NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 30

Dua orang prajurit penjaga pintu gerbang istana melihat lelaki itu dari atas sampai bawah. Tidak tampaknya sifat permusuhan yang ditunjukkan lelaki berparas tampan itu, membuat kedua prajurit tersebut juga menunjukkan sikap ramah. Senyum hangat pun mereka tunjukkan sebelum mengajukan pertanyaan.

"Kisanak siapa, dan ada keperluan apa dengan paduka?" tanya seorang prajurit yang berumur tiga puluh lima tahunan.

"Bilang saja pada paduka kalau ada tamu dari Kuil Keabadian datang berkunjung."

Kedua prajurit itu begitu terkejut mendengarnya. Mereka kembali melihat lelaki tersebut dengan seksama.

"Mohon maafkan kami, Tuan Mahesa. Kami tidak menyadari jika Tuan sudah berada di sini," ucap seorang prajurit, setelah yakin jika Mahesa sudah berdiri di depan mereka berdua. Dari ciri-ciri yang pernah didengarnya, ketua kuil Keabadian itu memang memiliki wajah sangat tampan dan selalu membawa pedang hijau tergantung di pundaknya.

"Tidak apa-apa. Aku paham dengan tugas kalian yang harus selektif terhadap tamu yang datang." Mahesa tersenyum teduh.

"Mari ikuti aku, Tuan. Paduka sedang berada di aula sekarang."

Mahesa mengangguk. Sejak menjadi ketua Kuil Keabadian, sifat dan sikap sahabat sejati Ranu tersebut sudah sangat jauh berbeda. Pembawaannya tenang dan matanya sudah tidak gampang jelalatan. Selain itu, sifat konyolnya juga tidak terlihat lagi. Mungkin karena tidak ada lawan setara yang bisa diajak bercanda dengannya seperti halnya Ranu.

Sesampainya di aula, prajurit yang mengantarkan Mahesa masuk terlebih dahulu untuk melaporkannya kepada Raja Gajayana.

"Cepat antarkan dia masuk! Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Oh, iya, panggil Arya juga suruh kemari!" Mata Raja Gajayana berbinar-binar bahagia. Entah bahagia karena apa, tapi yang pasti kedatangan Mahesa bagaikan munculnya oase di Padang pasir yang gersang dan kering.

Mahesa berjalan memasuki aula, sedang prajurit tadi berlari ke dalam memanggil Arya.

"Hormat hamba, Paduka." Mahesa membungkukkan badannya memberi hormat.

"Jangan sungkan begitu, Saudaraku Mahesa. Mari-mari silahkan duduk!"

Saking sungkannya Raja Gajayana, dia bahkan sampai turun dari singgasananya dan duduk di samping Mahesa.

"Bagaimana kabarnya Tetua Barada?"

"Kakek baik-baik saja. Sejak beliau meminta aku menjadi ketua Kuil Keabadian, Kakek lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bersemedi. Sesekali beliau menemani bermain anak-anak hamba, paduka," jawab Mahesa.

Ketua Kuil Keabadian itu merasa heran dengan situasi istana dan aula yang begitu lengang. Padahal setahunya, situasi di dalam istana manapun tidak sesepi istana kerajaan Kanjuruhan kali ini.

Belum sempat dia bertanya, pintu aula terbuka lebar. Mata Mahesa menunjukkan rasa terkejut setelah melihat pemuda pemudi berjalan memasuki aula. Dia merasa sedang melihat Ranu berjalan ke arahnya.

"Arya, beri hormat pada pamanmu Mahesa," Raja Gajayana tersenyum melihat pertemuan Paman dan keponakan yang baru pertama kali terjadi.

Arya mengernyitkan dahinya. Selama ini dia tahu tentang sahabat ayahnya itu hanya dari cerita orang saja. Belum pernah sekalipun ayah dan ibunya bercerita ataupun mengajaknya menemui Mahesa.

"Salam hormatku, Paman Mahesa." Arya membungkukkan badannya.

Mahesa menggaruk kepalanya pelan. Sikap dan cara bicara Arya sangat mirip dengan Ranu. Namun itu hanya sebatas dugaannya saja.

"Siapa anak muda ini, Paduka?" tanya Mahesa.

"Hahaha ... Arya ini putra dari sahabatmu Ranu, Mahesa," jawab Raja Gajayana.

Mahesa seketika berdiri dari duduknya. Dia memegang kedua pundak Arya dan menatap wajahnya.

"Tidak salah lagi, kau memang putra dari sahabatku!" Kedua bola mata Mahesa berkaca-kaca. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, setelah melihat putra dari sahabat sejatinya kini sudah berdiri di depannya. Pelukan hangat pun diberikan Mahesa kepada Arya.

