NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Kringgg... Kringgg... Kringgg...

Suara nyaring dari alarm ponsel Nokia jadul milik Arka memecah keheningan sepertiga malam.

Arka tersentak, langsung membuka mata dan menegakkan tubuhnya di atas amben.

Ia meraba saku celananya, mematikan alarm yang menunjukkan tepat pukul tiga subuh, lalu memijat pangkal hidungnya untuk mengusir sisa-sisa kantuk yang masih menggelayut.

Hanya dua jam tidur terasa sangat kurang, namun bagi seorang perajin kue subuh seperti Arka, ini adalah rutinitas mutlak.

Tanpa membuang waktu, ia segera menyambar handuk dan melangkah ke kamar mandi.

Guyuran air sumur yang sedingin es seketika mengembalikan kesadaran dan staminanya.

Setelah berpakaian rapi dengan jaket jin kusam andalannya, Arka melangkah menuju kamar tamu.

Ia mengetuk pintu kayu itu beberapa kali dengan pelan.

"Mbak... Mbak Sari, sudah jam tiga. Ayo bangun," panggil Arka.

Tidak butuh waktu lama, pintu perlahan terbuka. Sari muncul dari dalam kamar dengan mata yang masih setengah terpejam dan rambut cepol badainya yang sudah agak berantakan.

Namun, begitu pandangannya terarah pada Arka, Sari mengerjapkan mata beberapa kali.

Ia menatap wajah Arka yang tampak sangat segar, rambutnya agak basah sisa keramas, dan aroma sabun antiseptik yang khas menguar dari tubuh pria itu.

"Kamu, sudah mandi?" tanya Sari dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

Arka mengangguk tipis. "Ayo, Mbak, lekas mandi dan bersiap. Kita harus berangkat sekarang sebelum para tengkulak di pasar kehabisan tempat."

Arka melirik ke arah kedua tangan Sari yang masih terbalut kasa putih sisa semalam.

Sorot matanya melembut penuh peringatan. "Mbak, mandi yang bersih, tapi ingat, tangannya yang sakit jangan sampai kena air atau sabun dulu ya. Biar tidak perih dan infeksi."

Sari tertegun sesaat. Di pagi buta yang dingin ini, perhatian kecil dari Arka rasanya jauh lebih menghangatkan ketimbang pemanas ruangan di kamar megahnya.

Rasa kantuk yang tadi menggelayuti matanya seketika menguap, digantikan oleh debaran halus yang menyenangkan di dadanya.

Sari menganggukkan kepalanya dengan patuh, sebuah senyuman tipis terukir di bibir polosnya.

"Iya, Arka. Aku mandi dulu. Tunggu sepuluh menit."

Setelah selesai mandi mereka menuju ke pasar subuh.

Dinginnya udara subuh menusuk hingga ke tulang, namun Sari tetap memeluk pinggang Arka dengan erat di atas motor bebek tua yang membelah jalanan kosong.

Arka berkendara dengan sangat hati-hati, memastikan tumpukan kotak kue di jok belakang tidak bergeser sedikit pun.

Sesampainya di pasar subuh yang sudah mulai berdenyut dengan hiruk-pikuk pedagang, mereka segera membuka lapak.

Meski tangan kanannya masih dibalut kasa tebal, Sari dengan sigap membantu Arka menata jajaran mika berisi klepon, putu ayu, dan dadar gulung di atas meja kayu.

Ia tidak peduli jika kuku-kukunya yang biasanya terawat kini agak kotor terkena sisa kelapa.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Seorang pelanggan setia—wanita paruh baya dengan dandanan mencolok yang pernah menghina Arka dengan cara melempar uang ke dada pria itu—mendekat ke lapak mereka dengan wajah masam.

Matanya memicing saat menyadari keberadaan Sari di samping Arka.

Ia menatap Sari dari atas sampai bawah, memperhatikan kaus putih Sari yang kini kusam dan pipinya yang tampak sedikit kotor terkena noda hitam sisa abu pasar semalam.

"Bukankah wanita ini yang kemarin di toko sombong sekali?" seru si ibu dengan nada nyinyir yang sengaja dikeraskan, menarik perhatian orang di sekitar.

"Ternyata aslinya cuma gelandangan yang hobi gonta-ganti pakaian kumal ya? Pantas saja mau sama si tukang kue miskin ini."

Arka, yang sudah terbiasa dengan hinaan serupa, hanya menarik napas panjang.

Ia hendak menenangkan situasi dengan sikap dewasanya.

Namun, jiwa CEO Sari yang terbiasa memimpin ribuan karyawan tidak bisa tinggal diam mendengar dirinya dan Arka dihina sedemikian rendah.

Sari membuka mulutnya, matanya menatap tajam ibu itu dengan aura dingin yang mampu membekukan lawan bicara.

