Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
------------------------------
## BAB 30: Sumpah Darah di Tengah Badai
Aroma kayu terbakar dari perapian aula utama Vila Puncak berbaur dengan hawa dingin yang mencekam. Nicholas Syailendra berdiri tegap di tengah lobi dasar kastil batu tersebut. Kedua lengan kekalnya mendekap erat tubuh Elena Vance yang terbungkus jas tuksedo hitam mahalnya. Elena masih menyandarkan kepalanya yang lemas di dada bidang Nicholas, meremas kemeja suaminya demi mencari perlindungan dari trauma yang baru saja mengoyak jiwanya.
Di hadapan mereka, Sarah Syailendra dan Clarissa Utama berdiri bersedekap angkuh bersama tiga pengacara senior dewan keluarga.
"Nicholas, letakkan wanita penipu itu sekarang juga!" seru Sarah dengan lengkingan suara yang sengaja dikeraskan, memutus keheningan malam. "Para pelayan melihatnya berlari ketakutan ke ruang bawah tanah tanpa alasan yang jelas. Apakah ini draf sandiwara barunya karena dia takut draf kandungan palsunya ketahuan oleh Kakek Agung?!"
Clarissa Utama ikut tersenyum miring, menyembunyikan rasa panik atas hancurnya saham Utama Group di bursa efek dengan keangkuhan baru. "Benar, Tuan Besar Nicholas. Pengacara dewan keluarga di sini sudah memegang draf pernyataan resmi bahwa seorang Nyonya Muda Syailendra yang tidak stabil secara mental tidak berhak memegang hak waris singgasana dinasti!"
Nicholas tidak langsung membalas rentetan makian kotor tersebut dengan kata-kata. Sepasang mata elangnya mendadak menggelap sepenuhnya, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat laksana malaikat pencabut nyawa yang siap memotong leher korbannya.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan tongkat perak berkepala naga menggema dari arah tangga utama. Kakek Agung Syailendra melangkah turun perlahan, diikuti oleh Nenek Syailendra di belakangnya. Kehadiran sang pemimpin tertinggi dinasti membuat seluruh ruang aula mendadak sunyi senyap seketika.
"Ada keributan apa lagi di rumahku tengah malam begini, Sarah?" tanya Kakek Agung, nadanya berat dan penuh wibawa intimidasi yang absolut.
"Ayah! Nicholas sudah gila! Dia menghajar dua pengawal vila dan mendobrak pintu gudang bawah tanah demi membela wanita asing ini!" Sarah mengadu dengan wajah yang dibuat-buat sedih bercampur ketakutan palsu. "Wanita ini sengaja mengunci dirinya sendiri di dalam gudang untuk membuat skenario seolah-olah dia menjadi korban penindasan keluarga kita!"
"Cukup, Bibi Sarah."
Suara berat, rendah, dan penuh dengan penekanan tirani milik Nicholas Syailendra menggema memotong kalimat Sarah. Nicholas perlahan menurunkan tubuh Elena, membiarkan istrinya berdiri bertumpu dengan anggun di sisi tubuh tegapnya. Tangan kanan Nicholas merangkul pinggang Elena dengan begitu erat dan posesif di depan seluruh silsilah keluarga besar.
Nicholas melirik ke arah Yan yang baru saja melangkah masuk menembus pintu aula dengan pakaian yang basah kuyup oleh air hujan, membawa sebuah draf gawai pintar khusus dan beberapa berkas dokumen berlogo segel kepolisian pusat.
"Kakek, Nenek, dan para dewan pengacara yang terhormat," ucap Nicholas, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar begitu dingin namun sarat akan ancaman hukuman mati korporat. "Dua puluh menit yang lalu, sebelum saya mendobrak pintu besi gudang bawah tanah, tim siber khusus Syailendra Group berhasil memulihkan enkripsi draf aliran listrik vila yang sengaja diputus secara sepihak oleh kaki tangan Bibi Sarah."
Klik.
Yan menekan tombol putar pada gawai pintarnya, memproyeksikan draf rekaman video CCTV internal tersembunyi yang diletakkan di koridor panel listrik luar paviliun. Di dalam video kualitas tinggi tersebut, terlihat jelas wajah seorang pelayan pribadi Sarah sedang merusak sekring utama aliran listrik, diikuti oleh adegan di mana pelayan itu membujuk Elena dengan draf informasi palsu mengenai kecelakaan Nicholas.
Skenario visual yang sangat terstruktur itu terpampang telanjang di depan mata Kakek Agung dan dewan pengacara keluarga.
Deg!
Wajah Sarah Syailendra seketika berubah dari merah padam menjadi seputih kain kafan. Seluruh tubuh wanita paruh budaya itu gemetar hebat, lututnya lemas laksana tersengat kepingan es sedingin kutub utara. "Ini... ini palsu! Nicholas sengaja mengedit video ini menggunakan teknologi AI korporatnya!" raung Sarah histeris, mencoba membela diri dengan keputusasaan yang menjijikkan.
