninggalkannya sendirian di tengah dunia asing para Elf hutan dan Dryad dalam keadaan perut yang masih kelaparan.

"Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Pintunya tidak boleh hilang! Aku harus kembali ke rumah Tuan Cedric sebelum dia pulang!"

_________________________

Agar para pembaca setia tidak keliru dalam memahami semesta novel ini, harap diperhatikan perbedaan dimensi berikut:

• Alfheim: Dimensi khusus yang menjadi tanah kelahiran dan tempat tinggal bagi ras Dryad serta Elf Hutan. Portal di dapur Cedric terhubung langsung ke tempat ini.

• Alfheimr (Ljosalfar): Dimensi suci yang menjadi tempat tinggal bagi ras Elf Cahaya. Wilayah ini berada di dimensi yang sepenuhnya berbeda, baik dari alam manusia maupun dari Alfheim.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!