Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebahagiaan Pengantin Baru
Pesawat yang membawa Kevin dan Arini akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Soekarno-Hatta. Begitu keluar dari pintu kedatangan internasional, hawa tropis Jakarta yang hangat langsung menyelimuti mereka, menggantikan dinginnya salju Jepang yang telah menemani perjalanan romantis mereka selama satu minggu penuh. Ada rasa lelah yang menggelayut di tubuh, namun wajah keduanya memancarkan binar kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
Kini, kehidupan baru yang sesungguhnya telah dimulai. Mereka bukan lagi sepasang kekasih yang sedang berlibur, melainkan sepasang suami istri yang siap membangun rumah tangga dan menjalani rutinitas sehari-hari di bawah satu atap yang sama.
Sebelum pernikahan digelar, Kevin dan Arini sempat berdiskusi cukup panjang mengenai tempat tinggal mereka kelak sebagai pasangan baru. Sebagai pria yang mapan, Kevin tentu memiliki beberapa aset rumah dan apartemen pribadi yang mewah. Namun, Kevin mengambil sebuah keputusan yang sangat bijak dan penuh pengertian.
"Kita tinggal di apartemenmu saja ya, Rin," ujar Kevin malam itu saat mereka sedang merapikan baju-baju dari dalam koper ke dalam lemari.
Arini sempat tertegun mendengarnya. "Kenapa, Vin? Bukankah biasanya istri yang ikut ke tempat suami?"
Kevin berjalan mendekat, lalu memeluk Arini dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu sang istri. "Aku memikirkan kenyamananmu, Sayang. Dua tahun ini kamu sudah menghadapi begitu banyak tekanan dan perubahan besar dalam hidup. Aku tidak ingin kamu harus terbebani lagi dengan proses adaptasi di lingkungan atau tempat baru. Di apartemen ini, kamu sudah tahu setiap sudutnya, kamu merasa aman di sini. Biar aku yang memboyong barang-barangku ke sini."
Mendengar alasan itu, hati Arini bergetar haru. Kevin selalu menempatkan kenyamanan batinnya di atas ego seorang pria. Apartemen mewah milik Arini yang dulu sempat terasa sunyi dan dingin seperti kuburan setelah pengkhianatan Galang, kini perlahan-lahan mulai berubah menjadi tempat yang penuh dengan kehangatan, tawa, dan aroma kopi di pagi hari.
Senin pagi menjadi penanda awal kembalinya mereka ke dunia kerja setelah cuti panjang pernikahan. Suasana di dalam apartemen terasa sangat berbeda dari biasanya. Jika dulu Arini terbiasa bersiap-siap dalam keheningan, kini ada suara yang berdenting dari arah dapur, sepertinya seseorang sedang membuat sarapan.
Arini berjalan keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang sudah rapi, mengancingkan manset lengannya. Di depan kompor, Kevin terlihat sibuk membalik roti panggang sambil sesekali menyeruput kopi hitamnya. Ia hanya mengenakan kemeja kerja yang belum dikancingkan sepenuhnya, menampilkan kesan santai namun tetap tampan.
"Sarapan sudah siap, Nyonya Mahendra," sapa Kevin dengan senyum lebar begitu melihat Arini mendekat. Ia menarik kursi makan agar istrinya bisa duduk, lalu mengecup kening Arini dengan lembut.
"Sejak kapan seorang Direktur dan pengacara merangkap jadi koki pagi-pagi begini?" goda Arini sambil mengambil sepotong roti isi telur buatan suaminya.
"Sejak aku berkomitmen untuk memastikan istriku selalu memulai harinya dengan senyuman," balas Kevin mantap sambil duduk di hadapan Arini.
"Oh, manis sekali. " Berkali-kali Arini di buat meleleh dengan sikap Kevin yang sangat manis setelah mereka menikah.
Setelah sarapan mereka keluar dari apartemen menuju perusahaan masing-masing, dengan Kevin yang mengantarkan Arini ke perusahaannya lebih dulu.
"Nanti aku jemput seperti biasa. Kalau aku tidak bisa menjemput, aku akan mengabarimu nanti. " kata Kevi sebelum mereka berpisah.
