Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Evolusi Tahap Dua dan Jari Komunikasi Regional
Pintu besi bengkel utama tertutup rapat, mengunci hiruk-pikuk pesta kecil di halaman pabrik. Di dalam, ruangan itu hanya diterangi oleh lampu neon yang berkedip pelan.
Yudha duduk bersila di tengah lantai beton yang dingin. Di depannya, tumpukan tulang putih milik sang Algojo tergeletak rapi, siap untuk diproses. Namun, sebelum menciptakan mahakarya baru, ia harus memastikan tubuhnya sendiri mampu menopang persenjataan tingkat lanjut. Senjata terhebat tidak akan ada gunanya jika penggunanya mati karena kelelahan.
Ia membuka telapak tangannya. Inti Energi Padat Tingkat 5 memancarkan cahaya merah pekat yang menerangi wajahnya. Hawa panas yang menguar dari batu itu membuat udara di sekitarnya sedikit beriak.
Tanpa ragu, Yudha menggenggam kristal itu erat-erat dan memberikan perintah penyerapan.
DEG!
Jantung Yudha berdetak sangat keras hingga terdengar seperti pukulan palu di ruangan sunyi itu. Kristal di tangannya hancur, berubah menjadi aliran lava cair yang menembus kulit telapak tangannya dan melesat lurus ke jantung.
Rasa sakitnya sepuluh kali lipat lebih dahsyat daripada saat ia menyerap inti tingkat rendah. Yudha menggeram tertahan, giginya bergemeletuk menahan siksaan. Ia merasa seolah otot-ototnya sedang ditarik paksa dari tulangnya, direndam dalam asam, lalu dirajut kembali dengan kawat baja panas. Urat-urat di sekujur tubuhnya menonjol, berwarna kehitaman, saat energi murni itu menyapu habis sisa-sisa sumbatan di jalur sarafnya.
Keringat berbau busuk yang sangat pekat merembes keluar, membasahi pakaiannya. Pembersihan saraf tahap kedua sedang berlangsung.
Setelah dua puluh menit yang terasa seperti di neraka, rasa sakit itu perlahan memudar, digantikan oleh sensasi kesejukan yang luar biasa. Yudha membuka matanya. Ada kilatan cahaya biru tajam di manik matanya sebelum kembali normal.
[Penyerapan Inti Energi Padat (Tingkat 5) berhasil!]
[Pembersihan saraf tahap kedua selesai. Kepadatan otot dan tulang meningkat drastis.]
[Atribut Kekuatan +10, Ketahanan +10, Agilitas +5.]
[Tingkat 4 -> Tingkat 5]
[Anda mendapatkan 5 Poin Atribut Bebas.]
Yudha bangkit berdiri. Tubuhnya terasa lebih tinggi dan padat. Luka memar sisa pertempuran lenyap tanpa bekas. Ia mengepalkan tangannya dan meninju udara kosong.
WUSH!
Sebuah letupan udara kecil tercipta dari ujung kepalannya. Kekuatan murninya kini telah melampaui manusia terkuat dari dunia lama. Ia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada lengan mekanisnya untuk pertarungan fisik jarak dekat.
"Sistem, alokasikan 5 poin bebas ke Kecerdasan," perintah Yudha. Atribut utamanya tetaplah otaknya. Semakin cerdas ia, semakin banyak energi yang bisa ia kendalikan.
[Kecerdasan: 28 -> 33]
[Batas Daya Komputasi Meningkat: 200 -> 250]
Yudha menatap tumpukan tulang raksasa di depannya. Kini saatnya untuk membuat pelindung.
Ia merentangkan kedua tangannya. Cahaya biru dari kelas Mekanik Anomali meledak, menelan tumpukan tulang putih sekeras baja itu bersama dengan beberapa lembaran baja ringan dan kabel tembaga.
"Bentuk menjadi pelindung inti," gumam Yudha, membayangkan sebuah rompi tempur taktis.
Di bawah kendali daya komputasinya yang kini sangat besar, tulang-tulang raksasa itu dipotong dan dihaluskan secara presisi. Tulang itu dijalin dengan kawat baja dan dilapisi plat logam tipis.
[Perakitan Selesai!]
[Benda Dibuat: Rompi Zirah Tulang Putih (Peringkat Menengah)]
Daya Tahan Fisik: Sangat Tinggi (Mampu menahan hantaman fisik kekuatan penuh dari entitas Tingkat 5).
Efek Pasif: Tahan terhadap serangan elemen asam dan panas tingkat rendah.