"Video ini diambil dari draf server satelit militer independen milik Syailendra Group yang tidak bisa diakses oleh enkripsi komputer mana pun di Indonesia, Bibi," Elena Vance mendadak membuka suaranya.
Elena menegakkan kepalanya, memaksa kilat ketegasan baja kembali mengunci sepasang mata indahnya. Sebuah senyuman miring yang begitu kejam terukir di bibir merah meronanya ketika ia menatap langsung ke manik mata Clarissa Utama. "Dan untuk Anda, Nona Clarissa... terima kasih atas draf kunjungan rahasia Anda ke lembaga pemasyarakatan menemui Siska Wijaya siang tadi. Tim siber kami juga sudah mengunduh seluruh draf transkrip percakapan ilegal kalian mengenai konspirasi penjebakan bawah tanah malam ini."
Skakmat.
Pembantaian argumen hukum yang dilakukan oleh aliansi maut Nicholas dan Elena seketika meruntuhkan seluruh sisa harga diri Sarah dan Clarissa. Tiga pengacara dewan keluarga di belakang mereka langsung melangkah mundur, buru-buru menutup map dokumen mereka karena sadar posisi klien mereka sudah tidak bisa diselamatkan lagi secara hukum.
Kakek Agung Syailendra mengepalkan jarinya pada kepala tongkat perak naga miliknya, sepasang mata elang tuanya memancarkan kemarahan tirani yang amat pekat ke arah anak kandungnya sendiri.
Brak!
Pria tua itu memukul meja dekorasi aula dengan tongkatnya hingga menimbulkan suara hantaman yang keras. "Sarah! Kamu benar-benar sudah mencoreng silsilah dinasti Syailendra dengan taktik murahan yang menjijikkan ini! Mulai detik ini, hak jaminan hukummu dicabut total. Pengawal! Seret wanita bodoh ini kembali ke markas besar kepolisian untuk menghadapi tuntutan percobaan pembunuhan tidak langsung terhadap calon cicit pertamaku!"
"Ayah! Nenek! Tolong aku! Aku terpaksa!" jerit Sarah meraung-raung histeris bercampur tangis ketakutan saat dua orang pengawal pribadi Kakek Agung langsung maju, mencengkeram kedua lengannya dengan kasar dan menyeret tubuhnya keluar menembus badai hujan lebat di luar gerbang vila.
Nicholas memalingkan wajah tampannya, menatap Clarissa Utama dengan sepasang mata elang sedingin es yang memancarkan tirani kepemilikan mutlak. "Dan untuk Utama Group... malam ini, saya nyatakan seluruh sisa aset keluargamu di pasar bursa resmi dilikuidasi total oleh Syailendra Group. Besok pagi, namamu dan seluruh dinastimu akan resmi lenyap dari peta bisnis Kota Jakarta untuk selamanya."
Clarissa Utama tertegun mematung dengan pandangan mata yang kosong, tubuh mewahnya ambruk ke atas lantai marmer lobi dengan seluruh harga diri yang telah hancur berkeping-keping tanpa sisa.
Nicholas tidak memedulikan pemandangan kehancuran musuh-musuhnya itu lagi. Dengan gerakan yang sangat posesif, ia kembali mengangkat tubuh Elena ke dalam gendongan lengannya, membimbingnya berjalan menaiki anak tangga menuju kamar paviliun utama di bawah tatapan hormat bercampur segan dari Kakek Agung dan seluruh dewan komisaris keluarga.
Begitu mereka tiba di dalam kamar yang hangat dengan api perapian yang menyala baru, Nicholas merebahkan tubuh Elena dengan kehati-hatian yang teramat manis di atas ranjang kelambu. Pria penguasa kota itu ikut naik ke atas kasur, merengkuh tubuh Elena erat-erat ke dalam pelukan dadanya yang hangat dan kokoh.
Nicholas mengecup pelipis Elena dengan begitu dalam dan posesif, suaranya merendah penuh kegilaan asmara asli yang mendalam tepat di dekat telinga istrinya. "Aku bersumpah demi sisa napas dan seluruh darah di dalam tubuhku malam ini, Elena... tidak akan ada lagi badai atau serigala mana pun yang diizinkan membuatmu menggigil ketakutan di dalam kegelapan. Aku akan menjadi perisai mutlak yang membakar habis siapa saja yang berani berdiri menghalangi kebahagiaanmu."
Elena Vance memejamkan sepasang mata indahnya perlahan, merasakan debaran jantung Nicholas yang berdenyut keras melindungi seluruh jiwanya. Rasa hampa dan trauma dari masa lalu Adeline kini telah resmi terkikis habis, digantikan oleh kehangatan cinta baru yang posesif dari sang penguasa kota. Arka Kedua di Vila Puncak telah selesai dengan kemenangan mutlak di tangan aliansi maut mereka, mengunci takdir pernikahan kontrak mereka di atas kertas emas menuju babak perebutan takhta singgasana tertinggi yang jauh lebih berdarah dan mematikan di hari esok.
------------------------------