"Baiklah, sayang. Semangat kerjanya untuk hari ini. " Arini menberikan sebuah kecupan singkat di pipi Kevin sebelum keluar dari mobil.
Hari-hari kerja mereka jalani seperti biasa. Di kantor Samudera Group, Arini menjadi pemimpin perusahaan yang sangat profesional. Hingga membuat perusahaannya menjadi lebih berkembang dengan pesat.
Meskipun jadwal kerja mereka sebagai petinggi perusahaan sangat padat, Kevin dan Arini tidak pernah melupakan keluarga. Sesuai dengan janji mereka untuk menjalin kembali silaturahmi yang sempat renggang di masa lalu, mereka menjadwalkan kunjungan rutin ke rumah orang tua maupun mertua di setiap akhir pekan.
Hari Sabtu sore, mereka berkunjung ke rumah Papa Arini. Kedatangan mereka disambut dengan sukacita yang luar biasa. Rumah yang biasanya sepi itu kini dipenuhi suara tawa. Pak Bayu tampak jauh lebih sehat dan bersemangat sejak melihat putrinya hidup bahagia bersama pria yang tepat.
"Rin, Papa lihat kinerja saham Samudera Group semakin menguat minggu ini setelah pengumuman ekspansi pelabuhan," ujar Pak Bayu saat mereka sedang duduk santai di beranda belakang menikmati teh hangat.
"Ini semua berkat kepemimpinan ilmu dari Papa. Aku hanya bertugas memastikan semua eksekusi di lapangan berjalan tanpa hambatan," jawab Kevin dengan nada rendah hati, sambil melirik Kevin yang sedang tersenyum bangga di sampingnya.
Sementara itu, pada hari Minggu berikutnya, giliran mereka berkunjung ke kediaman orang tua Kevin. Ibu Kevin selalu menyambut Arini dengan pelukan yang sangat hangat, seolah-olah Arini adalah putri kandungnya sendiri yang baru pulang dari perantauan. Di sana, Arini menghabiskan waktu di dapur bersama Ibu Kevin, belajar memasak beberapa menu rumahan favorit keluarga Mahendra.
"Arini, bagaimana perjalanan di Jepang kemarin? Apa semuanya lancar?" tanya Ibu Kevin dengan nada keibuan sambil mengaduk bumbu sup di panci.
Arini yang mengerti arah pembicaraan ibu mertuanya itu langsung tersenyum malu-malu, pipinya sedikit merona. "Sangat lancar, Ma. Kevin menjaga ku dengan sangat baik selama di sana."
"Mama selalu berdoa, Rin, semoga secepatnya ada kabar baik dari kalian. Tapi ingat, masalah ini jangan dijadikan beban, ya? Nikmati saja setiap prosesnya bersama Kevin. Anggap kalian masih pacaran. " ujar Ibu Kevin lembut sambil mengusap punggung tangan Arini, memberikan ketenangan batin yang luar biasa bagi Arini. Sebuah sentuhan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Satu bulan pertama kehidupan pernikahan mereka berjalan dengan sangat sempurna. Kehadiran Kevin di dalam hidup Arini telah mengubah total cara pandang wanita itu tentang sebuah komitmen. Jika dulu pernikahan baginya adalah sumber luka dan pengkhianatan, kini bersama Kevin, pernikahan adalah sebuah ruang aman tempat ia bisa berbagi keluh kesah, meletakkan segala penat, dan dicintai dengan tulus oleh seorang pria dan keluarganya..
Setiap malam sebelum memejamkan mata di dalam kamar apartemen mereka yang hangat, Arini selalu memandangi wajah Kevin yang tertidur pulas di sampingnya. Ia mengusap perlahan dada bidang suaminya, meresapi setiap detak jantung pria yang telah menyelamatkan jiwanya dari lembah dendam dan kehancuran.
"Terima kasih, hadirmu sudah mengobati semua lukaku. "
Tidak ada lagi ganjalan, tidak ada lagi ketakutan. Samudera kehidupan Arini kini telah benar-benar tenang, dan di bawah satu atap yang penuh dengan berkah ini, mereka siap menyambut setiap lembaran baru masa depan dengan penuh rasa syukur dan cinta yang takkan pernah pudar.