Yudha melepas jaket dan kemejanya yang kotor, lalu mengenakan rompi tersebut di balik jaket barunya yang ia ambil dari swalayan. Rompi itu sangat pas menempel di dadanya, seringan kain namun sekeras berlian. Dengan lengan mekanis pelebur di tangan kanan dan zirah tulang di dadanya, Yudha kini benar-benar menjadi mesin pembunuh berjalan.
Tiba-tiba, suara mekanis Sistem yang sangat keras bergema tidak hanya di kepala Yudha, tetapi di seluruh dunia.
[PENGUMUMAN GLOBAL SEKTOR 7-BUMI]
[Pemicu Tersembunyi Tercapai: 1.000 inang di Sektor 7 telah mencapai Tingkat 5.]
[Pembaruan Sistem: Jaringan Komunikasi Regional dan Papan Peringkat diaktifkan!]
[Hukum seleksi alam memasuki fase kompetisi.]
Yudha mengerutkan kening. Sebuah ikon baru muncul di sudut pandangannya. Saat ia memfokuskan pikirannya pada ikon tersebut, sebuah layar transparan raksasa terbuka, menampilkan ribuan baris teks yang bergerak dengan sangat cepat. Itu adalah semacam forum atau ruang obrolan obrolan khusus untuk mereka yang berada di satu wilayah geografis besar—mungkin mencakup seluruh pulau atau bahkan negara.
Kepanikan, keputusasaan, dan ambisi terpampang jelas di layar itu.
[Anonim_772]: Tolong! Siapa pun yang berada di dekat stasiun utara, kami terkurung oleh tikus-tikus raksasa! Kami punya makanan, tolong selamatkan kami!
[Raja_Darah]: Berhenti menangis seperti bayi. Mulai besok, seluruh wilayah selatan sungai adalah milik Fraksi Darah Besi. Siapa pun yang berburu di sana tanpa menyetor inti energi akan kami bunuh!
[Garda_Depan]: Apakah ada pangkalan militer yang masih bertahan? Kami dari batalion ke-4 kehilangan kontak dengan pusat.
Yudha membaca pesan-pesan itu dengan wajah tanpa ekspresi. Banyak manusia yang masih berharap pada militer atau bantuan pemerintah. Namun ada juga yang cepat beradaptasi, membentuk fraksi dan mulai memperebutkan wilayah, sama seperti yang ia lakukan.
Kemudian, Yudha beralih ke halaman Papan Peringkat. Papan itu hanya menampilkan sepuluh nama teratas di wilayah tersebut berdasarkan tingkat kekuatan secara keseluruhan.
[Dirgantara - Tingkat 6 - Kelas Rahasia]
[Serigala Malam - Tingkat 6 - Kelas Tempur]
[Yudha - Tingkat 5 - Mekanik Anomali]
[Ratu Merah - Tingkat 5 - Kelas Magis]
...dan seterusnya.
Mata Yudha menyipit melihat namanya berada di peringkat ketiga. Sifat anomali dari kelasnya membuat Sistem tidak bisa menyembunyikan eksistensinya sepenuhnya dari peringkat dasar. Namun, ia tidak peduli. Biarkan orang-orang tahu bahwa ada nama Yudha di atas sana. Ketakutan adalah senjata terbaik untuk menjaga keamanan gerbangnya.
Saat Yudha hendak menutup layar tersebut, sebuah pengumuman sistem berwarna emas melintas di bagian paling atas forum, menghentikan napas semua orang yang sedang membaca.
[Peringatan Wilayah Khusus!]
[Reruntuhan Peradaban Kuno (Tingkat Bahaya: Menengah) telah terdeteksi di koordinat 112.44, -7.56 (Pusat Kota). Pelindung energi akan runtuh dalam 48 jam.]
[Hadiah Penyelesaian: Cetak Biru Kelas Atas dan Inti Pengendali Wilayah.]
Mata Yudha berbinar tajam. Cetak biru kelas atas adalah sesuatu yang bisa mengubah jalannya perang. Namun yang paling menarik perhatiannya adalah "Inti Pengendali Wilayah". Benda itu pasti bisa digunakan untuk membuat markasnya benar-benar tak tertembus, atau bahkan mengotomatiskan seluruh pabrik.
"Pusat kota," gumam Yudha pelan. Jaraknya sekitar dua puluh kilometer dari Tatanan Besi Hitam.
Fraksi-fraksi besar yang ia lihat di obrolan tadi pasti akan bergerak ke sana. Ini bukan lagi sekadar pertarungan melawan monster bodoh, melainkan perang darah melawan manusia-manusia terkuat yang telah berevolusi.
Yudha menyeringai dingin. Ia mengepalkan lengan mekanisnya hingga terdengar bunyi decit logam.
"Biarkan mereka datang. Semua cetak biru di dunia ini adalah milikku."