Dengan memeluk Arya, Mahesa setidaknya bisa meluapkan rasa kangennya kepada Ranu dan Mei Hwa.

"Kau sudah sangat besar, Keponakanku. Bagaimana kabar ayah dan ibumu?"

"Aku tidak tahu bagaimana kondisi ayah dan ibu sekarang, Paman. Sudah dua tahun lebih aku di daratan Jawadwipa ini."

"Dua tahun lebih? Kenapa kau tidak pernah mengunjungi Paman di gunung Arjuno?" tanya Mahesa merasa heran.

"Aku tidak tahu, Paman. Ayah dan ibu tidak pernah bercerita jika Paman tinggal di gunung Arjuno. Mungkin ayah dan ibu tidak ingin aku memberatkan Paman."

Mahesa menggelengkan kepalanya. "Ayahmu selalu seperti itu, Arya. Dia tidak pernah mau berhutang budi kepada orang lain. Dari semua orang yang aku kenal, sifat ayahmu sangat jauh berbeda, ayahmu Ranu tidak suka dengan segala bentuk kemewahan. Padahal andai dia mau, tidak sedikit kerajaan yang mau menampungnya. Bahkan kau ini memiliki darah kaisar di daratan China. Ibumu adalah putri dari mendiang kaisar Feng Yu, penguasa dinasti Yuan."

Pandangan Mahesa beralih kepada Putri Citra. "Lalu gadis ini, apakah dia Putri Citra yang dulu itu, Paduka?"

"Kau tidak salah, Mahesa. Dia adalah putriku Citra. Ada yang perlu kau tahu, mereka berdua sudah menjalin hubungan spesial," jawab Raja Gajayana. Senyumnya begitu lebar, tapi tidak selebar kudanil yang sedang menguap.

Tidak salah apa yang diucapkan Raja Gajayana. Semalam Putri Citra sudah berbicara kepadanya tentang hubungannya dengan Arya. Ke depannya, Putri Citra akan menunggu Arya sampai kembali dari perjalanan yang dia lakukan.

"Kau tidak jauh beda dengan ayahmu, Arya. Tidak tampan tapi digandrungi wanita cantik. Aku selalu kalah bersaing dengan ayahmu, setiap wanita cantik selalu memilih dia. Entah Ranu memiliki ilmu apa sehingga setiap wanita terpikat padanya. Tapi kau lebih tampan dari pada ayahmu, hahaha!" Mahesa tertawa lebar mengenang kisahnya dulu dengan Ranu.

Suasana gayeng terjadi antara mereka. Mahesa lebih banyak menceritakan kisah petualangannya dengan Ranu sebelum mereka berpisah karena Ranu ingin menyepi dan mundur dari dunia yang sudah membesarkan namanya.

"Mohon maaf, Paduka. Tapi kenapa sejak hamba masuk ke istana ini suasananya begitu sepi? Kemana para pejabat istana?"

"Ternyata kau belum tahu, Mahesa. Raja kerajaan Gandara yang baru ternyata mempunyai niat buruk ingin menguasai kerajaan Kanjuruhan. Saat ini Semua prajurit aku kerahkan menuju bukit tandus untuk menghadang mereka di sana."

Mahesa mengernyitkan dahinya. "Berarti apa yang dilihat dua orang muridku ada benarnya, Paduka. Dua hari yang lalu mereka berdua melapor jika melihat pergerakan prajurit dalam jumlah besar tidak jauh dari kaki gunung Arjuno."

"Berarti mereka lewat jalur timur atau mendaki gunung Arjuno untuk mempercepat perjalanan. Padahal perkiraanku mereka akan mengambil jalur memutar dari arah selatan."

"Memang benar bisa mempersingkat waktu, Paduka. Tapi fisik mereka akan terkuras habis ketika sampai di bukit tandus," sahut Mahesa.

"Arya yang mempunyai rencana untuk menghadang mereka di bukit tandus, dan Arya pula nanti yang akan memimpin pasukan kerajaan Kanjuruhan melawan mereka."

Mahesa menatap Arya dalam-dalam, berusaha merasakan energi yang dimiliki putra dari sahabatnya tersebut. Kernyitan di dahinya kemudian muncul, karena dia tidak merasakan energi apapun dari tubuh Arya.

"Bagaimana mungkin? Apakah kekuatan Ranu menurun kepadanya sehingga tidak bisa aku rasakan?" Hati Mahesa bertanya-tanya.

"Hamba akan ikut dalam perang nanti, Paduka. Sebagai rakyat kerajaan Kanjuruhan, hamba punya kewajiban untuk menjaga tanah kelahiranku!"

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!