"Anda lebih baik menjaga mulut Anda sebelum saya—"

Grep.

Tangan Arka yang kasar namun hangat menyentuh punggung tangan Sari yang terbalut kasa.

Pria itu menatap Sari dengan tatapan yang memberi isyarat keras: tahan dirimu.

Arka menoleh ke arah pelanggan itu dengan senyum tipis yang tetap sopan namun berwibawa.

"Maaf, Bu, kalau kehadiran kami membuat Ibu merasa tidak nyaman. Kalau Ibu merasa lapak saya tidak layak, silakan cari pedagang lain yang lebih sesuai dengan standar Ibu. Kami tidak memaksa."

Sari menggigit bibir bawahnya, menahan luapan amarah yang hampir meledak, sementara si ibu pelanggan tersebut mendengus kesal sebelum akhirnya berlalu dengan perasaan kalah karena tidak mendapatkan reaksi dramatis yang ia inginkan dari Arka.

Di lapak seberang yang hanya terpisah oleh koridor pasar yang becek, Niken sedang berdiri dengan tangan bersedekap, mengawasi Baron yang dibantu anak buahnya menurunkan keranjang-keranjang berisi ayam potong dari bak mobil pikap.

Gerakan Baron tampak sedikit kaku dan sesekali pria gempal itu meringis, sisa dari "hadiah" tendangan maut Sari beberapa jam yang lalu.

Saat menyeka peluh di lehernya, mata tajam Niken mendadak menangkap pemandangan yang membuat dadanya bergemuruh panas.

Di lapak kue seberang, Arka sedang berdiri begitu dekat dengan Sari.

Meski penampilan Sari kini tampak kusam dengan kaus putih yang ternoda abu pasar, kecantikan alaminya tetap memancar kuat, membuat Niken seketika merasa tersaingi.

Matanya menyipit penuh kebencian dan rasa ingin tahu.

Siapa perempuan sialan itu? Berani-beraninya dia menggandeng Arka di depanku? batin Niken berang.

Niken segera melangkah mendekati Baron yang masih mengomel menahan ngilu di selangkangannya.

Ia menyenggol lengan suaminya, lalu berbisik dengan nada menghasut sambil menunjuk ke arah lapak Arka.

Begitu melihat sosok Sari yang telah membuatnya tumbang semalam, wajah gempal Baron seketika merah padam akibat amarah yang meluap.

Keduanya mulai saling berbisik, merencanakan sesuatu yang licik untuk membalas dendam atas kehancuran harga diri mereka di los ayam kemarin malam.

Arka yang sedang menata beberapa kotak kue dadar gulung mendadak merasakan tengkuknya meremang.

Naluri bertahannya yang kuat selama bertahun-tahun hidup di jalanan membuat ia langsung menoleh ke arah lapak seberang.

Ia menangkap basah tatapan tajam nan penuh dendam dari arah Baron dan Niken.

Arka mengembuskan napas berat. Rahangnya mengencang.

Ia menyadari bahwa badai masalah di pasar ini belum berakhir, dan kini skalanya jauh lebih berbahaya karena ia harus melindungi Sari dari serangan yang jauh lebih personal.

"Mbak Sari, tetap di belakang saya," bisik Arka pelan, menggeser tubuhnya sedikit untuk menghalangi pandangan Baron dari Sari.

Namun, Baron tidak maju untuk mengandalkan fisik.

Pria licik itu tahu cara bermain kotor di pasar induk.

Dengan memanfaatkan pengaruhnya sebagai salah satu juragan besar yang disegani, Baron mulai berjalan mendatangi beberapa tengkulak dan pembeli langganan yang hendak mengarah ke lapak kue Arka.

Dengan suara yang sengaja dikeraskan, Baron mencegat mereka.

"Eh, Bu! Pak! Jangan beli kue di lapak si Arka itu lagi! Kuenya dibuat tidak higienis, lihat saja perempuan di sebelahnya itu, badannya kotor penuh kuman begitu. Mending kalian beli di toko seberang sana, kualitasnya lebih terjamin!"

Mendengar hasutan dari juragan ayam yang kaya, beberapa pembeli yang tadinya ingin memborong kue Arka mulai ragu dan perlahan membalikkan badan, berjalan menjauh menuju lapak kue lain.

Baron yang melihat dagangan Arka mulai sepi seketika menyeringai puas.

Dari kejauhan, ia menatap Arka dengan pandangan kemenangan yang menjijikkan.

"Rasakan itu, Arka. Kita lihat seberapa lama modalmu bertahan kalau tidak ada satu pun orang yang mau menyentuh kuemu," gumam Baron dengan tawa licik yang tertahan di tenggorokannya.

1
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!